
Langkah Wahyu menjadi lebih tenang, pergerakannya menjadi semakin tidak terdengar, namun wajahnya masih penuh dengan rasa ingin membunuh. Wahyu mengeluarkan pisaunya lagi dan berjalan dengan santai mendekati zombie yang ada di jalannya. Tanpa ada rencana atau pikiran lain, Wahyu langsung memotong kepala zombie itu dengan sekali tebas. Kepala zombie itu jatuh diikuti dengan tubuhnya. Wahyu menghabisi semua zombie yang dia lewati tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan membuat zombie yang lainnya tidak menyadari apa yang dilakukan Wahyu, bahkan tatapan yang penuh dengan haus darah itu entah kenapa tidak membuat zombie merasakan keberadaannya, seperti kematian itu sendiri, tidak ada yang menyadarinya sampai mereka merasakannya sendiri. Namun walaupun Wahyu terlihat tenang, di dalam kepala Wahyu dipenuhi dengan suara-suara yang menyakitinya.
“Hidup! Bunuh! Haru hidup! Korbankan segalanya! Hidup! Hidup!” suara dari berbagai macam nada memenuhi pikiran Wahyu. Wahyu dapat merasakan rasa sakitnya, namun tubuhnya tetap bergerak tanpa masalah, pada titik itu, yang menggerakkan tubuh Wahyu hanyalah inting alaminya untuk hidup dan menyelesaikan tujuannya.
“Tidak! Jangan sekarang!” teriak Wahyu di pikirannya “Aku harus mengambil alih!”
Wahyu mencoba segala cara yang bisa dia pikirkan untuk bangun dan mengambil alih tubuhnya kembali, namun suara yang memenuhi pikirannya itu membuat Wahyu tidak bisa fokus karena kesakitan. Di saat Wahyu sudah tidak bisa memikirkan jalan keluar, sebuah suara terdengar memanggil namanya.
“Yu!” terdengar suara dari telinga kanannya. Menyadari itu, Wahyu langsung memusatkan seluruh konsentrasinya ke telinganya.
“Yu! Pesawatnya sudah siap! Dimana kau?!” suara itu semakin jelas dan keras, sedikit demi sedikit Wahyu mulai bisa merasakan tubuhnya kembali.
“Jawab Yu!” teriakan itu sangat familiar.
“Sep . . tian” bibir Wahyu mulai bergerak dan mengeluarkan suara. Wahyu mulai dapat merasakan tangannya dan tanpa basa-basi, dengan seluruh kekuatannya, Wahyu menampar pipinya sendiri. Tamparan Wahyu sangat keras hingga membuat zombie di sekitarnya langsung menoleh ke arah Wahyu, tapi pada saat yang sama, tamparan itu berhasil menyadarkan Wahyu.
“Sial, aku harus menyiapkan penangkalnya lagi” ucap Wahyu tersenyum “Ma’af, aku tadi tidak fokus, ulangi kembali kalimatmu Sep” Wahyu meminta Septian untuk mengulangi ucapannya lagi melalui communicator.
“Kau ini dari tadi kupanggil tidak merespon!” teriak Septian dari communicator “Pesawatnya sudah siap, tapi suara mesinnya memancing zombie yang ada di sekitar hangar, cepatlah kesini!”
“Iya aku tahu, aku hampir sampai” balas Wahyu. Wahyu menarik nafas besar lalu mengeluarkannya “Waktunya untuk rencana darurat” Wahyu langsung berlari menghabisi semua zombie yang ada di jalannya, kini dengan metode yang aman. Kali ini gerakan Wahyu lebih rumit, namun gerakan itu membuat Wahyu tidak perlu khawatir dengan adanya infeksi.
Pada saat yang sama, anggota Tim Elang sedang menahan zombie agar tidak masuk ke hangar.
“Kalau begini terus, peluru kita akan habis duluan!” teriak Septian yang menembaki zombie diluar pintu hangar. Terlihat di depan pintu dan sekitarnya tumpukan tubuh zombie yang sudah tidak bergerak.
