
“HAH?!” semua orang yang di ruangan merespon secara bersamaan.
“Tunggu sebentar apa maksud Kapten dengan ikut?” tanya Mei.
“Mulai hari ini aku akan menjadi anggota Tim Elang” jawab Kapten Rin santai “Kau tidak keberatan kan? Wahyu?”
Wahyu berpikir sejenak sebelum menjawab Kapten Rin dengan santai.
“Tentu, aku tidak punya alasan untuk menolaknya” jawab Wahyu.
“Apa maksudmu dengan itu hah?!” Mei berteriak dan memegang kerah baju Wahyu “Apa kau tidak sadar apa yang terjadi jika Kapten ikut dengan kalian?!” Mei kesal, bingung, dan marah dengan ucapan Kapten Rin dan Wahyu yang seenaknya saja.
“Cukup Mei, lepaskan dia” suruh Kapten Rin. Tidak bisa membantah perintah Kapten Rin, Mei melepaskan Wahyu.
“Tunggu sebentar Rin, kau yakin akan ikut dengan kami?” tanya Dani memastikan.
“Aku yakin” jawab Kapten Rin “Apakah aku tidak boleh?”
“Bukannya tidak boleh tapi” Dani tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena tidak dapat memikirkan jawaban untuk pertanyaan Kapten Rin.
“Lagipula, kita baru saja menikah, aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu” ucap Kapten Rin kepada Dani. Melihat keseriusan Kapten Rin, Dani sebagai pasangannya tidak bisa menolak keinginannya.
“Oke cukup” ucap Wahyu sambil menepukkan tangannya sekali dan membuat suara keras dan menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
“Ucapan Kapten Rin pasti emmbuat semua orang bingung, jadi kenapa kita tidak menenangkan kepala sejenak, setelah itu baru kita bicarakan lagi oke” ucap Wahyu mengusulkan idenya. Walaupun Wahyu juga membuat situasi semakin membingungkan, tapi usulannya langsung diterima oleh semuanya. Setelah itu akhirnya semua orang yang ada di ruangan Kapten Rin mulai duduk dan memroses keadaan dengan tenang.
“Wahyu” panggil Mei. Mendengarkan ada yang memanggilnya, Wahyu langsung menoleh ke arah Mei.
“Ada apa?” tanya Wahyu.
“Ikut aku” pinta Mei dengan nada sedikit memaksa.
Wahyu dan Mei kemudian keluar dari ruangan dan pergi ke ruangan Mei yang temptanya dekat dengan ruangan Kapten Rin.
“Jadi ada apa?” tanya Wahyu.
“Ini semua rencanamu kan?” ucap Mei menuduh Wahyu sudah merencanakan semuanya.
“Maksudmu?” tanya Wahyu bingung.
“Jangan pura-pura tidak tahu!” jawab Mei kesal “Pertandingan itu, pertarungan melawan Butcher, perasaan Kapten kepada Dani, dan pernikahan mereka, semua itu sudah kau rencanakan kan?!” Mei memojokkan Wahyu ke tembok dan menatap Wahyu dengan wajah penuh emosi. Melihat Mei yang tidak stabil, Wahyu hanya bisa menghela nafas.
“Kau ingin aku menjawab apa?” tanya Wahyu dengan santai.
“Apa maksudmu?!” balas Mei.
__ADS_1
“Jawaban apa yang kau inginkan untuk menenangkanmu?” tanya Wahyu kini dengan wajah serius.
“A-aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi” jawab Mei.
“Apakah hanya itu?” tanya Wahyu lagi. Melihat Wahyu menatapnya dengan wajah serius membuat Mei sedikit takut. Melihat Mei menjadi semakin tidak stabil, Wahyu memegang Pundak Mei.
“Kau bukanlah orang yang seperti ini, tenangkan dirimu” ucap Wahyu yang sedikit demi sedikit menekan pundak Mei kebawah sampai akhirnya dia duduk di lantai. Setelah duduk, Mei mulai menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
“Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu, tapi kau harus tahu yang mana yang paling ingin kau ketahui” ucap Wahyu yang duduk di depan Mei.
