
Beberapa menit berlalu, Wahyu yang masih tertangkap oleh Butcher, terus mencoba untuk tetap sadar, tidak memperdulikan semua luka yang ada di tubuhnya.
“Aku senang mereka sudah bisa lebih tenang, tapi bukankah mereka terlalu santai?” canda Wahyu kepada dirinya sendiri. Wahyu mencoba menghibur dirinya dengan candaan yang dia pikir lucu sambil menunggu teman-temannya memikirkan rencana lain, karena dengan luka dan rasa sakit yang terus dia rasakan, Wahyu memiliki kesulitan untuk memikirkan rencana. Di saat Wahyu masih tertawa kecil karena lelucon yang dia pikirkan sendiri. Dani muncul di depan Butcher namun dalam jarak yang cukup jauh. Membawa dua buah sniper rifle, yangsatu dia bawa di tangannya dan satunya lagi dikalungkan di punggungnya.
“Yu” panggil Dani melalui communicator ” Temani aku bicara” suara Dani terdengar serius dan berat.
Melihat temannya yang terlihat penuh dengan konsentrasi itu membuat Wahyu tersenyum.
“Tentu saja kawan, sekali lagi, ayo masuk ke dalam Lorong kesakitan” jawab Wahyu.
Setelah itu, Dani mulai membidik Butcher dan dengan perlahan berjalan mendekati Butcher dari jarakyang cukup jauh. Melihat Dani mulai bergerak, Butcher melesatkan satu usus kecilnya. Dani tidak menghiraukan serangan Butcher sama sekali dan terus menatap tajam mata Butcher dan terus membidiknya. Ususyang dilesatkan Butcher terus melaju ke arah Dani dan saat ususitu sudah dekat, Kapten Rin munculdari belakan Dani dan memukul keras usus yang melesat dengan cepat itu dengan tangannya yang mengenakan gauntlet khusus miliknya. Tabrakan pukulan Kapten Rin yang kuatdan kecepatan usus itu menyebabkan usus itu langsung meledak.
“Heh, sudah kuduga, usus itu memang rapuh” ucap Kapten Rin menyeringai.
Setelah usus itu meledak, Dani juga melesatkan tembakan ke arah mata Butcher. Tembakan itu langsung melubangi mata Butcher dan membuatnya meraung. Butcher menggeliat kesakitan sebelum kembali melihat ke arah Dani yang masih menatap Butcher dengan tajam.
“Apakah kau bisa merasakannya?” tanya Dani yang masih membiarkan communicatornya emnyala.
“Oh itu pasti, dia sangat merasakannya, aku bahkan juga merasakannya karena tubuhnya baru saja bergetar karena merinding” jawab Wahyu dengan nada mengejek.
Butcher melesatkan satu lagi ususnya untuk menyerang Dani dan sekali lagi usus itu dihancurkan oleh Kapten Rin.
“Hei, bukankah kau sudah memiliki akal? Gunakanlah akalmu itu” ucap Kapten Rin mengejek Butcher, namun yang tidak diketahuinya, usus yang terakhir sudah berada tepat di belakang usus yang baru saja Kapten Rin hancurkan dan melesat cepat kearah Kapten Rin. Tidak sempat untuk menghindar, Kapten Rin menyilangkan kedua tangannya dan menutup matanya untuk bersiap menahan serangan Butcher itu. Sebuah suara tembakan terdengar dan Kapten Rin tidak merasakan adanya serangan dari Butcher, dia membuka matanya dan melihat usus yang melesat ke arahnya sudah terputus dan terjatuh didepannya. Kapten Rin langsung melihat kearah Dani.
“Tetap fokus, Rin” ucap Dani singkat dengan tatapan yang fokus ke arah Butcher. Dani melirik ke Kapten Rin dengan pandangan dingindan acuh tak acuh “Berdirilah Rin”
Ucapan Dani itu terdengar seperti perintah, namun hal itu tidak membuat Kapten Rin tersinggung atau marah, namun memberikan sebuah gejolak emosi yang belum pernah dirasakan Kapten Rin sebelumnya yang akhirnya membuatnya menuruti ucapan Dani.
__ADS_1
“Ah, iya” jawab Kapten Rin dengan nada lembut dan sedikit kebingungan. Kapten Rin belum pernah bersikap seperti itu sebelumnya dan membuatnya sedikit tidak fokus.
“Aku menyerahkan nyawaku padamu” ucap Dani sekali lagi dengan suara yang dingin namun tegas. Sekali lagi, sebuah perasaan menekan dirasakan oleh Kapten Rin, namun perasaan menekan itu memberikan semangat kepada Kapten Rin. Kapten Rin memukulkan kedua kepalan tangannya dan membuat suara yang cukup keras.
Kapten Rin mengatur nafasnya “Haaaah. . . Baik, aku sudah siap” ucap Kapten Rin yang kembali memasang kuda-kudanya “Aku tidak akan membiarkan zombie itu menyentuhmu sedikitpun” sambung Kapten Rin.
