Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Hawk Take The Shot 13-9


__ADS_3

Tim Elang dan Tim Kapten Rin akhirnya berkumpul kembali. Mereka semua berkumpul dengan keadaan kotor dan luka-luka, yang paling terlihat adalah Wahyu dan Dani yang sulit untuk berdiri dan berjalan sendiri. Dani masih belum sadar dan masih berada di gendongan Kapten Rin, sedangkan Wahyu terlihat sangat lemas yang sekarang berdiri dengan bantuan Mei yang menopangnya. Wahidyn dan Septian juga terlihat sangat kelelahan, tapi mereka langsung mendatangi Kapten Rin dan Mei yang membawa teman mereka itu dan membantu untuk meringankan beban mereka yang juga pasti kelelahan. Blue menyusul dengan Red yang terlihat sedikit sempoyongan saat berjalan. Akhirnya mereka semua mencari tempat untuk istirahat sejenak di sebuah rumah kosong yang masih utuh tapi dekat dengan mayat Butcher. Mereka bersembilan langsung duduk, kecuali Dani yang dibaringkan karena masih belum sadar. Mereka semua kelelahan hingga saat mereka akhirnya bisa duduk, semua ketegangan mereka keluar dan membuat mereka semua langsung menghela nafas besar.


“Pertarungan yang sangat melelahkan” ucap Septian.


“Ini lebih berat daripada zombie mutasi di negara kita” sambung Wahidyn setujudengan ucapan Septian.


“Yang lebih mengejutkan, kita semua bisa selamat dari zombie itu” sambung Mei.


“Tapi bukankan itu pengalaman yang menegangkan, sudah sangat lama sekali semenjak terakhir kali aku merasa nyawaku terancam” sambung Kapten Rin yang tersenyum senang.


Mereka semua langsung melepaskan apa yang ada di pikiran mereka, untuk saat itu, mereka tidak memperdulikan jabatan atau apapun, mereka hanyalah kumpulan teman seperjuangan yang baru saja menyelesaikan misi yang sangat berat.


“Yah, ini mungkin sedikit tidak ada artinya, tapi-” ucap Wahyu “Kerja bagus untuk kalian semua” Wahyu tiba-tiba memberi selamat kepada teman-temannya, hal itu langsung membuat semuanya terdiam sejenak sebelum akhirnya mulai tertawa. Melihat semuanya tiba-tiba tertawa membuat Wahyu bingung, namun pada saat yang sama itu membuat Wahyu merasa lega.


“Aku tidak pernah menyangka, ucapan selamat dari orang yang baru sebulan kukenal terasa sangat menenangkan, terlebih lagi dia hanya seorang prajurit biasa” ucap Kapten Rin sambil tertawa.


“Kau tidak akan pernah bisa menebak apa yang ada di pikirannya bukan?” sambung Septian.


“Kau benar, Ketua tim kalian memang sangatlah unik” balas Kapten Rin “Tapi, untuk saat ini, terima kasih untuk itu, aku sebagai Kapten Negara ini, mengucapkan terima kasih karena telah menghilangkan ancaman besar terhadap Negara ini”


“Kami hanya melakukan apa yang kami inginkan saja, tidak perlu berterima kasih untuk itu” jawab Wahyu.


“Tetap saja, apa yang kalian adalah jasa yang besar bagi Negara ini, terima kasih Wahyu” Kapten Rin menaruh kepalan tangan kanannya di dadanya menandakan sebuah rasa hormat “Itu juga berlaku kepada kalian Septian dan Wahidyn” mendengar itu membua tSeptian dan Wahidyn terkejut “Dan juga, orang yang mempertaruhkan segalanya pada rencana yang bisa saja gagal” ucap Kapten Rin yang mengelus kepala Dani yang sedang berbaring di sebelahnya.

__ADS_1


Melihat Kapten Rin yang terlihat lembut saat mengelus kepala Dani membuat yang lainnya hanya bisa terkejut, terdiam, dan membiarkan kejadian itu terjadi untuk beberapa menit. Karena semuanya juga kelelahan, akhirnya mereka semua diam dan mengistirahatkan tubuh mereka.


Setelah 20 menit berlalu, hampir semua orang yang beristirahat di rumah kosong itu sudah pulih dan dalam keadaan yang cukup baik, kecuali Dani yang masih belum sadar dan Wahyu yang kaki kirinya masih tidak bisa digerakkan karena penuh dengan luka yang saat ini sedang diperban oleh Blue dengan sobekan celana panjang bagian kaki kiri Wahyu yang terluka itu.


“Apakah semuanya sudah berada di kondisi yang cukup baik untuk kembali ke Shelter?” tanya Wahyu kepada semuanya.


“Aku dan Wahidyn tadi cuma kelelahan dan juga otot tanganku sedikit nyeri, selain itu kita hanya melakukan perjalanan kembali ke Shelter saja kan? Jadi tidak masalah” jawab Septian.


