Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
The Duel 11-2


__ADS_3

“Lihatlah ini! Sebuah kejadian yang tidak pernah kita bayangkan terjadi!” ucap pembawa acara yang heboh “Seorang Sniper meletakkan senjatanya dan memilih untuk bertarung dengan tangan kosong”


Seluruh penonton ikut heboh dengan sorakan mereka.


“Aku tidak tahu antara kau sudah pasrah atau mencoba berjudi dengan keberuntunganmu, tapi yang kau lakukan adalah sebuah kesalahan” ucap Kapten Rin.


“Jika kau mengatakannya seperti itu, mari kita lihat siapa yang memiliki keberuntungan paling tinggi” jawab Dani dengan penuh percaya diri.


Melihat Dani yang tidak terlihat ragu sama sekali, membuat Kapten Rin bersemangat, karena sudah sangat lama dia tidak bertarung dengan orang yang tidak takut kepadanya. Kapten Rin mengambil Sniper Rifle yang dia pukul tadi dan melemparkannya ke atas hingga tersangkut di langit-langit arena.


“Agar tidak mengganggu pergerakan ku” ucap Kapten Rin menjelaskan alasan dia membuang Sniper Rifle milik Dani. Dani yang melihat itu, ikut menoleh ke mana Sniper Riflenya itu tersangkut, kemudian kembali melihat ke arah Kapten Rin


Kapten Rin kemudian berjalan dengan gagah mendekati Dani memberikan sedikit tekanan kepada Dani.


“Mari kita lihat, berapa lama kau mampu bertahan” ucap Kapten Rin.


Ketegangan muncul di antara mereka berdua. Setelah beberapa detik, Kapten Rin melakukan serangan pertama dengan meluncurkan pukulan kearah dada Dani, untungnya Dani dapat menghindar dengan melompat sedikit ke belakang.


“Bagus, kau memiliki respon yang lebih cepat dari pada saat pertama kita bertemu” ucap Kapten Rin mencoba untuk menarik respon dari Dani, namun Dani tidak menjawab dan terus fokus kepada setiap pergerakan Kapten Rin, melihatitu, wajah Kapten Rin berubah menjadi serius.


Kapten Rin melanjutkan serangannya dan terus meluncurkan pukulan yang mengarah ke titik penting yang ada di tubuh seorang manusia, namun Dani dapat menghindari semua serangan Kapten Rin dengan usaha yang sangat keras. 3 menit berlalu dan mereka berdua tetap berada di situasi yang sama, Kapten Rinterus mencoba mencari celah untuk mendaratkan pukulannya, namun Dani terus berusaha keras untuk menghindar dan membuat jarak. Hal itu terus berulang hingga akhirnya membakar habis kesabaran Kapten Rin.


“Cukup!” teriak Kapten Rin yang membuat seluruh arena terdiam “Aku kesini untuk bertarung, bukan untuk bermain permainan menghindar”.


Kapten Rin kemudian mengambil kuda-kuda.


“Ini dia” ucap Dani yang sepertinya sudah menanti gerakan Kapten Rin selanjutnya.


Kapten Rin kemudian mengeluarkan niat membunuhnya setiap gerakan tubuhnya dan tatapannya terlihat seperti seekor harimau yang sudah mengunci mangsanya, wajahnya yang serius dan marah itu menambahkan efek intimidasi yang lebih kuat. Seluruh penonton yang melihat itu bahkan juga merasa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.


Di sisi lain, di ruang tunggu dimana Septian dan Wahidyn berada.


“Hei, kau juga merasakannya kan?” tanya Septian yang mulai berkeringat.


“Iya, bahkan aku yang tidak memperdulikan provokasi atau ancaman dari orangpun bisa merasakannya hanya dengan melihatnya” jawab Wahidyn.


“Itu adalah niat membunuh yang sangat besar” ucap Septian dan Wahidyn bersamaan.

__ADS_1


“Apa yang Dani lakukan hingga membuat Kapten Rin seperti itu?” tanya Septian.


“Itu bukan karena apa yang Dani lakukan” sebuah suara munculdari belakang Septian dan Wahidyn yang membuat mereka terkejut dan secara spontan menoleh ke belakang.


“Ah ma’af, aku Red, Ketua Tim kalian menyuruhku untuk memberitahu kalian untuk datang keruangannya kalau bisa” suara itu ternyata berasal dari Red yang tiba-tiba sudah ada di belakang Septian dan Wahidyn.


“Ah, tidak apa-apa, kami juga terlalu fokus ke pertandingan hingga tidak sadar kalau ada orang yang masuk” jawab Septian.


“Ma’af, tapi apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Wahidyn penasaran dengan kalimat Red tadi.


