
Kelompok Wahyu dan Kelompok Septian masih terus mengurangi jumlah zombie yang berdatangan dengan semua amunisi yang mereka punya untuk menghentikan regenerasi Butcher, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil yang bagus, regenerasi butcher terus berlangsung walaupun lambat.
Setelah Wahyu mendapatkan kabar dari Dani, Wahyu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rencananya.
“Kau bisa melihat celahnya kan?” tanya Wahyu kepada Dani melalui communicatornya.
“Sangat jelas” jawab Dani.
“Kau bisa menembaknya?” tanya Wahyu lagi.
“Ada beberapa hal yang menghalangi” jawab Dani lagi.
“Cobalah menembak dengan peluru biasa, jika kau sudah yakin bisa mengenainya, katakan padaku” ucap Wahyu yang kemudian mengakhiri transmisinya.
“Sep, waktunya kembang api” Wahyu kemudian melemparkan grenade launcher kepada Septian. Septian menangkap grenade launcher itu dengan penuh semangat.
“Akhirnya waktunya ledakan” Septian langsung memasukkan peluru ke grenade launchernya dan bersiap “Katakan kemana aku harus menembak”
“Targetnya sudah pasti, celah yang ada di dadanya” jawab Wahyu.
“Aku perlu mendekat” ucap Septian.
“Tidak masalah” Wahyu mengambil sebuah assault rifle yang masih penuh dengan amunisi “Red, berikan jalan untuk Septian”
Red mengangguk, setelah itu Wahyu dan Red mulai berjalan dan membukakan jalan untuk Septian mendekat dengan membasmi zombie yang ada di depan mereka. Setelah cukup dekat, Septian langsung menembakkan grenade launchernya dan meledakkan semua daging di bagian dada Butcher yang baru saja beregenerasi itu. Setelah hanya menyisakan tulang rusuknya saja, Dani menembak tengkorak Butcher melalui celah di dadanya itu. Tembakan Dani berhasil mengenai bagian dahi tengkorak Butcher, namun meleset sedikit dari sasaran. Dani menembak lagi, sekali lagi terkena bagian dahi, namun kali ini mendekati sasarannya. Setelah tembakan kedua Dani, Butcher yang menyadari itu langsung meronta-ronta, walaupun tubuhnya masih tertancap karena tulang rusuknya sendiri, Butcher mencoba untuk membuat Dani tidak bisa menembaknya dengan mudah.
“Yu, aku tidak bisa menembak jika dia tidak diam” ucap Dani dari communicatornya.
“Masalahnya kami juga tidak bisa membuatnya diam” jawab Wahyu.
“Pak, ususnya akan menyerang” ucap Blue memeringati Wahyu.
__ADS_1
“Sep! Red! Berpencar” suruh Wahyu.
Wahyu, Septian, dan Red berpencar untuk mempersulit Butcher menyerang mereka secara bersamaan. Sesuai peringatan dari Blue, Butcher melesatkan ususnyayang mengarah ke Septian, Septian menghindar dengan melompat ke samping dan langsung bersembunyi di balik bangunan yang hancur. Setelah serangan Butcher gagal, Butcher menarik kembali ususnya dan melesatkannya lagi, kali ini ke arah Wahyu. Wahyu dengan bantuan arahan dari Blue, menghindari serangan Butcher dan juga melakukan serangan balik dengan melempar granat terakhirnya dan meledakkan perut dan dadanya lagi. Menerima ledakan dari granat Wahyu, Butcher langsung terdiam sejenak.
“Sekarang Dan!” teriak Wahyu.
Dani langsung menembak tengkorak Butcher dan kali ini tembakannya tepat mengenai sasarang yang diinginkan. Wahyu dan Dani langsung merasa akhirnya mereka telah menang, namun beberapa detik berlalu dan tidak ada reaksi dari Butcher. Bingung dengan halitu, Wahyu bertanya kepada Dani.
“Dan, apa kau sudah menembaknya dengan benar?” tanya Wahyu melalui communicatornya.
“Iya, aku menembaknya tepat di dahinya lurus dengan posisi otak seharusnya” jawab Dani.
Wahyu mulai berpikir, jika pelurunya mengenai target yang benar, maka asam yang ada di dalamnya akan melelehkan tulang tengkorak dahinya dan membukakan lubang yang cukup agar bisa melihat otak Butcher. Setelah berpikir untuk beberapa detik, Wahyu menyadari sesuatu.
“Apa kau menggunakan peluru yang benar?” tanya Wahyu. Dani memeriksa peluru yang ada di kantungnya dan terkejut dengan apa yang dia temukan.
“Ah, Yu, itu tadi adalah peluru biasa” ucap Dani merasa bersalah.
“Yu! Usus Butcher! Itu membelah diri menjadi tiga!” teriak Dani panik setelah melihat itu.
