
“Jadi? Sudah tenang?” tanya Gold sedikit kelelahan.
Wahyu terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Setelah beberapa detik, tubuh Wahyu akhirnya menunjukkan gerakan dan membuat Gold lega.
“Jadi sejak kapan hal ini sudah berlangsung?” tanya Gold lagi.
“Baru beberapa hari” jawab Wahyu. Dengan sedikit usaha, Wahyu melepaskan dirinya dari kuncian Gold dan berdiri dengan santainya “Aku tidak mengatakannya karena aku ingin kau menyimpan vaksin itu sampai aku benar-benar sangat membutuhkannya”
“Yah, jika kau berpikir seperti itu, kau akan berakhir dibenci semua orang” balas Gold “Lagipula, Brown dan Black masih punya 1 masing-masing”
“Haah” Wahyu menghela nafas “Setelah sekian lama, aku pikir hal ini tidak akan terjadi lagi padaku”
“Lalu bagaimana kau berakhir seperti ini lagi?” tanya Gold yang duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Ada seseorang yang mengetahui latar belakangku, tapi melihat dia tidak langsung memanfaatkan kondisiku, sepertinya dia tidak tahu tentang keadaanku sepenuhnya” jawab Wahyu.
“Sudah tahu dimana dia?” tanya Gold.
“Di negara ini, di suatu tempat di Shelter Negara Jepang” jawab Wahyu singkat.
“Kau mau aku atau Brown yang mencarinya?” tanya Gold lagi.
“Tidak perlu, aku hanya perlu menunggu waktu yang membereskannya” jawab Wahyu yang mulai bersandar di tembok. Muncul keheningan di antara Wahyu dan Gold, namun itu bukan karena canggung atau gugup, namun itu karena pada saat ini mereka berdua memikirkan langkah apa yang bisa mereka lakukan selanjutnya.
“Leader, kenapa kau tidak mau membantu Hana?” tanya Gold lagi.
“Aku tidak bisa” jawab Wahyu sedikit menyesal “Aku tidak ingin mereka berdua tenggelam pada hal yang sama, apalagi sampai mereka bertarung satu sama lain”
“Maksudmu Si Kakak? Kenapa kau yakin sekali kalau mereka akan bertarung satu sama lain?” tanya Gold yang mulai tertarik.
“Aku bertemu dengannya tadi” jawab Wahyu “Dia sangat marah padaku dan dia mencoba untuk membunuhku”
__ADS_1
“Berapa detik?” tanya Gold.
“sepuluh detik” jawab Wahyu.
“Kau menjadi semakin lembek” balas Gold “Aku yakin bisa menjatuhkannya dalam waktu tiga detik, apalagi saat dia dikendalikan oleh emosinya itu”
“Aku tidak ingin menyakitinya, itu yang kupikirkan, tapi aku berakhir memukuli wajahnya tiga kali, jika Septian tidak menghentikanku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada wajahnya” ucap Wahyu semakin menyesal. Melihat Wahyu yang semakin murung, Gold berdiri dan menepuk pundaknya.
“Bukankah itu lebih masuk akal lagi jika kau membantu Hana?” ucap Gold mengusulkan idenya.
“Sudah kubilang aku tidak-“ sebelum Wahyu menyelesaikan kalimatnya, Gold memotong kalimatnya.
“Kau tidak perlu membantunya saat dia mau balas dendam, setidaknya latihlah dia sedikit lagi, sampai dia bisa setara dengan kakaknya, sampai dia bertemu dengan orang yang membunuh ibunya, setelah itu biarkan dia mengambil keputusannya” sambung Gold. Wahyu terdiam sejenak setelah mendengarkan usulan Gold.
“Bagaimana jika dia memilih pilihan yang buruk?” tanya Wahyu.
“Artinya dia bukan orang yang kau harapkan” jawab Gold santai “Kau tidak bisa terus mengharapkan orang lain untuk menjadi seseorang yang kau inginkan, kau sudah tahu itu”
Sekali lagi Wahyu terdiam.
“Sepertinya ucapanmu benar” balas Wahyu “Aku menjadi semakin lembek” Wahyu mulai menunjukkan senyumannya kembali, melihat itu Gold juga ikut tersenyum.
“Kau yang seperti inilah yang selalu bisa memimpin kami” ucap Gold.
“Baiklah, aku akan membimbing Hana, untuk hasil akhirnya, aku akan membiarkannya memutuskannya sendiri” ucap Wahyu yang sudah yakin dengan keputusannya.
“Bagus! Kau sudah kembali dipenuhi dengan percaya diri” ucap Gold memuji Wahyu “Bagaimana kalau latih tanding sekali lagi?”
