
Tempat yang ada di depan mereka adalah sebuah tempat yang dipenuhi dengan bangunan yang sudah kosong dan terbengkalai, gerbang-gerbang yang memisahkan setiap bangunan menggunakan gerbang listrik yang memiliki lampu yang bersinar merah, menandakan gerbang itu terkunci. Tempat itu terlihat sepi namun setiap lampu yang berwarna merah menyala itu membuat tempat itu terasa lebih sesak dan menyeramkan.
“Tempat apa ini?” ucap Wahidyn dengan suara berat.
“Ini dulunya adalah distrik perdagangan, setiap orang memiliki daerah pertokoan mereka sendiri, oleh karena itu pagar listrik dibangun untuk mencegah adanya pencurian atau sabotase dari pedagang lainnya” jawab Blue menjelaskan.
“Butcher ada di sekitar sini” ucap Wahyu yang sudah menyalakan radar miliknya “Titik merah yang tadinya terus menghilang, sekarang menetap di suatu titik untuk beberapa saat” Wahyu kemudian memberi arahan untuk tidak berisik dengan menggunakan Bahasa isyarat tangan dan juga untuk mengikutinya.
Keenam orang itu kemudian berjalan menyusuri distrik perdagangan itu, sampai akhirnya mereka terhenti karena gerbang yang terkunci dan harus membukanya secara paksa, namun yang tidak mereka duga adalah suara alarm dari pintu gerbang itu yang berbunyi keras dan membuat zombie yang ada di sekitar langsung menyadari keberadaan mereka dan mulai menghampiri mereka semua.
“Blue, Red, tangani dengan pisau kalian” mendengar perintah dari Wahyu, mereka berdua langsung melaksanakannya “Dani, bantu Wahidyn untuk membuka gerbangnya” Dani juga langsung pergi membantu Wahidyn ”Sep, gunakan ini dan kurangi jumlah zombie yang ada” ucap Wahyu kepada Septian sambil memberikan sebuah pistol yang sudah dipasangi silencer.
“Satu magazine saja?” tanya Septian.
“Jangan sampai meleset, oke” ucap Wahyu sambil menunjukkan senyuman yang menyindir yang kemudian mulai berlari untuk membantu Blue dan Red.
“Dasar orang yang seenaknya sendiri” gumam Septian.
Septian kemudian memperhatikan sekitar dan melihat beberapa zombie yang mendekat ke arah Dani dan Wahidyn. Karena Septian tidak terlalu mahir dalam menembak dari jarak jauh, Septian mendekat dan langsung menendang jatuh dua zombie yang berada di dekat area Dani dan Wahidyn, setelah zombieitu jatuh, barulah Septian menembak kepala mereka.
“12 peluru mungkin cukup untuk membiarkan mereka berdua membuka gerbangnya” ucap Septian dalam pikirannya.
__ADS_1
Wahyu, Blue, dan Red terus menghabisi gerombolan zombie yang datangdan membiarkan beberapa lmelewati mereka, setidaknya cukup untukdiatasi Septian sendiri.
“Apakah sudah satu tahun berlalu semenjak kita melakukan hal ini?” tanya Wahyu sambil menembaki zombie yang mendekatinya.
“Suah lebih, kau tidak tahu betapa membosankannya hari-hari kami saat kau menghilang” ucap Red yang baru saja menusuk kepala zombie dengan pisaunya.
“Walaupun begitu, bisa bertarung kembali bersama anda adalah hal yang membahagiakan” ucap Blue yang menendang kepala zombie sampai pecah. Red dan Wahyu yang melihat itu sedikit terkejut.
“Aku lupa kalau Blue orangnya seperti itu” ucap Wahyu pelan yang menembak zombie dibelakang Red.
“Selain dirimu, dia tidak peduli dengan orang lain, jadi begitulah” jawab Red yang melemparkan pisaunya melewati ssamping kepala Wahyu dan menancap di kepala zombie yang adadi belakang Wahyu.
“Kukira kemampuan kalian akan berkurang karena tidak melakukan misi untuk waktu yang lama” ucap Wahyu yang kemudian menarik pisau Red yang menancap di kepala zombie di belakangnya “Tapi kalian masih dalam keadaan optimal” Wahyu kemudian melemparkan pisau itu kembali ke arah Red dan dengan mudah ditangkap oleh Red.
Setelah beberapa menit, Wahidyn akhirnya berhasil mematikan suara alarm gerbang listrikitu dan membuka gerbangnya.
“Sep! Gerbangnya sudah terbuka” teriak Wahidyn.
“Woy! Yu! Gerbangnya terbuka” teriak Septian memanggil Wahyu.