Wahyu langsung melihat ke arah Butcher dan melihat tiga buah usus yang menggeliat keluar dari perut Butcher. Ketiga usus itu pun langsung melesat untuk mengejar mangsa mereka masing-masing, dua mengejar Red, satu sisanya mengejar Wahyu. Seperti sebelumnya, mereka berdua dapat menghindarinya, namun yang tidak mereka sadari, setelah meleset, usus itu tidak langsung kembali ke perut Butcher, melainkamelanjutkan serangan mereka dengan berbelok kembali kearah mgngsa mereka. Wahyu dan Red terkejut dan dengan panik mencoba untuk terus menghindari serangan usus-usus itu. Wahyu masih bisa menghindari serangan usus yang mengejarnya itu, namun Wahyu melihat Red yang terlihat sedikit kesulitan dan mulai tidak fokus dengan apa yang ada di depannya, halitu membuat Wahyu terkena tabrakan usus yang mengejarnya dan mementalkannya hingga menabrak tembok bangunan. Wahyu tertabrak cukup keras hingga senjatanya terlepas dari tangannya, Wahyu mencoba berdiri, tapi rasa sakit yang dia rasakan mencegah Wahyu untuk berdiri. Wahyu terus berusaha untuk berdiri tapi tetap tidak bisa, di sisi lain, usus yang baru saja menabraknya itu sedang bersiap untuk menyerang Wahyu lagi. Usus itu mulai melesat ke arah Wahyu dengan cepat, merasa tidak ada pilihan lain, Wahyu mempersiapkan dirinya untuk menerima serangan usus itu dan menutup matanya. Di saat usus itu hampir mengenai tubuh Wahyu, runtutan peluru melesat dan mengenai usus itu hingga putus dan menyebabkan arah serangannya langsung tidak beraturan dan jatuh tepat di depan Wahyu. Wahyu langsung menoleh ke arah peluru tadi berasal dan melihat sesosok orang berjalan mendekatinya.
“Dengan ini aku bisa mengatakan kalau hutangku sudah impas, benarkan?” ucap seorang perempuan yang sosoknya mulai terlihat jelas oleh Wahyudan ternyata itu adalah Mei. Menyadari kalau itu adalah Mei, Wahyu langsung lega. Mei mendekati Wahyu dan membantunya untuk berdiri.
“Kau masih bisa lanjut?” tanya Mei sedikit khawatir.
“Iya, terima kasih” jawab Wahyu “Ma’af, tapi apa kau bisa langsung memberikan bantuan pada Red, dia di kejar oleh dua usus Butcher”
“Jangan khawatir, Kapten sudah mengatasinya” jawab Mei.
Di sisi lain, Red terus menghindari serangan kedua usus yang mengejarnya, red memang dapat menghindari serangan kedua usus itu dengan mudah, tapi pada saat yang sama, Red tidak bisa melakukan serangan balik. Rek terus menghindari serangan kedua usus itu dan tanpa dia sadari, dia berada di gang buntu.
__ADS_1
“Sial, apa aku harus terus menghindar sampai aku kelelahan” gumam Red yang masih menghindari serangan kedua usus itu, namun tiba-tiba salah satu usus itu berhenti menyerang dan memberikan Red kesempatan untuk menyerang balik. Setelah menghindari serangan dari satu usus yang menyerangnya, Red langsung menancapkan pisaunyake usus itu dan menekannya ke tanah hingga tertancap.
“Selesai satu” ucap Red “Terima kasih atas bantuannya, Kapten Rin” sambung Red yang kemudian melihat kearah usus satunya yang sudah tergeletak di tanah dan dari arah yang sama Kapten Rin muncul sambil memegang bagian usus yang menyerang Red dengan gauntletnya.
“Tidak kusangka, kau bisa kewalahan juga” ucap Kapten Rin.
“Yah, dengan senjata minim dan musuh yang bukan seorang manusia, aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri” jawab Red.
“Iya, aku tahu” ucap Kapten Rin “Sepertinya mutasi zombie kali ini tidak ada hentinya, kita harus segera menyelesaikan ini”
“Kalau begitu, aku sarankan untuk berkumpul kembali dengan yang lainnya, Wahyu mungkin mempunyai beberapa rencana” usul Red.
Setelah itu, Wahyu yang dibantu Mei dan Red yang bersama Kapten Rin berkumpul dengan Septian dan Wahidyn.
“Tidak ada waktu lagi, siapa saja yang masih bisa bergerak dengan bebas?” tanya Wahyu.
Red, Kapten Rin, Mei mengangkat tangannya.
“Bagus, 4 orang cukup, ma’af Kapten Rin, tapi biarkan aku berbicara tanpa keformalan padamu” ucap Wahyu.
“Tidak apa-apa, apa rencanamu?” jawab Kapten Rin.
“Tetap seperti sebelumnya, buat ledakan di bagian dadanya dan buat celah untuk Dani menembak, tembakan sebelumnya harusnya mengakhiri ini, tapi ada sebuah kendala, jadi kita harus memberikan Dani satu kesempatan lagi” ucap Wahyu.
“Tunggu kau bilang 4, satunya siapa lagi?” tanya Mei
“Tentu saja aku” Wahyu kemudian mengambil sebuah pil dari tas kecil miliknya dan menelannya. Setelah beberapa detik, Wahyu langsung bisa berdiri sendiri.
“Kita lanjutkan” ucap Wahyu singkat.
Wahyu dan lainnya bersiap untuk melakukan rencananya lagi, namun yang tidak mereka duga, usus Butcher yang besar menghancurkan bangunan yang digunakan Wahyu dan yang lainnya bersembunyi dan membuat lokasi mereka terlihat oleh Butcher. Tanpa bisa bereaksi apa-apa, sebuah usus langsung melesat ke arah Wahyu dan melilitnya. Usus itu kemudian membawa Wahyu keperutnya, tapi dia tidak langsung memakannya, melainkan menempatkan Wahyu di depan celah yang memperlihatkan tengkorak Butcher.
__ADS_1