
Setelah tiga jam berlalu, pesawat Tim Elang sudah mendekati kota Tokyo dimana Shelter Negara Jepang berada. Tim Elang mencari bandara yang paling dekat dengan letak Shelter Jepang menggunakan peta virtual milik Wahidyn.
“Jadi apa kau menemukannya?” tanya Wahyu.
“Iya, ada bandara di Kota Ota dan jaraknya menuju ke Tokyo kurang lebih 16 kilometer” jawab Wahidyn.
“Jadi masih jauh ya” ucap Dani.
“Jika berjalan iya, tapi jika kita bisa menemukan kendaraan maka hanya akan membutuhkan 15 menit” balas Wahidyn.
“Bukankah itu mudah, pasti ada satu atau dua mobil yang masih utuh di jalan” ucap Septian.
“Memang benar, tapi kan kita tidak pernah ke Negara ini, kita tidak tahu situasi pastinya” balas Wahidyn.
“Bukannya kalian melupakan hal yang penting?” ucap Wahyu yang membuat teman-temannya bingung.
“Memangnya apa lagi?” tanya Dani.
“Siapa yang membersihkan landasan pesawatnya” jawab Wahyu. Setelah mengetahui itu, Tim Elang mulai sadar kalau bandara yang mereka tuju mungin dipenuhi dengan zombie dan mempersulit pendaratan mereka.
“Lalu bagaimana ini?” tanya Septian mulai panik.
“Wahidyn, kau bisa mendaratkannya walaupun banya zombie kan?” tanya Dani mulai panik juga.
“Kau lupa ya, saat lepas landas saja kita membutuhkan kecepatan yang cukup untuk terbang, jadi kita juga membutuhkan kecepatan tertentu untuk mendarat dan jika kita menabrak banyak zombie dan merusak roda pesawatnya, kita juga bisa dalam bahaya” jawab Wahidyn.
“Tenang semuanya” ucap Wahyu menenangkan teman-temannya “Mari kita berpikir dengan tenang, mungkin ada solusi lain”
Tim Elang pun mulai berpikir. Setelah beberapa menit, Rin mengangkat tangannya.
“Ini pesawat kargo kan?” tanya Rin.
“Iya, memangnya kenapa?” jawab Wahidyn dengan pertanyaan lain.
“Bagaimana kalau kita terjun saja” ucap Rin mengusulkan idenya.
“Tunggu Rin, kami ini tidaklah sekuat dirimu, kami pasti akan mati kalau terjun begitu saja” balas Dani.
“Tidak, bukan begitu, aku juga pasti mati jika terjun di ketinggian ini” balas Rin mencoba menjelaskan idenya “Maksudku adalah, pesawat kargo biasanya memiliki beberapa parasut untuk keadaan genting, jadi kenapa kita tidak menggunakannya saja”
“Itu ide yang bagus, Wahidyn, tetap terbang di ketinggian ini, kami akan mencari parasut yang ada” ucap Wahyu.
Wahyu, Septian, Rin, dan Dani langsung berlari ke bagian kargo dan mencari parasut yang ada. Setelah beberapa menit ahirnya mereka menemukan parasutnya, namun parasut yang ada hanyalah empat buah.
“Sial, kurang satu, bagaimana ini?” tanya Septian.
“Tenang, kita cari jalan keluarnya bersama” ucap Wahyu menenangkan Septian.
“Ma’af jika ini bukan waktu yang tepat, tapi kita dalam keadaan buruk” ucap Wahidyn melalui communicator.
“Ada apa Wahidyn?” tanya Wahyu.
“Sepertinya, bahan bakar pesawat ini mau habis” jawab Wahidyn.
__ADS_1
“Sial tida ada waktu lagi” gumam Wahyu “Baiklah aku punya ide”
“Apa idemu?” tanya Dani.
“Aku, Septian, dan Wahidyn akan mengambil satu parasut” jawab Wahyu.
“Lalu bagaimana denganku dan Rin?” tanya Dani.
“Aku akan menggunakan parasut yang tersisa dengan Dani, begitu kan?” tebak Rin.
“Iya, ma’af jika menyinggungmu Dan, tapi berat badan dan tinggi badanmu itu adalah yang paling rendah, jadi kau bisa berpasangan dengan siapapun dari kami kecuali Septian” jawab Wahyu “Sekarang, kau lebih memilih bersama Rin atau bersama yang lainnya?” tanya Wahyu.
“Kalau kau mengatakannya seperti itu, ya lebih baik aku bersama Rin” jawab Dani.
