Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Deal 22-3


__ADS_3

Nana langsung melangkah mendekati tubuh Septian dengna cepat, dia bernit untuk mengakhiri pertandingan ini secepatnya. Nana mengincar tangan Septian untuk menjatuhkan senjatanya dan menjatuhkannya setelahnya. Rencana Nana berhasil, Nana memukul tangan Septian dengan pedangnya cukup keras sampai pedang kayunya jatuh, namun yang tidak Nana pikirkan adalah, wajah Septian yang tidak terkejut sama sekali, malahan dia tersenyum seperti sudah menduga serangan Nana. Septian langsung menangkap kedua pundak Nana dan langsung mendorongnya jatuh ke lantai. Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga membuat semua yang melihatnya terdiam melihat Nana yang sudah tergeletak di lantai.


“Pemenangnya Septian” ucap Misuzu sambil mengarahkan lengannya ke sisi Septian yang menandakan Septian memenangkan pertandingannya.


Septian langsung berdiri dan merasa bangga “Oke! Aku menang!” ucap Septian keras “Tidak kusangka ide gilaku berhasil” sambungnya.


Septian melihat ke sekelilingnya dan baru sadar kalau hanya dirinya saja yang merasa senang, sedangkan yang lainnya masih terdiam karena masih terkejut. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya semua yang ada di ruang latihan itu sadar dan langsung bersorak. Hal itu membuat Septian kaget, terlebih lagi tepat setelah sorakan itu dimulai, Kenta langsung melompat dan merangkul Septian sejenak lalu mengangkat tangan kanan Septian sebagai tanda pemenang.


“Kau hebat sekali, baru kali ini aku melihat Tuan Putri terlentang di lantai” ucap Kenta tersenyum lebar “Walaupun awalnya kau terlihat aneh, tidak kusangka kau bisa menang secepat itu”


“Itu tidak sehebat yang kau pikirkan, aku hanya berfikir kemungkinan besar Nana akan mencoba untuk melepaskan senjataku agar aku tidak bisa melawan balik, tapi karena pertandingannya tidak menyebutkan aturan untuk hanya menggunakan pedang, jadi aku menjatuhkannya dengan tangan saja” jawab Septian menjelaskan. Semua orang yang mendengar ucapan Septian merasa tidak percaya dengan ucapannya, namun bukti yang baru saja mereka lihat adalah kenyataan.


“Tidak salah Kapten Yukio mengangkatmu menjadi Wakil dari Tuan Putri” ucap Kenta.


Nana yang sudah menyadari kekalahannya itu berdiri dan berjalan mendekati Septian. Melihat Nana yang sedikit kesal mendekati Septian dan Kenta, Kenta menjauh agar tidak dimarahi.


“Baiklah, kau menang, apa yang ingin kau tanyakan?” ucap Nana kesal.


“Oh iya, aku hampir lupa” jawab Septian “Kalau begitu, ceritakan kenapa kau membenci Wahyu?” tanya Septian.

__ADS_1


“Bukankah itu sudah jelas, itu karena dia membunuh Ibuku” jawab Nana.


“Hmm” gumam Septian mengerutkan dahinya “Itu bukanlah jawaban dari pertanyaanku” ucap Septian.


“Apa maksudmu? Aku sudah menjawabnya” balas Nana kesal.


“Aku bilang ceritakan, jadi kau harus menceritakan awalnya sampai akhir” jawab Septian sambil tersenyum. Nana yang mendengar itu semakin kesal dan kekesalannya itu sangat terlihat di wajahnya.


“Kau mempermainkanku ya?” tanya Nana sambil menahan amarahnya.


“Apa maksudmu? Aku kan hanya bertanya, sesuai dengan perjanjian kita, satu kemenangan, satu pertanyaan” jawab Septian tanpa rasa bersalah sedikitpun. Nana sudah tidak tahan lagi, dia sangat ingin memarahi Septian dengan seluruh tenaganya, namun karena dia sendiri yang menyetujui perjanjian itu, Nana tidak berhak untuk memarahi Septian. Nana akhirnya mengambil nafas besar untuk menenangkan dirinya.


“Nah, begitu kan lebih baik, kau terlihat lebih cantik saat tidak marah-marah” ucap Septian menggoda Nana. Septian mencoba untuk memperdekat hubungan mereka agar tidak terlalu canggung, namun yang terjadi malah sebaliknya, Nana merasa kesal terhadap perilaku Septian.


Septian dan Nana kemudian pergi menuju ruang istirahat dan duduk di atas bantal duduk yang disediakan. Nana menuangkan teh ke cangkir untuknya sendiri dan untuk Septian.


“Jadi kau ingin aku mulai dari mana?” tanya Nana.


