Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Snow That Kills 21-2


__ADS_3

Di saat Tim Elang meakukan penyelidikan di Shelter Jepang, Wahyu bersama Gold dan Brown menuju ke markas yang dibicarakan oleh Brown. Menggunakan sepeda motor yang tidak mengeluarkan suara yang bising, mereka bertiga berkendara dengan santai dan tanpa mendapatkan masalah apapun. Setelah 20 menit berkendara di gorong-gorong, akhirnya mereka bertiga keluar dan terus melaju hingga melihat sebuah bangunan yang sudah runtuh namun memiliki pagar yang terlihat masih kuat. Wahyu bersama God dan Brown memasuki bangunan itu.


“Jadi, dimana markas itu?” tanya Wahyu yang berhenti dan mematikan mesin motornya.


“Di sini” jawab Brown dengan bangganya “Biar kutunjukkan mahakaryaku” Brown kemudian mengambil sebuah alat yang terlihat seperti HP dan mengarahkannya ke lantai.


Wahyu melihat lantai itu lebih jelas lagi dan terlihat sebuah urutan nomor dan tanda yang acak tertulis di lantai itu. Setelah beberapa detik, Brown menjauh dari lantai itu.


“Jangan terkejut oke” ucap Brown.


Tiba-tiba terasa sebuah getaran di bawah kaki Wahyu, secara refleks Wahyu langsung memperhatikan kakinya lalu kembali melihat lantai tadi. Lantai yang memiliki kode tadi sedikit-demi sedikit bergerak hingga akhirnya memperlihatkan sebuah tangga yang menuju ke bawah.


“Ayo masuk, aku ingin kau segera menilainya” ucap Brown yang tidak sabar sambil menarik tangan Wahyu. Wahyu yang masih memproses apa yang baru saja terjadi itu menoleh ke arah Gold untuk bantuan, tapi Gold yang menyadari tatapan Wahyu hanya mengangkat pundaknya dan menggelengkan kepalanya, yang artinya dia tidak bisa membantu Wahyu. Karena sudah tidak ada pilihan, Wahyu membiarkan dirinya digeret masuk menuruni tangga itu diikuti Gold yang berjalan santai dibelakan Wahyu dan Brown.


Saat mereka Wahyu, Gold, dan Brown sudah berada di tangga itu, lantai yang menutupi tangga itu mulai menutup dan menutupi cahaya yang menyinari tangga itu sedikit-demi sedikit hingga akhirnya tidak ada cahaya apapun yang menerngi jalan mereka bertiga.


“Ini baru dimulai” ucap Brown yang suaranya terdengar seperti menanti sesuatu. Wahyu tidak kaget atau panik, karena melihat Brown yang dari tadi terlihat tidak sabar itu membuat Wahyu berfikir kalau ini semua sudah dia rencanakan. Dugaan Wahyu benar, sebuah lampu mulai menyala dari samping mereka bertiga dan secara bertahap menyalakan lampu yang lainnya hingga ujung dari tangga itu terlihat, yang mana adalah sebuah pintu yang lainnya.

__ADS_1


“Bagaimana? Hebat kan? Aku membuatnya hanya dari rongsokan bekas yang kutemukan di area tiga kilometer dari tempat ini lho” ucap Brown menyombongkan kemampuannya.


“Iya kau benar, ini sangatlah hebat” jawab Wahyu memuji Brown.


“Benarkan? Kau harus tahu kalau yang bisa melakukan ini hanya aku saja, Gold tidak akan bisa melakukan ini” ucap Brown sombong.


“Jangan besar kepala dulu, kau tahu kan ruangan setelah ini itu ruangan apa?” balas Gold yang membuat Brown langsung terdiam kesal. Wahyu yang melihat it jadi penasaran.


“Memangnya ada ruangan apa lagi?” tanya Wahyu.


“Tidak ada gunanya menjelaskannya, lebih baik kutunjukkan langsung” jawab Gold yang mulai menuruni tangga. Melihat Gold yang mulai menuruni tangga, Wahyu dan Brown mengikutinya dari belakang.


“Jadi ada apa di sini?” tanya Wahyu.