“Baiklah, kalau begitu kita tidak punya waktu lagi, aku akan membawa parasut ini ke Wahidyn, kalian bertiga bersiaplah” ucap Wahyu yang mengambil dua buah parasut untuk dirinya dan Wahidyn. Wahyu kemudian langsung berlari ke kokpit untuk memberikan parasut kepada Wahidyn.
“Wahidyn, kita akan terjun, persiapkan dirimu” ucap Wahyu yang memberikan sebuah parasut kepada Wahidyn.
“Hah? Terjun?” tanya Wahidyn yang bingung dan panik.
“Berapa lama lagi kira-kira pesawat ini bisa mengudara?” tanya Wahyu menghiraukan pertanyaan Wahidyn.
“Mungkin lima sampai enam menit lagi” jawab Wahidyn yang secara refleks memakai parasut yang diberikan Wahyu karena panik “Aku tadi lupa untuk memeriksa keadaan bahan bakar kita, saat aku ingat, meterannya sudah berada di dasar dan peringatan terus muncul di monitor”
“Baiklah, setidaknya itu akan memberikan kita jarak yang cukup dekat dengan Tokyo” ucap Wahyu “Kita arahkan pesawat ini ke Tokyo, saat mesinnya sudah benar-benar mati, kita akan terjun dari pesawat ini dengan yang lainnya”
Melihat Wahyu yang terlihat fokus dan tenang itu membuat Wahidyn bisa menenangkan dirinya dan bertindak dengan tenang “Oke, serahkan padaku”
Wahyu pun mengambil tempat duduk co-pilot dan membantu Wahidyn mengarahkan pesawat mereka.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Wahyu.
“Kita perlu membuat pesawt ini dalam keadaan lurus, itu akan memberi kita tambahan waktu dua menit” jawab Wahidyn “Tarik tuas di sisi kananmu itu bersamaku, angkat ke atas sampai aku bilang lepaskan”
Sesuai instruksi Wahidyn, Wahyu dan Wahidyn mengangkat tuas yang berda di antara mereka ke atas.
“Terus angkat!” ucap Wahidyn sambil mengangkat tuas itu dengan sekuat tenaganya. Wahyu juga mengangkat tuas itu dengan seluruh tenaganya dan akhirnya membuat tuasnya bisa terangkat.
“Lepaskan sekarang!” teriak Wahidyn. Wahyu dan Wahidyn secara bersamaan melepaskan tuasnya dan Wahidyn langsung menekan beberapa tombol.
“Sudah selesai, kita hanya punya waktu empat menit!” ucap Wahidyn terburu-buru.
“Kalau begitu kita ke kargo sekarang” balas Wahyu yang mengajak Wahidyn berlari ke kargo dimana teman-teman mereka menunggu mereka berdua.
Wahyu dan Wahidyn berlari secepat mungkin ke kargo belakang. Saat sampai, mereka berdua sudah ditunggu oleh teman-teman mereka yang sudah siap untuk membuka pintu belakang pesawat.
“Kalian lama sekali! Cepat kemari!” teriak Septian.
Wahyu dan Wahidyn langsung berlari dan berkumpul dengan lainnya.
“Langsung buka pintunya!” teriak Wahyu.
“Baik” jawab Rin yang badannya sudah terikat dengan badan Dani. Rin kemudian menekan tombol di sebelahnya yang kemudian mulai membuka pintu belakang pesawat secara perlahan.
__ADS_1
“Kenapa membukanya pelan sekali?!” tanya Septian kesal.
Satu menit berlalu dan akhirnya pintu belakang pesawat terbuka, namun pemandangan yang Tim Elang lihat langsung mengejutkan mereka. Ujung gedung-gedung tinggi sudah bisa mereka lihat dan posisinya sangat mendekati bagian bawah pesawat.
“Ini sudah terlalu rendah! Semuanya bersiap melompat!” suruh Wahyu dengan nada tinggi.
Wahyu menghitung waktu yang tersisa di kepalanya untuk memaksimalkan jarak yang bisa mereka tempuh saat terjun agar bisa lebih dekat dengan Tokyo. Tepat satu menit berlalu, Wahyu langsung meneriakkan aba-aba untuk terjun.
“Semuanya! Lompat!” teriak Wahyu yang langsung melompat bersamaan dengan anggota Timnya.
“Langsung buka parasut kalian!” suruh Wahyu. Tanpa ragu, semua anggota Tim elang membuka parasut mereka. Di karenakan mereka baru meloncat dan kecepatan jatuh mereka masih belum terlalu cepat, hentakan dari terbukanya parasut tidak menyakiti mereka. Tim elang akhirnya secara perlahan melayang mendekati tanah sambil melihat pesawat mereka yang semakin merendah dan akhirnya menghantam gedung dan meledak. Ledakan yang dibuat pesawat itu cukup besar dan keras hingga menarik perhatian zombie yang ada di sekitar area ledakan itu.