“Aku hanya ingin tahu” ucap Mei lemas “Semuanya terlalu tiba-tiba, kenapa tidak ada yang memberitahuku dulu” Mei mulai melepaskan semua pikirannya “Kapten Rin dulunya adalah orang yang tegas, logis, dan keren, tapi setelah pertarungan melawan Butcher, Kapten terlihat berubah”
Wahyu mendengarkan Mei dengan serius.
“Dia terlihat lebih santai dan perhatian kepada bawahannya” Mei melanjutkan untuk mencurahkan isi pikirannya “Bukannya aku tidak suka, tapi di dalam diriku aku merasa kalau Kapten Rin mulai menjauh” Mei berhenti sejenak “Aku dan Kapten sudah menjadi tidak terpisahkan semenjak Kapten menerima jabatannya, namun aku selalu merasa kalau aku hanya bisa melihat punggungnya saja, tanpa bisa merasa bangga untuk berjalan di sisinya dan sekarang saat aku mendengar dia mau pergi, aku tidak ingin menerimanya”
“Bukankah itu bagus” ucap Wahyu.
“Apa maksudmu?” tanya Mei kesal.
“Itu artinya kau mulai menyadari posisimu” jawab Wahyu.
“Jadi kau pikir aku tidak bisa setara dengan Kapten?” Mei mulai kesal lagi.
“Jadi kau juga berpikir aku ini lemah?!” teriak Mei marah.
Wahyu tidak menjawab dan hanya menatap Mei.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Mei lemas.
“Kau sudah tahu jawabannya, tapi jika kau ingin aku yang menjawabnya” Wahyu menghentikan kalimatnya menunggu respon dari Mei, namun karena tidak ada respon, Wahyu menganggapnya sebagai jawaban iya.
“Kau tidak cocok untuk berada di bawah Kapten Rin” ucap Wahyu. Mendengar itu membuat Mei tersentak. Ingatan tentang masa-masa dimana Mei, Ryu, dan Kapten Rin bersama terlihat seperti sia-sia bagi Mei, pikiran-pikiran negative mulai memenuhi kepala Mei, namun sebuah hentakan yang Mei rasakan di pundaknya membuat Mei sadar dan melihat ke arah Wahyu lagi.
“Lalu, dimana aku harusnya berada?” tanya Mei lemas.
“Tidak sepantasnya kau berada di bawah Kapten Rin” ucap Wahyu lagi “Karena kemampuanmu yang saat ini sudah cukup untuk melampaui Kapten Rin”
Mendengar ucapan Wahyu membuat Mei sekali lagi bingung.
“Sepertinya kau tidak menyadarinya, biar kujelaskan” Wahyu mulai berbicara “Apa kau tidak pernah menyadari kenapa Kapten Rin selalu memanggilmu untuk menemaninya dan bukan Ryu atau orang lain?” tanya Wahyu. Mei mulai mengingat kembali dan baru menyadari ucapan Wahyu itu benar.
“Kapten Rin melakukan itu karena dia menyadari potensimu” Wahyu mulai menjelaskan “Di saat kau mengunci Dani, saat kau memutuskan untuk memberikan kemenangan kepadaku, saat kau menyelamatkanku dari serangan Butcher tanpa perintah dari Kapten Rin, dan juga kebersediaanmu membantu Kaptenmu untuk memahami perasaan baru yang dia rasakan, semua itu membuatmu tumbuh menjadi seorang pemimpin yang jauh lebih baik daripada Kapten Rin”
Mendengar semua ucapan Wahyu membuat Mei mengingat kembali apa saja yang terjadi beberapa minggu lalu dan mulai menenangkan dirinya.
__ADS_1
“Dan juga setiap kali kita melakukan misi bersama, aku sendiri juga memahami potensimu” ucap Wahyu sekali lagi memegang pundak Mei “Mei, tempatmu bukan di bawah bayangan Kapten Rin, namun di depannya, Kapten Rin pasti juga sudah menyadarinya dan sudah berencana untuk menjadikanmu penggantinya, namun akrena tradisi negara ini, dia tidak bisa menjadikanmu Kapten begitu saja”
Kalimat yang Wahyu ucapkan langsung membuat Mei sadar bahwa belakangan ini Kapten Rin sering membahas kalau dia ingin melepaskan jabatannya dan mencari pengganti yang cocok, Mei selalu menjawabnya dengan jawaban kalau Kapten Rin adalah Kapten yang tidak tergantikan oleh orang lain, tapi akhirnya Mei sadar kalau Kapten Rin ingin menjadikan Mei sebagai penerusnya.
