Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
Incoming Danger 12-1


__ADS_3

Beberapa menit sebelum alarm menyala, di depan ruang perawatan dimana Wahyu akan dirawat.


“Ma’af merepotkanmu sampai harus membawaku kesini” ucap Wahyu.


“Aku tidak keberatan, lagipula ini juga perintah Kapten” jawab Mei yang sedang membopong Wahyu.


“Apakah hanya karena perintah, kau mau melakukan apapun perintah itu?” ucap Wahyu pelan.


“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Mei.


“Tidak dan juga kita sudah sampai” jawab Wahyu.


Wahyu dan Mei sampai di depan ruangan dengan tulisan “Treatment Room” di depan pintu. Mei membukakan pintu untuk Wahyu dan Mei. Sesaat setelah pintu terbuka, seseorang sudah berdiri di balik pintu. Seorang perempuan yang menggunakan seragam serba hitam yang menandakan posisinya sebagai pasukan khusus, rambutnya yang terlihat indah dengan warna dasar hitam namun memiliki warna biru cerah di setiap ujung helai rambutnya.


“Saya sudah menantikan kedatangan anda” ucap perempuan itu dengan senyuman manis.


“Ah, Blue, datang cepat seperti biasanya” balas Wahyu kepada perempuan yang sudah menunggu kedatangannya itu.


“Jika itu berkaitan dengan anda, saya akan melakukan yang terbaik Lead-“ ucapan Blue terhenti saat menyadari kalau Wahyu tidak datang sendirian. Melihat Mei yang sedang membopong Wahyu, ekspresi Blue yang tadinya terlihat senang langsung berubah menjadi serius.


“Ma’af sebelumnya, tapi apa yang Nona Mei lakukan disini?” tanya Blue.


“Aku diperintahkan Kapten untuk membawa Wahyu kesini untuk dirawat” jawab Mei.


“Kalau begitu saya ucapkan terima kasih, Nona Mei boleh menyerahkan sisanya kepada saya sesuai instruksi dari Kapten Rin” setelah mengucapkan itu, Blue langsung menghampiri Wahyu dan membopongnya dari sisi lainnya.


“Tidak apa-apa, aku juga bisa membantu merawatnya” ucap Mei.


“Tidak, saya tidak ingin merepotkan anda, Nona Mei pasti juga masih punya pekerjaan bukan” balas Blue sedikit memaksa.


“Tidak, aku tidak ada urusan apapun, jadi biarkan aku saja yang merawatnya” balas Mei mulai kesal.


“Ma’af, tapi lenganku mulai terasa sakit” ucap Wahyu. Ucapan Wahyu membuat Blue dan Mei sadar kalau mereka berdua dari tadi menarik lengan Wahyu ke arah yang berlawanan.


“Ma’afkan saya, biar saya bantu anda untuk duduk” ucap Blue.


“Aku sudah membopongnya dari awal, biar aku saja yang melakukannya” balas Mei. Kedua perempuan itu saling menatap satu sama lain dengan tajam. Merasa situasinya tidak akan reda, Wahyu memecah pertengkaran mereka.


“Bagaimana kalau kalian berdua melakukannya bersamaan, aku sudah lelah berdiri di sini terus” ucap Wahyu dengan nada lemas. Setelah itu, Blue dan Mei membawa Wahyu dan mendudukkannya di Kasur tempat pasien dirawat.


“Blue, apa kau masih bisa melakukan perawatan darurat untuk misi mendadak?” tanya Wahyu.


“Tentu saja” jawab Blue dengan percaya diri.


“Kalau begitu aku mengandalkanmu, ada kemungkinan hal yang tidak diduga akan terjadi hari ini” ucap Wahyu yang kemudian mengeluarkan sebuah alat yang terlihat seperti radar.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Mei setelah melihat alat yang dikeluarkan Wahyu.


“Ini adalah sebuah radar buatan Wahidyn, aku memintanya untuk membuat ini untuk jaga-jaga” jawab Wahyu.


