
Di tempat lain Wahidyn dan Takeru sedang menuju ke divisi intelegensi.
“Memang saya bilang akan membantu kalian, tapi saya tidak punya otoritas apapun di dalam divisi intelegensi, apa itu tidak apa-apa?” tanya Takeru yang memandu Wahidyn ke ruang divisi intelegensi.
“Itu sudah cukup membantu, aku hanya perlu masuk ke ruangannya saja, setelah itu biarkan aku yang mengambil alih” jawab Wahidyn yang mengambil HP dari sakunya dan menyiapkan sesuatu menggunakan HP miliknya itu.
Setelah mendengarkan jawabn Wahidyn, Takeru tidak menanyakan apa-apa lagi dan memandu Wahidyn menuju ruang divisi intelegensi dengan tenang dan hening.
Setelah beberapa menit berlalu, Wahidyn dan Takeru sampai di depan pintu ruang divisi intelegensi, Wahidyn menyuruh Takeru untuk membuka pintunya dengan satu anggukan kepalanya. Setelah pintu terbuka, Wahidyn dan Takeru langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa memperdulikan tatapan staff yang ada di dalam ruangan itu. Wahidyn yang berjalan sambil terus melihat HPnya itu akhirnya menabrak seorang staff yang ada di dalam ruangan itu.
“Ah ma’af” ucap Wahidyn.
“Tidak, bukan masalah, tolong hati-hati saat berjalan” jawab staff yang ditabrak Wahidyn “Oh iya, apa kamu tersesat? Area ini adalah area khusus staff dan petinggi saja” ucap staff itu yang secara sopan meminta Wahidyn untuk keluar ruangan.
“Ah iya ma’af, sepertinya saya tidak melihat jalan” jawab Wahidyn “Tapi sebelum saya keluar apakah boleh saya mengisi baterai HP saya? Takutnya teman-teman saya menghubungi saya karena saya tersesat”
Staff itu terlihat bingung karena dia ingin segera mengusir Wahidyn, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Wahidyn untuk tersesat lagi.
“Baiklah, tapi jangan mengganggu staff lain yang sedang bekerja ya” jawab staff itu setuju untuk membiarkan Wahidyn mengisi baterai HPnya “Mari ikuti saya” ucap staff itu yang meminta Wahidyn untuk mengikutinya. Wahidyn mengangguk dengan tenang dan mengikuti staff itu ke dalam ruangan yang terlihat seperti kantor. Di saat Wahidyn mulai mengikuti staff itu, Wahidyn baru ingat kalau dia datang dengan Takeru, akhirnya Wahidyn menoleh ke arah Takeru tadi berada dan melihatnya sedang disuruh keluar dari ruangan. Pandangan Wahidyn dan Takeru bertemu, Wahidyn mengangkat ibu jarinya untuk menandakan kalau dia akan baik-baik saja, melihat itu Takeru membalasnya dengan sebuah anggukan kemudian menuruti orang-orang yang menyuruhnya untuk keluar ruangan.
Wahidyn dibawa ke dalam sebuah kantor dan ke sebuah meja yang berada di ujung ruangan.
“Ini meja kerjaku, apa kamu membawa chargernya?” tanya staff itu.
“Ah itu, saya hanya bawa kabelnya saja” jawab Wahidyn yang menunjukkan sebuah kabel charger untuk HP miliknya. Staff itu menghela nafas sejenak, lalu menghidupkan komputer yang ada di mejanya itu.
“Baiklah, kamu pasangkan kabelnya ke CPU, aku akan mengunci komputernya agar kamu tidak mengotak-atiknya dan merusak sesuatu” ucap staff itu yang mulai mengoperasikan komputernya.
“Iya, terima kasih” jawab Wahidyn yang menancapkan kabelnya ke USB port di CPU komputer staff itu lalu menyambungkannya ke HPnya.
“Sudah” ucap Wahidyn.
__ADS_1
“Ya sudah, aku juga sudah mengunci komputernya, kamu tunggu disini dengan tenang ya, jangan menyentuh benda lainnya, nanti aku yang kena marah” ucap staff itu memberi peringatan pada Wahidyn.
“Baik, saya akan duduk tenang di sini sambil menunggu HP saya terisi penuh” jawab Wahidyn.
“Yah, pokoknya aku akan kembali kesini empat puluh menit lagi, jadi setelah itu walaupun masih belum terisi penuh kamu harus keluar, mengerti?” ucap staff itu.
“Iya, sekali lagi terima kasih” jawab Wahidyn yang kemudian duduk di kursi yang ada di meja kerja staff itu.
“Ya sudah aku mau melanjutkan pekerjaanku lagi” ucap staff itu yang kemudian meninggalkan Wahidyn sendirian.
