
Beberapa hari sebelum Dani sadar.
“Ini aneh, sejak saat itu, aku terus memikirkan hal itu” Kapten Rin sedang bergumam sendiri di ruangannya setelah menyelesaikan dokumen yang ada di mejanya. Di saat Kapten Rin sedang tenggelam di dalam pikirannya, Mei memasuki ruangannya.
“Kapten, saya mau ijin untuk menjenguk Wahyu” ucap Mei meminta ijin sambil menaruh beberapa dokumen yang dia bawa.
“Ah iya” jawab Kapten Rin yang masih berpikir. Di saat Mei sudah menaruh semua dokumen yang dia bawa dan hendak keluar ruangan, Kapten Rin meminta sesuatu kepada Mei.
“Tunggu sebentar Mei, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku” ucap Kapten Rin menghentikan langkah Mei.
“Baik, jika ada yang bisa saya lakukan, akan saya lakukan” jawab Mei.
“Bisakah kau panggil namaku tanpa jabatanku” ucap Kapten Rin dengan serius. Mei yang mendengarnya merasa bingung dengan permintaan Kaptennya itu.
“Maksudnya memanggil Kapten seperti saya memanggil Ryu?” ucap Mei memastikan.
“Iya, bisa kau lakukan itu?” jawab Kapten Rin.
“Jika itu yang Kapten inginkan” Mei kemudian menghadap ke Kapten Rin “Selamat siang, Rin” ucap Mei memberikan salam. Setelah itu muncul keheningan untuk beberapa saat.
“Apakah itu sudah cukup, Kapten?” tanya Mei. Kapten Rin memikirkan sesuatu untuk beberapa saat sebelum menjawab Mei.
“Entah kenapa terasa berbeda” ucap Kapten Rin.
“Ma’af jika lancang, tapi apa Kapten mengalami suatu masalah” tanya Mei.
“Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku kepikiran beberapa hari ini” jawab Kapten Rin.
“Apakah ini ada kaitannya dengan zombie Butcher?” tanya Mei lagi.
“Lebih tepatnya dengan apa yang terjadi saat menit-menit terakhir di pertarungan itu” jawab Kapten Rin yang berdiri dari tempat duduknya “Kau ingat dengan apa yang dikatakan Dani saat aku menawarkan diri untuk melindunginya dari serangan Butcher”
“Iya, kalau tidak salah dia bilang kalau dia akan memusatkan fokusnya kepada Butcher jadi mungkin dia akan sedikit tidak sopan kepada anda” jawab Mei sambil mengingat kembali kejadian yang dimaksud.
__ADS_1
“Iya, pada saat pertengahan, aku sempat hampir terkena serangan dari Butcher, tapi untungnya Dani menyelamatkanku” Kapten Rin berjalan mendekati jendela ruangannya “Dan pada saat itu, Dani memanggilku tanpa menggunakan jabatanku”
Mei mendekat untuk melihat wajah Kapten Rin “Lalu, apa yang menjadi masalah?” tanya Mei.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat itu aku hanya bisa melihat wajahnya yang terlihat penuh dengan konsentrasi yang tinggi dan saat dia melirikku sesaat untuk memastikan keadaanku, aku merasa sesuatu menekan dadaku, aku tidak tahu apa itu, tapi hal itu membuatku tidak bisa bergerak dan pikiranku terpaku kepada wajah dan ucapan Dani saat itu” jawab Kapten Rin menjelaskan apa yang ada di pikirannya sejak saat itu. Mei yang mendengarkan apa yang baru saja diceritakan oleh Kaptennya itu terkejut.
“Eh! Tunggu apa itu benar-benar terjadi?” ucap Mei tidak mau mempercayai apa yang baru saja dia dengar “Apakah Kapten benar-benar bisa merasakan sesuatu seperti itu?!” suara Mei semakin tinggi karena informasi yang baru saja masuk ke telinganya.
Kapten Rin menoleh ke arah Mei dan melihatnya sedang menempatkan kedua tangannya di kepalanya “Ada apa Mei? Apa kau pusing?” tanya Kapten Rin khawatir. Mendengar ucapan Kapten Rin, mei langsung melihat ke arah Kapten Rin.
“Begini Kapten, aku akan menjelaskannya secara singkat dan mudah dimengerti, tapi untuk selanjutnya, Kapten sendiri yang harus memahaminya” Mei mendekat ke Kapten Rin “Ini hanya menurutku saja dan didasarkan dengan apa yang Kapten baru saja katakan” Mei mengambil nafas panjang “Yang Kapten rasakan itu adalah rasa suka” ucap Mei serius.
“Suka? Maksudmu seperti aku menyukaimu dan Ryu?” tanya Kapten Rin.
“Bukan, ini rasa suka kepada lawan jenis” jawab Mei.
“Aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan lagi” ucap Kapten Rin kebingungan.
