Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
Happy Time After The Battle 14-4


__ADS_3

“Jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan sesuatu yang bisa menjadi hobimu?” tanya Dani yang sedikit berkeringat karena berlarian kesana kemari.


“Entahlah, ini pertama kalinya aku melakukan semua itu” jawab Kapten Rin yang juga terlihat sedikit berkeringat. Kapten Rin terlihat menikmati waktunya dan membuat Dani lupa kalau Kapten Rin mengenakan baju yang sedikit menggoda, saat Dani melihatnya lagi, Dani melihat wajah Kapten Rin yang kini terlihat lebih santai, ekspresinya yang sudah tidak terlalu kaku itu membuat Dani terpikat untuk terus memandangi wajah Kapten Rin yang cantik itu.


“Aku tidak pernah menyangka kalau liburan bisa terasa semenyenangkan ini” ucap Kapten Rin “Apakah saat kau libur, kau selalu melakukan hal ini Dani?” tanya Kapten Rin. Dani tidak menjawab pertanyaan Kapten Rin karena sedang terpikat oleh kecantikan wajah Kapten Rin saat itu.


“Dan? Dani? Kau mendengarku?” Kapten Rin memanggil-manggil Dani yang terlihat sedang melamun itu. Setelah dipanggil lagi oleh Kapten Rin, akhirnya Dani sadar.


“Ah, Rin, ma’af, apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Dani yang panik karena dipanggil oleh Kapten Rin.


“Aku hanya menanyakan apa kau selalu melakukan ini saat kau libur?” jawab Kapten Rin.


“Dulu mungkin iya, tapi semenjak aku menjadi anggota Zombie Resistance, hari liburku kuhabiskan dengan menggambar ataupun tidur” jawab Dani.


“Menggambar? Kau bisa menggambar?” tanya Kapten Rin.


“Iya, hobiku sejak dulu sampai saat ini adalah menggambar, aku selalu membawa buku catatan kecil untuk membuat sketsa” Dani mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya “Aku biasanya menggambar karakter fiksi, tapi terkadang aku juga menggambar orang-orang yang dekat denganku” Dani menunjukkan isi dari buku catatannya itu dan memperlihatkan beberapa sketsa kasar gambar wajah orang dan karakter anime. Melihat gambaran sketsa Dani membuat Kapten Rin sedikit kagum.


“Aku tidak menyangka kau punya keahlian seperti ini” ucap Kapten Rin memuji Dani. Mereka berdua kemudian terus melihat semua gambar yang pernah Digambar Dani di buku kecil itu. Setelah beberapa menit, akhirnya gambaran Dani sudah habis.


“Bukankah kau cukup berbakat untuk hal ini? Kenapa kau tidak meneruskannya?” ucap Kapten Rin.


“Benarkah? Padahal Septian dan Wahyu sering mengejek gambaranku” jawab Dani “Tapi yah, bagaimana lagi, kita berada di situasi dimana semuanya dipusatkan untuk kelangsungan hidup kemanusiaan, jadi kukira menggambaritu tidak dibutuhkan, jadi aku hanya menjadikannya sebagai hobi”


“Sayang sekali, aku yakin kau bisa menjadi artist yang cukup handal” ucap Kapten Rin.


“Kau sendiri bagaimana? Apa hobimu sejak kecil memang bertarung saja?” tanya Dani.


“Iya” jawab Kapten Rin singkat “Aku dibesarkan di dalam keluarga dojo yang mana memiliki moto kami tidak akan menyerah sampai menggapai kemenangan, jadi kegiatanku sejak kecil hanyalah berlatih dan berpartisipasi dalam turnamen”


“Ternyata keluarga seperti itu memang benar ada ya, kukira hanya ada di film saja” ucap Dani.


