
Keesokan harinya Tim Elang ditugaskan untuk membantu tim intelegensi untuk menyortir informasi yang didapatkan mengenai Butcher dan tentu saja, Wahyu sudah siap untuk menggantikan Wahidyn. Kali ini tidak ada pimpinan atau pengawas, jadi Wahyu dapat menggantikan posisi Wahidyn dengan mudah, bukan itu saja, Wahyu juga menambahkan beberapa informasi yang kurang dari database Zombie Resistance Negara Cina, serta membantu merapikan berkas-berkas yang bertumpuk agar berurutan sesuai alphabet dan numerik. Bantuan Wahyu membuat pekerjaan tim intelegensi menjadi lebih mudah dan dapat dilakukan dengan teratur, dikarenakan kurangnya personil dalam tim intelegensi dan bantuan yang di dapat hanya dari bagian militer, bantuan Wahyu bagaikan angin sejuk untuk mereka dan karena itu, kuota pekerjaan mereka hari itu bisa selesai lebih cepat dan mereka bisa beristirahat lebih lama. Tim intelegensi menyukai sifat dan perilaku Wahyu, hingga mereka bisa berbincang dengan bebas saat beristirahat. Dengan tim intelegensi yang sudah terbuka kepada Wahyu, Wahyu juga tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mengorek informasi yang dia inginkan melalu tim intelegensi itu. Pada akhirnya, kedua pihak menerima kondisi sama-sama menguntungkan walaupun tidak ada yang menyadarinya.
Hari selanjutnya, Tim Elang diperintahkan untuk membantu penyortiran perlengkapan Gudang dan juga membantu tim pembuatan senjata. Kali ini Wahyu mengajak Septian, karena dia juga memiliki kegiatan penting. Kali ini pemimpin operasinya adalah Luo. Luo adalah salah satu tangan kanan Kapten Rin, dia tidak terlalu suka berbicara, jadi dia hanya akan mengatakan apa saja yang diperlukan, setelah itu kembali diam sambil mengawasi pekerjaan agar tidak ada masalah yang terjadi.
“Jadi tugas kalian hari ini hanya untuk memindahkan senjata dan amunisi yang telah dibuat ke tempatnya masing-masing” ucap Luo singkat.
Pada saat menyortir Gudang senjata, Wahyu menyerahkan semuanya kepada Septian karena kekuatan fisiknya yang kuat.
“Jadi seperti itulah, aku akan menyerahkan semuanya padamu Sep” ucap Wahyu sambil tersenyum lebar.
“Jadi seperti itulah kepalamu, kenapa hanya aku yang tidak digantikan?!” balas Septian tidak terima.
“Ayolah, aku tahu dari kemarin kau hanya berkeliaran tanpa tujuan, jadi daripada kau berkeliaran lagi, lebih baik kau ikut membantu, sekalian latihan” jawab Wahyu.
“Lalu kenapa kau serahkan semuanya padaku?” tanya Septian yang masih tidak terima.
“Yah, begini, aku juga ingin tahu selu beluk markas ini, jadi setelah ini aku akan mencoba mencari tahu informasi mengenai kekuatan militer negara ini, mumpung kita ada di Gudang persenjataan mereka” Wahyu menjelaskan rencananya kepada Septian dan tentu saja karena sudah mengerti tentang rencana Wahyu, akhirnya Septian mau menerima perintah Wahyu.
“Haah, kalau begitu mau bagaimana lagi” ucap Septian menghela nafa besar “Baiklah serahkan padaku untuk pekerjaan berat” ucap Septian tegas.
Setelah itu Wahyu dan Septian berpisah. Di saat Septian sedang memindahkan peralatan sesuai dengan instruksi, Wahyu dengan santainya berkeliling Gudang sambil melihat senjata apa saja yang ada di Gudang itu.
__ADS_1
“Gila, untung saja ada Perjanjian Seluruh Dunia, jika tidak, negara kami pasti akan sangat mudah dihancurkan” ucap Wahyu. Perjanjian Seluruh Dunia adalah perjanjian yang dilakukan oleh setiap Kapten Negara yang masih bertahan untuk tidak menyerang negara lain, hal ini dilakukan agar negara lain tidak mengambil paksa persediaan dan persenjataan dari negara yang lebih kecil.
“Tapi ini benar-benar gila, sepertinya mereka mendahulukan kekuatan militer daripada intelegensi, pantas saja tim intelegensi kemarin kerepotan” Wahyu terkejut dan kagum pada persediaan senjata yang banyak serta beragam di Gudang itu “Tapi tetap saja, jika hanya senjata biasa seperti ini, negara ini akan mendapatkan kesulitan jika ada zombie mutase yang tahan dengan peluru biasa”
Wahyu terus berkeliling sambil berpura-pura mengangkat sekotak amunisi agar tidak ditegur dan setelah hampir satu jam, semua personil dikumpulkan lagi.