“Bgaimana dengan Wahyu? Apa kau melihatnya Dan?!” tanya Septian kepada Dani yang berada di atap hangar membantu mengurangi jumlah zombie dengan snipernya.
“Masih belum!” jawab Dani.
“Bagaimana mesinnya Wahidyn?!” tanya Septian lagi, kini kepada Wahidyn yang mulai menyalakan mesin agar siap lepas landas.
__ADS_1
“Tiga menit, lalu pesawat ini bisa langsung lepas landas” jawab Wahidyn lewat communicatornya.
“Sial, ayo Yu cepatlah kesini” gumam Septian “Rin kau masih kuat?!” tanya Septian kepada Rin yang menghabisi zombie yang tidak terkena tembakan Septian yang mendekat.
“Ini saja bukan apa-apa untukku” jawab Rin yang dengan mudahnya menghancurkan kepala zombie dengan satu pukulannya.
Anggota Tim Elang terus mempertahankan hangar sampai pesawat siap lepas landas dan juga sampai Wahyu datang.
Tiga menit berlalu dan terdengar mesin pesawat yang sudah siap untuk lepas landas.
“Berhasil, sekarang tinggal menunggu Wahyu dan menerbangkan pesawat ini” ucap Wahidyn lewat communicatornya agar semua bisa mendengarnya.
“Kita punya masalah lain” ucap Dani “Karena kegaduhan yang kita buat, jalur lepas landas peawat kita terhalangi zombie yang cukup banyak”
“Tinggal kita tabrak saja kan?” tanya Septian.
“Tidak bisa, pesawat perlu kecepatan yang mencukupi untuk lepas landas, kita harus membersihkan jalannya” jawab Wahidyn.
“Bagaimana kita melakukannya?” tanya Septian lagi.
“Tunggu! Aku melihat sesuatu!” teriak Dani. Teriakan Dani membuat anggota Tim Elang mengalihkan perhatian mereka ke Dani.
“Itu Wahyu!” teriak Dani lega “Dia membersihkan jalur landasannya menggunakan forklift.
“Serahkan landasannya padaku, kalian urus saja zombie yang ada di depan kalian dulu” ucap Wahyu melalui communicator. Wahyu mengendarai forklift dan menabrak semua zombie yang ada di jalur lepas landas pesawat, dengan beberapa kali putaran, akhirnya zombie yang ada di jalur lepas landas berkurang drastic dan meninggalkan beberapa saja.
Di saat yang sama, Septian melemparkan tabung gas yang ada di hangar kekumpulan zombie yang menghalagi jalan keluar mereka dan meledakkannya. Ledakan itu membuat tubuh zombie yang mati terpental dan hasilnya jalan keluar mereka sudah bersih.
“Yu cepatlah kesini, kami masih membutuhkan co-pilot” ucap Wahidyn melalui communicator.
“Tidak bisa, zombie di sekitar sini mulai berdatangan kembali, aku harus terus membereskan mereka” jawab Wahyu “Mintalah Rin untuk menggantikanku, aku yakin dia pasti bisa”
__ADS_1
“Bagaimana denganmu?” tanya Wahidyn.
“Jangan khawatirkan aku, hanya saja pastikan pintu belakang pesawat tetap terbuka” jawab Wahyu.
“Rin, kau mendengarnya?” tanya Wahidyn.
“Sangat jelas, aku akan kesana” jawab Rin.
“Semuanya naik ke pesawat sekarang!” suruh Wahidyn.
