
“Baiklah, akan kujelaskan secara singkat karena kita juga perlu sesegera mungkin menghentikan serangannya terhadap gerbang Shelter sebelum hancur” ucap Wahyu “Sebelumnya aku hanya melihatnya secara singkat dan tidak terlalu jelas, tapi setelah dia menjadi tambah besar, tengkorak yang ada di belakang dadanya itu juga ikut membesar dan seperti tengkorak-tengkorak normal lainnya, tengkorak itu memiliki lubang untuk bagian mata dan hidung”
“Jadi artinya kita tidak perlu melubangi tengkorak itu” ucap Dani sedikit lega.
“Iya, itu benar kita tidak perlu melubanginya lagi, tapi masalah selanjutnya adalah, tengkorak itu dilindungi oleh tulang rusuk besar yang terlihat sama kerasnya dengan tengkorak itu” sambung Wahyu menjelaskan. Mendengar itu membuat semuanya kecewa.
“Tapi tetap saja ini hanya kesimpulanku hanya dari melihat saja, kita perlu melakukan percobaan secara langsung dengan menembak tulang rusuk itu, jadi rencananya akan sedikit diubah” ucap Wahyu yang kemudian menjelaskan rencana dan peran setiap orang pada rencananya.
“Baiklah, tanpa basa-basi lagi, kuatkan diri kalian, jangan takut, kita semua akan saling bantu untuk memastikan tidak ada yang terluka parah, tetap ikuti rencananya dan kemenangan ada di tangan kita” ucap Wahyu menyemangati semuanya “Atur frekuensi radio kalian ke frekuensi 109, pastikan alat komunikasi kalian tetap menyala, setiap informasi yang ada akan menjadi bantuan besar” mendengar ucapan Wahyu, semuanya pun mengatur radio dan alat komunikasi mereka sesuai instruksi dari Wahyu” Baiklah, ambil posisi kalian masing-masing, Misi penakhlukan zombie Butcher, Dimulai!” ucap Wahyu tegas. Tim Elang beserta Red dan Blue pun langsung berpencar sesuai kelompok mereka. Wahidyn bersama Septian, Dani bersama Blue, dan Wahyu bersama dengan Red.
“Ingat, kita hanya pengalih perhatian, cukup hindari saja, jangan sampai terkena serangan sedikitpun” ucap Wahyu kepada Red yang masih berada di gang yang menuju tepat ke arah Butcher.
“Baik” jawab Red singkat.
“Baiklah, pada aba-abaku” ucap Wahyu yang kemudian menarik nafas besar “Sekarang!” teriak Wahyu.
Red dan Wahyu kemudian berlari menuju ke arah Butcher.
“Woy! Kami disini!” teriak Wahyu untuk menarik perhatian dari Butcher. Mendengar suara dari sisinya, Butcher menoleh dan melihat Wahyu. Wahyu langsung mengambil Flash Grenade miliknya dan langsung melemparkannya ke arah Butcher. Granat itu meledak dan membutakan Buthcer sejenak, dengan waktu sesingkat itu,Wahyu dan Red mengambil posisi sedikit berjauhan dan bersiap untuk memulai rencana mereka.
Butcher sudah kembali bisa melihat dan mengeluarkan raungan keras kepada Wahyu dan Red. Mereka tidak dapat melihatnya dengan jelas sebelumnya, namun setelah berhadapan dengan Butcher, wajahnya pun terlihat dengan sangat jelas, sebuah wajah dengan bagian wajah yang tidak beraturan, hidung yang besar sedikit miring dari posisi normal dan memiliki lubang hidung yang besar, mulut besar dengan gigi-gigi graham yang juga besar dengan lidah yang keluar dan meneteskan liur yang tidak ada hentinya dan juga dua buah mata besar dengan pupil berwarna hitam dan retina berwarna kuning cerah membuatnya terlihat semakin mengerikan. Melihat pemandangan itu, membuat Wahyu dan Red sedikit berkeringat.
“Ususnya akan kembali dalam waktu 5 detik, jangan sampai terkena!” teriak Wahyu. Wahyu dan Red kemudian berlari kearah yang berlawanan menjauh dari satu sama lain untukmembingungkan Butcher. Seperti yang diperkirakan Wahyu, mata Butcher bergerak ke arah Wahyu dan Red secara bergantian dan membuatnya mengeluarkan raungan kesal, namun akhirnya pandangnannya terhenti pada Red.
__ADS_1
“Red! Dia mengincarmu!” teriak Wahyu yang menyadari tatapan Butcher.
