
Beberapa detik setelah ledakan itu terjadi, beberapa tentara memasuki ruangan dan mengamankan seluruh ruangan. Wakil Kapten Teto juga ikut memasuki ruangan dan langsung mencari keberadaan Wahyu. Wakil Kapten mencari ke seluruh ruangan dan saat dia tidak menemukannya, Wakil Kapten menghampiri Septian dengan wajah yang terlihat marah.
“Dimana dia?!” teriak Wakil Kapten Teto sambil memegangi kerah baju Septian.
“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja ada ledakan” jawab Septian panik.
“Kalian pasti yang mengeluarkannya dari sin ikan?!” Wakil Kapten Teto terus menekan Septian sampai akhirnya dia menyadari ada sebuah kertas yang terselip di saku baju Septian. Wakil Kapten Teto langsung mengambil kertas itu.
“Apa ini?” Wakil Kapten Teto membuka kertas itu dan membaca isinya. Setelah beberapa detik, Wakil Kapten menjadi semakin marah dan membuang kertas itu ke tanah.
“Jelajahi lorong itu dan temukan penjahat itu!” suruh Wakil Kapten kepada pasukannya.
“Ma’af karena aku kehilangan kendali diriku” ucap Wakil Kapten yang sudah tenang “Sepertinya kalian masih belum mengerti situasi sebenanrnya, jadi kalau kalian berkenan aku mengundang kalian dalam rapat yang membahas Zombie Mutasi baru dan juga tentang pemberontakan yang terjadi di Negara ini” Wakil Kapten memberikan kartu ID miliknya kepada Septian “Perlihatkan itu kepada penjaga di lantai 8 di gedung ini dan dia akan mengantarmu ke ruangan rapat, jika kalian ingin mengetahui detail permasalahan ini” setelah mengucapkan itu, Wakil Kapten Teto langsung meninggalkan Tim Elang.
Tim Elang masih terdiam karena semua yang terjadi terlalu mendadak.
“Teman-teman lihat ini” ucap Wahidyn yang mengambil kertas yang dibuang Wakil Kapten Teto.
“Apa isinya?” tanya Dani.
“Aku menitipkan bebanku kepadamu ya Tuan yang emosian” ucap Wahidyn membaca tulisan yang ada di kertas itu.
“Beban?” tanya Dani bingung.
“Itu maksudnya kita” jawab Septian “Wahyu ingin memancing emosi Wakil Kapten Teto”
“Untuk apa?” tanya Dani lagi.
“Wahyu ingin mengetahui apakah Wakil Kapten Teto termasuk ke kelompok yang tidak bersalah atau bukan” jawab Rin.
“Memang seperti itulah Wahyu” ucap Septian mengeluh “Jadi, bagaimana selanjutnya?” tanya Septian.
“Bukannya Wahyu sudah menjelaskannya, aku akan bersama Dani, Wahidyn bersama Takeru, dan kau bekerja sendiri” jawab Rin “Saranku jika kau tidak tahu harus kemana, ikutilah rapat itu”
“Yah memang itu yang kupikirkan” ucap Septian sambil memeriksa ID Wakil Kapten Teto.
Di sisi lain, Wahyu bersama dua orang yang tidak dikenal oleh Tim Elang sedang berlari menyusuri gorong-gorong.
__ADS_1
“Selamat datang di Jepang Leader! Bagaimana sambutannya?” tanya laki-laki berambut hitam dengan gradiasi emas di ujung rambutnya.
“Sangat meriah, seperti yang kuharapkan” jawab Wahyu.
“Tentu saja, itu semua berkat barang buatanku” ucap laki-laki lainnya yang memiliki rambut cokelat.
“Tapi yang merencanakan semuanya itu aku!” ucap laki-laki dengan rambut hitam bergradiasi emas.
“Berisik kau Gold, rencanamu tidak akan berhasil tanpa bantuan alatku” balas laki-laki berambut cokelat.
“Kau juga Brown, berhenti menyombongkan dirimu dihadapan Leader” balas laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Gold.
“Kalian berdua masih akrab seperti biasanya ya, Gold, Brown” ucap Wahyu.
Laki-laki berambut hitam bergradiasi ema situ adalah salah satu anggota COLORED dengan codename Gold, sedangkan yang berambut cokelat adalah Brown.
“Jadi, bisakah kalian jelaskan pemasalahan di Negara ini?” suruh Wahyu.
“Apakah Leader ingat dengan kejadian kebakaran rumah dulu saat kita ada misi di negara ini?” jawab Gold dengan pertanyaan lain.
“Iya, aku bahkan diingatkan lagi tadi saat di sel” jawab Wahyu.
“Tapi bukan aku pembunuhnya” balas Wahyu.
“Iya, kami tahu, kau bukanlah orang yang membuang-buang waktu hanya untuk membunuh orang yang tidak penting” balas Gold “Tapi si Wakil Kapten atau kakaknya Kapten Negara ini yang bernama Saito Yukiokiru terus bersikeras kalau yang membunuh istri Saito adalah kau”
“Jadi si Wakil Kapten itu memang ada hubungannya ya” ucap Wahyu.
