
Scratcher yang tergeletak tidak berdaya itu terlihat tidak berbahaya, Wahyu menggunakan sebuah besi yang kebetulan tergeletak di sekitar mobil untuk memeriksa apakah tubuhnya bereaksi pada sentuhan atau tidak. Setelah beberapa kali Wahyu menyentuh tubuh Scratcher dengan besi dan tidak ada reaksi, Wahyu mengambil sebuah ranting dan membuka mata Scratcher, mata Scratcher yang terkena sinar UV terlihat memiliki luka bakar.
“Begitu ya” ucap Wahyu.
“Apa yang kau temukan?” tanya Septian.
“Sepertinya sinar UV memiliki pengaruh kepada zombie mutasi” ucap Wahyu “Memang tidak mematikan bagi mereka, tapi sinar UV dengan intensitas yang cukup besar bisa menghambat regenerasi mereka, tapi tetap saja tidak sampai menghentikan regenerasinya”
“Jadi, apakah itu berguna?” tanya Wahidyn.
“Untuk saat ini mungkin tidak terlalu, tapi di masa depan mungkin bisa” jawab Wahyu sambil menyuruh Rin untuk menghancurkan otak di tangan Scratcher yang dia bawa.
“Bisa kau jelaskan?” tanya Wahidyn penasaran. Rin menginjak pergelangan tangan Scratcher yang dia bawa, seketika tangan dan tubuh Scratcher itu langsung meleleh dan meninggalkan tulangnya saja.
“Kalian tahu lightsaber yang ada di film-film itu kan?” tanya Wahyu. Tim Elang mengangguk menandakan mereka mengerti “Jika kita bisa membuat sesuatu seperti itu, maka itu akan sangat berguna untuk melawan zombie mutasi, namun saat ini kita tidak punya teknologi yang memenuhi untuk membuat sesuatu seperti itu”
“Memangnya tidak bisa ya jika aku meningkatkan intensitas senterku lagi?” tanya Wahidyn lagi.
“Sinar yang dipancarkan senter itu kan menyebar, setinggi apapun intensitasnya, pasti akan berkurang karena fokusnya tidak bisa di arahkan pada satu titik” jawab Wahyu. Wahidyn mau membalas jawaban Wahyu, tapi Wahyu mendahuluinya “Jika kau menyarankan untuk membuat laser juga tidak akan berguna, karena itu hanya akan menghambat regenerasi di titik yang kecil dan sekali lagi, jadi tidak berguna”
“Sayang sekali” ucap Wahidyn kecewa.
“Setidaknya kita mendapatkan sesuatu dengan eksperimen tadi” ucap Wahyu “Sekarang ambil semua tas kalian, mari lihat bagaimana keadaan bandara yang tertinggalkan ini”
Tim Elang kemudan kembali ke mobil dan mengambil tas mereka masing-masing dan mulai berjalan memasuki area bandara itu.
Saat sudah masuk ke bandara, Tim Elang terhenti karena bandara itu dipenuhi dengan zombie biasa yang berjalan kesana kemari.
“Wah, banyak sekali” ucap Septian mengeluh “Bagaimana kita bisa lepas landas dengan aman?”
“Kita kan hanya perlu pesawat dan jalur landasannya, kita tidak perlu membereskan mereka semua” jawab Wahyu.
“Jadi bagaimana rencananya?” tanya Dani.
__ADS_1
“Untuk saat ini kita masih perlu mencari pesawat yang bisa diperbaiki Wahidyn” ucap Wahyu yang mengambil silencer pistol dan memasangnya di pistolnya “Jadi untuk kali ini, Septian dan Dani, kalian tidak boleh ikut bertarung oke, biarkan aku dan Rin yang membersihkan jalan”
“Selama kita bisa berangkat tanpa masalah, aku ikut-ikut saja” jawab Septian.
“Tapi kan aku juga bisa bertarung, kenapa Rin boleh tapi aku tidak?” tanya Dani.
“Kau ini, kenapa kau bisa iri dengan istrimu sendiri” jawab Wahyu setelah menghela nafas “Rin punya gauntlet yang melindungi seluruh tangannya, jadi dia tidak akan terinfeksi, apa kau berencana untuk menyentuh zombie-zombie itu tanpa pengamanan apapun?”
“Iya juga sih, tapi bagaimana kalau Rin terluka?” ucap Dani sedikit khawatir.
“Ma’af Dani, aku memang pernah kalah darimu, tapi aku masihlah seorang Kapten, zombie-zombie bias aitu tidak akan bisa melukaiku” jawab Rin “Jadi jangan khawatir”
Setelah di yakinkan oleh Rin, akhirnya Dani setuju.
“Kalau begitu, tujuan pertama, ke hangar dulu” ucap Wahyu.