“Bisakahaku melihatnya?” pinta Mei.


“Tentu” jawab Wahyu singkat.


Mei kemudian langsung duduk tepat di samping Wahyu untuk melihat bagaimana alat itu bekerja. Wahyu yang melihat Mei tiba-tiba duduk di sampingnya merasa sedikit tidak enak, tapi dia memutuskan untuk fokus kepada radarnyadaripada memikirkan hal itu.


“Bukankah kalian berdua terlalu dekat?” ucap Blue dengan nada menyindir sambil mempersiapkan alat untuk merawat kaki Wahyu.


“Dan juga Nona Mei, apakah anda tidak melihat kalau lead- maksudku Ketua Tim Elang terganggu” sambung Blue mencoba untuk menjauhkan Mei dari Wahyu.


“Apa maksudmu?! Aku hanya ingin melihat dengan jelas radar ini” jawab Mei dengan nada yang meninggi “Lagipula ada apa dengan sikap formalmu itu, aku tidak pernah melihatmu bersikap seperti ini pada orang lain selain orang yang posisinya di atasmu” sambung Mei bertanya balik.


“Itu terserah saya untuk bersikap seperti apa, lagipula saya dan Ketua Tim Elang berasal dari negara yang sama dan juga kami sudah saling kenal sejak dulu” jawab Blue dengan nada sombong.


Sekali lagi, Blue dan Mei bertengkar lagi.


“Sudah hentikan, kenapa kalian berdua bertengkar terus dan juga Blue, memanggilku dengan panggilan Ketua Tim Elang terdengar aneh untukku, kau boleh memanggilku dengan namaku” ucap Wahyu yang menengahi Blue dan Mei.


“Bolehkah?!” tanya Blue dengan gembira.


“Ah, tapi tetap saja anda lebih tua dari saya, jadi setidaknya biarkan saya memanggil anda dengan awalan Pak” usul Blue.


“Sedikit aneh rasanya orang seumuranku dipanggil dengan Pak, tapi itu lebih baik daripada dipanggil Ketua Tim Elang terus menerus” jawab Wahyu menyetujui usulan Blue.


“Baik, Pak Wahyu“ jawab Blue dengan wajah yang bahagia.


“Kenapa kau sangat bahagia dengan itu?” tanya Mei merasa aneh melihat respon dari Blue.


“Nona Mei tidak akan mengerti” jawab Blue singkat. Mei merasa kesal dengan jawaban Blue, namun dia tidak mengatakan apapun.


“Aku sangat tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan perempuan” gumam Wahyu “Baiklah, kesampingkan hal yang tidak penting, aku sebenarnya ingin membahas ini dengan Blue saja, tapi dengan adanya Mei disini akan mempermudahkan urusanku” ucap Wahyu dengan nada tinggi.


“Mei, kau ingat saat kita bertemu dengan zombie mutasi saat misi pertamaku di sini?” tanya Wahyu.


“Iya, zombie besar yang menarik mangsanya menggunakan usus itu kan? Memangnya ada apa dengan zombie itu” jawab Mei sedikit bingung.


“Aku berencana untuk memusnahkannya” jawab Wahyu santai. Mendengar ucapan Wahyu membuat Blue dan Mei terkejut.


“Apa maksudmu dengan memusnahkannya?!” tanya Mei dengan nada tinggi karena kaget.


“Apakah Pak Wahyu sudah memiliki rencananya?” tanya Blue serius.

__ADS_1


“Itulah kenapa aku ingin membahasnya, aku memerlukan beberapa informasi yang bisa kugunakan untuk rencana yang ingin kubuat” jawab Wahyu menghadap ke Blue “Aku telah meletakkan pelacak di zombie itu yang membuatku dapat mengetahui lokasi zombie itu kapanpun”


“Bukankah pelacak hanay berfungsi dalam jarak beberapa kilometer saja?” tanya Blue.