“Begitulah” balas Gold.
“Sangat menyenangkan bisa bertemu dan berbicara padamu lagi G, tapi aku pikir lebih baik kita ke markas rahasia dulu” ucap Brown memotong pembicaraan Wahyu dan Gold.
“Bukankah kita berlari memang karena untuk menuju ke sana?” tanya Wahyu.
“Aku hanya ingin mengulur waktu untuk bisa menyapa dan menyambutmu, kalau sudah selesai lebih baik kita pakai kendaraanku” Brown kemudian mengambil sebuah remot dan menekan tombol di remot itu, setelah itu dari kejauhan terdengar suara mesin yang mendekati mereka, sedikit demi sedikit sesuatu yang membuat suara mesin itu terlihat dan ternyata itu adalah dua buah motor yang secra automatis melaju ke arah mereka bertiga. Setelah mendekati Wahyu, Gold, dan Brown, kedua motor itu langsung berhenti.
“Kau masih bisa mengendarai in ikan?” tanya Brown kepada Wahyu.
__ADS_1
“Biar kutebak, kau ingin aku yang menyetir dan kau duduk di belakang?” ucap Wahyu menebak pikiran Brown.
“Memang hebat pimpinan kami satu ini, kau sangat mengerti aku” jawab Brown tersenyum jahil.
“Kau ini benar-benar tidak berubah” ucap Wahyu mengeluh.
“Bayangkan betapa menyusahkannya mengurusi orang seperti dia sendirian” ucap Gold yang juga mengeluh.
“Sudah jagnan buang-buang waktu, lagipula kalian sangat membutuhkan kemampuanku bukan” ucap Brown bangga.
Wahyu dan Gold menatap satu sama lain kemudian menghela nafas.
“Oke lah, Gold kau duluan, aku tidak tahu tujuan kita kemana, aku akan mengikutimu dari belakang” suruh Wahyu kepada Gold.
“Siap laksanakan!” ucap Gold yang dengan semangatnya menjawab sambil memberikan hormat singkat. Wahyu, Gold, dan Brown akhirnya mengendarai sepeda motor yang sudah dimodifikasi oleh Brown untuk menuju ke markas yang dibicarakan oleh Brown dan Gold.
Kembali ke Shelter Negara Jepang, Tim Elang yang ditinggalkan oleh Wahyu, sudah berpisah sesuai kelompok masing-masing dan Septian sesuai dengan instruksi dari Rin, mencoba untuk mengikuti rapat yang dikatakan oleh Wakil Kapten Teto tadi. Septian menaiki lift dan naik ke lantai delapan, Septian tidak menyadarinya sebelumnya, tapi gedung Zombie Resistance di Negara ini lebih terlihat seperti hotel besar yang mewah dari pada markas untuk tentara yang bertugas untuk memastikan kelangsungan hidup ras manusia.
“Shelter ini terlihat seperti tidak pernah mengalami kesulitan dengan serangan zombie yang ada di luar sana” gumam Septian. Septian terus memperhatikan sekelilingnya sambil menunggu lift yang temboknya transparan itu membawanya ke lantai delapan.
Setelah beberapa menit, Septian akhirnya sampai di lantai delapan dan saat pintunya terbuka, Septian disambut oleh seorang gadis cantik berambut hitam lebat panjang sedang berjaga diluar pintu lift. Menyadari Septian menatapnya, gadis itu menghampiri Septian.
“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu ada keperluan disini?” ucap gadis itu dengan suara yang lembut tapi setiap kata yang keluar dari bibirnya yang berwarna merah muda cerah yang terlihat sangat lembut itu terdapat ketegasan seorang pejuang atau prajurit yang siap bertarung untuk memenuhi tugasnya.
“Ah itu, aku tadi mendengar ada rapat di sini” jawab Septian yang keluar dari lift agar tidak menghalangi orang lain yang mau menggunakan lift yang baru saja dia pakai.
“Siapa yang memberitahumu? Harusnya hanya beberapa orang saja yang diundang ke rapat hari ini” gadis itu menatap mata Septian dengan curiga, namun Septian tidak menyadari kecurigaan gadis itu karena dia terpesona dengan mata gadis itu yang berwarna putih kebiru-biruan, seperti warna salju.
“Halo? Apa kau mendengarku?” tanya gadis itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Septian, hal itu langsung menyadarkan Septian.
“Ah iya, yang memberitahuku adalah Wakil Kapten Teto, ini ID miliknya” jawab Septian sambil menunjukkan ID milik Wakil Kapten Teto. Gadis itu mengambil ID itu dan memeriksanya.
“Ini asli, baiklah ikuti aku” ucap gadis itu.
“Ah tunggu sebentar” panggil Septian menghentikan gadis itu “Namaku Septian, boleh aku tahu namamu?”
“Nana Yukiokiru, itu adalah namaku, senang berkenalan denganmu Septian-San” jawab Nana yang kemudian melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
“Nana Yukiokiru, nama yang bagus” gumam Septian yang kemudian mengikuti Nana menuju ruang rapat.