
Wahyu, Septian, dan Nana akhirnya berpisah dari pasukan Yukikaze dan menuju sebuah bangunan yang sudah ditinggalkan. Septian meletakkan tubuh Nana di ujung ruangan lalu kembali menghampiri Wahyu yang menyiapkan api kecil untuk menghangatkan tubuh mereka.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Septian.
“Yah, sebenarnya banyak yang terjadi dalam beberapa jam ini, tapi yang paling penting dulu” jawab Wahyu “Bagaimana keadaanmu?” tanya Wahyu.
Septian sedikit terkejut mendengar pertanyaan Wahyu “Aku baik, hanya saja banyak hal yang terjadi dengan cepat jadi aku sedikit kesulitan memprosesnya dan juga aku sudah dipromosikan menjadi Wakil Ketua pasukan khusus Kapten Yukio yang bernama Yukikaze” jawab Septian.
“Wah, hebat sekali kau” ucap Wahyu terkejut kagum “Aku sudah menduga akan mudah bagimu mendapatkan kepercayaan mereka, tapi tidak kusangka akan secepat ini”
“Kau ini memujiku atau meledekku? Pilihlah satu” balas Septian mengeluh.
“Tidak, aku memujimu, jangan berpikir negatif seperti itu lah” balas Wahyu “Jadi apa kau mendapat sesuatu tentang tuduhanku?”
“Itu ada sesuatu yang menjanggal saat aku ada di ruang rapat tadi” ucap Septian “Sepertinya perintah untuk menangkap dan memenjarakanmu tidak berasal dari Kapten Yukio”
“Ternyata benar” gumam Wahyu “Aku juga sudah menduga itu dan satu-satunya orang yang bisa kupikirkan hanyalah Wakil Kapten Teto, karena entah kenapa dia sangat ingin aku mengakui kalau aku yang membunuh istri Kapten Negara Jepang”
“Tapi Wakil Kapten terlihat sangat peduli terhadap Kapten Yukio” ucap Septian.
“Yah, jika saja aku bisa langsung menyelidikinya bersama kalian, ini akan selesai lebih cepat, tapi aku sudah menjadi buronan sekarang, jadi aku tidak bisa kembali bersamamu” ucap Wahyu.
“Tidak apa, aku akan mencari bukti yang lebih banyak lagi agar bisa menghilangkan tuduhan itu dan membersihkan namamu” ucap Septian tegas.
“Aku beruntung punya teman sepertimu Sep” ucap Wahyu tersenyum.
“Ih jangan seperti itu lah, aku merasa jijik” balas Septian merinding.
“Itulah maksudku, kau bisa membaca suasana dengan baik dan meresponnya dengan baik juga” ucap Wahyu tenang.
“Jadi kau serius ya” ucap Septian.
“Lalu, siapa perempuan itu? Apakah dia seperti Rin?” tanya Wahyu.
“Dia Nana, anaknya Kapten Yukio, dia memiliki kemampuan berpedang yang hebat loh” jawab Septian “Dan apa maksudmu dia seperti Rin?” tanya Septian.
“Yah, maksudku, Dani dan Rin jadi Kau dan dia mungkin” balas Wahyu menduga-duga.
__ADS_1
“Kau gila ya? Aku saja baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu” balas Septian.
“Yah bisa saja kan? Lagipula jika dia memihak kita, kasus ini akan berjalan lebih lancar kan?” ucap Wahyu.
“Kau ini, apa kau hanya memikirkan semua orang sebagai alat saja” ucap Septian kesal.
“Sebenarnya iya sih, seperti Dani sebagai teropong, Wahidyn sebagai komputer, dan kau sebagai Meriam” jawab Wahyu bercanda.
“Aku tidak ingin mendengar itu” ucap Septian mengeluh.
Septian dan Wahyu berbincang dengan tenang, tanpa mereka sadari Nana mulai siuman dan membuka matanya. Nana langsung melihat ke sekitarnya lalu tatapannya terhenti saat dia melihat Septian.
“Septian, dimana ini?” tanya Nana sambil mencoba berdiri dan memulihkan dirinya.
“Oh! Kau sudah bangun” ucap Septian lega yang berdiri dan menghadap ke Nana.
“Dimana yang lainnya?” tanya Nana lagi yang mengusap-usap matanya untuk membersihkan penglihatannya. Saat Nana sudah bisa melihat dengan jelas lagi, Nana melihat orang yang ada di belakang Septian dan membuatnya terkejut, lalu dalam hitungan detik, Nana mengeluarkan Katananya dan berlari untuk menyerang Wahyu.
Wahyu yang menyadari niat Nana langsung mengambil pedang Septian dan menahan serangan Nana.
“Oh, bukankah ini sedikit berlebihan untuk perkenalan?” ucap Wahyu bercanda.
“Ma’af, apakah aku mengenalmu?” tanya Wahyu yng kini menanggapi Nana dengan serius.
“Kau yang membunuh Ibuku!” teriak Nana yang melepaskan serangannya dan menyerangnya lagi dengan runtutan tebasan yang dengan mudah Wahyu ikuti dan tangkis setiap serangan itu.