Dani kembali melanjutkan jalannya dengan perlahan sambil terus membidik mata Butcher yang kini sudah pulih. Butcher mencoba memulihkan usus-usus kecilnya yang sudah hancur dan masih terus melihat ke arah Dani.
“Wow, kau membuatnya bergetar lagi” ucap Wahyu.
Setelah mendengar ucapan Wahyu, Dani melirik ke mata Butcher yang belum tertembak untuk beberapa detik, Butcher yang menyadari itu langsung menggerakkan kepalanya untukmenghindari tembakan Dani, namun Dani sudah melesatkan tembakannya tepat saat Butcher mulai bergerak. Mata Butcher yang masih belum tertembakitu langsung berlubang dan membuatnya meraung kesakitan dan karena terkejut dan panik, asam Butcher mulai menciprat kemana-mana dan beberapa ada yang mengenai Wahyu. Wahyu merasakan punggungnya terbakar, namun untuk tidak mempengaruhi fokus Dani, Wahyu menahan rasa sakitnya, tapi bukan punggung Wahyu saja yang terbakar, bagian dalam perut Butcher juga ikut terbakar karena asamnya sendiri dan membuatnya meraung lebih keras.
Butcher yang terluka itu ingin lari, namun tidak bisa karena dia masih tertancap ke bangunan dibelakangnya karena tulang rusuknya yang patah. Butcher kembali melihat ke arah Dani, walaupun sedikit buram, tapi mata mereka bertemu satu sama lain. Mata Dani yang memancarkan tekanan kepada Butcher itu membuat Butcher menjadi panik dan ketakutan. Karena merasa tertekan oleh tatapan Dani, Butcher menggabungkan ketiga usus kecilnya yang sudah pulih menjadi usus yang besar dan melesatkannya kearah Dani.
“Itu mengarah kepadaku” ucap Dani singkat. Kapten Rin yang mendengar itu langsung mengambil posisi di samping kiri dan di depan Dani. Kapten Rin mempersiapkan dirinya, di saat usus itu ada di depannya, Kapten Rin mengeluarkan pukulan terkuatnya dan langsung membuat usus itu meledak. Melihat itu, Butcher semakin ketakutan dan meronta-ronta.
“Aku kira sudah saatnya mematahkan yang satunya lagi” ucap Wahyu.
“Tembak tas kecil yang adadi pinggangku” ucap Wahyu singkat. Dani langsung menembak sesuai arahan Wahyu. Tembakan itu melesat dan merobektas kecil Wahyu dan menembusnya hingga menabrak tetap diretakan tulang rusuk itu. Tas kecil Wahyu robek dan menjatuhkan isinya, tangan Wahyu yang berada di bawah tas kecil itu menangkap sebuah alat yang terlihat seperti trigger. Tembakan terakhir Dani membuat retakan tulang rusuk Butcher membesardengan sendirinya hingga akhirnya patah dan jatuh menusuk bagian bawah perut Butcher yang membuatnya tertancap ditanah. Setelah itu terjadi, Dani langsung menghentikan langkahnya.
“Yu, tahan sedikit” ucap Dani singkat.
“Lakukan semaumu” jawab Wahyu pasrah.
Dani menatap tajam Butcher dengan kedua matanya dan membuat Butcher tertekan ketakutan. Butcher melihat Dani sebagai seorang monster yang mengerikan, tatapan matanya yang terus terpaku padanya dan membuatnya tidak bisa menghindari pandangannya itu memberikan gambaran seekor rajawali yang sudah menentukan mangsanya, Butcher mulai melihat bayangan burung rajawali besar yang berdiri dibelakang Dani dan bersiap untuk menerkam Butcher. Pandangan Butcher terus mengikuti tatapan Dani dan juga menempatkan Wahyu tepat dimana tatapan itu tertuju untuk melindungi dirinya dari tembakan Dani.
Dada Butcher sudah terbuka dan memperlihatkan tengkoraknya yang besar dimana otaknya berlindung.
__ADS_1
“Satu” ucap Dani yang kemudian melirik bagian lubang mata kiri tengkorak Butcher. Butcher juga langsung menempatkan Wahyu di depan bagian lubang mata kiri tengkoraknya. Dani langsung menembak ke arah matanya menatap. Pelurunya melesat ke arah lubang mata kiri tengkorak itu, namun karena ada Wahyu yang menutupinya, peluru Dani menggores Pundak Wahyu dan tembakannya meleset dan terpental.
“Dua” Dani sekali lagi menembak tengkorak Butcher, kini ke arah lubang bagian hidung dan kejadian yang sama terulang lagi, kali ini peluru Dani menggores bagian samping dada Wahyu. Melihat Dani yang tidak bisa menembak dengan tepat, membuat Butcher merasa aman dan membuatnya tersenyum lebar, Butcher berpikir selama dia mengikuti tatapan Dani, dia bisa menggunakan Wahyu sebagai perisai. Dani membuang sniper rifle yang dia pegang dan menggantinya dengan sniper rifle yang dia kalungkan di badannya tadi dan kembali membidik Butcher.