“Kurasa tidak dulu, kau masih lemas kan?” ucap Wahyu yang kemudian menyentuh bagian belakang lutut Gold dengan kakinya dan membuat Gold hampir jatuh kedepan “Kau menggunakan hampir tujuh puluh persen tenagamu untuk menahanku, tidak adil rasanya jika aku masih bisa menggunakan seluruh tenagaku sedangkan kau tidak” ucap Wahyu yang menahan tubuh Gold yang hampir jatuh tadi dengan satu tangan.
“Kau selalu bisa melihat kondisi kami dengan akurat” Gold menstabilkan tubuhnya dan berdiri sendiri lagi “Kalau begitu aku akan melihat Brown, aku ingin sedikit melepaskan rasa frustasiku”
__ADS_1
“Jangan terlalu berlebihan” ucap Wahyu yang melihat Gold mulai berjalan meninggalkannya sambil menunjukkan tanda oke dengan tangannya.
“Tidak kusangka aku akan diceramahi oleh anggota timku sendiri” gumam Wahyu “Baiklah, sepertinya bukan aku saja yang harus membimbing orang menjauhi dendamnya” ucap Wahyu yang menyiapkan dirinya “Aku harap kau tidak mendapatkan kesulitan, Sep” setelah mengucapkan itu, Wahyu mulai berjalan untuk mencari Hana untuk memberitahu keputusannya.
Satu hari berlalu dan hari baru pun datang. Tim Elang masih terpisah dan melakukan tugas mereka masing-masing. Septian mencoba mencari informasi menggunakan posisinya sebagai Wakil Ketua Yukikaze sekalian mencoba membuat Nana agar bisa melupakan dendamnya, Wahidyn memproses semua data yang sudah dia dapatkan dari divisi intelegensi dengan bantuan Takeru, Dani dan Rin yang terus melakukan kegiatan di lingkungan para pemimpin pasukan, dan yang terakhir Wahyu yang mengarahkan Rogue sesuai rencananya dan juga membuat rencana untuk pembasmian Oni.
Septian melanjutkan harinya di tempat latihan Yukikaze dan mulai berlatih bersama anggota Yukikaze. Saat ini dia sedang berlatih kemampuan berpedang, dia diajari oleh salah satu teman barunya yang bernama Kenta.
“Kau sudah memiliki dasarnya, tinggal menyempurnakan tekniknya saja” ucap Kenta yang mengawasi Septian.
“Tapi yang kulakukan hanya mengayunkan pedang sesuai instruksimu saja” balas Septian yang tidak paham.
“Meamng seperti itulah cara berpedang, kami hanya diajarkan dasarnya saja, setelah itu kami diberikan demonstrasi Teknik khusus dan disuruh untuk mempelajarinya sampai bisa menggunakan Teknik itu” jawab Kenta mencoba menjelaskannya semudah mungkin.
“Apakah teknik itu seperti yang dilakukan Nana kepada Oni kemarin?” tanya Septian memastikan dugaannya.
“Iya, itu salah satunya” jawab Kenta “Kosetsu adalah gerakan menebas dengan kecepatan tinggi mengikuti arah pedang agar tidak terhenti di tengah-tengah gerakan” jawab Kenta menjelaskan lagi “Itu adalah teknik yang paling dasar, tapi banyak dari kami yang masih belum bisa melakukannya”
“Oh, begitu ya” ucap Septian yang sudah mengerti.
“Oh iya, ini saran dariku, kemungkinan besar Tuan Putri akan serius menghadapimu hari ini, jadi cobalah sesuatu yang baru agar tidak kalah” ucap Kenta memberikan saran kepada Septian.
“Iya, aku tahu, tapi menang atau kalah bukanlah masalah untukku, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya saja” jawab Septian “Karena aku harus mengalihkan perhatiannya dari dendamnya agar tidak mencoba untuk terus membunuh Wahyu” sambungnya di pikirannya.
Kenta yang mendengar jawaban Septian terkejut.
“Tidak kusangka kau mau mencoba keberuntunganmu dengan Tuan Putri” ucap Kenta bersemangat “Aku tidak tahu berapa tinggi kesempatanmu, tapi aku akan mendukungmu”
Septian yang melihat Kenta tiba-tiba bersemangat bingung dengan tingkah lakunya, tapi dia tidak menghiraukannya.
“Septian!” teriak Nana yang memanggil Septian dari tempat bertanding “Persiapkan dirimu! Kita mulai pertandingan kita yang kedua”
__ADS_1
“Lihat, kau sudah dipanggil, tunjukkan betapa kerennya dirimu” ucap Kenta yang mendorong Septian untuk segera menjawab panggilan Nana.
“Iya aku tahu, kalau bisa aku harus menang” balas Septian. Septian kemudian menggenggam erat pedangnya dan mulai berjalan menghampiri Nana.