“Di Negara ini masih banyak keluarga yang diharapkan untuk terus melanjutkan tradisi sejak zaman kuno, seperti keluarga yang memuja suatu dewa dan menyebarkan ajarannya atau juga seperti keluargaku yang ingin meneruskan gelar kakek dan nenek moyangku sebagai ahli bela diri yang terkenal”


Dani merasa kagum dan mendapatkan pengetahuan baru.


“Jadi karena itu lah aku tidak memiliki hobi lain” ucap Kapten Rin.


“Apakah karena itu juga kau menjadi Kapten Negara ini?” tanya Dani penasaran.


“Mungkin bisa dibilang seperti itu” jawab Kapten Rin “Untuk menjadi Kapten Negara ini aturannya cukup sederhana, selama kau melewati tes kepemimpinan dan tes kekuatan, kau bisa menjadi Kapten Negara ini”


“Begitu ya” ucap Dani paham.


“Tapi untuk tesnya, kau dihadapkan dengan Kapten Negara pada saat itu, jadi tesnya tidak bisa diikuti banyak orang” ucap Kapten Rin menjelaskan.

__ADS_1


“Jadi artinya kau berhasil mengalahkan Kapten Negara sebelumnya dalam pertarungan satu lawan satu?” tanya Dani memastikan.


“Iya, terlebih lagi, Kapten Negara sebelumnya adalah seorang ahli bela diri yang tidak terkalahkan yang sangat terkenal” sambung Kapten Rin “Pada saat itu awalnya aku hanya ingin mencobanya saja dan aku kalah, karena sifatku yang tidak mau menerima kekalahan, jadi aku menantangnya berkali-kali”


“Tunggu kau kalah? Seberapa kuat Kapten Negara sebelumnya?” tanya Dani tidak percaya kalau Kapten Rin yang sekuat itu bisa kalah.


“Sebenarnya pada percobaan ke lima aku berhasil mengalahkannya pada tes kekuatan, tapi kekalahanku selanjtnya itu pada tes kepemimpinan” jawab Kapten Rin “Pada saat itu aku hanya bisa bertarung, jadi aku tidak memiliki pengetahuan sebagai seorang pemimpin”


“Lalu bagaimana akhirnya kau bisa menang?” Dani semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Kapten Rin.


“Itu karena dia melatihku” jawab Kapten Rin.


“Hah? Kenapa dia melatihmu?” tanya Dani bingung.


“Aku juga tidak tahu, tapi setelah kekalahanku yang kedelapan, dia bilang kalau aku tidak akan berhasil sampai kapanpun dan akhirnya dia melatihku” jawab Kapten Rin “Setelah enam bulan, barulah aku bisa mengalahkannya”


“6 bulan? Lama sekali pelatihanmu” ucap Dani terkejut.


“Tapi hasilnya sangat memuaskan, aku menjadi Kapten Negara ini bersama dengan Kapten sebelumnya yang kujadikan Wakil Kaptenku, saat itu aku merasa sangat bangga kepada diriku” Kapten Rin terlihat sangat senang saat membicarakan kehidupannya sebelumnya itu “Dan itulah kenapa aku bisa menjadi Kapten Negara ini”


“Kehidupanmu terlihat seru ya”ucap Dani.


“Begitulah, lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau menjadi anggota Zombie Resistance?” tanya Kapten Rin.


“Aku hanya ingin membuktikan diri saja, banyak orang yang mengejekku saat itu, jadi kucoba saja dan entah bagaimana aku diterima” jawab Dani sambil tertawa kecil.


“Iya, tapi terkadang aku takut” ucap Dani serius “Kau tahu, awalnya aku memilih untuk menjadi penembak jarak jauh karena kupikir itu adalah posisi yang paling aman dan banyak orang-orang yang membicarakanku, tapi aku tidak memperdulikannya karena aku juga tidak mau mati”


Dani mulai mengingat masa lalunya.


