
Ruang tunggu tiba-tiba dipenuhi dengan keheningan. Setelah beberapa saat, pembawa acara mulai bersuara lagi dan menandakan kalau pertandingan kedua akan dimulai. Monitor yang ada mulai menampilkan pemandangan yang ada di dalam ruang pertandingan. Di dalam ruangan itu sudah tersedia jalur lurus dengan beberapa rintangan yang sudah siap menghadang para peserta, rintangan pertama adalah ladang ranjau angin, sebuah area yang dipenuhi dengan ranjau khusus yang akan mengeluarkan hembusan angin yang sangat kencang hingga bisa menghempaskan orang. Setelah itu rintangan kedua adalah rintangan keseimbangan, yang mana peserta diharuskan untuk menyebrang sebuah kolam air yang dialiri aliran listrik tegangan rendah dan jalan yang tersedia hanyalah sebuah batang pohon yang tidak terlalu besar dan sedikit licin. Rintangan ketiga adalah ruangan jebakan, peserta harus memasuki ruangan yang penuh dengan jebakan panah, di dalam ruangan itu, peserta harus bertahan selama 5 menit sambil menghindari runtutan panah tumpul yang dilesatkan ke arah peserta. Terakhir adalah rintangan yang menguji kekuatan tangan dan ketahanan, yaitu mendaki tembok sambil menghindari jebakan kayu yang akan mendorong peserta yang sedang mendaki dari dalam lubang yang ada di tembok, meskipun lubangnya terlihat, namun muncul atau tidaknya tidak ada yang mengetahuinya.
“Silahkan kedua peserta bersiap dan menuju ke posisi masing-masing” instruki dari pembawa acara. Setelah itu layar monitor menunjukkan keadaan kedua peserta, yang aman itu adalah Wahyu dan Mei. Mei terlihat sedang melakukan pemanasan, sedangkan Wahyu sedang memperhatikan rintangan yang ada di depannya dengan teliti.
“Baiklah, kalau begitu akan kujelaskan peraturannya” ucap pembawa acara itu “Ini adalah pertandingan balapan, yang mana peserta yang mencapai garis finish duluanlah yang menang. Biasanya setiap peserta boleh mengganggu peserta lain, namun khusus pertandingan kali ini, peserta tidak boleh mengganggu satu sama lain dan untuk menjamin tidak adanya kecurangan, di antara kedua peserta sudah dipasang kaca anti peluru, oleh karena itu, peserta hanya cukup fokus untuk melewati rintangan dan mencapai garis finish”
Wahyu dan Mei menganggukkan kepala mereka sebagai tanda mereka sudah mengerti.
“Baiklah kalau begitu, akan kumulai aba-abanya” pembawa acara memulai aba-abanya “3 . . . 2 . . . 1, Mulai!”
Tanpa basa basi, Mei langsung berlari dengan cepat tanpa perasaan ragu, kecepatan larinya membuat dirinya berhasil melewati semua ranjau tepat sebelum ranjau itu meledak.
“Seperti biasanya! Kecepatan Nona Mei berhasil menuntunnya melewati rintangan pertama dengan mudah!” sorak pembawa acara dengan semangat “Di sisi lain, peserta Wahyu masih memperhatikan ladang ranjau di depannya itu sambil memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Ucapan pembawa acaraitu membuat Mei menoleh kebelakang dan melihat Wahyu yang tiba-tiba membuka jaketnya lalu melemparkannya ke ladang ranjau itu, seketika sebuah ranjau meledak karena tertimpa jaket Wahyu dan ledakan ranjau itu memicu ranjau yang lainnya dan membuat semua ranjau meledak secara bergantian. Menggunakan urutan ledakan ranjau itu, Wahyu melewati ladang ranjau itu dengan mudah.
“Tidak disangka-sangka! Pseserta Wahyu menggunakan ledakan ranjau untuk membukakan jalan aman untuknya, walaupun dia hanya memiliki waktu 3 detik sebelum ledakan terpicu lagi, dia tanpa ragu melewati ladang itu dengan santai!”
Mei yang melihat itu langsung melanjutkan ke rintangan kedua. Mei langsung mulai menyebrangi kolam yang dialiri listrik itu dengan menggunakan keseimbangannya yang luar biasa, tanpa sekalipun mengalami kesulitan. Setelah selesai menyebrang, Mei tidak menoleh untuk melihat keadaan Wahyu dan langsung menuju ke rintangan ketiga. Di sisi lain, wahyu melepaskan sepatunya dan menyebrangi kolam dengan perlahan.
