Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
A Promise That Need To Be Kept 19


__ADS_3

Setelah lepas landas, Wahyu, Dani, dan Septian masih tergeletak di bagian kargo pesawat dan di kokpit pesawat, Wahidyn dan Rin mengaktifkan auto pilot kemudian menuju ke kargo pesawat untuk berkumpul dengan yang lainnya.


“Kenapa kita selalu mendapat masalah saat mau bepergian?” tanya Septian setelah berhenti tertawa.


“Jangan tanya aku, kalau bisa aku juga ingin berangkat tanpa ada halangan” jawab Wahyu.


“Ah . . . lelah sekali” ucap Dani menghela nafas.


“Terima kasih Sep, tanpamu mungkin aku tidak bisa naik ke pesawat ini” ucap Wahyu “Dan juga untuk masalah lainnya”


“Jangan dipikirkan” jawab Septian “Teman selalu saling menjaga kan”


Septian dan Wahyu kemudian tertawa.


“Asal kalian tahu, aku juga ikut membantu tahu” ucap Dani iri.


“Iya, aku tahu, terima kasih Dan” ucap Wahyu.


“Sama-sama” balasnya tersenyum.


“Kalian semua tidak apa-apa kan?” tanya Wahidyn yang masuk ke ruang kargo bersama Rin. Wahyu, Septian, dan Dani menjawab pertanyaan Wahidyn dengan mengangkat ibu jari mereka.


“Syukurlah” ucap Rin lega yang kemudian menghampiri Dani untuk memeriksa keadaan Dani.


“Bagaimana rasanya menerbangkan pesawat Wahidyn?” tanya Wahyu mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak terfokus pada Rin dan Dani yang bermesraan.


“Sangat menegangkan, aku sedikit khawatir dengan kemungkiinan aku tidak kuat menarik tuasnya, untungnya semua berakhir dengan aman” jawab Wahidyn.


“Aku juga ingin melihat apa saja yang ada di kokpit pesawat” ucap Septian.


“Itu bisa dilakukan nanti, lebih baik kita istirahat dulu” ucap Wahidyn.


“Autopilot?” tebak Wahyu.


“Iya, aku menduga kita akan sangat lelah saat sudah lepas landas, jadi aku memperbaikinya dahulu” jawab Wahidyn “Kita memiliki waktu kurang lebih tiga jam sebelum kita sampai di Jepang, jadi kita bisa sedikit bersantai sebentar”


“Kalau begitu, lebih baik kita membahas apa yang akan kita lakukan untuk mendarat nanti” ucap Rin yang sudah menempatkan kepala Dani di pangkuannya. Wahyu, Septian, dan Wahidyn yang melihat ekspresi Dani yang terlihat bahagia itu hanya bisa menunjukkan raut wajah yang sedikit iri dan heran.


“Ada yang mau mengajukan diri dan memukulnya sekali?” tanya Septian.


“Bagaimana kalau setrum dia dengan stungun?” balas Wahidyn memberikan usulan yang lebih berbahaya.


“Oh, itu ide yang bagus” ucap Septian setuju.


“Sudah, jangan berencana untuk menyakiti teman kalian sendiri” ucap Wahyu menghentikan ide gila kedua temannya itu “Kita tidak bisa membahas rencana pendaratan dengan pasti karena kita tidak tahu keadaan di Negara Jepang, tapi yang kutahu adalah Shelter Negara Jepang ada di Tokyo”

__ADS_1


“Oh! Tokyo! Aku dari dulu ingin sekali pergi ke sana!” ucap Dani bersemangat.


“Sudah kuduga, mungkin dia bisa menjadi normal kalau kita setrum sekali” ucap Wahidyn.


“Kurang kalau sekali, setidaknya tiga kali” balas Septian.


“Sudahlah, biarkan dia bahagia dengan istrinya” ucap Wahyu sekali lagi menghentikan ide gila kedua temannya itu.


“Apakah ada informasi lainnya?” tanya Rin.


“Ma’af, sepertinya aku juga tidak tahan, apa kau tidak kesemutan memangku kepala Dani terus Rin?” tanya Wahyu.


“Tidak juga” jawab Rin “Malahan ini menenangkan untukku”


“Aku baru ingat multi tool yang Blue berikan ada alat untuk melepaskan tegangan listrik yang besar” ucap Wahidyn.


“Birakan aku mencari sarung tangan dulu, aku akan memeganginya” sambung Septian.


Melihat kedua temannya yang semakin iri itu membuat Wahyu menyerah dan mencoba untuk tidak memperdulikannya.


“Kesampingkan pemandangan yang cukup menyulitkan ini, aku mendapat info kalau Shelter Jepang memiliki sistem yang cukup berbeda dengan Shelter lain” ucap Wahyu mulai menjelaskan “Mereka menggunakan kepemerintahan tingkatan atau pangkat yang berbeda-beda, tapi sama seperti Negara lainnya, yang paling tinggi adalah Kapten, setelah itu ada Wakil Kapten, Unit dibawah komando Kapten, dan seterusnya”


Di saat Wahyu mulai menjelaskan, semua anggota Tim Elang berhenti bermain-main dan mendengarkan dengan seksama.


“Masalah internal?” tanya Rin.