“Lihat ini” jawab Gold yang kemudian bersiap untuk berlari. Gold langsung berlari lurus ke depan dengan cepat, tapi saat dia baru melakukan beberapa langkah, sebuah jebakan mulai muncul satu persatu. Jebakan pertama adalah dua buah turret yang menembakkan peluru pistol dari ujung ruangan, Gold menghindari semua tembakan itu dengan lincah dan mudah. Jebakan kedua adalah tiga buah pisau besar yang muncul dari kedua sisi tembok dan langsung melesat ke ujung sisi satu sama lain, sekali lagi Gold menghindari jebakan itu dengan kecepatannya. Jebakan ketiga adalah enam buah turret yang menembak dengan kecepatan menembak rifle yang mengarah ke target yang bergerak, kali ini Gold melakukan gerakan zig-zag dan terus menghindari semua tembakan tanpa ada yang mengenainya sedikitpun, setelah beberapa detik, akhirnya amunisi turret itu habis dan berhenti menembak. Gold akhirnya sampai di ujung lorong dan menghadap ke Wahyu dan Brown kemudian membungkuk seperti seorang performer yang telah selesai melakukan atraksinya. Wahyu yang mengerti kalau Gold juga ingin menunjukkan kemampuannya itu membalasnya dengan tepukan tangan.


“Baiklah, berhenti bersikap seperti itu, cepat matikan jebakannya” ucap Brown yang menggema hingga ujung lorong.

__ADS_1


“Hmm bagaimana ya” balas Gold “Bukankah ada seseorang lagi yang belum melakukan pertunjukan apapun?”


Wahyu yang mendengar ucapan Gold langsung tahu kalau Gold ingin melihat kemampuan Wahyu dan itu membuat Wahyu tersenyum.


“Woy kau ini, jangan merepotkannya” ucap Brown marah.


“Tidak apa, aku juga ingin menguji coba jebakan buatan kalian ini” ucap Wahyu “Tapi jangan terkejut ya”


Wahyu berjalan dengan santainya dan mengaktifkan jebakan pertama, Wahyu tidak memperdulikan turret yang keluar dan menembak ke arahnya itu dan entah bagaimana kedua tembakan itu meleset dengan tipis dan hanya mengenai ujung rambut di kepalanya. Wahyu masih berjalan santai dan mengaktifkan jebakan kedua, pisau besar muncul dan mencapit Wahyu dari dua sisi, Wahyu yang melihat ada celah sedikit diantara pisau itu, Wahyu menghentikan langkahnya dan dengan tenang memposisikan dirinya agar cukup di celah itu. Pisau itu kembali ke dinding dan Wahyu melanjutkan jalannya, namun sebelum memasuki area jebakan ketiga, Wahyu berhenti dan melakukan lompatan jauh yang menempatkannya di tengah area jebakan ketiga, di saat Wahyu mendarat keenam turret tadi langsung keluar dan bersiap untuk menembak target yang bergerak, namun karena Wahyu berdiri tenang tanpa menggerakan sedikitpun bagian tubuhnya dan juga menahan nafasnya untuk memastikan tidak ada pergerakan sekecil apapun itu membuat turretnya tidak mendeteksi adanya musuh. Setelah beberapa detik, akhirnya turret-turret itu masuk kembali ke dinding dan Wahyu berjalan dengan santai menghampiri Gold.


“Lain kali, kalau mau mengujiku, jangan perlihatkan cara kerja jebakan itu padaku” ucap Wahyu dengan santai yang kemudian menarik tuas yang ada di belakang Gold dan mematikan jebakan yang ada di lorong itu untuk sementara.


“Tidak, aku hanya khawatir Leader kami kehilangan kemampuanya dan terluka” balas Gold.


Terima kasih untuk niatan baiknya, tapi kau sendiri tahu kan aku tidak akan mati semudah itu” balas Wahyu yang kemudian membuka pintu yang ada di ujung lorong itu lalu memasukinya meninggalkan Gold dan Brown yang berlari menyusul Wahyu.


“Hayoloh dia tersinggung” ucap Brown mengejek Gold “Makanya jangan aneh-aneh” Brown berhenti untuk mengejek Gold sebentar lalu berlari menyusul Wahyu

__ADS_1


“Aku kan hanya ingin melihatnya beraksi lagi” gumam Gold yang juga berlari menyusul Wahyu.


__ADS_2