“Saat di tempatkan di Tim khusus yang berisikan tentara muda sepertiku, aku merasa sedikit khawatir kalau aku disuruh untuk menjalankan misi hanya dengan Tim yang isinya tentara yang tidak berpengalaman, tapi karena aku tidak bisa menolak, aku hanya bisa berharap kejadian itu tidak terjadi” Dani mulai menceritakan kehidupannya saat menjadi anggota Zombie Resistance “Saat pertama kali bertemu dengan anggota Tim Elang, aku sedikit merasa lega, karena mereka terlihat seperti orang yang bisa diajak berteman dengan mudah”


“Aku juga penasaran bagaimana kalian bisa menjadi tim yang solid” ucap Kapten Rin.


“Cukup lucu sebenarnya” jawab Dani tertawa kecil “Septian waktu itu langsung mengenalkan dirinya dengan jabatan tangan yang kuat, Wahidyn mengenalkan dirinya sambil mengutak-atik jam tangannya dan Wahyu diperkenalkan oleh Septian. Percakapan pertama kami adalah memberitahukan keahlian kami masing-masing, Septian dengan bangganya mengatakan kalau dia itu sangat kuat, Wahidyn mengatakan kalau dia tidak bisa bertarung, tapi dia bisa memberikan bantuan teknologi, Wahyu yang membuat kami langsung tertawa”


“Kenapa?” tanya Kapten Rin penasaran.


“Kalau tidak salah dia mengatakan seseuatu seperti ini” jawab Dani “Aku ahli dalam segala hal dan bisa melakukan pembuatan rencana pada saat itu juga, aku bisa menggunakan semua senjata tapi lebih suka memakai pistol, aku bisa adaptasi dengan keadaan, sangat sensitive pada bahaya, dan juga aku sebenarnya manusia super yang dimodifikasi di sebuah laboratorium rahasia” Dani mengucapkan kembali kalimat Wahyu saat itu.


“Bukankah itu sesuatu yang tidak dapat dipercaya?” tanya Kapten Rin.


“Karena itulah kami langsung tertawa” jawab Dani ”Kami tahu kalau dia terlihat orang yang suka bercanda, tapi saat pertama kali bertemu dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu langsung membuat kami semua tertawa dan merasa langsung rileks, pada saat itu aku berpikir dia melakukan itu untuk mencairkan suasana”


“Jadi, kenapa Wahyu bisa menjadi ketua Tim kalian?” tanya Kapten Rin.

__ADS_1


“Karena perkenalannya itu” jawab Dani singkat.


“Aku tidak mengerti” ucap Kapten Rin bingung.


“Dia memiliki kemampuan untuk membuat kami merasa santai dan bagiku itu cukup untuk menaruh kepercayaanku padanya, tapi aku masih tidak tahu pikiran Septian dan Wahidyn, tapi aku sangat bersyukur menjadikannya sebagai ketua Tim kami” ucap Dani dengan tenang “Saat Scratcher muncul pertama kali, aku sangat ketakutan dan hanya ingin berlari, tapi di saat kami semua merasa bingung dan panik, Wahyu dengan tenangnya mengatakan kalau dia punya rencana untuk membunuh zombie itu” Dani berhenti sejenak “Dia langsung memberikan peran kami masing-masing sesuai dengan kemampuan kami dan entah kenapa rencananya itu terdengar sangat mudah untuk dilakukan. Septian dan Wahidyn langsung menerima rencana Wahyu, tentu saja aku juga menerimanya, namun pada saat perjalanan menuju tempat yang direncanakan, aku terus merasa ragu dan takut apa aku bisa melakukannya atau juga bagaiaman kalau kesalahanku malah membuat salah satu dari mereka mati”


“Kenapa? Bukankah kau sudah menyetujui rencana itu?” tanya Kapten Rin.


