Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Hawk Take The Shot 13-2


__ADS_3

Setelah menjauh dari Butcher, Tim Elang beserta Red dan Blue memasuki sebuah bangunan kosong untuk beristirahat dan memikirkan ulang rencana untuk mengalahkan Butcher. Selain Dani dan Blue, yang lainnya masih merasa kesakitan karena serangan dari Butcher. Blue melakukan pertolongan pertama kepada yang terluka, namun karena kurangnya perlengkapan pengobatan, Blue melakukan semampunya.


“Ma’af, hanya anda yang mendapatkan pengobatan paling sedikit” ucap Blue yang kembali menjadi sopan. Blue membalut kaki Wahyu dengan sobekan kain yang dia temukan di bangunan kosong itu.


“Tidak apa, aku sudah sering mengalami hal ini” ucap Wahyu yang melihat kakinya sedang dibalut. Wahyu kemudian menoleh ke arah teman-temannya yang badannya penuh dengan perban. Serangan Butcher yang diluar perkiraan itu membuat badan mereka tidak siap dan akibatnya luka yang mereka dapatkan lebih besar dan sakit.


“Kami berdua masih siap untuk melanjutkan misi, tapi saya khawatir teman-teman anda perlu istirahat lebih lama” ucap Blue yang kemudian memanggil Red untuk mendekat dengan sebuah isyarat tangan.


“Aku bisa menggantikan posisi Septian dan Wahidyn, kau bisa memerintahkanku untuk melakukan hal tak masuk akal seperti dulu jika itu memang dibutuhkan untuk penyelesaian misi” ucap Red yang sudah ada didepan Wahyu.


“Tidak, mereka masih bisa melanjutkannya, aku hanya perlu menyemangati mereka sedikit” ucap Wahyu yang mencoba berdiri tapi dihentikan oleh Blue.


“Ma’af sebelumnya, kami tidak bermaksud untuk meremehkan teman anda ataupun membantah keputusan anda” ucap Blue dengan sopan namun suaranya terkadan terdengar berat “Tapi melihat keadaan mereka dan keadaan anda, saya berharap anda mau memikirkannya lagi”


“Kita tidak punya waktu lagi, kemampuan regenerasi zombie mutasi bisa mencapai 4 kali lipat lebih cepat daripada zombie biasanya” balas Wahyu “Kita harus segera melenyapkannya dan karena itu juga, semua personil harus ada!” sambung Wahyu dengan nada tinggi.


Wahyu merasa terburu-buru, rencana terbaiknya yang memiliki persentase kasualitas kecil, hancur karena informasi yang kurang dan juga keyakinannya kepada kemampuannya yang terlalu dia banggakan. Emosi Wahyu tidak stabil dan membuatnya gegabah, namun walaupun telah mendengarkan perkataan Wahyu yang kasar, Blue tetap tidak meninggalkan Wahyu, Blue menggenggam kedua tangan Wahyu untuk mencoba menenangkannya dan memaksa Wahyu untuk melihat wajah Blue yang menunjukkan kekhawatiran yang besar.


“Kami merasa sangat senang bisa melihat anda lagi, walaupun anda terlihat berbeda dari yang dulu, anda masih memperhatikan kami dan mengkhawatirkan keselamatan kami, tapi tolong dengarkan saya sekali ini saja” Blue mengambil nafas sejenak “Apakah anda ingat apa yang terjadi terakhir kali anda membuat keputusan karena terdesak oleh waktu dan keadaan anggota tim anda?”


Pertanyaan yang keluar darimulut Blue mengirimkan sebuah hentakan besar kepada Wahyu dan membuatnya terdiam. Tubuh Wahyu kemudian menjadi lemas dan membuatnya menyerah untuk berdiri. Suasana di bangunan itu menjadi hening, namun beberapa detik kemudian, Wahyu menggenggam erat kedua tangan Blue, bukan karena kesal, tapi karena akhirnya Wahyu tersadar dengan kesalahan yang hampir saja dia buat.


“Terima kasih” ucap Wahyu “Kau memanglah hati dari keluarga kita” Wahyu melepaskan kedua tangannya dari genggaman Blue “Jangan khawatir, aku sudah tenang sekarang, tapi aku tetap harus berbicara dengan teman-temanku saat ini” Wahyu kemudian berdiri namun tidak dengan tergesa-gesa, dia berjalan dengan pelan mendekati teman-temannya yang masih lemas.


“Yo!” sapa Wahyu kepada Timnya “Bagaimana rasanya bertarung melawan raksasa?” tanya Wahyu bercanda.


“Yah, sedikit terkejut dan takut, tapi kita sudah pernah mengalaminya sebelumnya kan?” jawab Septian tertawa kecil.


“Lukanya memang sakit, tapi aku masih bisa melanjutkannya” jawab Wahidyn.

__ADS_1


“Daripada kalian bertiga, aku masih dalam keadaan prima” jawab Dani dengan penuh semangat.


“Walaupun kau baru saja menghabiskan banyak energi melawan Kapten Rin?” tanya Wahyu bercanda lagi.


“Iya, jangan sok kuat kau” sahut Septian.


Tim Elang kemudian tertawa bersama untuk beberapadetik sebelum akhirnya suasananya kembali serius.