“Jadi selama ini aku yang tidak menyadarinya?” ucap Mei “Tidak, bukannya aku tidak menyadarinya, aku hanya tidak ingin terpisah dari Kapten Rin”
Melihat Mei sudah menyadari jawabannya untuk pertanyaannya sendiri membuat Wahyu menjadi lega.
“Kalau begitu aku akan menjawab pertanyaan pertamamu tadi” Wahyu berdiri dari duduknya “Kapten Rin memutuskan untuk mengikuti Tim Elang pergi ke negara Jepang, apakah itu jelas?”
Mei mengambil nafas dan berdiri dari duduknya.
“Iya, jika Kapten memang menginginkannya, aku akan mendukungnya” jawab Mei dengan tersenyum.
“Baguslah kalau begitu” ucap Wahyu lega “Kalau begitu ayo kembali, semuanya mungkin sudah menunggu kita”
“Iya” jawab Mei “Tapi kau tahu, kau tidak perlu sekejam itu untuk membantuku tahu”
“Ma’af, aku tidak ahli untuk menenangkan perasaan perempuan” jawab Wahyu.
“Satu pertanyaan lagi” pinta Mei.
“Tanyakan saja apapun” balas Wahyu.
“Kau menyadarinya bukan?” tanya Mei “Perasaanku padamu?”
Wahyu terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Mei. Melihat reaksi Wahyu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Mei.
“Sudah kuduga, berarti kau juga tahu soal Blue juga” ucap Mei menyindir Wahyu. Mei berjalan ke depan Wahyu untuk melihat wajahnya.
“Kau pasti memiliki alasan sendiri, sama halnya dengan masalahku, kau juga punya masalahmu sendiri” ucap Mei sambil menatap mata Wahyu dengan tersenyum “Jangan khawatir, tidak seperti Kapten, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya atau apapun itu, tapi aku ingin mengatakan jika kau butuh orang untuk mendengarkan masalahmu, aku akan membantumu dan juga merahasiakannya untukmu”
“Terima kasih” ucap Wahyu.
“Tapi!” ucap Mei keras “Aku tetap tidak akan menyerah kau tahu, kau mungkin punya banyak hal yang harus kau selesaikan dan kau tidak memiliki waktu untuk hal yang seperti ini, jadi aku akan menunggumu, sampai saatnya tiba, aku ingin kau tidak mati dulu oke” ucap Mei sambil memberikan senyuman kepada Wahyu “Dan juga” Mei mengambil sesuatu dari meja kamarnya dan mendekat ke Wahyu “Jaga ini untukku, anggap saja ini adalah symbol perjanjian kita” Mei memasangkan sebuah pin berbentuk elang yang memiliki sayap dengan bulu berbentuk peluru.
“Perjanjian apa?” tanya Wahyu sambil melihat pin yang baru saja Mei pasang di bagian dada kanan bajunya.
“Perjanjian tentang kau yang tidak boleh mati sebelum menjawab perasaanku dan untukku yang harus memenuhi tugasku untuk menjaga negara ini dan juga survivor dari negaramu tetap aman sampai saat kau kembali ke negara ini lagi” jawab Mei.
Wahyu tersenyum “Permintaanmu terdengar sangat memaksa” ucap Wahyu menyindir.
“Itu adalah hukuman untuk orang yang suka membuat perempuan salah paham” jawab Mei dengan tertawa kecil “Ayo, aku sudah siap mengemban tugasku selanjutnya” ucap Mei yang kemudian meninggalkan ruangannya.
“Kenapa aku selalu terlibat dengan orang-orang yang sesukanya sendiri” ucap Wahyu mengeluh, namun terlihat senyuman muncul di wajahnya “Sudahlah, ada hal yang lebih penting untuk dilakukan” Wahyu kemudian mengikuti Mei dan kembali ke ruangan Kapten Rin.
__ADS_1