“Oh, jadi kau juga menganggap aku yang membunuh Ibumu ya” ucap Wahyu “Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Wahyu sambil terus menangkis serangan dari Nana.
“Aku akan membunuhmu!” teriak Nana dengan penuh amarah dan runtutan serangan yang semakin cepat.
“Jadi balas dendam ya” ucap Wahyu yang tatapannya menjadi serius.
“Tunggu, kalian berdua, ini salah paham” ucap Septian yang ingin menengahi Wahyu dan Nana.
“Jangan ikut campur Sep, ini juga demi kebaikannya” ucap Wahyu yang kemudian mementalkan serangan Nana dan langsung mencekik leher Nana dengan tangan kirinya. Wahyu sedikit demi sedikit mengangkat tubuh Nana dengan cekikannya itu dan membuat Nana kesulitan bernafas dan membuang pedangnya untuk meronta-ronta melepaskan genggaman tangan Wahyu.
“Lupakanlah dendammu, kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan kemampuanmu yang seperti ini” ucap Wahyu megejek Nana.
__ADS_1
“Tunggu Yu, kau berlebihan” ucap Septian mencoba untuk meyakinkan Wahyu untuk berhenti.
“Sudah kubilang jangan ikut campur kan” balas Wahyu dengan nada mengancam.
“Kau anak dari keluarga yang mempelajari aliran pedang salju, apa kau melupakan ajaran pertama dari aliran itu?” tanya Wahyu yang masih mencekik Nana “Emosi adalah kekuatan paling besar, tapi pada saat yang sama itu adalah musuh terbesarmu” Wahyu membanting tubuh Nana ke tanah dengan keras.
“Kau kehilangan kendali” Wahyu menduduki tubuh Nana “Seranganmu mudah dibaca” Wahyu memukul wajah Nana sekali. Sebuah suara kesakitan keluar dari mulut Nana.
“Yu, ini sudah berlebihan” ucap Septian yang masih mencoba menghentikan Wahyu.
“Kau menyerang orang tanpa tahu kebenarannya” sekali lagi Wahyu memukul wajah Nana.
“Yu! Kau melewati batas!” teriak Septian yang kasihan kepada Nana dan tidak ingin melihat temannya itu memukuli seorang perempuan yang tidak berdaya.
“Kau menggunakan alasan balas dendam untuk membunuh orang” ucap Wahyu yang mau memukul wajah Nana lagi, namun Septian memukul wajah Wahyu duluan dengan sangat keras hingga mementalkannya jauh dari Nana.
“Kau sudah keterlaluan! Apa kau tidak sadar kalau Nana itu seorang perempuan?!” teriak Septian marah.
Wahyu berdiri dan menatap Septian “Kau tidak mengerti Sep, orang yang sudah terobsesi dengan dendam tidak akan bisa memiliki masa depan yang cerah, oleh karena itu aku harus menunjukkan perbedaan kemampuan kami agar bisa membuatnya melupkan dendamnya” jawab Wahyu yang berjalan mendekati Septian dan Nana.
“Tapi tidak begini caranya! Pasti ada solusi lain kan!” teriak Septian mencoba untuk membuat Wahyu mencari cara lain.
Wahyu berhenti “Baiklah, kalau begitu akan kuberitahu cara lainnya, tapi yang bertanggung jawab untuk semua yang terjadi kedepannya adalah kau” balas Wahyu.
“Jika itu bisa menghentikanmu melakukan kekerasan, aku akan terima apapun itu” jawab Septian dengan tegas dan yakin.
“Baiklah kalau begitu” ucap Wahyu yang kemudian mengela nafas dan ekspresinya kembali santai seperti biasanya.
“Kalau begitu bujuklah dia dengan caramu sendiri, alihkan fokusnya dari balas dendam ke hal lain, apapun itu” ucap Wahyu menjelaskan idenya “Kapanpun dia memiliki pikiran tentang dendamnya, alihkan pikirannya hingga akhirnya dia melupakan dendamnya, apa kau bisa melakukan itu?” tanya Wahyu.
“Tunggu dulu, bukankah itu sangat sulit?” jawab Septian ragu-ragu.
“Kau ini memang seenaknya sendiri” balas Wahyu mengeluh “Kalau begitu buatlah perjanjian dengannya, entah itu kontes atau hutang atau apapun itu, buat dia berjanji untuk melupakan dendamnya, keluarga Yukikiru selalu menjunjung tinggi janji mereka” ucap Wahyu yang bersiap untuk pergi.
“Tunggu! Begitu saja?! Kau akan meninggalkanku begitu saja?” teriak Septian tidak terima.
“Apa kau ingin melihatku diserang dan berakhir memukuli gadis itu lagi?” tanya Wahyu dengan nada mengancam. Septian terdiam mendengarkan ucapan Wahyu. Melihat Septian yang tertekan, Wahyu menghela nafas lagi.
__ADS_1
“Kau sendiri kan yang mengatakan akan bertanggung jawab, jangan menelan ucapanmu sendiri” ucap Wahyu santai “Jangan khawatir, aku akan membantumu saat kau berada dalam bahaya” ucap Wahyu dengan senyumannya yang biasanya yang kemudian berlari meninggalkan Septian dan Nana yang kembali pingsan.