
Setelah hari itu, hari-hari Tim Elang berlalu seperti biasa, Wahyu masih memulihkan dirinya di ruang perawatan dan masihsering dijenguk oleh teman-temannya, Septian mulai mengakrabkan dirinya dengan Zombie Resistance Cina terutama dengan Ryu, dan Wahidyn sekarang memiliki izin untuk memasuki divisi informasi dan teknologi entah itu untuk membantu orang-orang di sana atau meningkatkan alat-alatnya sendiri, untuk Dani, belakangan ini dia sering dipanggil oleh Kapten Rin untuk menemaninya di ruangannya, tentu saja tanpa paksaan, tapi karena Dani juga tidak ada kerjaan, jadi Dani menurutinya.
Setelah satu minggu, akhirnya kaki Wahyu sudah bisa digerakkan, tapi tetap saja disarankan untuk menggunakan alat bantu berjalan yang mana adalah sebuah tongkat.
“Untuk jaga-jaga, kaki anda kami beri gips, jika anda sudah merasa kaki anda sehat sepenuhnya, anda bisa kemari lagi untuk membukanya” ucap perawat yang baru saja memberikan gips ke kaki Wahyu.
“Terima kasih atas bantuannya sampai saat ini” Wahyu mengucapkan terima kasih dan berjalan keluar ruangan menggunakan tongkatnya. Di luar ruangan, teman-temannya sudah menunggunya.
“Jadi bagaimana rasanya berjalan menggunakan tongkat lagi?” tanya Septian menyindir.
“Yah, setidaknya kali ini tidak ada orang yang khawatir berlebihan” balas Wahyu.
“Jika kau masih bisa bercanda, berarti kau baik-baik saja” ucap Wahidyn.
“Jadi, agenda kita setelah ini apa?” tanya Dani.
“Kau pasti sudah tahu jawabannya kan? Kau tahu sendiri makanan rumah sakit itu bagaimana” jawab Wahyu.
“Oke, langsung saja ikuti aku” ucap Septian memimpin teman-temannya itu untuk pergi ke tempat makan yang Septian tahu.
Tim Elang makan bersama sambil membicarakan apa saja yang masing-masing mereka lakukan saat tidak bersama. Setelah selesai makan, mereka semua kembali ke kamar mereka.
“Hei Yu, kau tahu, sekarang Dani tidurnya tidak pernah di kamar ini lho” ucap Septian menyindir Dani.
“Hei, sudah kubilang jangan membicarakan orang di depan mukanya langsung” balas Dani.
“Hei, kau ini tidak mengerti, membicarakan orang di belakang punggungnya itu adalah perbuatan buruk, maka dari itu aku membicarakannya di depan muka orangnya secara langsung” balas Septian berdalih.
“Itu tidak membuatnya jadi tindakan baik!” balas Dani kesal.
“Jadi, apa setiap hari dia dipanggil?” tanya Wahyu.
“Begitulah, kalau tidak salah kira-kira” Septian melihat jam tangannya “Sekarang” setelah Septian mengucapkan itu, sebuahketukan terdengar dari kamar mereka.
“Biar kubukakan” ucap Wahidyn yang sudah berjalan menuju pintu kamar dan membukakan pintunya “Silahkan masuk saja seperti biasanya” ucap Wahidyn mempersilahkan orang yang ada di depan pintu kamar Tim Elang. Orang itu masuk dan memperlihatkan dirinya yang mana dia adalah Kapten Rin.
“Ma’af selalu mengganggu kalian” ucap Kapten Rin yang memasuki kamar Tim Elang “Dani, untuk malam ini apakah bisa?” tanya Kapten Rin.
“Tentu saja dia bisa” ucap Septian keras “Dan juga, selanjutnya tidak perlu bertanya lagi Kapten, dia juga pastinya sudah ketagihan” Septian kemudian menunjukkan senyuman menjengkelkan kepada Dani.
“Itu normal tahu, kau juga pasti akan merasakannya sendiri besok-besok” ucap Dani kesal.
“Sudahlah Sep, jangan menjahilinya terus” ucap Wahyu mencoba menengahi. Melihat Wahyu yang sudah duduk di kasurnyaitu membuat Kapten Rin kaget.
“Kau sudah boleh keluar dari ruang perawatan ya?” tanya Kapten Rin mendekat ke Wahyu.
__ADS_1
“Iya, tadi pagi aku baru keluar” jawab Wahyu.
“Selamat kalau begitu, aku harap kau bisa pulih lebih cepat” ucap Kapten Rin.
“Terima kasih” ucap Wahyu “Ya sudah Dan, cepat berangkat sana” suruh Wahyu.
“Tanpa kau beritahu aku juga aku akan pergi” balas Dani “Bisakah kau tunggu diluar sebentar Rin? Aku akan ganti pakaian” pinta Dani kepada Kapten Rin.
“Baiklah, kalau begitu semuanya, ma’af sudah mengganggu” ucap Kapten Rin yang kemudian berjalan keluar ruangan Tim Elang.
“Heeh, sejak kapan kau memanggil Kapten Rin tanpa formalitas?” tanya Wahyu dengan niatan menjahili Dani. Menyadari kalau dirinya keceplosan, Dani langsung beralasan.
“Ah tidak itu, kau tahu” ucap Dani terbatah-batah. Melihat Dani panik membuat Wahyu tertawa.
“Iya aku megnerti, sudah pergi sana” ucap Wahyu. Dani langsung mengenakan jaket dan celanan jeans miliknya.
