
“Hey Leader, apakah kau sudah mencapai tujuanmu?” sebuah ingatan masa lalu terlintas di pikiran Wahyu. Sebuah pertanyaan yang selalu menghantuinya yang diucapkan oleh seseorang yang dia kenal, pertanyaan yang masih belum terjawab.
“Leader?” sebuah suara lain terdengar oleh telinga Wahyu “Leader!” suara itu semakin keras dan membuat Wahyu tersadar dari lamunannya.
“Apakah Leader sedang memikirkan sesuatu?” tanya Blue yang wajahnya sudah berada di depan Wahyu.
“Ah ma’af, aku tiba-tiba teringat sesuatu” jawab Wahyu merasa tidak enak.
“Sudah lama kita tidak berjalan-jalan bersama seperti ini, jadi kalau boleh, saya ingin Leader menikmatinya” ucap Blue sedikit khawatir.
“Iya, ma’af, aku tidak akan melakukannya lagi” jawab Wahyu “Jadi mau kemana kita?”
“Ah sebentar, karena ini hadiah untuk Q, lebih baik dia sendiri yang memutuskannya” ucap Blue. Blue menutup matanya sebentar dan mengatur nafasnya, setelah itu Blue membuka kedua matanya dan memperlihatkan matanya yang berwarna biru lautnya itu. Setelah itu, Blue memakai hoodie jaketnya dan memegang tangan Wahyu.
“Tempat bemain, menyenangkan” ucap Blue singkat sambil menarik-narik tangan Wahyu menyuruhnya untuk mengikutinya.
“Iya, tapi jangan terlalu cepat, aku masih belum bisa berlari” jawab Wahyu. Blue mengangguk dan mulai menuntun Wahyu ke sebuah tempat yang terlihat terbengkalai.
“Q, kita ada dimana?” tanya Wahyu.
“Tempat bermain” ucap Blue yang kemudian berjalan menuju sebuah gedung yang terlihat diblokade dengan tali peringatan. Blue memotong talinya dan mengajak Wahyu untuk masuk ke gedung itu. Wahyu sedikit bingung kenapa Blue membawanya ke tempat seperti itu, namun pertanyaan itu langsung hilang setelah mereka berdua sudah berada di dalam gedung itu. Penampilan luar gedung itu sangatlah berbeda dengan apa yang ada di dalamnya, barisan alat atraksi tertata dengan rapi dan menarik, seklias tempat itu seperti taman bermain yang sangatlah mewah. Tambok dan lantainya terlihat terawat, setiap tempat dan alat permainan yang ada juga terlihat masih berfungsi. Melihat pemandangan itu membuat Wahyu terdiam kagum melihatnya.
“Wow, aku tidak tahu kalau masih ada tempat seperti ini di masa ini” ucap Wahyu kagum.
“Red dan aku membuatnya, menyenangkan” jawab Blue dengan bangga.
“Ini sedikit mengingatkanku pada hari libur pertama kita dulu” ucap Wahyu.
“Bermain, menyenangkan” Blue menarik-narik tangan Wahyu untuk segera mencoba permainan yang ada. Melihat Blue yang terlihat bersemangat itu membuat Wahyu ikut bersemangat.
Wahyu dan Blue mulai memainkan beberapa permainan yang ada, mulai dari permainan arcade, permainan olahraga seperti basket, juga atraksi bermain lainnya seperti roler coaster dan sebagainya. Blue dan Wahyu terlihat sangat menikmati waktu mereka. Tanpa di sadari tiga puluh menit telah berlalu.
“Menyenangkan” ucap Blue yang menggandeng tangan Wahyu dan mengayun-ayunkannya karena senang.
“Kau benar, ini terasa sangat menyenangkan” balas Wahyu.
Blue tiba-tiba berhenti dan menutupi matanya.
“Sedih” ucap Blue “Waktunya habis” setelah mengucapkan itu, tubuh blue tiba-tiba menjadi lemas dan hampir terjatuh jika Wahyu tidak menangkapnya dulu.
“Q! kau tidak apa-apa?” tanya Wahyu khawatir.
Blue tidak menjawab, tapi setelah beberapa detik, Blue langsung mendorong Wahyu menjauh dan mengambil kacamata di ransel yang dia bawa lalu memakainya.