“Tiga” ucap Dani yang langsung menahan nafasnya untuk tembakan yang lebih stabil. Dani menatap lagi bagian lubang mata kiri tengkorak Butcher. Sama seperti sebelumnya, Butcher langsung menempatkan Wahyu di arah tatapan Dani. Suara tembakan terdengar, Butcher tersenyum karena berpikir tembakannya pasti meleset lagi, namun senyumnya langsung hilang saat dia merasakan sesuatu telah melukainya dan mengirimkan rasa sakit keseluruh tubuhnya. Butcher melihat ke arah Dani dan melihat kalau tatapannya dan arah laras senjatanya tidak mengarah ke tempat yang sama, Butcher kemudian melihat asap yang keluar dari tembakan Dani dan itu mengarah ke lubang bagian mata kanan yang ada ditengkoraknya. Mengetahui itu, Butcher langsung meronta-ronta kesakitan.
“Blue! Sekarang!” teriak Wahyu. Sebuah tembakan terdengar dari suatu arah dan melesat ke arah usus yang melilit Wahyu, tembakan itu langsung membebaskan ikatan Wahyu.
“Sudah saatnya kau musnah, gendut” ejek Wahyu yang kemudian menekan trigger yang ada ditangannya. Setelah trigger itu ditekan, sebuah ledakan kecil tedengar dari dalam tengkorak Butcher. Butcher meronta untuk terakhir kalinya dan menghempaskan Wahyu, melihat Wahyu yang terhempas, Septian dan Mei berlari keluar dari tempat persembunyian mereka dan bersiap untuk menolong Wahyu.
“Kita tidak bisa mencapainya dengan kecepatan kita” ucap Mei.
“Kalau begitu siapkan dirimu!” teriak Septian yang kemudian mempercepat larinya dan langsung menghadap ke arah Mei dan bersiap untuk memberikan dorongan ke atas “Kuserahkan Ketuaku padamu!”
Mei langsung menggunakan bantuan Septian untuk melompat ke atas lebih tinggi. Mei akhirnya berhasil menangkap Wahyu dan bersiap untuk melakukan pendaratan. Karena tidak ada alat untuk memperhalus pendaratan mereka, Mei menutup matanya untuk bersiap merasakan kesakitan karena terjatuh dari ketinggian yang cukup tinggi, namun tepat sebelum mereka berdua jatuh ketanah, Wahyu membalik posisi mereka jatuh yang akhirnya membuat Wahyu menabrak tanah duluan dan Mei tidak terlalu merasakan kesakitan karena Wahyu yang mendekapnya. Mei membuka matanya dan menyadari posisi mereka dan langsung melepaskan dirinya dari dekapan Wahyu.
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Mei marah.
“Yah, aku sudah cukup terluka, jadi kupikir, sekalian saja, ha ha” jawab Wahyu lemas.
Melihat keadaan Wahyu, Mei tidak bisa marah kepadanya dan akhirnya membantu Wahyu untuk berdiri.
“Dasar bodoh” gumam Mei.
Di sisi lain, tubuh Butcher tiba-tiba mulai meleleh dari kepala hingga kakinyasampai akhirnya semua daginngya menghilang meninggalkan hanya tulang punggung dan tulang rusuknya yang besar itu.
“Kita berhasil Dan! Rencanamu berhasil!” teriak Kapten Rin senang, namun Dani tidak bereaksi apa-apa walaupun Kapten Rin sudah berteriak sekencang itu. Khawatir dengan keadaan Dani, Kapten Rin langsung berlari untuk melihat keadaan Dani yang masih berdiri kaku sambil memegang senjatanya itu.
__ADS_1
“Hey, kau tidak apa-apa?” ucap Kapten Rin khawatir. Kapten Rin mencoba menggerak-gerakan tubuhnya, karena masih tidak mendapatkan respon, Kapten Rin melihat wajahnya lebih dekat dan melihat ke matanya. Kapten Rin melihat matanya terlihat kosong, melihat itu Kapten Rin langsung panik dan mengecek detak jantungnya. Kapten Rin membuka jaket rompi yang dipakai Dani dan mendekatkan telinganya ke dada Dani, setelah memfokuskan pendengarannya, suara detak jantung Dani terdengar dan akhirnya Kapten Rin mengetahui keadaan Dani.
“Kau ini bikin khawatir saja”ucap Kapten Rin lega “Tidak kusangka aku akan melihat orang mengalami keadaan pingsan berdiri” Kapten Rin kemudian menggendong tubuh Dani yang kaku itu dan mulai berjalan ke arah yang lainnya berada.