Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Deal 22-2


__ADS_3

Setuju dengan usulan dari Septian, Nana dan Septian memutuskan untuk melakukan pertandingan di antara mereka berdua di keesokan harinya, karena mereka masih lelah setelah menjalankan misi sebelumnya. Di saat malam hari, Tim Elang tanpa Wahyu berkumpul kembali di ruangan mereka untuk berdiskusi sebentar sebelum beristirahat.


“Jadi siapa duluan?” tanya Septian yang berada di ruangan Tim Elang lebih dulu dari lainnya.


“Biar aku saja, karena aku ingin cepat-cepat tidur” ucap Wahidyn “Aku berhasil mengunduh data dari sistem informasi yang dimiliki oleh Zombie Resistance Jepang, data prajurit, pelatihan, penelitian, dan sebagainya sudah ada ditanganku, sisanya aku perlu memeriksa semua data itu sendiri dan mencari petunjuk tentang kasus Wahyu”


Wahidyn yang dengan santainya memberitahu teman satu timnya itu bahwa dia baru saja mengambil hampir seluruh data yang ada di sistem komputer sebuah Negara itu membuat teman-temannya langsung terdiam kaget.


“Aku kira Wahyu melebih-lebihkan saat dia bilang kalau kau adalah ahli teknologi yang paling jenius di zaman ini, tapi ternyata itu benar ya” ucap Rin yang memuji Wahidyn.


“Terima kasih, jadi apa aku boleh tidur dulu? Aku harus mengerjakan semua ini besok dan juga aku harus minta ma’af pada Takeru” balas Wahidyn.


“Memangnya kau apakan Takeru?” tanya Septian.


“Aku meninggalkannya sendirian dan dibawa oleh orang divisi intelegensi” jawab Wahidyn.


“Oh soal itu, kami tadi bertemu dengan Takeru saat menuju ke sini” balas Dani “Dia bilang untuk menyampaikan kalau dia baik-baik saja dan tidak perlu khawatir”


“Dia juga bilang kalau besok akan menemuimu lagi untuk membantu” sambung Rin.


“Dia benar-benar orang yang baik” ucap Wahidyn “Kalau begitu aku tidur dulu, kalian lanjutkan saja diskusinya” Wahidyn kemudian beranjak ke kasurnya dan langsung tidur.


“Kalau tidak ada Wahyu dia selalu seperti itu ya” ucap Dani.


“Ya mau bagaimana lagi, mereka berdua memiliki pemikiran yang hampir sama atau mungkin juga dia sedikit bosan karena tidak ada yang memberinya tugas” balas Septian.


“Begitu ya” ucap Dani “Lalu bagaimana denganmu Sep? apa kau mendapatkan petunjuk?” tanya Dani.


“Sedikit, aku rasa permasalahan berpusat pada keluarga Yukiokiru, yang mana isinya ada Kapten Yukio, Wakil Kapten Teto, dan ketua pasukan khusus Yukikaze dan juga putri dari Kapten Yukio, yaitu Nana” jawab Septian “Beruntungnya, aku saat ini dijadikan sebagai wakil ketua Yukikaze untuk sementara, jadi aku bisa mencari informasi di tempat-tempat tertentu dimana hanya pasukan khusus saja yang bisa mengaksesnya”


“Wah, tidak kusangka kau langsung mendapat posisi tinggi semudah itu” ucap Dani.

__ADS_1


“Untuk kami sendiri, setelah memperlihatkan kemampuan memimpinku dan kemampuan Dani yang berhasil menyelamatkan beberapa orang dari serangan zombie dari jarak jauh, kami berhasil mendapatkan kepercayaan dari beberapa pemimpin pasukan dan bahkan mereka ingin kami melatih beberapa prajurit mereka” ucap Rin menjelaskan apa yang dialami oleh Dani dan Rin.


“Baguslah kalau begitu, berarti kita semua masing-masing mendapatkan sesuatu” ucap Septian “Walaupun masih tidak ada bukti yang kuat untuk membebaskan Wahyu dari tuduhan, tapi masih ada kemajuan”


“Untuk saat ini kita teruskan tugas kita dan jika ada yang menemukan sesuatu yang penting, langsung laporkan, apa ada yang keberatan?” tanya Rin setelah merasa mereka semua sudah mengatakan apa saja yang sudah mereka capai.


Septian dan Dani mengangguk.


“Kalau begitu lebihbaik kita segera tidur, hari ini cukup melelahkan” ucap Rin.


Tim Elang pun akhirnya beranjak tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka.


Keesokan harinya, Tim Elang sekali lagi berpisah dan menjalankan tugas mereka masing-masing.


