
Hari pertama dan misi pertama Tim Elang adalah untuk melakukan pencarian informasi tentang zombie mutasi baru yang diceritakan Wahyu kemarin dan anggota yang dipilih seharusnya Dani, tapi Wahyu yang menggantikannya karena tidak mau Dani kehilangan fokusnya dalam latihan.
“Anggota dari Tim Elang yang akan ikut dalam misi ini adalah orang yang bernama Dani . . . oh dia adalah orang yang kukunci waktu itu” ucap Mei sambil membaca data dari orang yang akan ikut dalam misi. “Jadi dimana dia sekarang?” sambungnya yang kemudian melihat barisan anggota Zombie Resistance di depannya. Di saat dia mencari Dani di barisan itu, Mei menemukan orang yang seharusnya tidak ikut malah ada di barisan itu. “Hei! Kau!” teriak Mei sambil menunjuk ke arah Wahyu yang ada ditengah barisan ”Kemarilah sebentar!” perintahnya.
Wahyu yang tiba-tiba dipangil oleh Mei hanya bisa menurutinya karena Mei yang menjadi pimpinan dalam misi saat itu.
“Jadi. . . kenapa kau ada disini?” tanya Mei kepada Wahyu dengan muka yang terlihat kesal.
“Eh? Bukannya ada misi ya?” jawab Wahyu dengan pertanyaan lain.
“Iya, tapi harusnya anggota timmu yang bernama Dani yang ikut, bukan kau!” ucap Mei yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Oh soal itu, Dani sedang ada kesibukan yang penting, jadi aku yang menggantikannya” jawab Wahyu dengan santainya.
“Hah?!” ucap Mei yang makin kesal dengan jawaban Wahyu. “Enak sekali dia meninggalkan tugasnya kepada orang lain” ucap Mei yang saking kesalnya, dia sampai menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan keras.
“Sudahlah, yang penting ada penggantinya kan dan juga, yang ingin menggantikannya adalah aku, tidak berarti dia yang memintaku untuk menggantikannya” ucap Wahyu yang mencoba untuk menenangkan Mei.
“Kau juga! kenapa kau dengan senang hatinya mau menggantikannya?!” tanya Mei dengan nada tinggi.
“Yah . . . karena aku tidak ada pekerjaan, jadinya daripada tidak ada pekerjaan, lebih baik aku saja yang melakukannya” jawab Wahyu dengan masih dengan nada santai tanpa ada rasa takut atau bersalah terhadap Mei yang sangat kesal.
“Ini misi penting tahu! Apa kau yakin bisa melakukannya?! Dan Kapeten Rin memilih Dani untuk misi ini karena kemampuan pengamatannya, bukan kemampuan memimpin!” ucap Mei marah sambil merendahkan Wahyu.
“Kenapa kau dari tadi marah terus? Aku akan melakukan tugasku semaksimal mungkin dan juga aku tidak akan menghambat misi ini jadi bisakah kita langsung berangkat saja?” ucap Wahyu yang bingung kenapa Mei sampai semarah itu.
__ADS_1
“Kau pikir kau siapa berani memerintahku seperti itu?!” Mei semakin marah setelah mendengar ucapan Wahyu.
“Komandan, sudah waktunya untuk berangkat” ucap salah satu anggota Zombie Resistance yang ada di belakang Mei. Mendengar hal itu, Mei menoleh ke prajurit itu dengan muka yang menakutkan dan membuat prajurit itu tersentak kaget, namun setelah melihat jam tangannya, Mei langsung menenangkan dirinya.
“Baiklah, suruh semuanya bersiap!” ucap Mei dengan tegas.
“Baik!” jawab anggota Zombie Resistance yang ketakutan itu yang langsung pergi berlari menuju pasukan yang sudah berbaris dari tadi.
“Padahal kalau tidak sedang marah dia punya wibawa yang bagus” gumam Wahyu pelan.
“Apa kau bilang?!” ucap Mei dengan nada tinggi.
“Tidak, aku tidak mengatakan apapun” jawab Wahyu dengan mengeluh.
Pasukan dibagi menjadi 4 Tim kecil yang berisikan 3 orang dan setiap Tim akan memeriksa satu dari empat distrik yang ada, yaitu timur, barat, selatan, dan utara. Wahyu dipaksa Mei untuk bergabung dengan Timnya karena dia berpikir kalau Wahyu tidak memiliki kemampuan yang cukup dan akan menghambat kinerja Tim lain dan jika Wahyu bersamanya maka Mei juga bisa mengawasinya.
