
Sesampainya pasukan Yukikaze di tempat pelatihan khusus milik Kapten Yukio, Septian disuruh untuk melaporkan semua yang terjadi langsung kepada Kapten Yukio di ruangan pribadinya. Septian yang masih menggendong Nana yang tidak sadarkan diri itu pun menuruti perintah Kapten Yukio dan mengikutinya ke ruangan pribadi Kapten Yukio.
Sesampainya di ruangan Kapten Yukio, Septian disuruh untuk meletakkan Nana di kasur milik Kapten Yukio dan setelah itu Septian disuruh untuk duduk di lantai.
“Jangan terlalu tegang, aku hanya ingin kamu melaporkan apa yang kalian alami” ucap Kapten Yukio yang mengeluarkan sebuah meja kecil dan meletakkannya di depan Septian “Apa kamu suka teh?”
“Ah Iya, saya suka” jawab Septian yang sedikit gugup karena baru kali ini Septian berada di ruangan seorang Kapten sendirian.
“Bagus, akan lebih santai jika kita berbicara sambil minum teh yang hangat” ucap Kapten Yukio yang menuangkan air panas ke dalam teko kecil, seketika bau teh yang harum memenuhi ruangan. Aroma teh yang khas itu membuat tubuh Septian yang kaku menjadi rileks dan sedikit menenangkan pikirannya.
“Jadi bisa kamu ceritakan dari awal sampai kalian kembali ke sini?” ucap Kapten Yukio yang menuangkan teh ke cangkir kecil untuk Septian dan dirinya sendiri.
“Baik” jawab Septian yang menceritakan semua kejadian yang terjadi tanpa menyembunyikan detail apapun, termasuk pertemuannya dengan Wahyu dan apa yang terjadi dengan Nana.
“Begitu ya” ucap Kapten Yukio setelah meminum seteguk teh yang ada di cangkirnya.
Septian yang merasa Kapten Yukio akan marah karena Wahyu yang mana adalah ketua dari Tim Elang memukuli anaknya itu sudah mempersiapkan dirinya untuk dimarahi atau lebih parahnya akan dipenjara dan dieksekusi.
“Sangat disayangkan, sepertinya anakku masih belum matang” ucap Kapten Yukio dengan nada tenang dan santai.
Septian terkejut karena Kapten Yukio terlihat tidak marah sedikitpun. Dikendalikan oleh rasa penasarannya, Septian bertanya kepada Kapten Yukio.
“Ma’af, apakah anda tidak marah?” tanya Septian.
“Marah? Kenapa?” jawab Kapten Yukio dengan pertanyaan lain.
“Maksudku, anak anda dipukuli oleh orang lain, terlebih lagi yang memukulinya adalah teman saya dan juga ketua Tim saya” jawab Septian sedikit takut.
__ADS_1
“Oh itu ya” balas Kapten Yukio “Sebagai seorang ayah, sudah pasti aku marah” mendengar itu membuat Septian tersentak dan takut “Namun sebagai guru dan Kapten, aku rasa itu adalah hal yang disayangkan” Kapten Yukio menuangkan teh lagi ke cangkirnya “Nana memiliki kemampuan yang tinggi, di Negara ini dia adalah ahli pedang yang tidak terkalahkan oleh siapapun, tentu saja aku dan Kakakku Teto tidak termasuk, namun itu tidak menutupi kenyataan kalau Nana kalah dari orang lain, tidak peduli dia adalah prajurit biasa atau ketua Tim Elang”
“Lalu apakah anda tidak ingin menghukum saya?” tanya Septian sedikit takut jika Kapten Yukio sebenarnya ingin menghukum Septian.
“Kenapa aku harus menghukummu?” jawab Kapten Yukio bingung “Tugasmu adalah untuk melawan Oni dan kamu sudah melakukannya, terlebih lagi kamu juga sudah mencoba untuk memisahkan Nana dan Ketuamu kan? Sampai kau memukulnya untuk menghentikannya memukuli Nana?”
“Iya, tapi tetap saja saya merasa bertanggung jawab atas kejadian itu” jawab Septian.