“Ma’af mengecewakanmu, tapi Q sudah tidur” ucap Blue sambil membenarkan posisi kacamata yang baru dia pakai serta melepaskan hoodie jaketnya.
“Oh begitu ya” ucap Wahyu sedikit kecewa “Padahal aku masih ingin bermain dengannya sebagai imbalan atas bantuannya”
“Sekedar informasi, saat itu kami semua saling tukar tempat untuk membantumu, bukankah tidak adil jika hanya Q saja yang mendapat hadiah?” ucap Blue sedikit kesal. Sekali lagi, sikap Blue berubah, kini dia terlihat serius dan sedikit kasar.
“Begitu ya” jawab Wahyu “Baiklah kalau begitu, untuk hari ini kalian bisa meminta apapun padaku, selama itu tidak aneh-aneh dan aku bisa mengabulkannya”
“Kau tidak akan menarik kata-katamu itu kan?” tanya Blue memastikan.
“Tentu saja” jawab Wahyu singkat “Jadi, apa yang kau inginkan? P?”
__ADS_1
Mendengar ucapan Wahyu membuat Blue sedikit terkejut “Tidak kusangka kau bisa menebak siapa yang saat ini sedang berbicara denganmu”
“Yah, karakteristik kalian sangatlah unik dan karena aku sudah mengenal kalian dalam waktu yang cukup lama, akan sedikit aneh jika aku tidak bisa membedakan kalian” jawab Wahyu.
“Jawaban yang bagus” Blue mendekat lagi ke Wahyu “Kalau begitu, bisa temani aku untuk dua puluh menit kedepan?” Blue mengulurkan tangannya ke Wahyu.
Wahyu meraih tangan Blue “Sesuai keinginanmu” jawab Wahyu. Setelah itu, Wahyu dan Blue berjalan-jalan santai mengitari atraksi-atraksi yang ada dan akhirnya memutuskan untuk menaiki Ferris Wheel. Sambil menikmati pemandangan dari Ferris Wheel, Wahyu dan Blue berbincang di dalamnya.
“Leader, kenapa kau kembali?” tanya Blue serius.
“Tentu saja karena ingin membantu umat manusia untuk tetap hidup” jawab Wahyu.
Blue tidak merespon danterus menatap mata Wahyu.
“Aku tidak suka dengan Blue yang ini” ucap Wahyu mengeluh “Ada yang harus kulakukan agar manusia bisa mengambil kembali bumi sebagai tempat mereka untuk hidup dengan bebas”
“Begitu ya” Blue menerima jawaban Wahyu dan merasa lega.
“Apa kau tidak ingin tahu detailnya?” tanya Wahyu.
“Tidak perlu, jika itu benar alasanmu, aku sudah merasa cukup lega” jawab Blue “Karena kami berpikir kalau kau kembali karena rasa bersalah dan janjimu padanya”
Mendengar ucapan Blue, sebuah ingatan masa lalu muncul di kepala Wahyu.
“Hiduplah, demi aku dan mereka” sebuah kalimat yang diucapkan oleh seseorang muncul dan membuat Wahyu terdiam.
“Leader? Kau tiba-tiba diam?” tanya Blue.
Tidak seperti sebelumnya, Wahyu langsung membalas pertanyaan Blue “Aku tidak apa-apa” jawab Wahyu singkat.
“P bilang selanjutny adalah T, bagaimana kabarmu?” tanya Wahyu.
Blue langsung merasa panik dan mengambil sebuah buku dari ranselnya dan menutupi wajahnya.
“Umm, baik” jawab Blue pelan “Lama tidak berjumpa” Kali ini Blue terlihat seperti seorang pemalu yang sedikit sulit untuk berbicara.
“Kamu masih suka bersembunyi di balik buku ya” ucap Wahyu “Sebelum melanjutkannya, lebih baik kita turun dulu”
Wahyu dan Blue kemudian turun dari Ferris Wheel yang mereka naiki dan mulai berjalan bersama.
“Umm, Leader” ucap Blue pelan “Aku ingin main catur” pinta Blue.