“Iya, tapi aku masih takut akan kematian kau tahu” jawab Dani “Aku merasa takut saat itu, tapi Wahyu sepertinya menyadari itu dan langsung mengatakan beberapa kalimat padaku” Dani berhenti sejenak untuk mengambil nafas “Aku pernah melihatmu menembak sebelumnya dan aku yakin kau akan menjadi penembak jarak jauh yang melebihi penembak jarak jauh lainnya, jangan takut pada sesuatu yang belum terjadi, yakinlah pada kemampuanmu dan yakinlah padaku, kupastikan kalian semua tidak ada yang mati” sekali lagi Dani mengulang kembali apa yang Wahyu katakan padanya sebelumnya “Pada saat itu, aku tidak tahu kenapa kalau rencana itu pasti akan berhasil, entah kenapa walau masih beberapa hari semenjak kami berkenalan, aku sangat mempercayainya saat itu dan hasilnya, kami berhasil membunuh zombie mutasi pertama di dunia dengan aku dan Wahidyn yang menembak otak yang ada di kedua tangan Scratcher itu”


“Andai saja aku melihat kejadian itu dengan kedua mataku sendiri” ucap Kapten Rin merasa iri.


“Oleh karena itu aku merasa marah saat aku mau menjadikan Wahyu sebagai pasukan khususmu tanpa memperdulikan keputusannya sendiri” ucap Dani.


“Iya dan akhirnya aku menemukan seseorang lainnya yang ingin kumiliki” balas Kapten Rin.


“Apakah itu aku?” ucap Dani sedikit bercanda.


“Iya” jawab Kapten Rin dengan serius. Mendengar jawaban Kapten Rin membuat Dani terkejut dan langsung menatap wajah Kapten Rin dan di wajahnya itu tidak terlihat keraguan sama sekali hanya keseriusan saja yang Nampak.


“Tunggu sebentar, kau bercanda kan?” ucap Dani memastikan.


“Tidak, aku tidak bercanda” jawab Kapten Rin lagi dengan serius.


“Boleh aku bertanya kenapa?” tanya Dani yang masih memproses apa yang sedang terjadi.


“Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, karena aku juga baru merasakan hal ini” jawab Kapten Rin “Pada saat pertama kali kau mengalahkanku, kau menodongku dengan dua buah sniper rifle yang membuatku tidak bisa bergerak, tapi pada saat itu yang kuperhatikan bukan keadaanku, tapi tatapan matamu itu”


“Mataku?” ucap Dani bingung.


“Iya, entah kenapa aku tidak bisa berpaling dari tatapanmu, tatapanmu terlihat sangat menekan tapi pada saat yang sama menunjukkan fokus dan konsentrasi penuh pada targetmu atau bisa dibilang kepadaku” Kapten Rin mulai menjelaskan apa yang dia rasakan “Saat itu aku merasa ingin lari, tapi pada saat yang sama aku masih ingin melihat tatapan itu, pada saat itu aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, tapi karena keadaan kita saat itu sedang bertanding, aku mengesampingkan semua hal itu dan mengakui kekalahanku” Kapten Rin berhenti sejenak dan melanjutkan ceritanya “Lalu saat alarm berbunyi dan aku mengetahui kalau kau dan Tim-mu pergi untuk mengalahkan Butcher sendirian, aku merasa langsung ingin pergi mengikuti kalian, awalnya kukira aku hanya ingin ikut bertempur saja, tapi entah kenapa aku juga berpikir kalau itu kesempatanku untuk bisa bertarung bersamamu di medan tempur dan perasaan tadi muncul kembali pada saat kau menyelamatkanku dari serangan Butcher, melihatmu dengan tatapan penuh konsentrasi dan fokus saat itu membuatku terpaku terlebih lagi saat kau memanggil namaku, dadaku langsung terasa tertekan dan jantungku berdetak dengan kencang, tekanan itu harusnya membuatku merasa sakit, tapi malah sebaliknya, pada saat itu aku merasa lebih bersemangat, bahkan jika aku akan kehilangan salah satu bagian tubuhku aku akan memastikan kau berhasil mendapatkan targetmu, tapi pada saat yang sama aku percaya kalau aku dalam bahaya kau juga akan melindungiku, kau tidak betapa senangnya aku saat itu” Kapten Rin menceritakan apa saja yang dia rasakan pada saat itu dan Dani mendengarkannya dengan serius sambil memikirkan respon apa yang harus dia berikan.