“Yang dilakukan Kapten Rin itu adalah Teknik yang digunakan untuk mengakhiri sebuah pertarungan” jawab Red menjelaskan dengan penjelasan sesederhana mungkin “Dengan menunjukkan kemampuan terbaikmu, kau bisa menunjukkan kepada lawan seberapa besar perbandingan kekuatanmu dengan lawanmu dan pada saat yang sama mengirimkan sedikit demi sedikit rasa ketakutan yang akan membuat lawanmu ragu dalam membuat keputusan, tapi . . .” Red berhenti sejenak “Sepertinya Dani sudah menyiapkan rencananya sendiri”  sambung Red tersenyum.


Septian dan Wahidyn sedikit mengerti dan sedikit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Red, namun mereka memahami kalau Dani sepertinya sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi situasi yang dia hadapi.


Kembali ke arena, Kapten Rin mendekat selangkah demi selangkah terus mengeluarkan aura yang menekan seluruh arena, namun Dani tetap tenang dan fokus kepada Kapten Rin.


“Baiklah, ini dia” gumam Dani yang kemudian memusatkan seluruh konsentrasinya kepada matanya. Dani mengerahkan seluruh energi dan konsentrasinya untuk satu saat penentuan ini.


Setelah jarak mereka berdua sudah sangat dekat, Kapten Rin yang memiliki tinggi badan lebih tinggi dari Dani, memandang ke bawah bertatapan dengan kedua mata Daniyang penuh dengan fokus.


“Apakah kau masih bisa menghindar?” ucap Kapten Rin yang kemudian bersiap untuk memukul Dani.


Dani melihat kedua tangannya yang langsung bergetar setelah menerima pukulan itu, namun Dani sudah memperkirakan hal itu.


“Bahu adalah tempat penyaluran energi dan kekuatan yang berasal dari perintah otak ke kepalan tangan, jadi jika kau berhasil menembak bahunya sekali saja, maka pukulan yang meluncur dari tangan ituakan melemah” ucapan Wahyu kembali muncul di kepala Dani.


“Sial, satu pukulan yang melemah saja sudah sesakit ini” gumam Dani “Tapi, ini sudah menjadi kemenanganku”


Dani kembali memfokuskan pandangannya ke Kapten Rin yang sudah bersiap untuk melanjutkan serangannya. seperti sebelumnya Dani menghindari pukulan Kapten Rin, namun kali ini dikarenakan konsentrasi Kapten Rin yang terfokus pada intimidasinya membuat reaksi tubuh Kapten Rin sedikit melambat sehingga Dani akhirnya melakukan serangan balik dengan menendang tubuh Kapten Rin dengan sekuat tenaga. Kapten Rin tersentak dan mundur kebelakan 2 langkah karena tendangan Dani, dia terkejut karena Dani bisa melakukan pergerakan seperti itu di bawah intimidasinya. Tanpa melewatkan kesempatan, Dani berlari dan mengambil kembali Sniper Riflenya dan langsung menembak bahu Kapten Rin yang lainnya. Karena shock, Kapten Rin tidak sempat menghindari tembakan Dani.


Kedua bahu Kapten Rin sudah tertembak, walaupun bukan luka parah, namun itu cukup untuk melemahkan kekuatan lengan Kapten Rin. Kapten Rin kesal dan akhirnya melepaskan intimidasinya, kali ini dia tidak akan menahan diri lagi. Kapten Rin berlari mendekati Dani dan meluncurkan sebuah pukulanlurus ke kepala Dani, tapi Dani membalas serangan Kapten Rin dengan melakukan sliding kebawah pukulannya dan menembak ke atas berharap tembakannya mengenai Kapten Rin, namun Kapten Rin yang sudah tidak mengeluarkan aura intimidasinya langsung bisa menghindari tembakan itu dan langsung memukul me arah bawah. Tidak ada waktu untukmenghindar, Dani menempatkan Sniper Riflenya di antara pukulan Kapten Rin dan dirinya. Dani terkunci di tanah karena pukulan beruntun yang diluncurkan oleh Kapten Rin, walaupun Dani bisa menahannya dengan Sniper Riflenya, pukulan Kapten Rin masih terasa.


“Sepertinya kau sangat suka sekali dengan senjatamu, kalau begitu biar senjatamu itu lah yang akan membuatmu kalah” ucap Kapten Rin yang kemudian memegang senjata Dani dan mendorongnya ke arah leher Dani untuk membuatnya pingsan. Menyadari hal itu, Dani langsung memposisikan kedua tangannya sebagai tumpuan untuk menahan dorongan dari Kapten Rin, namun bahkan dengan kekuatan rumus fisika, kekuatan alami Kapten Rin sangatlah kuat dan sedikit demi sedikit mendorong mundur tangan Dani.