Kapten Yukio tersenyum sedikit “Kamu adalah anak yang baik, namun tenang saja, kali ini kamu tidak melakukan kesalahan apapun, lagipula Nana itu kuat, sebentar lagi dia pasti akan bangun dan akan sangat memalukan baginya jika dia bangun dan melihat wajah ayahnya” ucap Kapten Yukio “Jadi aku minta tolong untuk menemaninya untuk sementara karena aku harus memberitahu divisi intelegensi tentang informasi terbaru Oni” setelah mengatakan itu, Kapten Yukio langsung berdiri dan meninggalkan Septian sendirian dengan Nana.
Septian yang mendengar itu langsung bingung dan memprosesnya sekali lagi di kepalanya.
“Jadi, aku disuruh untuk menjaga anak perempuan dari Kapten Negara Jepang sampai dia sadar di ruangan Kapten Negara Jepang itu sendiri” gumam Septian “Oke . . . keadaan tidak masuk akal apa lagi ini” gumam Septian yang menyerah untuk melogikakan keadaannya saat ini.
“Tidak ada gunanya memikirkannya terlalu berlebihan, lebih baik aku memikirkan cara untuk membuat Nana melupakan dendamnya”
Septian kemudian menyamankan dirinya di lantai sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Setelah beberapa menit berlalu, Nana akhirnya sadar.
“Oh, kau sudah sadar, bagaimana perasaanmu?” tanya Septian yang langsung berdiri dan menghampiri Nana.
“Apa maksudmu?” ucap Nana yang kemudian mengingat apa yang terjadi padanya “Dimana pembunuh itu?!” Nana langsung tiba-tiba menjadi marah dan memegang kerah baju Septian.
“Tenang dulu” ucap Septian yang memegang tangan Nana dan melepaskan tangannya dari kerah bajunya “Kau baru saja siuman, tenangkan dirimu, setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu satu persatu”
“Bagaimana aku bisa tenang?! Aku baru saja dikalahkan dengan mudah oleh orang yang paling kubenci!” jawab Nana dengan nada tinggi.
“Lalu apa yang mau kau lakukan? Berkeliaran tanpa arah untuk mencari Wahyu?” balas Septian.
__ADS_1
“Kau!” ucap Nana yang menatap tajam Septian “Kau temannya kan?! Di mana dia?!”
“Apakah itu sikap orang yang meminta bantuan?” balas Septian dengan tenang.
“Beraninya kau!” ucap Nana geram yang kemudian mencari senjatanya yang mana sedang dipegang oleh Septian “Berikan itu padaku!” suruh Nana.
“Aku sudah menduga ini akan terjadi, jadi aku menyita semua barang berbahaya yang ada di dekatmu” ucap Septian yang tersenyum “Jadi, kau mau memilih untuk terus mengamuk atau tenangkan dirimu dulu dan mari bicara baik-baik”
Nana merasa dipermainkan dan marah, namun setelah memikirkannya lagi, akhirnya Nana menenangkan dirinya dan mengambil nafas besar.
“Baiklah, mari bicara” jawab Nana.
“Begitukan lebih baik” ucap Septian lega “Jadi mari kita mulai dengan perlahan, apa yang ingin kau tanyakan dulu”
“Baiklah” jawab Nana dengan nada yang mulai tenang “Temanmu itu, siapa dia?”
“Namanya Wahyu, dia adalah teman baikku dan juga ketua Tim dari Tim Elang” jawab Septian “Ada lagi?”
“Apa kau tahu cara untuk membunuhnya?” tanya Nana dengan santainya tanpa keraguan sedikitpun.
“Bukankah itu terlalu ekstrim” ucap Septian. Melihat Nana sangat ingin tahu tentang Wahyu dan cara mengalahkannya, muncul sebuah ide di kepala Septian.
“Baiklah, bagaimana kalau begini” ucap Septian menjelaskan idenya “Mari kita bertanding, jika aku kalah aku akan menjawab satu pertanyaanmu apapun itu, tapi jika aku menang, aku ingin kau menjawab pertanyaanku, bagaimana? Adil kan?”
Nana yang sudah tenang itu memikirkan usulan Septian dengan baik-baik.
“Baiklah, aku setuju, kau ingin bertanding apa?” tanya Nana.
__ADS_1
“Ini Negara para Samurai kan? Tentu saja kita akan beradu pedang” jawab Septian dengan penuh percaya diri.
Nna yang mendengarkan jawaban Septian itu langsung heran dan bingung sambil memikirkan apakah Septian itu masih waras atau tidak.