Dari arah belakang Red muncul sebuah usus yang kembali dari suatu tempat dan kini mengejar Red. Karena peringatan dari Wahyu, Red sudah bersiap dan langsung membalikkan badannya agar tahu arah usus itu melaju, dengan sebuah lompatan besar kesamping, Red berhasil menghindari terjangan usus itu dan sesuai rencana, Red menembaki usus itu dengan assault riflenya sampai peluru yang ada di magazinenya habis. Butcher meraung lagi dan menarik kembali ususnya ke perutnya. Di saat yang sama, Wahyu sudah berada di dekat Butcher, di saat perutnya terbuka untuk menarik kembali ususnya, Wahyu melemparkan sebuah granat bersamaan dengan saat usus itu masuk ke dalam perutnya dan meledakkan usus itu menjadi beberapa bagian serta membuat sedikit retakan kepada tulang-tulang rusuk yang melindungi perutnya. Butcher sekali lagi meraung, namun kali ini karena kesakitan. Pandangan Butcher langsung berganti kepada Wahyu, karena jarak Wahyu yang dekat, butcher menggerakkan tangannya dan mencoba untuk menindih Wahyu dengan telapak tangannya yang besar, namun karena gerakannya yang lambat, Wahyu langsung berlari menjauh. Merasa kesal karena tidak bisa mengenai Red ataupun Wahyu, Butcher meronta dan merobohkan beberapa bangunan dan kios kecil yang ada di sekitarnya, membuat reruntuhan dari bangunan itu terbang kemana-mana. Wahyu dan Red menghindari benda-benda yang melayang ke arah mereka, tanpa mereka sadari, usus Butcher sudah hampir pulih dan akan menyerang lagi, dengan fokus mereka untuk menghindari hantaman pecahan-pecahan bangunan yang hancur, Red dan Wahyu tidak akan bisa menghindari serangan Butcher, namun saat Butcher akan meluncurkan ususnya lagi, sebuah ledakan kembali terjadi di perut Butcher dan sekali lagi, usus Butcher terluka lagi. Butcher langsung menoleh ke segala arah mencari dari mana ledakan itu diluncurkan dan akhirnya dia menemukan Blue dan Dani yang berada di atas sebuah gedung tinggi.
“Ledakan itu membuat retakannya semakin besar, selanjutnya lakukan tembakan 30 derajat mendekati pangkal tulangnya” ucap Blue memberikan instruksi kepada Dani.
“Bisa mendapatkan detail target dengan jelas seperti ini membuatku dapat menembak dengan mudah” ucap Dani yang kemudian memasukkan lagi peluru ledak yang dibuat khusus oleh Wahidyn ke dalam sniper rifle yang dia gunakan. Tidak seperti sniper rifle milik Dani sebelumnya, sniper rifle yang dia pakai saat ini adalah sebuah sniper rifle yang hanya bisa menembakkan satu peluru dalam satu kali tembakan, jadi Dani harus terus mengisi ulang pelurunya setiap kali dia menembak, hal ini dilakukan untuk mendapatkan kecepatan peluru yang lebih cepat dan presisi.
Mengetahui Dani dan Blue yang membidiknya dari gedung, Butcher itu kemudian meludah ke arah Dani dan Blue, mereka berdua menghindarinya dengan mudah, namun beberapa saat kemudian, beberapa zombie mulai memasuki gedung dimana Dani dan Blue berada.
“Dani, Blue, beberapazombie memasuki bangunan kalian, sepertinya ludah Butcher dapat menarik zombie ke tempat ludah itu berada” ucap Wahyu melalui communicator miliknya yang didengar oleh Dani dan Blue.
“Tetap menembak dan lindungi yang lainnya, aku akan mengurus zombie yang datang” ucap Blue yang mengeluarkan pisaunya dan memegannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa sebuah pistol yang diambil dari rompinya.
“Oh tidak, kau tidak boleh mendekati mereka” ucap Septian yang datang bersama Wahidyn mengendarai sebuah mobil dari kejauhan. Wahidyn yang mengendarai mobil itu langsung menancap gas dan mempercepat laju mobilitu dan saat sudah dekat dengan dengan Butcher, Wahidyn mengganjal pedal gas mobil itu dengan bata, lalu Septian mengangkat Wahidyn dari tempat duduknya dan melompat keluar dari mobil yang melaju kencang dan akhirnya menabrak tubuh Butcher dan membuatnya jatuh tergeletak dan merobohkan bangunan yang dia gunakan sebagai sandaran, sebagai tambahan, Wahidyn kemudian menekan sebuah remot yang sudah ada di tangannya dan mobilitu langsung meledak menghancurkan beberapa bagian tubuh Butcher dan membakarnya.
“Itulah yang kupanggil dengan kedatangan yang meriah” ucap Septian.
“Dani, lapor!” ucap Wahyu sambil memegangi communicatornya.
“Asapnya sedikit menghalangi” jawab Dani “Gawat, itu tidak berpengaruh sama sekali, dia akan meluncurkan ususnya lagi! Menghindarlah!” teriak Dani.
