Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Match 10-3


__ADS_3

“Lihat! Apa yang sedang dilakukan oleh peserta Wahyu!” dengan satu kalimat itu, sekali lagi perhatian semua orang kembali ke Wahyu yang sudah mengambil tali perlengkapan keselamatan.


Wahyu langsung mengambil sebuah kelereng besi dari sakunya dan mengikatkan tali yang dia pegang ke tangan kanannya. Wahyu kemudian memasang kelereng besi itu ke sepatunya dan menendang kaca anti peluru yang memisahkan arena Wahyu dan Mei itu sekali. Mengejutkannya sebuah retakan muncul di kaca anti peluru itu. Wahyu kemudian berlari ke ujung kaca lainnya lalu berlari kembali ke kaca yang retak itu, dengan momentum yang dia buat, Wahyu melompat dan menendang kaca itu dengan keras yang membuat retakan tadi menyebar. Tidak menyia-nyiakan akibat aksi-reaksi dari tendangannya, dia menekan kakinya dan membuatnya berayun kebelakang, lalu menggunakan ayunan kembalinya, Wahyu menendang kaca itu lagi dan akhirnya pecah dan membuat Wahyu berada di arena Mei. Wahyu melepaskan ikatan tali ditangan kanannya dan langsung meraih tali perlengkapan keselamatan di arena Mei dan langsung berayun ke posisi Mei. Dengan tindakan cepat yang dilakukan Wahyu, dia akhirnya berhasil ke posisi Mei dan langsung merangkul badannya, membawa tubuh Mei berayun kembali ke atas dengan aman.


“A-apa yang kau lakukan?!” ucap Mei sambil meronta malu karena dipeluk Wahyu.


“Tolong diamlah sebentar, sangat sulit untuk mempertahankan posisi ini” jawab Wahyu singkat.


Setelah Wahyu dan Mei berada di atas tepat di depan garis finish, Wahyu merasa lega namun sedikit kecewa.


“Yah, sepertinya aku kalah dalam pertandingan ini” ucap Wahyu mengeluh, namun mukanya tersenyum tanpa merasakan penyesalan apapun. ”Selamat, ini kemenangan kalian” ucap Wahyu yang mencoba berdiri, namun tidak bisa karena ternyata luka yang ada di kakinya kambuh.


Melihat hal itu, ekspresi Mei menjadi serius dan menghampiri Wahyu yang memegangi kakinya. Mei menunduk dan langsung membopong Wahyu.


“Kau melepaskan kemenanganmu dan menyelamatkanku, mana mungkin aku akan memanfaatkan situasi ini demi kemenanganku” Mei membopong Wahyu melewati kaca yang dipecahkan Wahyu tadi dan menuntunnya ke garis finish.


“Sungguh pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya, kedua peserta saling membantu satu sama lain juga saling merelakan kemenangan mereka masing-masing” ucap pembawa acara memeriahkan “Karena juri juga tidak tahu siapa yang harusnya menang, maka kita langsung tanyakan saja kepada Kapten kita yang terhormat, Kapten Rin! Silahkan keputusan anda!”


Kamera mengarah ke arah Kapten Rin dan menayangkannya di monitor.


“Bukankah sudah terlihat? Walaupun memang Tim Elang melanggar aturan terlebih dahulu dengan memasuki arena peserta lainnya, namun itu dia lakukan demi menolong salah satu prajurit terbaik kita dan juga, Mei juga membalas bantuan dari Tim Elang dengan mengantarkannya menuju kemenangan, oleh karena itu, pertandingan ini dimenangkan oleh Tim Elang” jawab Kapten Rin tersenyum penuh dengan semangat.