Mendengar hal itu, Wahyu langsung memberi isyarat kepada Blue dan Red berkumpul kembali bersama anggota timnya dan pada saat yang sama, Wahyu sudah menarik kunci flash grenade yang dia bawa dan melemparkannya ke gerombolan zombie yang ada di depannya. Granat itu meledak dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan serta suara yang cukup kencang, yang akhirnya membutakan zombie yang terkena ledakannya dan juga menarik perhatian zombie lain yang ada di sekitar sana.
__ADS_1
Setelah semuanya sudah berkumpul, mereka kemudian melewati gerbang itu dan menutupnya kembali agar tidak ada zombie yang mengikuti mereka. Setelah berlari untuk beberapa saat, Wahyu berhenti dan membuat yang lainnya ikut berhenti.
“Ada apa Yu?” tanya Dani.
“Kau tidak akan percaya dengan apa yang ada didepan kita” jawab Wahyu dengan wajah kaget karena melihat zombie yang mereka cari-cari. Karena penasaran, anggota Tim Elang lainnya beserta Blue dan Red berjalanke sisi Wahyu dan melihat apa yang dilihat oleh Wahyu. Semua orang yang melihat apa yang dilihat Wahyu langsung terdiam dan terkejut dengan apa yang ada didepan mereka. Zombie dengan ukuran yang sangat besar seukurang gedung berlantai tiga sedang duduk bersandar pada bangunan besar yang terlihat retak karena tidak kuat menahan beban dari zombie itu. Tangan zombie itu yang sangat besar hanya tergeletak di tanah, sedangkan mulutnya yang terbuka lebar sambil meneteskan air liur yangterliha kental dan menjijikkan. Kakinya yang besar juga tergeletak di tanah seperti sudah menyerah untuk mengangkat badannya yang besar itu, namun yang paling megnerikan adalah perutnya yang terbuka lebar memperlihatkan tulang rusuk yang besar dan tajam yang terus bergerak-gerak seperti sudah siap untuk mengoyak apapun yang akan masuk ke dalam perutnya. Melihat hal itu, pantas saja Wahyu akan langsung terhenti mematung dengan eksresi kaget dan panik, karena pada saat itu, semua yang diperkirakan oleh Wahyu sudah ada di luar dugaannya.
Wahyu merasa bingung, takut, dan panik melihat pemandangan mengerikan ayng sudah terjadi pada dirinya untukkedua kalinya, namun kali ini lebih mengerikan. Wahyu mencoba menenangkan dirinya kembali dan mulai mengamati semua hal yang bisa dia gunakan sebagai informasi untuk rencana yang bisa dia buat. Bangunan yang di sandarioleh zombie itu, mayat zombie yang berserakan, beberapa bangunan yang runtuh, tulang rusuk zombie itu, dan juga ususnya yang sudah beberapa kali lewat di hadapannya, Wahyu terus memperhatikan semua itu dengan keadaan mental yang tidak stabil,namun walaupun berada dalam keadaan yang seperti itu, Wahyu akhirnya menemukan sesuatu yang fatal dari mutasi zombie itudan hal ituyang yang membuat mutasi zombie yang besar dan mengerikan itu malah akan menjadi kelemahan terbesar zombie itu. Setelah memikirkannya untuk beberapa saat, Wahyu memberikan isyarat agar semuanya mundur sejenak dan berkumpul.
“Yu, bukankah dia menjadi lebih besar sejak terakhir kali kita menemukannya” tanya Dani panik.
“Iya kau benar” jawab Wahyu yang terus mencoba menenangkan dirinya.
“Bagaimana kita bisa mengalahkan moster sebesar itu?” ucap Septian panik.
“Bukannya aku meragukanmu, tapi apa benar hanya dengan jumlah kita saat ini bisa mengalahkan makhluk sebesar itu?” tanya Red.
“Red! Lancang sekali kamu?!” ucap Blue marah.
“Cukup, tenangkan diri kalian sebentar” ucap Wahyu yang membuat semuanya terdiam dan menatap ke arah Wahyu “Ini memang benar diluar perkiraanku, tapi besarnya zombie itu bukan hanya menjadi keuntungannya saja, tapi juga keuntungan bagi kita” ucap Wahyu menenangkan semua yang ada di depannya.
“Jangan bilang kau berhasil menemukan rencana baru untuk mengalahkan zombie itu” ucap Wahidyn menebak-nebak.
__ADS_1
“Iya, benar sekali, aku menemukannya, rencana untuk menghabisi zombie mutasi raksasa itu” jawab Wahyu penuh dengan keyakinan.