Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Hawk Take The Shot 13-7


__ADS_3

Tim Elang dan lainnya terkejut, bingung, dan panik pada saat bersamaan, mereka semua langsung mencari tempat sembunyi sambil melihat situasi. Saat ini Wahyu telah dililit usus yang ternyata juga milik Butcher, saat ini ada empat buah usus yang terlihat keluar dari perutnya dan bersiap untuk menyerang lagi, satu usus besar dan 3 usus kecil, sepertinya saat pertama kali membelah ususnya tadi, Butcher mengalami mutasi lagi yang menumbuhkan usus baru yang dapat digunakan untuk menyerang.


“Sial, Wahyu tertangkap, apa yang harus kita lakukan” tanya Septian melalui communicatornya.


“Apa maksudmu? Tentu saja kita selamatkan dia” jawab Dani kesal.


“Tidak bisa, zombie itu memposisikan Wahyu di tempat dimana tidak ada celah untuk menembak” ucap Kapten Rin.


“Lalu apa? Ada yang punya ide lain?” tanya Dani yang tambah kesal.


Semuanya terdiam, karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


“Ma’af mengganggu kalian berpikir, tapi lama kelamaan lilitan usus ini semakin erat” ucap Wahyu yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan. Suara Wahyu itu membuat semuanya terkejut namun sedikit lega, karena dia mungkin memiliki ide.


“Yu, bagaimana ini? Kau punya ide?” tanya Dani.


“Ada beberapa hal yang bisa dicoba, pertama buat luka yang cukup besar hingga membuatnya terfokus pada lukanya dan pada saat itu, ada kemungkinan usus yang melilitku membuat celah untuk kalian menembak” ucap Wahyu memberikan idenya.


“Kalau begitu kita coba itu” balas Dani.


“Baiklah, aku dan Red akan mencoba meledakkan perut bagian kanannya, tapi kita hanya punya kesempatan satu kali saja, jika ini gagal, kita tidak punya amunisi lagi untuk melawan zombie itu” ucap Kapten Rin “Dani, kau bersiap untuk menembak usus yang melilit Wahyu”


Semua menyetujui rencana Kapten Rin dan bersiap untuk segera menjalankannya. Kapten Rin mengambil grenade launcher milik Septian yang hanya memiliki satu peluru tersisa, sedangkan Red mengganti magazine terakhirnya.


“Semuanya siap?” tanya Kapten Rin memastikan.


“Siap” jawab semuanya bersamaan.


“Mulai!” suara Kapten Rin langsung menjadi aba-aba untuk memulai rencananya. Kapten Rin dan Red langsung berlari mendekati Butcher, mereka menjaga jarak agar tidak terserang secara bersamaan. Butcher menyadari Kapten Rin dan Red yang berlari ke arahnya, Butcher langsung melesatkan tiga usus kecilnya untuk menyerang Red, Redyang menyadari itu langsung memisahkan diri dari Kapten Rin dan memancing usus-usus itu menjauh dari Kapten Rin. Kapten Rin menggunakan kesempatan itu untuk segera mendekat ke Butcher, namun ternyata Butcher tidak diam saja, Butcher melesatkan usus besarnya itu kearah Kapten Rin.


“Mengganggu saja” Kapten Rin mengalungkan grenade launchernya dan mengambil kuda-kuda. Di saat usus besar itu sudah dekat, Kapten Rin menghindari terjangan usus itu lalu memukul usus itu ke samping sekeras mungkin. Pukulan Kapten Rin langsung melemparkan usus itu cukup jauh hingga menabrak bangunan dan meruntuhkannya, puing-puing dari bangunan itu langsung menjatuhi usus besar itu dan membuatnya terjebak di reruntuhan bangunan itu.

__ADS_1


Setelah memukul usus Butcher, Kapten Rin mengambil grenade launchernya dan menembak perut Butcher dan meledakkannya. Ledakan itu menghancurkan sebagian perut Butcher dan memperlihatkan tulangnya. Butcher meraung kesakitan dan segera memegangi perutnya yang meledak itu.


“Dani! Apa kau bisa menembak sekarang?!” tanya Kapten Rin dengan keras.


“Aku tidak bisa, usus yang melilit Wahyu tidak bergerak sedikitpun!” jawab Dani panik.


Kapten Rin langsung merasa kesal karena rencananya gagal.


“Sial! Kalau begitu bagaimana dengan ini!” Kapten Rin melemparkan grenade launchernyadan langsung melompat ke deretan tulang rusuk Butcher yang masih kelihatan. Kapten Rin berpegangan ke tulang rusuk itu dengan tangan kirinya dan mulai memukuli tulang rusuk Butcher.


“Bagaimana dengan ini sialan!” teriak Kapten Rin sambil terus memukuli tulang rusuk Butcher hingga retak.