“Memang, untuk pelacak biasa” jawab Wahyu. Blue terkejut dengan jawaban Wahyu yang menandakan bahwa ada yang bisa membuat pelacak dengan jangkauan yang lebih jauh.


“Iya, aku menemukan orang yang memiliki bakat yang hampir mirip dengannya” ucap Wahyu memastikan tebakan Blue.


“Aku sudah menduganya, orang-orang berbakat selalu ada di sekitar anda” ucap Blue tersenyum.


“Kembali ke permasalahan, dengan pelacak yang dibuat Wahidyn, aku bisa menemukan posisi zombieitu, yang mana posisinya tidak berubah sama sekali sejak terakhirkali aku bertemu dengannya, namun kemarin beberapa jam setelah pelacaknya kugunakan, zombie itu mulai bergerak dengan sangat pelan mendekati shelter ini” ucap Wahyu menjelaskan apa yang diketahuinya.


“Tunggu, bukankah itu berbahaya?” tanya Mei yang kembali ikut dalam pembicaraan.


“Yah itulah yang kukhawatirkan, tapi untuk saat ini, posisinya masih berada jauh dari shelter ini” jawab Wahyu mencoba menenangkan Mei “Maka dari itu, sebelum zombie itu berada lebih dekat ke shelter ini, aku berniat untuk memusnahkannya dan untuk itu, aku memerlukan info tentang daerah yangzombie itu tempati”


“Dan anda ingin saya mencari informasi tentang tempat tersebut?” tanya Blue memastikan.


“Iya, tepat sekali” Wahyu kemudian mengeluarkan peta negara Cina “Jika tebakanku benar, maka zombie itu saat ini ada di sini” ucap Wahyu menunjuk ke sebuah tempat di peta. Blue dan Mei melihat tempat yang ditunjuk Wahyu.


“Oh, aku mengetahui tempat ini” ucap Mei.


“Benarkah? Itu akan sangat membantu jika ada yang mengerti tempat ini” ucap Wahyu bersemangat.


Merasa tidak mau kalah Blue juga memberikan informasi yang bisa berguna.


“Saya mungkin tidak terlalu mengetahui tempat ini, tapi saya sudah menyiapkan senjata dan barang-barang yang anda minta sebelumnya” ucap Blue.


“Bagus, dengan ini perencanaanya akan selesai lebih cepat” ucap Wahyu lebih bersemangat lagi.


Melihat Wahyu merasa senang dengan ucapan Blue, Blue melirik ke arah Mei, Mei yang menyadari itu merasa kesal dan akan menegur Blue, namun sebuah suara keras menghentikannya. Suara alarm peringatan yang bergema ke seluruh penjuru ruangan mengejutkan mereka bertiga.


“Alarm daruratnya menyala?! Apa yang terjadi?!” ucap Mei bingung.


“Sial, sepertinya perkiraanku salah” ucap Wahyu yang memperlihatkan radarnya kepada Blue dan Mei. Radar yang ditunjukkan Wahyu menunjukkan titikmerah yang tadinya berjalan dengan sangan pelan, kini bergerak dengan sangat cepat dan melakukan pergerakan yang sama berulang-ulang.


“Pelacak yang kupasang berada di ususnya yang dia gunakan untuk menyerang, yang artinya zombie itu sudah ada di jarak dimana dia bisa menyerang gerbang shelter ini” ucap Wahyu menjelaskan ”Aku harus menghubungi teman-temanku”


Wahyu menekan sebuah tombol yang ada di komunikatornya yang menyalakan paksa komunikator lainnya untuk keadaan darurat. Wahyu mendengar sorakan penontok yang artinya pertandingan sudah berakhir.


“Ma’af mengganggu kemenanganmu, tapi ini belum berakhir” ucap Wahyu.


Sesaat setelah Wahyu mengucapkan itu, sebuah pengumuman terdengar.


“Peringatan! Gerbang shelter baru saja diserang oleh benda yang tidak diketahui dan juga terlihat banyak zombie yang berjalan menuju ke arah gerbang shelter!”

__ADS_1


__ADS_2