“Aku hanya terluka sedikit, lagipula bukankah lukamu itu lebih parah daripada kami semua” jawab Mei.


“Aku sudah pulih sepenuhnya, jadi aku akan terus menggendong Dani sampai ke Shelter” jawab Kapten Rin.


“Aku hanya sedikit pusing karena efek samping obat, aku masih bisa bertarung jika diperlukan” jawab Red.


“Yah, yang jelas aku butuh bantuan untuk berjalan, tapi selain itu, aku masih bisa bekerja dengan optimal” jawab Wahyu “Jadi, aku mungkin hanya bisa memberikan usulan untuk kembali ke Shelter tanpa ada masalah”


“Kalau begitu biar aku yang membantumu” “Tolong biarkan saya membantu anda untuk berjalan” ucap Mei dan Blue bersamaan. Mengetahu niatan mereka yang sama, Blue dan Mei mulai menatap satu sama lain.


“Tidak, lebih baik Septian saja yang membantuku berjalan” Wahyu memilih keputusan untuk tidak membuat permasalahan lain sebelum sudah sampai di Shelter. Blue dan Mei terlihat kecewa mendengar keputusan Wahyu.


“Tapi sebelum kembali, aku ingin memeriksa mayat Butcher” ucap Wahyu.


“Kebetulan sekali, aku juga perlu mengambil sampel” sambung Kapten Rin.

__ADS_1


“Kalau begitu, mari kita berangkat” Wahyu kemudian memanggil Septian dan memintanya untuk membantunya untuk berjalan. Karena lokasi mereka dekat dengan mayat Butcher hanya butuh waktu beberapa menit saja dan mereka sudah sampai. Yang pertama kali terlihat adalah tulang rusuk Butcher yang sangat besardan tajam, setelah itu sebuah cairan kental berwarna merah kehitaman yang sepertinya adalah sisa daging Butcher yang meleleh sebelumnya, lalu yang terakhir adalah sisa asam berwarna hijau yang dikeluarkan oleh Butcher. Tim Elang dan Tim Kapten Rin berpencar sejenak untuk melakukan urusan mereka masing-masing.


“Jadi apa yang mau kau lakukan?” tanya Septian


“Aku tidak sempat melakukannya saat kita melawan Scratcher sebelumnya, tapi aku ingin memastikan sesuatu” ucap Wahyu “Sep, bisa kau bantu aku mendekati tulang rusuk yang menancap di tanah itu?”


Wahyu dan Septian kemudian mendekati tulang rusuk yang mengunci pergerakan Butcher yang telah mereka kalahkan. Wahyu kemudian mengeluarkan pisau kecil yang belumpernah Septian lihat sebelumnya.


“Apa itu?” tanya Septian.


“Ini?” jawab Wahyu “Ini pisau” sambung Wahyu menyindir.


“Ya aku tahu itu pisau, maksudku itu pisau untuk apa?” tanya Septian lagi kesal.


Wahyu tertawa kecil “Iya, ma’af, aku hanya sedang butuh hiburan” Wahyu kemudian memperlihatkan pisau kecilnya “Ini pisau yang bilah pisaunya terbuat dari berlian, pisau ini bisa memotong besi dengan sangat mudah, tapi jika untuk tulang ini . . .” Wahyu menghentikan kalimatnya dan mencoba memoton tulang rusuk di depannya itu, namun yang bisa dilakukan hanya menggores tulang itu saja “Seperti yang kau lihat, tulang ini sangat sulit untuk dipotong”


“Bahkan belati berlian tidak bisa memotongnya, mengerikan sekali” balas Septian.


“Tapi jika kau melakukan ini” Wahyu kemudian memukulkan ujung pisaunya dengan keras ke tulang itu dan sedikit demi sedikit tulang itu mulai retak “Tulang ini tidak bisa menahan benturan, tapi sangat tahan dengan tebasan” Wahyu memukul tulang itu dengan pisaunya sekali lagi dan membuat tulang itu menjatuhkan beberapa serpihan tulang, Wahyu mengambil serpihan itu dan memasukkannya di sebuah kotak kecil.


“Ini saja sudah cukup” ucap Wahyu “Ayo Sep, kita kembali ke semuanya”


“Aku masih tidak mengerti apa yang akan kaulakukan dengan itu, tapi terserahlah” jawab Septian yang kemudian menuntun Wahyu ke tempat semuanya berkumpul. Setelah berkumpul kembali, mereka semua langsung berangkat menuju Shelter Negara Cina bersama-sama.

__ADS_1


Untungnya tidak ada tanda-tanda zombie lain di perjalanan mereka dan akhirnya mereka semua sampai di gerbang Shelter dengan aman. Sesampainya disana, mereka disambut pasukan medis yang langsung menghampiri mereka satu persatu dan mengarahkan mereka semua ke tempat perawatan untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.


__ADS_2