“Aku tidak mau memaksa, tapi kalau bisa dari kejadian kebakaran itu” jawab Septian.

__ADS_1


“Baiklah, aku tidak terlalu tahu karena aku tidak ada di tempat kejadian saat kebakaran itu terjadi” Nana mulai menjelaskan “Aku sedang ada di sekolah saat itu terjadi, di saat aku pulang, aku melihat asap tebal yang berasal dari arah rumahku, merasa ingin tahu, aku mempercepat jalanku menuju asap itu, semakin dekat aku dengan sumber asap itu, aku menjadi khawatir, karena asap itu terlihat keluar dari arah rumahku, aku pun mulai berlari sampai akhirnya aku melihat rumahku sudah dipenuhi oleh api yang membara, aku mencoba masuk, tapi petugas pemadam kebakaran melarangku untuk mendekat, aku berkali-kali menanyakan tentang ibu dan adikku, tapi tidak ada yang menjawabnya, lalu saat itu pamanku muncul dan mengatakan apa yang terjadi padaku” Nana berhenti sejenak dan meminum tehnya “Dia bilang kalau ada seorang mata-mata yang menyelinap masuk untuk mencuri dokumen penting, lalu ibuku bertemu dengan mata-mata itu, takut identitasnya terbongkar, mata-mata itu membunuh ibu dan membakar rumah untuk menghapus jejaknya”


Mendengar cerita tragis itu, Septian mulai merasa tidak enak karena menanyakan hal itu.


“Tapi bukan itu saja, pada saat itu, adikku juga ada di rumah itu, dia sedang sakit, semua orang mengatakan kalau dia juga ikut terbakar dalam kebakaran itu, tapi anehnya tidak ada yang menemukan tubuhnya” sambung Nana “Setelah memikirkannya lagi, aku menduga adikku telah diculik oleh mata-mata itu dan entah apa yang mata-mata itu lakukan padanya, akhirnya aku mulai belajar, berlatih, dan meningkatkan kemampuanku sampai akhirnya aku diperbolehkan ayahku untuk ikut menyelidiki kasus itu dan akhirnya ayah dan pamanku berhasil memulihkan rekaman CCTV pada saat ibuku dibunuh oleh seorang laki-laki seumuranku dengan rambut hitam dengan warna abu-abu di ujung rambutnya, dia menodongkan pistolnya ke arah ibuku dan menembaknya tanpa ragu-ragu, setelah itu dia menembakkan beberapa tembakan lagi untuk memastikan ibuku benar-benar mati” suara Nana mulai pecah dan wajahnya menunjukkan emosi kemarahan yang besar “Setelah diselidiki lagi, mata-mata itu adalah salah satu anggota dari COLORED, pasukan khusus yang dibentuk oleh pemerintahan Indonesia untuk mencari kelemahan negara lain untuk jaminan agar negara mereka tidak diserang”


“Apakah kau membenci Negara kami?” tanya Septian merasa tidak enak.


“Tidak, aku tidak membenci negara kalian, negara kita berdua memiliki hubungan yang netral dan tidak ada kejadian yang merugikan satu sama lain lagi” jawab Nana “Yang kubenci hanyalah orang yang membunuh Ibuku dan akhirnya aku menemukannya, temanmu yang kau panggil Wahyu itu, aku sangat yakin, postur tubuhnya, rambutnya, tatapan matanya, semuanya persis dengan orang yang membunuh ibuku” sekali lagi suara Nana menjadi tinggi dan menunjukkan emosinya “Namun di saat aku memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam ibuku, aku dikalahkan dengan sangat mudah, terlebih lagi dia masih sempat menceramahiku tentang pengendalian emosi, aku merasa sangat dipermalukan!” Nana memukul meja yang ada di depannya dengan cukup keras.


Septian semakin merasa bersalah, namun jika dia ingin membersihkan nama Ketua Tim sekaligus temannya itu, dia harus mencari semua informasi yang ada.


“Karena itu, Septian” mendengar namanya disebut, Septian langsung kaget “Aku butuh kau untuk memberitahukan kelemahannya” ucap Nana sambil menunjuk ke Septian.


Setelah itu, Septian mulai memikirkan kalimat Wahyu dan setuju kalau Nana terlalu terobsesi dengan dendamnya.


“Bodo amat lah, lakukan saja” ucap Septian di kepalanya.


“Yah, jika kau ingin bantuanku, kita teruskan perjanjian kita, satu kemenangan, satu pertanyaan” jawab Septian percaya diri.

__ADS_1


“Memang itu yang kuinginkan, yang selanjutnya aku tidak akan kalah” balas Nana yang kemudian meminum tehnya lagi untuk menenangkan dirinya, Septian juga ikut meminum tehnya untuk merileksasikan tubuhnya.


__ADS_2