Anggota Tim Elang langsung menaiki pesawat dan mulai menjalankannya. Wahidyn dan Rin melakukan persis sesuai dengan arahan Wahidyn dan pesawat itu mulai berjalan dengan pelan. Wahidyn menyetir pesawat itu dengan seluruh kemampuannya dan memastikan mereka semua bisa lepas landas dengan aman. Pesawat yang dinaiki Tim Elang mulai mendapatkan kecepatan dan mengarah ke Wahyu yang sedang mengendarai forklift, menyadari pesawat mereka datang, Wahyu menghampiri pesawat itu dan melaju di depannya untuk mematikan tidak ada zombie yang menghalangi pesawat itu lepas landas. Ketika kecepatan ppesawat itu mulai meningkat, Wahyu mengambil sebuah tali yang sudah dia ikat ke pisaunya dan memposisikan forkliftnya di bawah pesawat. Pesawat itu mulai mendahului Wahyu. Ketika pintu belakang pesawat sudah terlihat, Wahyu mengganjal pedal gas forklift dengan batu dan mulai mengayunkan pisaunya, Wahyu langsung melihat ke karg yang ada di belakang pesawat yang dimana Septian dan Dani juga ada di samping kargo itu.
“Kalian berdua! Menjauhlah dari kargo itu!” teriak Wahyu. Dani dan Septian langsung menjauh dari kargo itu. Wahyu kemudian melemparkan pisaunya yang sudah terikat tali itu ke arah kargo dan berhasil menancap di kargo itu.
“Terbangkan sekarang!” teriak Wahyu. Teriakan Wahyu terdengar oleh setiap anggota Tim Elang, Wahidyn dan Rin yang ada di bagian kendali pesawat langsung menarik tuas yang ada di depan mereka dan sedikit demi sedikit pesawat itu mulai melayang. Wahyu mengikatkan ujung tali lainnya dari tali yang terikat di pisaunya itu ketangannya. Setelah Wahyu melihat roda pesawat itu udah tidak menapak tanah, Wahyu melompat dan meninggalkan forklift yang langsung miring dan menabrak tiang di sisi jalur lepas landas lalu meledak. Dengan perhitungan yang sudah dipikirkan Wahyu, ledakan itu mendrong Wahyu mendekat ke bagian belakang pesawat, Wahyu mencoba meraih pintu bagian belakang pesawat itu dengan tangannya, namun dia tidak sampai, Septian dan Dani yang melihatnya langsung berlari ke tali yang Wahyu lemparkan tadi dan langsung menahannya agar tidak lepas. Hentakan yang disebabkan Wahyu yang terjatuh, menyebabkan tarikan yang kuat ke talinya dan membuat pisau Wahyu lepas dan menjatuhkan Dani dan Septian, untukngnya Septian langsung menempatkan kakinya di sebuah celah yang ada di lantai pesawat dan berhasil menahan Wahyu yang bergelantungan hanya dengan tali.
“Dan! Tarik Wahyu ke atas!” teriak Septian “Aku akan menahan talinya sendiri!”
Dani langsung bergegas dan pergi ke ujung pintu belakang pesawat. Dani melihat kebawah dan menyadari kalau mereka sudah berada jauh dari tanah. Dani sedikit terkejut, namun langsung teringat kalau Wahyu masih bergelantungan di udara. Dani mulai menarik Wahyu ke atas dengan seluruh kekuatannya, setelah cukup terangkat, Septian juga ikut berdiri dan membantu menarik Wahyu ke atas hingga akhirnya tangan Wahyu terlihat di ujung pintu belakang pesawat. Septian mengikat talinya ke kargo tadi lalu berlari untuk membantu Wahyu naik, dengan sisa tenaga yang dia punya, Septian akhirnya berhasil menaikkan Wahyu ke pesawat.
Wahyu, Septian, dan Dani langsung tergeletak sambil terengah-engah karena kelelahan.
“Kau ini . . . memang merepotkan . . . hah” ucap Septian kelelahan.
“Aku juga . . . kaget tahu” balas Wahyu yang juga kelelahan.
“Klian memang gila” ucap Dani yng juga kelelahan.
Setelah terengah-engah untuk beberapa detik, mereka bertiga mulai tertawa kecil hingga akhirnya mereka tertawa keras.
“Dasar orang-orang nekat” ucap Wahidyn yang mendengarkan melalui communicator.
__ADS_1
“Jadi begini ya kalian membangun kepercayaan” ucap Rin.
Akhirnya setelah beberapa jam berlalu, Tim Elang bisa terbang dengan aman menuju ke Jepang menggunakan pesawat yang mereka perbaiki sendiri.