“Sudah kuduga orang yang bekerja di bidang ini pasti banyak orang baiknya” ucap Wahidyn setelah memastikan staff itu sudah jauh “Kalau begitu waktunya aku juga bekerja”
Wahidyn kemudian mengambil HPnya yang tersambung ke CPU komputer itu dan mulai mengoperasikannya.
“Walaupun aku bisa membuka kunci komputer itu dengan mudah, aku lebih suka melakukannya dengan caraku sendiri, lagipula caraku lebih mudah” Wahidyn terus memainkan HPnya dan memposisikannya agar tidak terlihat CCTV yang ada di ruangan itu.
“Baiklah, sekarang tinggal tunggu semuanya tersambung” gumam Wahidyn yang akhirnya meletakkan HPnya kembali setelah beberapa menit menggunakannya “Tidak kusangka akan semudah ini” Wahidyn kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi yang dia duduki dan merilekskan tubuhnya.
Di tempat yang laiinya lagi, Dani dan Rin sedang berbicara dengan kepala pasukan yang ada di lantai atas.
“Tdak kusangka bisa bertemu dengan Kapten dari Negara Cina di sini, kalian ada perlu apa di Negara ini” tanya seorang pria dewasa dengan badge kepala pasukan terjahit di bahu kanannya.
“Kami dipanggil kesini untuk membantu mengatasi zombie mutasi yang ditemukan, jadi kami ingin mendekatkan diri kepada pasukan yang bertanggung jawab tentang hal itu” jawab Rin dengan tenang.
“Oh begitu ya, kalau begitu mari ikut aku ke ruangan para kepala pasukan, kami bisa berbagi informasi denganmu di sana dan sekalian kami juga ingin melihat kemampuan Kapten Negara lain dan juga Wakilnya” ucap pria itu yang kemudian menoleh ke arah Dani.
Dani sedikit panik tapi dia mencoba untuk tetap tenang.
“Kalau begitu dengan senang hati kami akan menunjukkannya” jawab Dani dengan sopan.
“Hou, jawaban yang bagus, kalau begitu mari ikuti aku” ucap pria itu yang mulai berjalan menuntuk Dani dan Rin ke suatu tempat. Dani dan Rin melihat satu sama lain sebelum akhirnya mengikuti pria itu.
__ADS_1
Di perjalanan, Dani dan Rin sesekali berbisik untuk membicarakan rencana mereka.
“Apa kau yakin ini akan berhasil?” tanya Dani dengan nada pelan.
“Jangan khawatir, dimanapun itu, tentara dengan pangkat diatas selalu ingin membanding-bandingkan kemampuan mereka” jawab Rin juga dengan nada pelan.
“Tapi aku tidak terbiasa berkumpul dengan orang-orang penting” ucap Dani.
“Jangan khawatir, ada aku di sini, jika kau dalam kesulitan aku akan mengatasinya” balas Rin.
“Sebenarnya bukan itu yang kukhawatirkan” ucap Dani.
“Lalu apa?” tanya Rin.
“Cara orang itu menatapmu membuatku kesal” jawab Dani.
“Hou, apakah kau cemburu?” tanya Rin penasaran “Mei pernah mengajariku tentang hal itu sebelumnya, kalau tidak salah itu rasa kesal karena ada orang lain yang terlihat tertarik kepadaku”
“Ya mau bagaimana lagi, kau itu cantik, jadi aku takut akan ada orang yang minta aneh-aneh padamu” balas Dani.
“Begitukah? Entah kenapa melihatmu seperti ini membuatku senang” balas Rin tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Aku ini serius tahu” ucap Dani merajuk.
“Ma’af, tapi jangan khawatir, perhatianku sepenuhnya hanya untukmu saja” jawab Rin “Tapi kalau itu masih mengganggumu, aku bisa mengatakan ke semuanya kalau kita sudah menikah, bagaimana?” tanya Rin.
“Ah, tidak, kalau dipikirkan lagi, ada kemungkinan mereka malah menjahiliku nantinya” jawab Dani.
“Baiklah jika itu yang kau inginkan” balas Rin.
Dani dan Rin terus mengikuti pria itu ke ruangan para kepala pasukan, namun sebelum sampai ke ruangan itu, alarm peringatan tibia-tiba berbunyi.
__ADS_1
“Perhatian kepada seluruh pasukan, segerombolan zombie terlihat sedang bergerak menuju Shelter dan terlihat juga zombie Oni di tengah kerumunan itu, diharap pasukan yang bertugas bersiap di depan gerbang Shelter dan pasukan khusus diharapkan untuk bersiap dan mengatasi zombie Oni” sebuah suara terdengar di speaker yang ada di langit-langit di seluruh gedung.