“Ada catur juga di sini?” tanya Wahyu kaget “Tentu saja, kau sangat suka permainan strategi kan”
Blue mengangguk senang.
“Tunggu apa lagi, tunjukkan jalannya” ucap Wahyu tidak sabar.
Wahyu dan Blue kemudian berjalan menuju sebuah taman buatan yang sudah tersedia beberapa meja dan kursi yang di atas mejanya ada beberapa permainan papan.
Wahyu mengambil papan catur yang ada dan segera menyiapkannya.
“Sudah lama aku tidak bermain catur” ucap Wahyu yang sedang mempersiapkan permainan catur itu.
“Leader dan ayah biasanya main bersama” ucap Blue pelan.
__ADS_1
Sekali lagi sebuah kilasan ingatan muncul di kepala Wahyu.
“Kau ini, sekali-kali mengalahlah pada orang tua” kalimat itu diucapkan oleh seorang pria dewasa yang mengeluh.
“Iya, kau benar” ucap Wahyu “Jadi, apa kau pikir bisa menang?” tanya Wahyu dengan ceria.
Wahyu dan Blue kemudian menghabiskan waktu mereka bermain catur. Setelah beberapa ronde permainan catur, dua puluh menit hampir berlalu.
“Leader” ucap Blue.
“Iya, ada apa?” tanya Wahyu.
“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi” ucap Blue sebelum dia tertidur.
“Sepertinya dia kelelahan” ucap Wahyu. Wahyu mengulangi kembali perkataan Blue di kepalanya.
“Menyesal ya” Wahyu sekali lagi mengingat masa lalunya. Dia mengingat saat dia bersama enam orang lainnya yang mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai Wahyu di masa lalunya itu duduk bersama di sebuah tempat duduk yang hampir sama dengan yang dia duduki bersama Blue saat ini, juga dengan papan catur yang sedang dimainkan oleh Wahyu dan seorang laki-laki dengan rambut coklat tapi ada sedikit warna emas di ujung rambutnya. Mereka terlihat sedang bersenang-senang, namun setelah itu, ingatan Wahyu berganti menunjukkan seorang perempuan yang terjatuh dari ketinggian menuju ke runtuhan bangunan yang terbakar, setelah itu berganti lagi menuju ingatan dimana dia melihat Kapten Negara Indonesia dibunuh Scratcher.
“Aku tidak punya pilihan lain selain melanjutkan apa yang sudah kulakukan” gumam Wahyu.
Setelah beberapa menit, Blue terbangun.
“Leader?” panggil Blue.
“Oh, kau sudah bangun ya?” jawab Wahyu.
“Apakah saya tertidur lama?” tanya Blue.
“Tidak terlalu” jawab Wahyu.
“Anda sedang apa?” tanya Blue.
“Bukan apa-apa, hanya sedang bermain membongkar dan merakit pistol” jawab Wahyu yang terlihat baru saja merakit pistolnya.
“Leader memang suka melakukan itu” ucap Blue tersenyum.
“Jadi, apakah R akan keluar juga?” tanya Wahyu.
“Tidak” jawab Blue “R tidak suka dengan hal seperti ini dan dia bilang kalau dia ingin bertanding dengan anda, jadi kami tidak memperbolehkannya keluar”
“Begitu ya, aku juga khawatir kalau dia akan menarikku ke segala tempat” ucap Wahyu lega “Jadi sekarang bagaimana?”
“Jika anda tidak keberatan, saya juga ingin mencoba permainan yang ada di sini dengan anda” pinta Blue.
“Tentu, waktu luang kita juga masih banyak” jawab Wahyu.
Blue merasa senang sekali mendengar jawaban Wahyu “Terima kasih, Leader”
Pada saat itu, tujuh wajah orang lainnya yang juga mengatakan hal yang sama muncul di pikiran Wahyu.
“Jangan lupa untuk membayarnya kembali ya” ucap Wahyu pelan, namun Blue bisa mendengarnya.
“Anda selalu mengatakan itu saat kami berterima kasih, anda masih belum berubah” ucap Blue.
“Sepertinya begitu” jawab Wahyu.
__ADS_1
Setelah itu Wahyu dan Blue menghabiskan waktu mereka memainkan dan menaiki permainan yang ada di gedung itu.