“Selanjutnya kita akan memindahkan material yang tidak digunakan ke dalam smelter untuk digunakan kembali sebagai amunisi maupun senjata, materialnya ada di sebelah pintu masuk smelter, kalian bisa mengambilnya sesuai dengan kapasitas kalian dan memasukkannya ke dalam smelter, setelah itu kalian boleh beristirahat” ucap Luo menginstruksikan pekerjaan selanjutnya.
Wahyu menghampiri Septian yang terlihat sudah berkeringat.
“Oy, Sep, masih kuat?” tanya Wahyu.
“Yah, aku masih bisa melakukan ini untuk satu jam kedepan, tapi setelah itu aku mau tidur di ruangan yang sejuk” jawab Septian sambil mengelap keringatnya.
“Aku kalau bekerja akan kulakukan semampuku, walaupun seperti ini, aku orangnya bertanggung jawab tahu” jawab Septian menyombongkan dirinya sendiri.
“Iya, aku tahu, tapi untuk selanjutnya, tolong jangan terlalu cepat ya, aku ingin mencari tahu material apa saja yang mereka punya” pinta Wahyu kepada Septian.
“Jika kau mengatakannya seperti itu, ya sudah, aku akan bekerja dengan santai” jawab Septian yang menerima permintaan Wahyu.
Sekali lagi, selama Septian bekerja, Wahyu akan mencari informasi lagi, namun kali ini Wahyu mengendap-endap agar tidak ketahuan. Wahyu menyelinap ke bagian pembuatan senjata dimana dia menemukan banyak mesin yang mencetak senjata dari material yang sudah dilelehkan oleh smelter, tapi Wahyu tidak memperdulikan itu, dia mulai mengendap-endap dan menuju ke tempat material di simpan dan akhirnya dia menemukan yang dia cari, bijih uranium. Setelah menemukan itu, Wahyu mencuri sedikit uranium itu untuk diberikan kepada Wahidyn, yang nantinya akan digunakan untuk membuat senjata melawan Butcher, Wahyu sedikit memikirkan bagaimana mereka bisa mendapatkan uranium, namun untuk saat ini dia tidak memerlukan informasi itu, dia hanya butuh beberapa buah saja, setelah itu dia tidak memerlukan material itu lagi. Sayangnya, Luo mengetahui apa yang dilakukan Wahyu, namun Luo tidak segera menegur Wahyu, karena Kapten Rin menganggap semua yang dilakukan Wahyu memiliki alasannya tersendiri, oleh karena itu Luo akan melaporkannya langsung kepada Kapten Rin nanti.
__ADS_1
Setelah selesai mengerjakan tugas, semua personil diistirahatkan selama 3 jam. Di saat itu, Wahyu dan Septian berkumpul untuk mendiskusikan apa yang Wahyu dapat.
“Jadi apa yang kau dapatkan?” tanya Septian penasaran.
“Yah, kau tidak akan percaya, mereka ternyata memiliki persenjataan yang lebih mengerikan daripada milik negara kita” jawab Wahyu “Dan juga mereka memiliki ini” Wahyu menunjukkan bijih uranium yang dia ambil kepada Septian.
Melihat itu, Septian langsung menutupi tangan Wahyu “Hei, kau gila ya? Apa kau baru saja mencuri dari tempat material?” tanya Septian marah namun dengan nada pelan.
“Aku hanya mengambil beberapa, aku yakin Kapten Rin tidak akan keberatan” jawab Wahyu dengan tenang.
“Tidak, tidak, walaupun begitu kau masih mencuri, kenapa kau melakukan ini?” tanya Septian.
“Kita membutuhkan ini untuk mengalahkan zombie mutase di negara ini” jawab Wahyu dengna serius.
“Maksudmu Butcher yang pernah kau temui dengan Dani itu?” kemarahan Septian kini berganti dengan rasa penasaran.
“Iya, kelemahan atau otaknya berada di dalam sebuah tengkorak kecil yang tahan peluru dan ledakan biasa, oleh karena itu aku meminta Wahidyn untuk membuat peluru ledakan radioaktiv yang mungkin bisa meretakkan tengkorak itu, tapi karena kupikir akan sulit mendapatkan material radioaktiv di Kawasan umum, jadi aku berharap ada material yang sedikit mengarah ke hal itu, tapi terkejutnya aku malah mendapatkan yang asli” ucap Wahyu menjelaskan dengan nada sedikit senang.
Setelah mendengarkan itu, Septian mulai memahami tindakan Wahyu dan akhirnya membiarkannya “Tapi tetap saja, kau tidak boleh sampai ketahuan, Dani sudah membuat hubungan negara kita menjadi tegang, jangan memperburuknya lagi” ucap Septian menasehati Wahyu.
“Iya, aku tahu” jawab Wahyu.
__ADS_1
Setelah beristirahat, Wahyu dan Septian melanjutkan pekerjaan mereka sampai akhirnya mereka diperbolehkan untuk bubar.