Tim Elang memulai perjalanan mereka menuju hangar di bandara itu. Tim Elang mencoba untuk menghindari jalan yang dipenuhi zombie, tapi jika tidak ada pilihan lain, Wahyu akan menghabisi zombie yang menghalangi dengan pistol yang dia pasangi silencer dan Rin akan menghabisi mereka dengan mendaratkan sebuah pukulan one hit KO di kepala zombie.
“Yah mau bagaimana lagi, saat di Pelabuhan kemarin kan ada banyak orang yang membuat kebisingan, sedangkan kali ini kita hanya berlima” jawab Dani.
“Dan kita semua mempercayai Wahyu, jadi selama kita mendengarkan rencananya, kita pasti aman” sambung Wahidyn.
Tim Elang melanjutkan perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di depan hangar, beruntungnya untuk mereka, hangar itu dalam keadaan pintunya terbuka, jadi Tim Elang tidak perlu khawatir akan suara yang akan dihasilkan saat mereka membuka pintu hangar.
Saat memsuki hangar, zombie yang ada di dalamnya tidak terlalu banyak, tapi untuk memastikan keamanan, Wahyu dan Rin menghabisi semua zombie yang ada di dalam hangar. Di saat Wahyu dan Rin sedang ‘bersih-bersih’ Wahidyn, Dani, dan Septian mencari pesawat yang masih utuh dan tidak memiliki kerusakan yang terlalu besar.
Setelah beberapa menit berlalu, Wahyu dan Rin akhirnya selesai ‘bersih-bersih’ dan berkomunikasi lewat communicator mereka untuk berkumpul dengan lainnya. Tim Elang akhirnya berkumpul kembali di tengah-tengah hangar.
“Bagaimana? Kalian menemukan pesawat yang bisa di perbaiki?” tanya Wahyu.
“Sebenarnya kami menemukannya, tapi itu adalah pesawat kargo” jawab Dani.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Wahyu lagi.
__ADS_1
“Pesawat kargo memerlukan bahan bakar yang cukup besar dan menerbangkannya cukup sulit dan membutuhkan dua orang” jawab Septian “Jadi pertanyaannya siapa yang akan jadi pilot dan co-pilot dan bagaimana kita mengambil bahan bakar yang ada di bandara”
“Aku bisa mempelajari cara mengendarainya dengan cepat selama ada panduannya” ucap Wahidyn.
“Untuk co-pilot, aku mengajukan diriku, aku dapat beradaptasi dengan cepat dengan situasi, jadi kalau ada keadaan tidak terduga, aku bisa mengarahkan Wahidyn” ucap Wahyu.
“Jadi sekarang tinggal mengambil bahan bakarnya” ucap Septian.
“Bukannya biasnya ada kendaraannya ya, yang biasanya mengisi bahan bakar pesawat?” tanya Dani.
“Itu masalahnya, kendaraan itu pasti akan menyebabkan suara yang bising” jawab Wahyu.
“Bukannya kita tinggal menahan zombie yang datang? Seperti di Pelabuhan dulu?” ucap Septian.
“Dulu kita punya persediaan amunisi yang banyak, sedangkan saat ini kita haya punya persediaan yang terbatas” jawab Wahyu.
“Apa aku perlu membuat pagar sinar UV seperti dulu?” tanya Wahidyn.
“Sekali lagi, dulu kita ada di lapangan luas, yang mana itu mencegah kita terkepung oleh zombie, kalau sekarang, kita ada di tempat yang tertutup, jika mayat zombie sudah bertumpuk di pagar, maka mereka tinggal memanjat dan akhirnya mengerumuni kita” jawab Wahyu.
“Bagaimana dengan membawa drumnya langsung?” tanya Rin.
“Kau tahu betapa beratnya satu drum bahan bakar pesawat itu, aku tidak yakin kita bisa mengangkatnya “ kalimat Wahyu terhenti dan melihat ke arah Rin seperti sadar akan sesuatu yang terlewat di pikirannya.
“Iya aku bisa” jawab Rin bahkan sebelum Wahyu mengajukan pertanyaannya.
“Aku benar-benar lupa kalau anggota kita bertambah satu, orang yang sangat kuat juga” ucap Wahyu “Baiklah kalau begitu, kita gunakan ide Rin dan langsung membawa satu drum bahan bakar, jadi sekali lagi kita bagi kelompok, aku, Dani, dan Rin akan mengambil bahan bakar, Septian, kau jaga Wahidyn selagi dia membenarkan pesawatnya” Wahyu kemudian memberikan pistolnya yang sudah diapasang silencer “Sekali tembakan di kepala, jika kau ragu, tendang jatuh lalu tembak saat masih terbaring di tanah”
“Oke” jawab Septian yang menerima pistol yang diberikan Wahyu.
“Baiklah, kita lakukan tugas kita masing-masing” ucap Wahyu.
Tim Elang mengangguk dan sekali lagi berpisah untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
__ADS_1