Tim Elang akhirnya mendarat dengan aman, namun mereka tidak punya waktu yang banyak, karena ledakan tadi juga menarik perhatian zombie di area Tim Elang mendarat dan membuat zombie di sekitar mereka menjadi aktif.
Wahyu yang melihat zombie di sekitarnya mulai melihat ke arah Timnya, langsung menembaki zombie yang paling dekat dengan mereka.
“Lepaskan parasut kalian dan bersiap untuk berlari” suruh Wahyu. Tim Elang pun secepat mungkin melepaskan parasut mereka dan mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
“Wahidyn, periksa lokasi kita dengan Shelter Jepang” suruh Wahyu kepada Wahidyn. Wahidyn langsung mengaktifkan jam tangannya dan membuka peta virtualnya.
“Kita cukup dekat, hanya satu setengah kilometer dari sini” jawab Wahidyn.
“Kalau begitu jangan buang-buang waktu lagi, langsung lari” Wahyu menembak zombie yang mendekati Wahidyn “Pimpin jalannya Wahidyn”
Wahidyn mengangguk dan mulai berlari, namun karena kecepatan lari Wahidyn sedikit lambat, zombie yang menyadari keberadaan Tim Elang sedikit demi sedikit mulai menyusul dan membuat Wahidyn sedikit takut.
“Jangan takut!” ucap Wahyu dengan nada sedikit keras “Kami akan melindungimu apapun yang terjadi, jadi teruslah berlari” Wahyu mengisi ulang peluru pistolnya setelah menembaki zombie yang ada di depan Wahidyn.
“Jangan lupa, ada aku juga” ucap Dani yang menembaki zombie yang ada jauh di depan jalan yang diambil oleh Wahidyn.
“Aku akan mengurusi yang mendekat” ucap Septian yang menembaki zombie yang mendekati mereka dari samping dan belakang.
“Percayalah pada kami” ucap Rin yang membantu Septian untuk menghabisi zombie yang mendekat.
Setelah mendengar perkataan teman-temannya itu, Wahidyn memberanikan dirinya dan fokus untuk berlari mengikuti arahan dari petanya itu. Setelah beberapa menit berlari, Tim elang hampir sampai ke pintu gerbang Shelter Jepang, namun di depan mereka ada sebuah pintu yang tertutup.
“Sial, pintu ini sepertinya terkunci dari sisi lainnya” ucap Wahidyn yang mencoba untuk membuka pintu itu.
“Sep!” teriak Wahyu.
“Oke!” jawab Septian yang langsung mengambil posisi di depan pintu itu dan menghadap ke Wahyu dengan kedua tangannya bersiap untuk menjadi pijakan Wahyu. Wahyu langsung berlari menuju Septian dan menggunakan tangannya sebagai pijakan, saat kaki Wahyu sudah menyentuh tangan Septian, Septian langsung mendorognya ke atas dengan sekuat tenaga. Dorongan dari Septian berhasil melesatkan Wahyu ke atas tembok dan melewatinya. Wahyu langsung membukakan kuncinya dan membiarkan teman-temannya lewat dan mulai berlari lagi.
“Respon yang bagus” ucap Wahyu memuji Septian.
“Tentu saja, aku sudah terbiasa dengan pola pikirmu” jawab Septian bangga.
Tim Elang pun akhirnya sampai di depan gerbang Shelter yang dijaga oleh pasukan bersenjata. Melihat Tim Elang yang berlari ke gerbang diikuti gerombolan zombie, pasukan bersenjata itu langsung menyiapkan senjata mereka. Setelah Tim Elang melewati pasukan bersenjata itu, mereka langsung menembaki zombie yang mengejar Tim Elang sampai habis. Tim Elang langsung duduk karena kelelahan sambil melihat sekumpulan zombie yang mengejar mereka tadi ditembaki sampai habis.
Setelah membakar mayat zombie yang sudah ditembaki, pasukan bersenjata tadi mendekati Tim Elang.
“Terima kasih, kami terselamatkan” ucap Wahyu.
Pasukan bersenjata itu terdiam. Salah satu pasukan itu terlihat sedang berkomunikasi dengan seseorang menggunakan radio mereka. Setelah selesai berbicara menggunakan radio mereka, pasukan bersenjata itu tiba-tiba menodong Wahyu secara bersamaan dan membuat Wahyu mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
“Anggota Special Forces COLORED dengan codename Grey, anda ditahan atas pembunuhan beberapa tahun yang lalu” ucap salah satu pasukan yang menodong Wahyu itu.