“Kapten sudah mengumumkannya, pemenangnya adalah Wahyu dari Tim Elang!” setelah pembawa acara mengumumkan pemenangnya, seluruh penonton bersorak dengan keras membuat suasana di arena menjadi bersemangat lagi. “Dengan ini, skor kedua pihak menjadi sama, pertandingan selanjutnya akan menjadi penentunya, tapi sebelum itu, kedua pihak dipersilahkan untuk istirahat sejenak dikarenakan kejadian yang tidak terduga barusan, penonton juga silahkan istirahat sejenak, kalian bisa berbincang dengan orang disamping kalian, pergi ke toilet, atau juga makan dan minum dari persediaan yang sudah disiapkan! Saya sebagai pembawa acara akan undur diri sejenak”


Setelah pembawa acara menyampaikan pengumuman itu, semua orang berpencar melakukan kegiatan mereka masing-masing. Pada saat yang sama Mei dan Wahyu sudah sampai di ruang tunggu dimana Wahidyn, Septian, dan Ryu menunggu mereka. Wahidyn dan Septian langsung membantu Wahyu untuk duduk.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Wahidyn sedikit cemas.


“Yah, seperti biasanya, tidak baik” jawab Wahyu tertawa berharap candaannya dapat meringankan suasana.


“Yah, jika kau bisa bercanda, berarti tidak separah itu” ucap Septian lega.


Melihat Tim Elang bercanda mengenai keadaan Wahyu, Mei merasa harus meminta ma’af kepada Wahyu.

__ADS_1


“Tolong ma’afkan aku!” ucap Mei yang membungkuk untuk meminta ma’af “Karena kecerobohanku dalam pertandingan, kau mengalami cedera karena menyelamatkanku”


Wahyu, Wahidyn, dan Septian yang melihat itu terkejut dan terdiam. Melihat Mei yang sejak awal orangnya tegas dan keras, sedang meminta ma’af sampai membungkukkan badannya.


“Ah,kau tidak perlu sampai membungkuk seperti itu”ucap Wahyu merasa tidak enak membuat Mei membungkuk kepadanya. ”Lagipula aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan, karena tidak mungkin kan aku membiarkan tangan kanan seorang Kapten terluka atau lebih buruknya lagi meninggal hanya karena suatu pertandingan” sekali lagi Wahyu mencoba menenangkan suasana dengan sedikit bercanda. Namun Mei masih tetap membungkuk.


Wahyu menghela nafas dan mulaimenjawab dengan serius “Aku mema’afkanmu, walaupun memang benar aku terlukan karena menyelamatkanmu, tapi Lukaku ini hanyalah luka sebelumnya yang masih belum sembuh total, jadi Lukaku ini tidak sepenuhnya disebabkan olehmu” jawab Wahyu menjelaskan. “Jadi tolong jangan membungkuk padaku, jika kau ingin minta ma’af ucapkan saja dan ulurkan tanganmu”


Mei kemudian mendekat ke Wahyu dan mengulurkan tangannya untuk meminta ma’af, Wahyu langsung menjabat tangan Mei.


“Dengan ini kau tidak perlu merasa bersalah atau berhutang apapun padaku” ucap Wahyu “Kalian juga, jangan merasa dendam atau tidak terima dengan apa yang terjadi oke?” sambung Wahyu sambil menolehke arah Septian dan Wahidyn.


“Iya, aku sudah tahu kau akan mengatakan hal seperti itu”jawab Wahidyn.


“Yah, jika kau bilang sudah tidak apa-apa, ya aku mengikuti saja” jawab Septian.


Suasana di ruang tunggu mulai menjadi normal dan tenang.


“Sekali lagi, terima kasihtelah menolongku, jika ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya, aku akan melakukan apapun” ucap Mei kepada Wahyu.


Setelah memikirkan perkataannya kembali, Mei sadar dengan apa yang dia ucapkan dan mukanya langsung memerah.


“B-bukan itu maksudku!” Mei berteriak karena panik.


“Sepertinya aku tidak perlu khawatir dengan adanya pertikaian disini” sebuah suara yang penuh dengan charisma menarik perhatian semua yang ada di dalam ruang tunggu. Di pintu ruang tunggu, Kapten Rin sudah berdiri tegap dengan Dani di belakangnya. Dani langsung berlari menghampiri Wahyuuntukmelihat keadaannya.


“Oy, Yu, kau tidak apa-apa?” tanya Dani khawatir.