Wahyu, Wahidyn, Septian, dan Red setelah mendengar teriakan Dani, secara refleks langsung tiarap. Tepat setelah mereka berempat tiarap usus Butcher melesat dengan cepat di atas mereka. Mereka berempat lega karena mereka berhasil menghindari terjangan usus itu, namun tiba-tiba usus itu berhenti dan menjatuhkan dirinya ke tanah yang mana juga menimpa tubuh Wahyu, Wahidyn, Septian, dan Red. Mereka berempat berteriak kesakitan. Mendengar teriakan itu, Dani kemudian mengganti senjatanya dengan sniper rifle milik Blue dan mulai menembaki usus itu mencoba untuk memaksa usus itu kembali kedalam perut Butcher. Setelah beberapa tembakan, akhirnya usus itu mulai bergerak dan dengan perlahan kembali menuju perut Butcher.
__ADS_1
“Oy! Kalian! Cepat pergi dari situ!” teriakan Dani keluar dari setiap communicator empat orang yang tergeletak ditanah itu “Buthcer beregenerasi lebih cepat dari yang kita kira, aku tidak tahu kapan lagi dia akan menyerang” ucap Dani panik.
Tidak mendengar jawaban dari keempat orang itu, Dani kembali mengambil sniper rifle miliknya dan mulai mengisi pelurunya lagi dengan peluru ledak.
“Aku tahu peluru ini hanya sedikit, tapi aku tidak punya pilihan lain” gumam Dani yang kemudian membidik tempat kembalinya ususnya yang besar itu dan meledakkannya, hal itu membuat usus Butcher terputus dan juga membuat Butcher meronta kesakitan, Butcher kemudian merangkak mencari bangunan yang dapat dia sandari.
“Blue! Kita akan pergi ke tempat Wahyu dan menolong mereka!” teriak Dani yang kemudian mengalungkan kedua sniper rifle yang dia gunakan.
Mendengar ucapan Dani, Blue kemudian menendang zombie yang ada didepan pintu menuju atap gedung dan menjatuhkannya menimpa zombie-zombie lainnya yang ada di tangga. Blue kemudian mengambil nafas besar dan membuka kedua matanya.
“Baiklah! Ayo kita lakukan ini!” teriak Blue dengan nada keras dan kasar. Setelah Blue membuka kedua matanya, tiba-tiba sikap Blue langsung berubah dan membuat Dani terdiam karena kaget “Jangan berlama-lama diam disana! Aku akan membuat jalannya, kau cukup ikuti aku saja dan jangan tertinggal oke!” Blue kemudian meloncat ketangga dan menendang jatuh zombie yang berdiri di depannya dan menggunakannya sebagai landasan, setelah itu dengan satu tendangan kekepala zombie itu, zombie itu langsung tidak bergerak. Blue kemudian meneruskan aksinya dengan menghancurkan kepala zombie yang ada di jalannya dengan satu pukulan atau tendangan. Dani yang terpaku melihat betapa mudahnya Blue menghancurkan semua zombie itu masih terkejut, namun tersadar kembali saat mengingat kalau teman-temannya masih tergeletak tidak menjawab panggilannya tadi. Dengan Blue yang menghancurkan zombie dengan mudahnya itu, butuh waktu sebentar sampai akhirnya mereka berdua menemukan keempat teman mereka yeng tergeletak di tanah merintih kesakitan dengan mata tertutup kecuali Wahyu yang terus melihat ke arah Butcher dengan raut wajah kesakitan. Dani dan Blue kemudian mendekati keempat temannya itu.
“Blue? Bukan, kau bagian yang mana?” ucap Wahyu yang melihat Blue di depannya.
“Seperti biasanya, kau tahan banting ya!” ucap Blue dengan suara keras.
“Ah, si kasar ya” ucap Wahyu lemas.
“Apa maksudmu si kasar?!” balas Blue kesal.
“Cukup, kita tidak punya waktu, perkiraanku salah, namun kita ada waktu untuk mundur dan melakukan rencana ulang, bantu aku dan Red untuk berdiri dan suruh Dani untuk menyadarkan Septian” ucap Wahyu.
“Baik!” jawab Blue “Oy! Dani! Kata Wahyu bangunkan si Septian, dia bisa membantumu menggendong Wahidyn, kita akan mundur dulu sebentar!” teriak Blue yang kemudian membantu Wahyu dan Red berdiri. Blue kemudian memberikan sebuah pil kedalam mulut Red dan membuat Red langsung membuka matanya dan menyeimbangkan dirinya agar bisa berdiri dengan benar, setidaknya cukup untuk membuat dirinya bisa berjalan dengan benar. Setelah itu Blue juga ingin memberikan pilnya kepada Wahyu, tapi Wahyu menolaknya dan mengambil obat miliknya sendiri dan menelannya, namun tidak seperti Red yang langsung bisa berdiri sendiri, Wahyu meminta bantuan kepada Blue dan Red untuk membantunya berjalan. Akhirnya Tim Elang beserta Blue dan Red berjalan menjauh dari Butcher yang terlihat sudah bersandar pada bangunan yang tingginya sama dengan bangunan yang dia sandari tadi yang sedang beristirahat dan memulihkan dirinya. Mengalami kerusakan yang sama, kedua pihak akhirnya menghentikan pertarungan untuk sementara.
__ADS_1