
Sudah sebulan lebih Reyhan dan Tasya tinggal di rumah neneknya. Mereka pun sudah mulai betah dan nyaman tinggal di rumah itu. Tasya yang dulunya tidak begitu suka dengan banyak orang, kini mulai senang apalagi para pekerja di rumah itu baik-baik dan masih banyak yang muda-muda jadi bisa untuk di jadikan teman berbagi cerita. Apalagi sekarang Reyhan dan Aryo mulai sibuk dengan pembangunan Hotel yang baru sesuai wasiat Neneknya. Reyhan pun juga sudah mengajukan Resign dari Perusahaan Abadi Group. Karena dia ingin fokus mengurus perusahaannnya. Pak Herlambang pun sudah tidak bisa lagi menahan Reyhan di Perusahaannya, karena Reyhan punya hak untuk mengurus bisnisnya sendiri.
Sebenarnya Tika pun sudah bergabung dengan Abadi Group, tak tanggung-tanggung di awal karirnya Tika sudah di percayakan menjadi Wakil Direktur oleh pak Herlambang, namun alangkah kecewanya Tika karena baru seminggu bergabung Reyhan sudah mengundurkan diri dari perusahaan itu. Niatnya untuk merebut Reyhan dari tangan Tasya, sepertinya harus dikubur dalam-dalam karena kini dia tidak bisa lagi secara leluasa bertemu Reyhan, apalagi Reyhan juga sudah pindah rumah.
**
Tak terasa sekarang kandungan Tasya sudah memasuki bulan ke 6. Perutnya pun sudah mulai kelihatan besar, dan juga berat badannya menjadi naik beberapa kilo karena Tasya sangat suka makan, apalagi dia hanya berdiam diri di rumah.
Hari ini adalah jadwal Tasya untuk melakukan pemeriksaan kandungannya di rumah sakit. Pagi-pagi Reyhan sudah bersiap-siap untuk mengantar Tasya, karena selama Tasya hamil Reyhan jarang sekali mengantarnya untuk melakukan cek kandungan karena sibuk dengan pekerjaannya. Tapi mulai hari ini Reyhan tidak akan membiarkan Tasya cek ke rumah sakit tampa di dampingi olehnya.
Reyhan memarkirkan mobilnya di basement, setelah itu dia menggandeng tangan istrinya menuju ke dalam rumah sakit. Sewaktu mereka melintasi ruang IGD, mata Tasya nanar melihat para dokter dan perawat yang sedang sibuk menangani pasien. Seketika langkahnya terhenti, dia begitu rindu akan profesinya. Tasya rindu seragam dokternya, dan juga rekan kerjanya.
"kenapa sayang??" tanya Reyhan yang melihat istrinya tiba-tiba melamun.
"nggak apa-apa kok.." ucap Tasya lalu melanjutkan kembali melangkahkan kakinya.
Hingga tibalah mereka di depan ruangan dr. Adrian. Ternyata sudah banyak ibu-ibu hamil yang mengantri di sana. Jam sudah hampir menunjukan pukul sepuluh pagi, sementara belum ada satu pun dari mereka yang di panggil ke dalam. Reyhan terlihat begitu gelisah sambil sesekali melihat jam di tangannya. Sementara Tasya dari tadi hanya diam, dia hanya bicara jika Reyhan bertanya padanya. Terselip rasa kesal pada suaminya itu, karena dia lah yang menyuruh Tasya untuk berhenti kerja.
"sayang, ikut aku.." Reyhan menarik tangan Tasya menuju kesebuah ruangan. Ternyata itu ruangan Direktur rumah sakit.
"ngapain ke sini??" tanya Tasya
"aku ingin komplen..!!
"nggak perlu sayang, mungkin dokternya ada halangan atau macet di jalan. sabar dong.."
Tampa mendengar perkataan Tasya, Reyhan langsung mengetuk pintu itu. Lalu terdengar suara dari dalam sana " masuk.."
ceklet... pintu terbuka.
"heyy bro..." sapa orang itu yang ternyata mengenal Reyhan.
"hey juga bro..." balas Reyhan sedikit kesal. "pelayanan rumah sakit lo kurang bagus bro, masa jam segini dokternya belum datang juga.." keluh Reyhan.
"duduk dulu bro.."
Tasya yang dari tadi tidak begitu memperhatikan tiba-tiba menjadi kaget dengan siapa yang di lihatnya..
Mas Rangga?? jadi rumah sakit ini milik keluarganya Adrian? aduhh semoga saja mas Rangga nggak ngenali gua..
"oh ya ini istri lo bro?? " ayo silahkan duduk.." ucap Rangga ramah.
"ya iyalah istri gua bro, masa gua bawa istri orang.." ujar Reyhan sambil menyuruh Tasya untuk duduk.
"tunggu... sepertinya gua pernah liat istri lo bro, wajahnya nggak asing. Tapi dimana ya??" ucap Rangga sambil memegang kepalanya seolah sedang berfikir.
"ya mana gua tau.." jawab Reyhan sambil mengedikan bahunya.
__ADS_1
"gua ingat... Na.. Na.. Natasya ??" iya gua nggak salah, kamu Natasya kan??" tanya Rangga.
"iya mas..." jawab Tasya singkat sambil tersenyum.
"wah.. benar kata orang ternyata dunia ini sempit ya.. Akhirnya setelah bertahun-tahun bisa bertemu lagi.."