“Saat kau pingsan, aku merasa sangat takut dengan apa yang terjadi padamu tapi pada saat yang sama aku merasa senang karena bisa merawatmu dengan kedua tanganku sendiri” Kapten Rin melanjutkan ceritanya “Pada saat kita kembali ke Shelter, aku langsung membawamu ke ruang perawatan dan menerima laporan kalau kau menggunakan fungsi tubuhmu dengan berlebihan dan kemungkinan membutuhkan beberapa hari untuk sadar, mendengar hal itu aku lega karena tidak ada hal buruk yang menimpamu, tapi itu juga membuatku sedikit kecewa karena tidak bisa berinteraksi denganmu, untungnya aku bisa menyibukkan diri dengan tugasku sebagai Kapten, tapi tetap saja itu menggangguku, akhirnya aku membicarakannya dengan Mei dan dia memberitahuku kalau ini adalah rasa suka terhadapmu atau yang dia sebut cinta, aku tidak paham dengan sesuatu yang seperti itu dan akhirnya Mei menyarankanku untuk kencan denganmu dan akhirnya di sinilah kita sekarang”


“Ma’af, aku masih ragu dengan apa yang harus kukatakan” ucap Dani.


“Itu tidak masalah karena aku juga tahu kalau yang kurasakan ini tidak pasti kau juga merasakannya, tapi setidaknya akan kukatakan ini padamu demi ketenanganku dan keseriusanku” Kapten Rin menatap Dani dengan senyuman “Aku merasa sangat senang hari ini, melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya, merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan, menceritakan kehidupanku kepada seseorang tanpa rasa khawatir, aku belum pernah melakukan ini dengan siapapun selain dirimu”


Melihat Kapten Rin yang menunjukkan senyumannya dari hatinya itu membuat Dani tidak bisa bereaksi apa-apa kecuali terpikat kepada wajahnya yang terlihat cantik dan indah itu.


“Ibuku dulu pernah bilang untuk menandai apa yang menjadi milikku, tapi untuk kali ini walaupun kau masih belum menjadi milikku” Kapten Rin kemudian mendekatkan wajahnya ke Dani “Aku akan menandaimu dulu” ucap Kapten Rin berbisik sebelum dia mencium bibir Dani dengan lembut. Dani tidak sempat melakukan apa-apa yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah merasaka bibir lembut Kapten Rin yang bersentuhan dengan bibirnya dan hal itu berlangsung untuk beberapa detik sebelum Kapten Rin melepaskan ciumannya itu dan kembali melihat wajah Dani dan menunggu reaksinya.


Dani masih tidak bisa berkata apa-apa namun dari wajahnya dia menikmati ciumannya itu, hanya dengan melihat itu Kapten Rin mendekatkan bibirnya ketelinga Dani dan berbisik.


“Apa kau ingin meneruskan ini?”

__ADS_1


Sebagai seorang laki-laki yang sehat dan dalam keadaan lajang, ucapan Kapten Rin itu seperti ajakan iblis yang ingin menunjukkan kebahagiaan yang sesungguhnya dan Dani yang masih tidak bisa berpikir dengan jernih itu tanpa dia sadari mengangguk menandakan kalau dia menerima ajakan itu.


“Ada tempat rahasia di sekitar sini yang kugunakan sebagai tempat untuk beristirahat khusus untukku” ucap Kapten Rin yang menggenggam tangan Dani dan menuntunnya ke suatu tempat dimana mereka bisa berduaan menghabiskan malam mereka.


__ADS_2