“Aku punya ide!” ucap Mei dengan nada tinggi “Kapten ajak saja Dani kencan” ucap Mei memberikan usulan.
“Kencan? Apa itu” tanya Kapten Rin semakin bingung.
“Intinya ajak saja Dani jalan-jalan, Kapten bisa mengajaknya jalan-jalan ke sekitar kota atau menghabiskan waktu untuk berbicara satu sama lain” jawab Mei “Dan jika Kapten merasakan perasaan yang sama seperti saat itu, itu artinya Kapten menyukainya, tapi jika tidak, maka yang Kapten rasakan saat itu hanyalah rasa kagum sesaat saja”
“Jalan-jalan ya, jadi kita bertiga hanya perlu melakukan patroli saja bukan?” tanya Kapten Rin memastikan.
“Tidak tidak, anggap saja kalau Kapten sedang libur dan ingin berisitrahat di kota dan juga saya tidak akan ikut, Kapten dan Dani harus berduaan saja, kalau tidak, maka akan sulit memastikan perasaan Kapten” jawab Mei.
“Berduaan ya” ucap Kapten Rin yang kemudian tenggelam ke dalam pikirannya. Kapten Rin membayangkan apa yang akan dia lakukan berduaan dengan Dani dan tanpa sadar membuat wajahnya tersenyum. Mei yang menyadari itu langsung merasa shock dan terdiam.
“Baiklah, aku akan mengajaknya saat dia sudah pulih” ucap Kapten Rin dengan tegas “Kalau begitu, aku akan melakukan patroli sekalian mencari tempat yang menarik” Kapten Rin dengan bersemangat berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Mei sendirian.
“Setelah melihat yang seperti itu, aku tidak bisa menyangkalnya lagi” ucap Mei. Mei menghela nafas kemudian berbalik melihat keluar pintu ruangan Kapten Rin “Aku akan mendukung semua keputusan anda, Kapten” ucap Mei yang kemudian berjalan keluar dari ruangan Kapten Rin.
__ADS_1
Hari dimana Dani diminta Kapten Rin untuk menemaninya tiba. Dani sedang bersiap untuk ke tempat yang ditentukan. Setelah berganti pakaian, Dani mencari cermin dan melihat penampilannya. Dani memutuskan untuk mengenakan jaket kulit berwarna hijau gelap dan celana jeans berwarna hitam.
“Yah, begini saja sudah cukup kan?” ucap Dani sambil bercermin. Di saat Dani sedang sibuk memperhatikan penampilannya, Septian mengagetinya dari belakang.
“Mau kemana kau memakai pakaian seperti itu?” ucap Septian dari belakang Dani. Dani langsung terkejut dan menoleh ke belakangnya.
“Kau ini! Mengagetkanku saja” ucap Dani kesal.
“Ma’af, cuma bercanda” ucap Septian meminta ma’af “Jadi, tumben sekali kau pakai pakaian rapi dan bagus seperti ini, mau kemana?”
“Kapten Rin menyuruhku untuk menemaninya hari ini, aku hanya tidak ingin kelihatan tidak sopan saja” jawab Dani.
“Hee, padahal keberadaanmu saja sudah tidak sopan” ucap Septian bercanda.
“Berisik, jadi bagaimana menurutmu?” balas Dani yang kemudian menunjukkan penampilannya.
“Yah, sudah lumayan sih, dari pada pakaian yang biasanya kau pakai” jawab Septian.
“Jika kau saja sudah menerimanya, berarti setidaknya ini sudah cukup normal” ucap Dani “Terima kasih Sep, aku keluar dulu, aku tidak ingin terlambat dan dimarahi nantinya” Dani pun langsung berlari keluar menuju tempat yang ditentukan Kapten Rin kemarin.
“Semoga beruntung kawan, aku mendukung kalian berdua!” teriak Septian.
Dani berlari menuju taman central yang letaknya di tengah kota. Dani melihat jam tangannya sesekali untuk memastikan dia tidak terlambat, setelah Dani sudah sampai di taman central, Dani langsung berhenti berlari dan berjalan sambil mencari tempat pertemuannya dengan Kapten Rin.
“Kalau tidak salah, dia bilang tepat di pusat taman yang artinya di tengahnya kan” Dani terus berjalan sambil melihat ke sekitar untuk mencari Kapten Rin sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan memanggilnya.
“Apa kau juga baru sampai? Dani?” sebuah suara yang tidak asing bagi Dani memanggilnya dan membuat Dani menoleh untuk melihat siapa itu dan di saat Dani berbalik dan melihat siapayang memanggilnya itu, Dani langsung terdiam terpesona dengan penampilan orang yang memanggilnya itu.
“Kapten Rin?” tanya Dani memastikan.
“Iya, kau kira siapa lagi?” jawab Kapten Rin santai.
Dani masih terpesona dan tidak bisa berkata-kata, penampilan Kapten Rin saat itu tidaklah seperti Kapten Rin yang biasanya.
__ADS_1