"Emang lo kenal istri gua darimana??" tanya Reyhan penasaran.
"istri lo ini hampir jadi adek ipar gua tau nggak? gara-gara dia ni adek gua jadi frustasi.."
"siapa adek lo??"
"Adrian.. dokter kandungan yang akan lo temui.. "ujar Rangga.
"jadi Adrian itu adek lo??"
"iya bro.. dia tu bucin bangat sama Natasya dulunya.." Rangga terlihat terkekeh mengingat kejadian waktu dulu.
"gua nggak mau bahas masa lalu bro, nggak penting juga. Sekarang lo telpon adek lo suruh datang sekarang juga.." ucap Reyhan kesal.
"ya udah, bentar ya.." Rangga meraih ponselnya lalu menelpon adiknya tersebut..
"kok lama kali nyampenya Yan?? pasien lo udah pada nunggu tuh.."
"udah sampai mas, ini udah di ruangan.." jawab Adrian di sana.
"ya udah, ini ada temannya mas, istrinya mau cek kandungan.."
"ok...". Rangga menutup telponnya. "dokternya udah ada di ruangannya bro, jadi lo langsung aja ke ruangannya.."
"thank you bro, kalau gitu gua permisi dulu.."
"siap bro.."
Kini Reyhan dan Tasya menuju ke ruangannya Adrian. Karena Reyhan hanya diam, Tasya pun memulai percakapan. "sayang.. aku deg-gan banget.."
"santai aja sayang... kamu nggak usah terlalu tegang.. Mudah2an anak kita sehat.."
"hmmmm..."
Kini mereka sudah sampai di depan ruangan Adrian. Lalu mereka langsung masuk, karena memang Tasya sudah mengambil nomor Antrian pertama.
"Selamat pagi Natasya, mas Reyhan..." sapa Adrian dengan senyum manisnya.
"ini tuh udah siang dok, bukan pagi lagi.." ujar Tasya ketus.
"hehe... sorry ya Nat, tadi ada urusan bentar makanya agak terlambat. Oh ya silahkan berbaring aku akan melakukan pemeriksaan..." titah Adrian.
__ADS_1
"tunggu... " ucap Reyhan tiba-tiba.
"kenapa lagi sayang?? tanya Tasya.
"emangnya nggak ada dokter kandungan perempuan di rumah sakit ini??" tanya Reyhan.
"ada mas... tapi lagi cuti. Mas tenang aja, nggak di apa-apain kok..." jawab Adrian sambil melebarkan senyumnya, lalu mengoles gel di perut Tasya.
Kini Adrian mulai menempelkan alat USG itu di atas perut Tasya, hingga terlihat jelas bayi mereka di dalam layar monitor.
"bayinya sehat, sampai sejauh ini nggak ada masalah.."
Karena bulan lalu bayinya menutupi jenis kelaminnya saat di Usg, kali ini bayinya sudah tidak menutupinya lagi sehingga mereka bisa melihatnya secara langsung.. " bayi kalian perempuan Nat.." ujar Adrian.
"syukurlah... aku senang bangat..." ujar Tasya sambil memegang erat tangan Reyhan.
Hingga Reyhan tidak mampu lagi menahan air matanya, dia begitu terharu akan karunia yang Tuhan berikan padanya.
"Ya Tuhan.. rasanya seperti mimpi aku bisa melihat secara langsung buah hati kami. Nenek, sepertinya keinginan nenek terkabul karena anak kami berjenis kelamin perempuan. Semoga nenek bahagia dan bisa melihatnya dari sana.."
Setelah melakukan pemeriksaan mereka pun segera pamit pada Adrian.
"Nat... tunggu..." ucap Adrian.
"kenapa Yan??"
Adrian lalu mengulurkan undangan warna merah muda ke tangan Tasya. "datang ya ke pernikahan aku.."
"wah... selamat ya Yan, akhirnya kamu menikah.." ujar Tasya bahagia. Ingin rasanya dia memeluk Adrian, tapi di tahannya karena takut Reyhan akan marah.
"makasih ya Nat, semoga kita selalu bahagia.."
Setelah itu Reyhan dan Tasya meninggalkan ruangan Adrian dengan penuh kebahagiaan. Mereka seperti tak sabar menanti kehadiran buah hati mereka.
Kini Reyhan sudah bersiap di depan kemudi, "hari ini aku akan mengajakmu bersenang-senang, silahkan kamu pilih tempat yang kamu suka.." ujar Reyhan.
"oke baiklah... yang pertama aku akan mengajakmu makan siang karena perut aku udah lapar, yang kedua aku akan mengajak kamu untuk belanja baju bayi, yang ketiga kita nonton bioskop, dan yang terakhir makan malam romantis di Restoran R" ucap Tasya penuh semangat.
"baiklah istriku, aku akan memenuhi semua permintaanmu. Aku akan membahagiakan kamu dan anak kita seumur hidupku.."
Tasya lalu memeluk Reyhan dengan erat. "makasih suamiku.. I love you.."
"I love you too..."
End
****
__ADS_1
Warna Cinta Natasya berakhir sampai di sini. Aku sebagai penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada kalian yang sudah setia dengan cerita ku, memberi semangat dan dukungannya kepadaku sehingga aku mampu menyelsaikan cerita ini. Semoga kita sehat selalu.. Dan jangan lupa dukungannya untuk karya kedua ku yang berjudul "Polisi tampan anak pembantuku"
Terima kasih❤️❤️❤️❤️