“Iya, sepertinya ada pertentangan dengan aturan baru yang diajukan oleh Wakil Kapten” jawab Wahyu “Sepertinya Wakil Kapten ingin memberikan batasan penggunaan fasilitas dan sumber daya kepada para survivor”


“Pembatasan apa? Bukannya itu tugas Zombie Resistance untuk melindungi dan menjaga agar survivor bisa hidup dan meneruskan kelangsungan manusia?” tanya Dani yang tidak setuju.


“Alasan yang aku tahu, Wakil Kapten ingin memusatkan semua fasilitas dan sumber daya untuk memperkuat pasukan Zombie Resistance dan karena para survivor tidak terlalu membantu dalam penjagaan Shelter dan pembasmian zombie, jadi mereka hanya perlu sumber daya yang cukup untuk menjaga mereka tetap hidup” jawab Wahyu.


“Tidak masuk akal, meskipun mereka survivor dan tidak bisa membantu bertarung, tapi mereka masihlah manusia yang masih ingin hidup dengan layak dan bebas” balas Rin yang juga tidak setuju.


“Lalu kenapa saat sedang ada masalah internal seperti itu mereka masih meminta kita kesana?” tanya Wahidyn.


“Itu karena mereka menemukan zombie mutasi baru” jawab Wahyu. Mendengar jawaban Wahyu anggota Tim Elang pun terkejut.


“Zombie mutasi baru lagi ya” ucap Septian.


“Iya, oleh karena itu, mereka ingin kita mengatasi zombie mutasi itu sedangkan Kapten Negara Jepang akan menyelesaikan masalah internal mereka, tentu saja mereka akan membantu kita dengan apapun yang kita butuhkan” ucap Wahyu.


“Jadi kau ingin kita tidak ikut campur?” tebak Rin.


“TIdak, kalau bisa, aku ingin kita membantu meyakinkan Kapten Jepang untuk tidak menyetujui usulan Wakil Kaptennya, tapi pada saat yang sama, aku ingin kita segera membasmi zombie mutasi yang baru itu agar tidak berkembang seperti Butcher” jawab Wahyu.

__ADS_1


“Lalu apa kau punya ide?” tanya Dani.


“Aku masih tidak bisa memikirkannya karena kurangnya informasi, jadi aku berniat untuk memikirkannya saat sudah berada di Jepang” jawab Wahyu “Tapi sebelum itu ada satu hal yang aku ingin kalian ingat saat kita berada di Jepang” mendengar ucapan Wahyu itu membuat anggota Tim Elang memperhatikan Wahyu dengan serius.


“Ada kemungkinan kita akan terjerat ke dalam permasalahan internal mereka, namun apapun yang terjadi, di bawah keadaan apapun, jangan pernah membunuh orang” ucap Wahyu serius. Anggota Tim Elang terdiam sejenak lalu tersenyum.


“Tentu saja kita tidak akan membunuh orang, tugas kita kan melindungi mereka” ucap Septian.


“Lagipula tidak mungkin aku bisa membunuh orang, mengalahkan zombie dengan tanganku sendiri saja susah” ucap Wahidyn.


“Aku mengerti, aku tidak akan membiarkan Dani membunuh siapapun sengaja atau tidak disengaja” jawab Rin.


“Kenapa kau berpikir aku akan membunuh orng karena aku tidak sengaja?!” ucap Dani kesal.


“Kau tidak ingat ya? Kau hampir membuat Wahyu lumpuh tahu” jawab Septian meledek Dani.


“Ya kan itu tidak disengaja” balas Dani. Setelah membalas perkataan Septian, Dani baru sadar akan perkataannya.


“Nah kan, karena itu Wahyu memperingatimu” sambung Septian meledek Dani.


“Tidak, bukan hanya Dani, tapi kalian semua, tidak terkecuali aku juga” balas Wahyu.


“Kita selama ini berurusan hanya dengan zombie dan kebetulan tidak ada masalah papun di Shelter Negara Cina, namun karena sudah ada informasi mengenai masalah internal, kita mungkin dipaksa untuk berurusan melawan manusia lainnya dan kita tidak tahu pasti siapa yang benar dan siapa yang salah, namun aku ingin kalian berjanji, sejahat apapun musuh kalian, jangan sampai kalian membunuh mereka” Wahyu melihat ke semua anggota Timnya “Kali ini aku serius, tolong berjanjilah”


Melihat Wahyu seserius itu membuat anggota Tim Elang juga harus serius membalasnya.


“Iya, aku berjanji” jawab Septian.


“Baiklah, aku berjanji” jawab Wahidyn.


“Akan kuusahakan, tapi aku berjanji tidak akan membunuh karena aku ingin” jawab Dani.


“Aku berjanji, lagipula itu akan mencoreng nama Negaraku jika aku membunuh di Negara milik orang lain” jawab Rin.


“Baiklah, aku juga akan berjanji untuk menjauhkan kalian dari situasi dimana kalian harus membunuh orang” ucap Wahyu lega.


“Kalau begitu kita sudahi topik yang berat ini dan pergi ke kokpit, aku masih ingin melihat apa saja yang ada di kokpit pesawat” ucap Septian mencerahkan suasana.


“Oh iya, aku juga belum pernah melihatnya” sambung Dani.


Semua anggota Tim Elang kemudian menatap ke arah Wahyu. Melihat itu, Wahyu menggelengkan kepalanya.


“Iya, iya, ayo ke kokpit” jawab Wahyu. Septian dan Dani langsung senang dan berdiri.


Setelah itu Tim Elang pun menghabiskan waktu mereka di pesawat dengan menjelajahi pesawat mereka.

__ADS_1


__ADS_2