Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
Another Task To Fulfill 15-1


__ADS_3

Keesokan harinya, Dani terbangun karena suara lemari yang terbuka, dia membuka matanya dan mencari sumber suara itu. Dani langsung terbangun dan tidak merasa kantuk lagi setelah melihat orang yang membuka lemari itu. Di depan lemari itu terlihat Kapten Rin sedang memakai kemeja putih yang biasa dia pakai. Mengetahui kalau Dani terbangun karena suara lemari yang dia buka, Kapten Rin langsung berbalik dan mendekat ke Dani.


“Ma’af, apa aku membangunkanmu?” tanya Kapten Rin. Dani yang melihat Kapten Rin masih mengenakan kemeja yang kancingnya belum dikancingkan sepenuhnya itu hanya bisa terdiam dan melihat tubuh Kapten Rin.


“Aku tidak berniat untuk membangunkanmu sepagi ini, karena kau wajah tidurmu terlihat sangat pulas” ucap Kapten Rin “Jika masih mengantuk kau bisa tidur lagi, tidak akan ada misi untuk Tim Elang sampai ketua tim kalian sembuh” Kapten Rin memberikan Dani sebuah kecupan kecil di pipinya, lalu Kapten Rin kembali berjalanke lemari dan melanjutkan memakai celana panjang yang biasa dia gunakan serta jaket Kapten yang sudah menjadi karakteristik miliknya.


“Aku akan kembali ke ruanganku dulu, kunci ruangan ini ada di atas meja” ucap Kapten Rin yang mengambil topi Kaptennya lalu memakainya “Sampai kau sudah memiliki keputusan, bawalah terus kunci ruangan ini” Kapten Rin kemudian berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Dani yang masih berada di Kasur.


Dani masih mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya karena baru saja bangun dari tidurnya. Setelah beberapa menit, Dani akhirnya sadar dan mengingat apa saja yang telah dia lakukan kemarin malam.


“Ternyata bukan mimpi . . .” Dani bergumam pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit lagi, akal sehat Dani pun muncul dan membuat dia tersadar dengan apa yang telah dia lakukan dan membuatnya jadi panik.


“Tunggu, bukankahitu masalah!” ucap Dani mulai panik “Aku baru saja tidur bersama Kapten Negara ini! Apa yang akan terjadi jika ada yang mengetahuinya?!” Dani memegangi kepalanya karena rasa sakit di kepalanya yang muncul akibat terlalu banyak pikiran yang muncul di kepalanya dan setelah beberapa detik, Dani mendapatkan solusi.


“Wahyu” ucap Dani “Dia mungkin bisa membantuku!” tanpa memikirkan apapun lagi karena itu akan membuat kepalanya semakin sakit, Dani langsung mencari pakaiannya dan langsung mengenakannya dan di saat dia mengenakan bajunya, wangi dari parfum yang di pakai Kapten Rin kemarin masih tercium di bajunya, sejenakitu membuat Dani lupa dengan apa yang mau dia lakukan, untungnya sakit kepalanya itu muncul lagi dan mengingatkannya untuk segera menemui Wahyu dan meminta saran darinya. Setelah berpakaian dengan lengkap, Dani mengambil kunci ruangan yang ada di atas meja dan berlari keluar ruangan itu, setelah mengunci pintunya, Dani langsung berlari menuju ruang perawatan di mana Wahyu berada. Dani berlari dengan sekuat tenaganya agar bisa segera mengeluarkan semua pikiran yang ada di kepalanya. Saat akhirnya Dani sudah berada di depan kamar perawatan Wahyu, dia langsung membuka pintunya dan melihat Wahyu yang sedang bermain dengan pistolnya.


Menyadari pintu kamarnya terbuka, Wahyu melihat ke arah pintu kamarnya itu dan melihat Dani berdiri di depannya.


“Oh hey Dan! Tumben kesini sepagi ini?” sapa Wahyu dengan tersenyum. Dani langsung mengambil kursi yang ada dan langsung duduk di samping Wahyu.


“Yu! Aku butuh bantuan!” ucap Dani dengan keras. Melihat Dani yang seperti itu membuat Wahyu ikut panik.


“Iya iya kubantu, tapi jelaskan dulu-“ kalimat Wahyu terhenti setelah melihat wajah Dani dengan teliti “Ah, begitu ya”


“Apa maksudmu dengan begitu ya?” tanya Dani yang masih panik.