Setelah pembagian tugas, Tim Mei mendapatkan tugas untuk memeriksa bagian timur. Mereka mulai memasuki distrik yang posisi bangunannya merapat sekali dan memiliki beberapa gang kecil di antara bangunan tersebut. Setelah beberapa menit, Wahyu mulai menyadari kalau tempat itu pernah dia lihat sebelumnya. Karena gangnya terlalu banyak, Mei memutuskan untuk berpencar.
Setelah berpencar, Wahyu sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti pasar dan yang membuatnya kaget, pasar itu adalah tempat dimana dia bertarung melawan zombie Butcher, secara reflek, Wahyu langsung mencari tembok terdekat dan menempelkan punggungnya ke tembok tersebut.
“Mei, apa kau mendengarku? Daerah ini adalah daerah dimana aku bertemu dengan Butcher! Secepatnya carilah bangunan terdekat dan menempellah ke bangunan itu!” teriak Wahyu melalui radio yang telah dibagikan tadi.
Di sisi lain Mei mendengar peringatan Wahyu dan langsung menempelkan punggungnya di bangunan yang ada di belakangnya.
“Di sini Mei, aku sudah menempelkan punggungku, memangnya ada apa?” tanya Mei melalui radio.
__ADS_1
Belum juga Wahyu menjawab pertanyaan Mei, tiba-tiba ada sebuah benda menyerupai usus yang melesat di depan Mei dan melewatinya dengan sangat cepat. Mei langsung kaget dan bingung dengan benda apa yang ada di depannya itu, terlihat benda itu terus bergerak-gerak, sampai beberapa detik kemudian akhirnya benda itu berhenti. Mei memotret benda itu dengan Handphonenya sebagai data untuk diberikan kepada Kapten Rin nanti. Setelah 2 sampai 4 potretan, benda itu bergerak-gerak lagi dan kali ini bergerak seperti menarik kembali ke tempatnya keluar tadi. Benda itu terus menarik sampai terdengar suara teriakan seorang laki-laki yang kedengaran kesakitan dan ketakutan. Mei mencoba melihat ke arah suara teriakan itu dan secara samar-samar Mei melihat seorang anggota Zombie Resistance terlilit oleh ujung dari benda yang ada di depannya tadi dan tertarik dengan cepat. Secara reflek, Mei langsung menembaki benda yang ada di depannya itu untuk menolong anggota Zombie Resistance yang terlilit itu, namun karena cepatnya benda itu bergerak, setiap tembakan Mei terpental sebelum dapat menembus benda itu.
“Sial! Kenapa semua tembakanku tidak ada yang berhasil!” ucap Mei kesal.
Setelah 1 magazine M4A1 milik Mei habis, anggota Zombie Resistance yang terlilit tadi sudah melewati Mei dan ditarik menghilang dari penglihatan Mei. Karena tidak terima dengan kegagalan, Mei mengikuti benda itu tadi. Untungnya tempat Mei berada adalah satu gang panjang, jadi Mei berpikir tidak mungkin benda itu melewati jalan lain. Setelah beberapa saat berlari, Mei akhirnya sampai di ujung gang tersebut, Mei menempelkan punggungnya ke tembok dan mencoba mengintip keadaan diluar gang itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya pandangannya terpaku kepada sesuatu. Sesuatu itu adalah zombie berbadan besar dan memiliki perut yang terlihat lebih besar dari badannya sedang bersandar di satu bangunan besar dan tinggi, di sekelilingnya juga terlihat mayat-mayat dari zombie dan juga manusia bergeletakan dengan keadaan yang tidak lengkap. Melihat semua itu, Mei sempat ingin muntah, tapi dia menahannya agar tidak ketahuan oleh zombie itu. Mei mencoba memperhatikan zombie itu lagi dan dia melihat benda yang melewatinya tadi yang sedang mencoba memasukkan anggota Zombie Resistance yang dililitnya tadi ke perut zombie itu, setelah beberapa kali menabrakkan tubuh anggota Zombie Resistance ke perut zombie itu, perutnya kemudian terbuka dan memperlihatkan sesuatu yang mengerikan di mata Mei, susunan tulang rusuk yang tajam yang membentuk seperti rahang di dalam perut zombie itu mulai menarik benda tadi, yang ternyata adalah usus dari zombie itu, perutnya menarik ususnya yang melilit mangsanya itu kembali ke dalam perutnya dan saat tubuh mangsanya mulai memasuki susunan tulang rusuk itu, mereka langsung bergerak dan mulai mencabik-cabik tubuh itu. Satu teriakan singkat terdengar dari tubuh anggota Zombie Resistance itu, yang kemudian langsung terdiam karena tubuhnya sudah menjadi potongan-potongan yang berserakan dimana-mana. Melihat pemandangan itu, Mei langsung lemas dan merasa ketakutan. Tangannya yang memegang senjata itu pun menjatuhkan senjata itu.