Merasakan sakitnya pukulan dari Kapten Rin, Butcher langsung membuka tulang rusuknya untuk menjatuhkan Kapten Rin. Kapten Rin yang masih berpegangan ke tulang rusuk Butcher langsung menyuruh Dani untuk menyelamatkan Wahyu.


“Sekarang! Dani!” teriak Kapten Rin yang terdengan oleh semua yang memakai communicator.


Dani langsung membidik usus yang melilit Wahyu dan berhasil menemukan bagian belakang usus itu, Dani langsung menembaknya terus sampai usus itu terputus, namun Ketika usus itu terlihat hampir putus, usus itu memposisikan Wahyu ke jalur tembakan Dani.


“Gah!” Wahyu menggeram keras merasakan kesakitan yang baru dia rasakan. Tembakan terakhir Dani mengenai kaki kiri Wahyu.


“Dan! Apa yang kau lakukan?!” teriak Septian memarahi Dani.


“Tidak, itu tadi” Dani kesulitan mencari kata-kata yang harus dia ucapkan, sedangkan Septian masih memarahinya.


Kapten Rin yang terus terayun keras karena Butcher yang membuka tutup deretan tulang rusuknya itu, akhirnya sudah tidakkuat berpegangan dan melepaskan pegangannya dan mendarat dengan aman. Kapten Rin kemudian berlari dan bersembunyi dari penglihatan Butcher. Red yang dari tadi terus memancing usus kecil Butcher juga akhirnya bisa beristirahat karena Butcher menarik kembali usus-usus itu.


Situasi menjadi semakin kacau, rencana yang dibuat Kapten Rin dan Wahyu gagal, Butcher mencoba untuk memulihkan dirinya lagi, Septian dan Dani bertengkar, dan Wahyu yang masih tertangkap itu sekarang mengalami luka tambahan karena Butcher menggunakan tubuhnya sebagai perisai.


Di saat penuh dengan kekacauan itu, Wahyu yang terluka itu mencoba untuk menenangkan teman-temannya itu.


“Ayolah, kita sudah besar, jangan bertengkar seperti ini” ucap Wahyu melalui communicatornya.

__ADS_1


Mendengar suara Wahyu sekali lagi membuat semuanya langsung fokus kepada suaranya.


“Memangnya kenapa kalau rencana gagal atau ada kecelakaan kecil terjadi, selama kita masih berdiri, masih ada kesempatan lain” ucap Wahyu santai “Jadi kita lupakan apa yang sudah terjadi dan pikirkan lagi rencana selanjutnya dengan pikiran yang tenang”


Semuanya terdiam mendengarkan ucapan Wahyu.


“Kau memang cocok menjadi seorang pemimpin, sikapmu inilah yang membuatku ingin memasukkanmu ke dalam pasukan khususku” ucap Kapten Rin dengan tertawa kecil.


“Terima kasih atas pujiannya” balas Wahyu.


“Jadi, kau punya rencana lain?” tanya Kapten Rin.


“Sejujurnya tidak, namun kali ini aku memastikannya, Butcher saat ini sudah memiliki akal, walaupun hanya setingkat dasar” jawab Wahyu.


“Ini menjadi semakin sulit ya” balas Kapten Rin mengeluh.


“Yah seperti itulah” balas Wahyu juga iku mengeluh.


Mendengar percakapan Wahyu dan Kapten Rin yang terlihat santai itu membuat yang lainnya merasa tenang sedikit.


“Apakah ini mental seorang pemimpin?” tanya Wahidyn kagum.


“Atau mungkin Wahyu saja yang sedikit aneh” sambung Septian.


“Intinya kita harus memikirkan langkah selanjutnya” ucap Mei iku masuk pembicaraan.


Setelah itu, Wahyu mengusulkan agar semuanya berkumpul kembali dan mendiskusikan rencana selanjutnya dan meyakinkan yang lainnya kalau Wahyu masih baik-baik saja. Akhirnya semuanya kecuali Wahyu berkumpul di dalam bangunan kosong.


“Siapapun yang memiliki ide, langsung utarakan saja, semua usulan akan kita anggap sebagai pilihan stidakmasukakalnya usulan itu” ucap Kapten Rin. Semuanya terdiam berpikir keras untuk mencari jawaban untuk masalah mereka. Setelah beberapa menit, akhirnya ada seseorang yang mempunyai ide. Dani mengangkat tangan untuk bersiap menyuarakan usulannya.


“Aku punya ide” ucap Dani singkat, dia kemudian melirik ke arah Septian yang tadi memarahinya.

__ADS_1


“Hei, jangan takut kepadaku, Wahyu sudah bilang kan, lupakan saja yang sudah terjadi, aku tidak akan menyangkal usulanmu” ucap Septian mencoba meringankan kegugupan Dani.


“Baiklah, kalau begitu, izinkan aku menghadapi Butcher sendiri” dengan penuh percaya diri Dani mengucapkan kalimat itu dan membuat semua yang mendengarnya terdiam.


__ADS_2