“Jadi bagaimana rasanya? Enak?” tanya Wahyu dengan nada menggoda.


Karena masih belum bisa meluruskan pikirannya, Dani menjawab pertanyaan Wahyu tanpa berpikir “Iya, itu benar-benar terasa sangat luar biasa” jawab Dani. Setelah Dani menjawab pertanyaan Wahyu, ada beberapa detik keheningan sebelum akhirnya Wahyu tertawa dengan lepas.


“Sudah kuduga kau itu gila” ucap Wahyu sambil tertawa “Tidak kusangka kau menjawabnya sejujur itu” Wahyu terus tertawa seperti orang gila.


“Kenapa kau tertawa? Aku butuh bantuan saat ini” ucap Dani kesal.


“Iya aku tahu, aku tidak menyangka akan berjalan secepat ini, tapi Kapten Rin mengatakan sesuatu seperti dia mau kau menjadi miliknya kan?” ucap Wahyu menebak-nebak “Dan kau sebagai pria polos yang masih sehat dan normal, mendapatkan rayuan dari perempuan cantik dan seksi seperti Kapten Rin itu hanya bisa menurutinya karena nafsu kan?”


“Iya, bagaimana kau tahu?” ucap Dani kagetkarena Wahyu bisa menebak apa yang terjadi pada dirinya.


“Makanya, lain kali perhatikan penampilanmu sebelum menemui orang” Wahyu kemudian mengambil sebuah cermindari taskecilnya yang ada di samping bantalnya “Coba lihat sendiri mukamu itu”


“Ada apa emangnya?” Dani mengambil cermin yang diberikan Wahyu dan menggunakannya untuk melihat wajahnya dan di pantulan cermin itu terlihat wajah Dani dengan sebuah bekas lipstick berbentuk bibir di pipinya. Menyadari itu Dani langsung mencoba menghapusnya dengan tangannya.


“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” ucap Dani.

__ADS_1


“Lah, kau pikir aku sendiri tidak kaget tadi” balas Wahyu “Dan juga bau wangi terus keluar dari bajumu itu, mandi dulu sana, dinginkan kepalamu, ada bajuku yang masih bersih di tasku, pakai itu” Wahyu menyuruh Dani untuk mendinginkan kepalanya sekalian mandi di kamar mandi yang ada di ruangan itu. Dani langsung berlari ke kamar mandi sambil membawa tas Wahyu.


“Lah, ya gak usah dibawa juga tasnya” ucap Wahyu.


Wahyupun akhirnya menunggu Dani mandi sambil merakit ulang pistolyang dia bongkar tadi. Setelah beberapa menit Dani keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru, terlihat karena baju yang dia pakai sedikit basah karena tetesan air yang jatuh dari rambut Dani yang masih basah. Wahyu meletakkan pistol yang sudah dia rakit kembali di atas meja.


“Oke, jadi-“ sebelum Dani melanjutkan ucapannya, Wahyu memotongnya dan mengambilkan satu botol air putih yang ada di mejanya.


“Minum dulu, tenangkan dirimu” ucap Wahyu. Dani langsung meminum air putih itu dan langsung mau berbicara lagi, tapi sekali lagi Wahyu memotongnya.


“Sekarang jam berapa?” tanya Wahyu.


“Jam 7pagi” jawab Dani.


“Satu ditambah satu?” tanya Wahyu lagi.


“Dua, apa hubungannya ini dengan masalahku” jawab Dani mulai kesal.


“Apa kau sudah makan?” tanya Wahyu lagi.


“Belum, kalau dipikir-pikir lagi aku belum makan sejak kemarin” jawab Dani yang mulai tenang karena memikirkan hal lain.


“Bagus kau sudah tenang” ucap Wahyu “Jadi bisa kau ceritakan dengan pelan apa yang terjadi?”


“T-tunggu sebentar, aku tidak bisa menahan wajahku untuk tersenyum dan tertawa” ucap Wahyu yang menutupi wajahnya dengan tangannya.


“Aku serius ini, apa yang harus kulakukan?” balas Dani dengan pertanyaan.


Wahyu menghela nafas besar dan menstabilkan emosinya, namun saat dia mau berbicara dia tidak tahan dan tertawa.


“Lah malah tertawa” ucap Dani kesal.