“Apa ada kata-kata terakhir sebelum kau kehilangan kesadaranmu?” tanya Kapten Rin yang sudah merasa dia akan menang. Dani yang sulit berbicara karena lehernya tertekan itu mengeluarkan beberapa kata.


“Kau . . .lupa. . sesuatu” dengan seluruh tenaganya Dani mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Ucapan Dani membuat Kapten Rin bingung, yang mana setelah itu sesuatu menghantam kepala Kapten Rin dan membuatnya menutup mata dan membuat genggaman tangannya melonggar. Dani langsung menggunakan momentum itu untuk menendang perut Kapten Rin dengan lutut kaki Dani dan membalikkan keadaan dimana kali ini Kapten Rin yang terbaring di tanah, setelah Kapten Rin membuka matanya di hadapannya sudah ada laras senjata yang mengarah ke kepalanya dan satu lagi yang mengarah kejantungnya dan di balik laras itu adalah Dani yang kembali memegang kedua Sniper Riflenya dan menatap Kapten Rin dengan tajam.


“Satu pergerakan saja dan aku bisa membuat kehilangan kesadaran” ucap Dani “Menyerahlah”


Kapten Rin tidak ingin mengakuinya, namun dia tidak bisa berkutik lagi, kedua tangannya telah tertindih kaki Dani dan karena berat tubuh Dani, Kapten Rin membutuhkan bantuan lebih dari kedua kakinya untuk bangun.


“Kau tahu aku bisa saja membuatmu jatuh hanya dengan menggerakkan badanku kan?”ucap Kapten Rin.


“Iya, tapi jika ini adalah peluru asli, satu gerakan darimu dan nyawamu yang akan jadi bayarannya” jawab Dani mengancam.


Mendengar hal itu, wajah Kapten Rin langsung pasrah.


“Baiklah, kau menang” ucap Kapten Rin “Aku menyerah, aku mengakui kekalahanku” sambung Kapten Rin dengan nada tinggi.


Seluruh penonton terdiam utnuk memproses apa yang baru saja terjadi, namun pembawa acara memecah situasi itu.


“Tidak disangka-sangka! Sebuah kejadian yang sangat mengagetkan terjadi, setelah pertarungan yang sangat mendebarkan, jatuhnya senjata peserta Dani membalikkan keadaan dan memberikan kemenangan kepadanya!” penejlasan dari pembawa acara itu membuat penonton mengerti dan langsung bersorak.


Dani yang mengharapkan cercaan atau ketidak puasan dari penonton terkejut dengan reaksi penonton.


“Kau sudah menang, bisakah kau tidak terus menindihku” ucap Kapten Rin santai. Menyadari posisi mereka berdua, Dani langsung berdiri dan diikuti dengan Kapten Rin yang juga berdiri.


“Apa kau mengira penonton akan membantah kemenanganmu?” tanya Kapten Rin.


“Begitulah, maksudku ada orang asing yang baru saja mengalahkan Kapten Negara mereka, kukira akan ada yang tidak menerimanya dengan baik” jawab Dan.


“Kami bukanlah negara pengecut, pemenang adalah pemenang, yang kalah harus menerima kekalahannya” Kapten Rin kemudian mendekati Dani dan mengangkat tangan kanannya “Lihatlah! Pemenang pertandingan ini, Dani dari Tim Elang” teriak Kapten Rin kepada seluruh penonton. Sekali lagi sorakan meriah dari arah penonton terdengar dan memeriahkan suasana.


“Selamat kepadamu, kau adalah pemenang dari pertandingan ini, sesuai janjiku, aku akan melepaskan keinginanku untuk merekrut Ketua Timmu” ucap Kapten Rin dengan tersenyum penuh percaya diri. Mendegar hal itu, Dani langsung merasa lemas dan lega.


“Akhirnya, semuanya berakhir” ucap Dani.


Di saat Dani duduk di tanah karena merasa lemas, komunikator milik Dani tiba-tiba menyala sendiri.


“Ma’af mengganggu kemenanganmu, tapi ini belum berakhir” ucap Wahyu dari komunikator itu.


Setelah ucapan Wahyu itu, tiba-tiba sebuah alarm terpicu dan mengeluarkan suara yang sangat keras dan darimonitor arena keluar gambar sebuah prajurit yang terlihat panik.

__ADS_1


“Peringatan! Gerbang shelter baru saja diserang oleh benda yang tidak diketahui dan juga terlihat banyak zombie yang berjalan menuju ke arah gerbang shelter!” ucap prajurit itu.


__ADS_2