Septian pun langsung menuju ke tempat rapat yang dia masuki kemarin untuk mencari Nana, namun saat dia ada di depan lift, Nana sudah ada di depan pintu lift dan langsung menghampiri Septian saat pandangan mereka saling bertemu.


“Apa kau sudah siap?” tanya Nana.


“Tentu saja” jawab Septian tanpa ragu.


Septian kemudian mengikuti Nana yang berjalan menuju suatu taman yang luas. Taman itu cukup indah dengan beberapa tanaman bambu dan juga pohon Sakura yang menghiasi taman itu. Septian dan Nana kemudian sampai di dekat sebuah pohon Sakura yang sangat besar.


“Sebelah sini” ucap Nana yang memanggil Septian untuk mendekat. Saat Septian sudah ada di sebelah Nana, Nana menghentakkan kakinya dua kali dan tiba-tiba tanah yang ada di bawah kaki Septian dan Nana langsung terbuka dan membuat mereka berdua jatuh ke dalam celah yang terbuka itu. Untungnya jatuh mereka tidaklah tinggi, karena mereka hanya jatuh untuk tiga detik saja dan mereka sudah ada di dasar, tapi karena Septian yang tidak siap, Septian jatuh dengan posisi pantatnya dulu yang menyentuh tanah, sedangkan Nana mendarat dengan aman.


“Selamat datang di tempat latihan Yukikaze” ucap Nana yang membuka sebuah tirai yang ada di depannya dan memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup luas dipenuhi dengan alat latihan seorang tentara juga alat latihan untuk ahli pedang. Di dalam ruangan itu juga sudah ada beberapa anggota Yukikaze yang sedang latihan. Nana dan Septian memasuki ruang latihan itu dan langsung menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam ruangan. Saat Septian masih terfokus melihat sekelilingnya, seorang anggota Yukikaze menepuk pundak Septian dari belakang,


“Selamat pagi Fuku kaichō, bagaimana kabarmu?” ucap seorang laki-laki yang terdengar ceria memukul pundak Septian dari belakang. Septian menoleh dan melihat seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengannya. Laki-laki itu memiliki rambut hitam pendek dengan mata berwarna coklat yang cerah.


“Aku dengar kau akan melakukan duel dengan Tuan Putri, aku tidak sabar melihatnya” ucap laki-laki itu “Oh iya, namaku Kenta Takamushi, panggil saja aku Kenta”


“Ah, namaku Septian, salam kenal” balas Septian sedikit kaku.

__ADS_1


“Tidak perlu formal dan kaku seperti itu, semua yang ada di Yukikaze tidak menggunakan formalitas satu sama lain agar kita bisa lebih akrab” balas Kenta dengan ceria “Jadi kapan dimulainya?”


“Jangan mengganggunya, Kenta, dia juga perlu melakukan persiapan kan” jawab Nana yang berjalan melewati Septian dan Kenta. Nana mengambil dua buah pedang kayu dan memberikan salah satunya kepada Septian.


“Ambil ini, biasakan dirimu dulu” ucap Nana.


Septian mengambil pedang yang diberikan Nana dan mulai mengayunkannya dengan asal. Melihat Septian yang mengayunkannya asal-asalan membuat Kenta yang disampingnya tertawa keras.


“Apa yang kau lakukan Fuku kaichō? Apa itu suatu teknik baru?” ucap Kenta menyindir Septian.


“Aku hanya ingin tahu rasanya mengayunkan pedang kayu” jawab Septian tidak terganggu sama sekali.


Melihat Septian yang tidak terganggu sama sekali itu membuat Kenta terdiam dan semakin menantikan pertarungan Septian dan Nana.


“Baiklah, apa peraturannya?” tanya Septian penuh percaya diri.


“Untuk kali ini tidak ada peraturan, yang pertama kali jatuh adalah yang kalah, apa kau keberatan?” jawab Nana.


“Jadi segala cara diperbolehkan? Benar kan?” ucap Septian memastikan.


“Benar, jadi kerahkan seluruh kemampuanmu” jawab Nana yang mempersiapkan dirinya.


“Kalau begitu biarkan aku jadi wasitnya” ucap seorang gadis yang menghampiri Septian dan Nana.


“Ide bagus, baiklah, Misuzu yang akan jadi wasitnya” ucap Nana setuju.


Setelah itu, Septian dan Nana menempati posisi mereka dan mempersiapkan diri mereka masing-masing.


“Baiklah, pertarungan dimulai pada hitungan ketiga” ucap Misuzu menjelaskan.


“1” Misuzu melihat ke arah Nana yang sudah siap untuk menyerang.

__ADS_1


“2” Misuzu melihat ke arah Septian yang memegang pedangnya dengan satu tangan.


“3!” Misuzu mengakhiri aba-abanya, pertandingan telah dimulai.


__ADS_2