“Aku pergi dulu kawan-kawan” ucap Dani yang langsung berlari menyusul Kapten Rin.
“Iya, selamat bersenang-senang” jawab Septian dengan suara keras.
Setelah Dani keluar dari ruangan Tim Elang, Wahidydn mendekat ke Wahyu dan Septian.
“Menurut kalian, apa mereka bisa meneruskannya sampai ke pernikahan?” tanya Wahidyn.
“Yah menurutku sih bisa-bisa saja” jawab Septian “Buktinya mereka masih terlihat bahagia sampai sekarang.
“Sebentar” ucap Wahyu menghentikan pembicaraan “Status mereka saat ini masih ditahap apa?” tanya Wahyu.
“Teman dengan benefit?” jawab Septian ambigu.
“Bukannya Dani hanya digunakan sebagai alat pemuas nafsu saja?” jawab Wahidyn.
“Kalian ini menganggap Dani serendah itu ya” ucap Wahyu kaget “Jadi Dani masih belum memberitahu kalian?” tanya Wahyu.
“Mengenai apa? Yang kutahu, seminggu lalu, dia tiba-tiba ke kamar dan mengatakan kalau dia baru saja tidur dengan Kapten Rin” jawab Septian.
“Iya, dan saat itu Dani hampir masuk ke ruang perawatan lagi setelah di ceramahi oleh Septian” jawab Wahidyn.
“Ah begitu ya” mendengar jawaban dari Septian dan Wahidyn membuat Wahyu sadar kalau Dani mungkin masih belum siap mengatakannya karena reaksi Septian.
“Jadi apa yang belum Dani katakan?” tanya Septian penasaran.
“Tidak, aku juga mau mengatakan hal yang sama” jawab Wahyu.
“Kalau begitu ya kami sudah tahu” ucap Septian kecewa “Sudah kalau begitu, aku akan tidur dulu, besok aku mau latihan bersama Ryu” Septian kemudian beranjak ke kasurnya dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
“Aku juga ingin melakukan sesuatu di ruang Teknologi dan Informasi” ucap Wahidyn yang juga ikut tidur.
“Aku mau keluar dulu, aku masih belum mengantuk” ucap Wahyu.
“Apa kau tidak apa-apa sendirian? Mau kutemani?” ucap Wahidyn yang belum tertidur.
“Tidakusah, aku juga ingin terbiasa berjalan menggunakan tongkat ini” jawab Wahyu.
“Kalau begitu aku biarkan communicatorku menyala, panggil saja jika kau butuh aku” ucap Wahidyn.
“Iya, terima kasih” Wahyu kemudian mulai berjalan menggunakan tongkat bantunya itu keluar ruangan dan menuju ke atap gedung dimana kamar Tim Elang berada. Sesampainya di atap, Wahyu mencari tempat untuk duduk dan bersantai sambil merasakan suasana malam hari. Wahyu menutup matanya untuk membuat tubuhnya rileks, namun setelah beberapa menit, Wahyu mendengarkan suara langkah kaki. Sebelum sempat membuka matanya, mata Wahyu sudah ditutupi oleh dua buah tangan.
“Tebak ini siapa?” ucap seorang gadis yang suaranya sangat dikenali Wahyu.
“Blue? Ada apa malam-malam begini?” jawab Wahyu. Tangan yang menutupi Wahyu telah dilepas dan Blue muncul di depan Wahyu.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya kaget anda tidak ada di ruang perawatan saat aku mau menjenguk anda” jawab Blue yang kemudian duduk di samping Wahyu “Apakah anda sudah baik-baik saja?” tanya Blue yang bersandar kepundak Wahyu.
“Iya, mungkin beberapa hari lagi aku sudah bisa berjalan dengan normal” jawab Wahyu.
“Kalau begitu kapan anda akan memberikan hadiah Q?” tanya Blue.
“Kau masih ingat ya” ucap Wahyu lemas.
“Tentu saja, walaupun yang menerima hadianya adalah Q, tapi aku juga merasakannya juga, jadi aku tidak sabar menantikannya” jawab Blue bersemangat.
“Kalau dia tidak keberatan, bagaimana dengan besok? Tapi aku tidak bisa melakukan hal-hal yang berat” tanya Wahyu.
“Benarkah?” tanya Blue senang.
“Jika dia tidak keberatan dengan keadaan kakiku” ucap Wahyu memastikan kalau Blue mendengar kondisinya.
“Kenapa tidak tanya sendiri saja?” jawab Blue “Sebentar” Blue kemudian membuka matanya dan seketika sikap Blue berubah.
“Besok, boleh” ucap Blue dengan nada pelan “Kaki, tidak sakit?” tanya Blue.
“Iya, aku sudah baik-baik saja” jawab Wahyu.
“Pangku, boleh?” pinta Blue.
“Jika kau bisa menghindari memberikan beban terlalu besar di kaki kiriku, silahkan” balas Wahyu. Menerima izin dari Wahyu, Blue duduk diatas kaki kanan Wahyu “Atau kau juga bisa melakukan itu” ucap Wahyu lemas. Blue terlihat bahagia bisa duduk bersama Wahyu.
“Bersama Leader, menyenangkan” ucap Blue.
“Dasar kau ini” ucap Wahyu yang menyerah dan menikmati suasana malam bersama Blue.
__ADS_1
Wahyu dan Blue berbicara untuk 20 menit sebelum akhirnya Blue kembali ke sikap biasanya. Setelah itu Wahyu dan Blue berpisah untuk istirahat di kamar mereka masing-masing.