“Ma’af ma’af, aku akan serius sekarang” Wahyu mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan pelan, dia melakukannya dua kali untuk menenangkan dirinya “Oke, kalau kau benar-benar mau meminta pendapatku, jawabanku itu sudah kupikirkan jika situasi seperti ini terjadi pada kalian semua”


“Jadi apa yang harus kulakukan menurutmu?” tanya Dani.


“Mudah saja” ucap Wahyu santai “Terima saja”


Mendengar jawaban Wahyu yang santai itu membuat Dani berpikir kalau Wahyu tidak serius.


“Enak sekali kau mengatakannya, kautahu sendiri kankalau dia itu seorang Kapten” ucap Dani.


“Dan kita adalah seorang pahlawan yang baru saja menghilangkan kemungkinan ancaman yang bisa membahayakan sheleter ini dan seluruh orang yang ada di dalamnya” balas Wahyu. Mendengarkan ucapan Wahyu membuat Dani tidak bisa membalas.

__ADS_1


“Lagipula pikirkan ini, Kapten Rin adalah seorang Kapten Negara kan?” tanya Wahyu.


“Iya” jawab Dani singkat.


“Jadi pasti dia juga sudah memikirkan semua ini” ucap Wahyu “Tidak mungkin kan seorang Kapten Negara melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya”


Dani mulai menyadari perkataan Wahyu ada benarnya.


“Lalu kenapa dia tidak memaksaku saja? Seperti dia memaksamu untuk masuk ke pasukan khususnya?” tanya Dani.


“Mungkin itu karena dia menghormati keputusanmu, sebagai orang yang pernah mengalahkannya dan juga menyelamatkannya, tidak mungkin kan dia langsung memaksamu begitu saja” ucap Wahyu menjelaskan “Walaupun dia main cium saja sih” gumam Wahyu.


Dani mulai memikirkan kembali apa yang seharusnya dia lakukan saat ini. Melihat Dani yang berpikir dengan keras, Wahyu menghela nafas.


“Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau takutkan?” tanya Wahyu.


Dani berpikir sebentar sebelum menjawab Wahyu “Aku hanya takut dengan konsekuensi yang akan datang padaku”


“Dan, kau tau, kita tidak akan tahu dengan konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan, tapi itu bukan berarti kita harus takut dan tidak mau melakukannya” ucap Wahyu “Dan juga, terkadang konsekuensi itu tidak selalu hal buruk kau tahu”


Dani berpikir lagi.


“Jika aku orang normal lainnya aku akan mengatakan untuk turuti saja kata hatimu, tapi karena aku orangnya logis, menurutku coba saja dan jika nantinya akan terjadi masalah, aku akan membantumu sebisaku” ucap Wahyu mencoba untuk meyakinkan Dani.


Dani berpikir kalau Wahyu ada benarnya, tapi Dani masih merasa sedikit ragu.


“Bagaimana kalau kau tanya Septian dan Wahidyn, mungkin mereka bisa memberikan saran lain, atau malahan mereka membuatmu makin pusing” ucap Wahyu sambil menunjukkan senyuman yang menjengkelkan.


“Wahidyn tidak pernah memikirkan hal yang seperti ini, kalau Septian malah akan membesarkan masalah ini” ucap Dani.


“Kata siapa? Kau tahu, Septian itu sebenarnya orangnya pengertian tahu, hanya saja ucapannya saja yang kadang menjengkelkan” balas Wahyu.


“Hah? Yang benar?” tanya Dani tidak percaya.


“Yah, kalau kau mau coba saja tanya, daripada kau pikir sendiri, malah meledak nanti kepalamu” jawab Wahyu.


“Benar juga sih, aku coba tanya dulu lah” ucap Dani memutuskan untuk bertanya kepada Septian “Terima kasih Yu” Dani mulai berjalan untuk keluar dari ruangan Wahyu.


“Dan!” panggil Wahyu. Dani berhenti berjalan dan menoleh “Apapun yang kau pilih, aku akan mendukungmu” ucap Wahyu sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya.


Dani membalas Wahyu dengan tersenyum “Oke!” Dani kemudian berjalan keluar ruangan dan menutup pintu kamar itu.


“Dasar, merepotkan saja” keluh Wahyu sambil tersenyum. Wahyu mengambil kembali pistolnya yang ada di atas meja dan mengokangnya.

__ADS_1


“Kalau begitu, waktunya tahap berikutnya” Wahyu menarik pelatuk pistolnya yang tidak ada pelurunya itu dan menghasilkan suara klik yang keluar dari pistolnya.


__ADS_2