“Oh tidak” ucapnya pelan lalu mencoba untuk menangkap senjatanya yang jatuh agar tidak menimbulkan suara, tapi terlihat tangannya tidak akan sempat menangkapnya. Tiba-tiba muncul sebuah tangan dari arah lain yang menangkap senjata Mei yang jatuh itu dan langsung menempelkan badannya di bangunan tepat di sebelah Mei. Di saat Mei melihat siapa itu, ternyata itu adalah Wahyu.
“Hup, untung saja belum menyentuh tanah” ucapnya. “Jadi, bagaimana rasanya melihat monster itu memangsa korbannya” sambungnya dengan tersenyum. Melihat Wahyu tersenyum hanya membuat Mei kesal dan akhirnya dia menendang kaki Wahyu.
“Apa maksudmu bagaimana rasanya, itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah kulihat” ucap Mei kesal. Mei mulai mencoba menenangkan dirinya. “Jadi, apakah itu zombie yang kau maksud?” tanya Mei memastikan.
“Iya, tapi kelihatannya dia sudah bertambah besar, sebelumnya dia masih berukuran 2.3 meter” jawab Wahyu sambil memperhatikan Butcher yang sedang memakan mangsanya.
“Sepertinya dia akan mencari makanan lagi, ma’af tapi bisakah kau memperingati anggota lainnya? Jika aku yang bicara, pasti tidak akan ada yang mempercayaiku” ucap Wahyu meminta dengan sopan.
“Baguslah jika kau mengerti posisimu” ucap Mei menyindir yang kemudian mulai memberitahu pasukan lainnya untuk segera menempelkan tubuh mereka dengan bangunan yang ada di dekat mereka.
Butcher yang diawasi Wahyu itu sudah mencerna makanannya dan perutnya sudah mulai terbuka lagi, kemudian dari perutnya itu melesatlah ususnya yang digunakan untuk mencari makanan lagi. Wahyu mulai memperhatikan Btucher itu dengan seksama, usus yang dikeluarkan zombie itu terlihat lebih lamban dari sebelumnya, tapi usus itu juga terlihat lebih besar. Sebelumnya usus yang diluncurkan oleh Butcher mengalami kenaikan kecepatan setiap 50 meter, namun kali ini percepatannya terjadi setiap 150 meter, dalam kata lain ini adalah suatu keuntungan jika ingin menghadapinya dalam jarak dekat, namun ukuran ususnya itu juga bisa menjadi ancaman dan juga masih belum adanya kepastian seberapa besar peningkatan kekuatan lilitannya. Wahyu terus memikirkan semua informasi yang bisa dia dapatkan dan bagaimana cara menggunakannya tanpa memperdulikan hal lainnya, sampai akhirnya terasa sebuah sentuhan di punggung sebelah kanan Wahyu dan membuatnya langsung menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Mei yang sudah memberi perintah kepada pasukan lainnya untuk kembali ke markas.
“Hei, kau dari tadi memikirkan apa? Ayo kembali, semuanya sudah kusuruh kembali karena kita sudah menandai posisi zombie mutasi itu” ucap Mei.
“Oh iya, baiklah” jawab Wahyu sedikit kecewa.
Setelah itu Wahyu dan Mei mulai kembali ke Shelter dengan hati-hati. Dalam perjalanan kembali, Wahyu sedikit kecewa karena masih banyak data penting yang bisa dia dapatkan, jika dia bisa berada disana lebih lama lagi. Setelah sampai di markas Zombie Resistance Cina, semua pasukan diperintahkan untuk mengumpulkan apa yang mereka dapatkan, setelah itu mereka bisa pergi melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Di saat Wahyu akan pergi kembali untuk istirahat, Wahyu dipanggil Mei dan menyuruhnya untuk melapor langsung kepada Kapten Rin.
__ADS_1