“Oh iya aku tidak apa-apa” ucap Wahyu tersenyum “Ya tidak lah! Aku baru saja menendang kaca anti peluru dan berayun untuk menolong orang dan mendarat dengan kakiku yang terluka tahu, pertanyaan macam apa itu?!” sambung Wahyu kesal.


“Ya, ma’af, kan aku cuma tanya” ucap Dani.


“Iya aku tahu, aku juga bercanda” jawab Wahyu.

__ADS_1


“Kalian benar-benar Tim yang unik” ucapan Kapten Rin mengingatkan Tim elang tentang keberadaannya yang juga ada di ruangan itu. Kapten Rin kemudian mendekati Wahyu.


“Aku ucapkan rasa terima kasihku, Wahyu” ucap Kapten Rin “Kau telah menyelamatkan tangan kananku yang berharga” dengan nada yang serius Kapten Rin berterima kasih kepada Wahyu.


“Mendapat ucapan terima kasih dari seorang Kapten adalah sebuah kehormatan, aku juga berterima kasih karena memberikan poin kemenangannya kepadaku” jawab Wahyu.


“Aku tidak sedingin itu untuk tidak memberikan hadiah yang pantas untuk orang yang membiarkan dirinya terlukan untuk menolong orang lain” balas Kapten Rin. ”Tapi, tetap saja, sebuah nyawa adalah harga yang sangat besar, jadi jika kau memerlukan apapun, apapun itu aku akan memberikannya padamu”


“Kalian ini terlalu memikirkan balas budi, yang kulakukan tadi hanyalah kewajibanku sebagai seorang rekan yang memiliki musuh yang sama dan juga kehilangan asset berharga seperti Mei akan berdampak besar kepada negara ini bukan? Aku hanya melakukan apa yang terbaik bagi semuanya” jawab Wahyu.


“Kau memang orang yang bijaksana, aku jadi lebih menginginkanmu” ucap Kapten Rin.


“Tunggu sebentar, jika kau mau memberikan apapun yang kami mau, bagaimana kalau membatalkan turnamennya saja” usul Dani.


“Jangan salah paham, yang kuberikan janji hanyalah Wahyu yang telah menyelamatkan Mei, bukan keseluruhan Tim Elang” jawab Kapten Rin ”Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha untuk mendapatkannya”


Mendengar hal itu, Dani tidak bisa membantah dan hanya diam dengan ekspresi kesal.


“Untuk membuktikan ucapanku, aku akan mengerahkan petugas medis terbaik untuk merawat lukamu” ucap Kapten Rin.


“Ah, itu tidak usah, bisakah kau panggilkan Blue saja” pinta Wahyu.


“Jadi benar kau yang meminta Blue dan Red untuk melatih Dani” ucap Kapten Rin.


“Bukankah sudah jelas? Mereka dulunya juga adalah tentara Negara Indonesia” jawab Wahyu santai. Kapten Rin terdiam mendengar jawaban Wahyu dan setelah beberapa detik dia tersenyum kecil.


“Baiklah, aku akan memanggilkan dia untukmu, tapi untuk lebih amannya, aku sarankan untuk ke ruang medis, Mei akan membawamu kesana” ucap Kapten Rin yang kemudian menghampiri Mei “Kuserahkan dia padamu, tolong rawat dia dengan baik” perintah Kapten Rin kepada Mei.


“Baik!” balas Mei tegas.


“Baiklah, aku juga perlu mempersiapkan diriku untuk pertandingan berikutnya” ucap Kapten Rin “Aku menantikannya, Dani”


Kapten Rin kemudian keluar dari ruangan meninggalkan Dani yang merasa kesal dengan ucapannya diikuti dengan Ryu yang juga meninggalkan ruangan.

__ADS_1


“Hei” sebuah tepukan mendarat di pundak Dani yang ternyata adalah tangan Wahyu “Kendalikan emosimu, selama kau ingat rencana dan pelatihan kita, aku bisa menjamin kemenanganmu” ucap Wahyu.


__ADS_2