“Baiklah, cukup bercandanya” ucap Septian “Kami sedikit mendengarmu berteriak tadi, jika kau kau ingin kami melanjutkan rencananya, kami akan melakukannya, tapi sebelum itu, katakan semua pikiranmu dulu”


“Kami memang tidak sepandai dirimu dalam memimpin ataupun membuat rencana, tapi jangan memikirkan semuanya sendiri, kau juga manusia, pasti masih bisa merasa tertekan kan?” sambung Wahidyn. Mendengarkan perkataan teman-temannyaitu, Wahyu tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, aku membutuhkan pendapat kalian tentang rencana baruku” ucap Wahyu “Tapi katakan dengan jujur mengenai keadaan kalian oke”.


Tim Elang mengangguk.


“Baiklah, rencana untuk bertarung sambil mencari informasi tidak berjalan dengan baik, jadi kali ini kita lakukan dengan paksa” ucap Wahyu memulai diskusi untuk rencana barunya “Septian dan Wahidyn, apa kalian bisa menemukan sebuah mobil lagi?” tanya Wahyu.


“Menemukan mobil itu mudah, tapi untuk menyalakannya membutuhkan waktu” jawab Wahidyn.


“Itu tidak apa-apa, tapi kali ini jangan melompat seperti tadi, pastikan kalian menabrak zombie itu dan keluarlah tanpa harus melukai diri kalian dan juga, tolong jangan diledakan dahulu” ucap Wahyu menjelaskan rencananya.


“Baik” jawab Septian dan Wahidyn bersamaan.


“Seperti sebelumnya, biarkan aku dan Red yang menarik perhatian Butcher, kami handal dalam menghindar dan megnatisipasi serangan, jadi jangan khawatirkan kami, kau tidak keberatan kan Red?” ucap Wahyu menanyakan pendapat Red.


“Tentu saja, serahkan padaku” jawab Red tegas.


“Selanjutnya, Dani dan Blue, kali ini aku ingin kalian berdua berpisah, menembak dari dua arah yang berbeda akan membuat zombie itu lebih kebingungan” sambung Wahyu melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


“Oke” jawab Dani sedangkan Blue hanya menganggukkan kepalanya.


“Lalu ini yang kutemukan setelah memperhatikan Butcher saat pertarungan kita sebelumnya” Wahyu melanjutkan “Sepertinya Butcher sedang dalam keadaan pengembangan intelegensi” mendengar ucapan Wahyu membuat semuanya terkejut.


“Apa maksudnya itu?!” tanya Dani.


“Zombie biasanya menyerang menggunakan insting bertahan hidup mereka, yang mana membuat serangan mereka mudah ditebak dan dihindari” jawab Wahyu “Tapi pada pertarungan kita tadi, setelah melihat aku dan Red berpencar pada serangan pertama, zombie itu memutuskan untuk mengejar Red yang mana sedikit jauh darinya, padahal sudah jelas-jelas aku berlari ke arah Butcher” Wahyu berhenti sejenak untuk mengambil nafas “Menurutku, Butcher sudah memiliki kemampuan untuk mendeteksi bahaya, Butcher memilih untuk mengejar Red karena Red membawa senjata lebih banyak dariku” mendengar penjelasan dari Wahyu membuat semua orang di bangunan kosong itu terdiam.


“Lalu selanjutnya saat dia menjatuhkan ususnya, sebelumnya serangan yang bisa dilakukan ususnya hanyalah menghantam dan melilit karena proses serangannya yang simpel dan mudah dilakukan, tapi tadi dia memutuskan untuk menghentikan pergerakan ususnya dan membiarkannya jatuh, yang mana lebih membuktikan asumsiku kalau Butcher sedikit-demi sedikit mengembangkan intelegensinya” ucap Wahyu mengakhiri penjelasan dugaannya.


“Jika begitu, bukannya ini akan menjadi lebih sulit?” tanya Septian.


“Tidak, malah sebaliknya” jawab Wahyu. Jawaban singkat Wahyu membuat semuanya bingung.


“Bisa kau jelaskan?” tanya Wahidyn.


“Pemikiran manusia atau pemikiran logis adalah keahlianku, jika musuhku bisa berpikir logis, maka aku bisa memprediksi gerakannya dengan akurasi sampai 95%, sedangkan jika musuhku adalah zombie biasa yang pergerakannya mengikuti naluri bertahan hidup, prediksiku hanya bisa mencapai 75%” jawab Wahyu menjelaskan “Jadi intinya, trik dan Teknik yang bisa digunakan pada manusia, bisa digunakan kepada Butcher”


Semuanya yang mendengarkan penjelasan Wahyu akhirnya paham.


“Tapi tetap saja sebuah akal adalah keuntungan dan kelemahan pada saat yang sama, kita semua masihlah perlu berhati-hati” ucap Wahyu memperingati teman-temannya “Kita akan istirahat untuk 8-10 menit lagi, persiapkan diri kalian untuk babak kedua”


Wahyu memberikan waktu istirahat yang cukup untuk semuanya beristirahat dan melanjutkan pertarungan melawan Butcher dengan rencana barunya, namun suara kendaraan dan sebuah suara yang familiar mengagetkannya.


“Hey! Tim Elang! Apa kalian disini?! Jawablah!”


Wahyu langsung berlari keluar bangunan dan dia melihat Kapten Rin dan Mei yang mengendarai sebuah jeep dan mengarah tepat ke arah Butcher berada. Mengetahui itu, Wahyu langsung berlari lagi ke dalam.


“Perubahan rencana, kita berangkat sekarang!” ucap Wahyu panik “Kapten Rin dan Mei baru saja melewati tempat ini dan menuju tepat ke arah Butcher!”

__ADS_1


__ADS_2