Saat di dalam rintangan ketiga, yaitu ruangan gelap dipenuhi dengan crossbow yang akan menembakkan anak panah secara acak, Mei memfokuskan seluruh pikirannya kepada pendengarannya untuk menghindari anakpanah yang melesat ke arahnya, hasilnya dia dapat menghindari hampir keseluruhan anak panah dan berhasil bertahan dan keluardari ruangan itu, namun melihat dia memegangi lengan kanannya sebentar saat keluar dari ruangan itu, sepertinya ada anak panah yang mengenai lengan kanannya. Mei mulai berjalan pelan menuju ke rintangan ketiga sambil mencoba meredakan sedikit rasa sakit yang dia rasakan agar bisa melanjutkan pertandingannya dengan lancar. Mei merasa aman karena ada beberapa menit sela antara dia dan Wahyu memasuki ruangan gelap itu dan dia juga yakin Wahyu juga pasti menerima sedikit luka dari ruangan itu.
Di saat Mei sudah berada di rintangan terakhir dan memasang alat keamanan, terdengar suara pembawa acara.
Dengan adanya rute tanpa rintangan, Wahyulangsung membuang crossbownya dan langsung mendaki menggunakan pegangan yang terbuat dari anak panah yang ditembakannya tadi tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan.
“Peserta Wahyu langsung menyusul ketinggalannya dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya! Namun apakah itu tidak melanggar peraturan untuk menggunakan alat dalam lomba?! Mari kita tanyakan kepada Kapten” setelah pembawa acara mengucapkan itu, kamera langsung berganti ke ruangan dimana Kapten melihat pertandingan
__ADS_1
“Tidak ada peraturan yang membatasi cara untuk mencapai garis akhir dan karena alat yang digunakan ada di dalam ruangan pertandingan, maka tidak ada aturan yang dilanggar” jawab Kapten Rin dengan tegas dan singkat.
“Itulah katanya! Dengan kecerdikan peserta Wahyu, dia langsung membalikkan keadaan pertandingan!”
Mendengar hal itu, Mei langsung terburu-buru, dia langsung melepaskan perlengkapan keselamatannya agar bisa mendaki lebih cepat, namun dengan cepatnya Wahyu mendaki, besar kemungkinan Mei tidak bisa menyusulnya. Mei tidak menyerah dan mempercepat kecepatan mendakinya hingga dia melupakan kalau ada jebakan di rute mendakinya.
Di saat Mei fokus mendaki, dia tidak menyadari bahwa lengan kanannya berada tepat di depan jebakan, seketika sebatang kayu keluar dari lubang jebakan dang mengenai lengan kanannya. Hal itu langsung membuat Mei kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tangan kirinya tidak mengenggam pegangan dengan erat, namun karena lengan kanannya tadi sudah mengalami sedikit cedera, Mei hanya bisa bergantung hanya dengan tangan kirinya.
“Gawat! Sepertinya nona Mei mengalami masalah!” teriakan pembawa acara yang sedikit panik mengalihkan semua perhatian menuju ke arah Mei ”Sepertinya nona Mei tidak memiliki kekuatan untuk mengembalikan pijakannya! Dan juga sepertinya nona Mei tidak memakai perlengkapan keselamatan!”
Melihat hal itu, Kapten Rin langsung memerintahkan beberapa staff untuk segera menuju ke ruang pertandingan untuk menyelamatkan Mei. Perhatian semua orang beralih dari pertandingan menuju ke keselamatan Mei.
“Sial! Aku ceroboh, tidak kusangka aku bisa melakukan kesalahan seperti ini” gumam Mei.
__ADS_1
Mei terus mencoba untuk mencari pijakan untuk kakinya,namun setiap Gerakan membuat kekuatan tangan kirinya melemah.
“Aku sudah naik setinggi ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku jatuh dari ketinggian ini” gumam Mei ”Mungkinkah ini karma karena aku terlalu meremehkannya” Mei sudah tidak memiliki jalan keluar lagi, yang bisa dia lakukan hanyalah terus bergantungan sampai regu penyelamat tiba, namun pada saat yang sama, dia tahu kalau tangannya sudah mulai melemas. Di saat Mei hampir menyerah, suara pembawa acara mengejutkannya.