
Dikarenakan kejadian yang tidak terduga, Tim Elang beserta Red dan Blue, langsung mengemasi perlengkapan mereka dan berangkat mengikuti instruksi dari Wahyu. Mereka semua berlari secepatnya mengejar Kapten Rin dan Mei yang mengendarai sebuah mobil.
“Hey, Yu, apakah harus kita berlari seperti ini? Bagaimana kalau kita menarik zombie yang ada disekitar sini?” tanya Septian sambil berlari.
“Kapten Rin dan Mei tidak mengetahui mutasi dari Butcher, sangat berbahaya bagi mereka jika bertemu dengan Butcher sebelum kita” jawab Wahyu yang juga berlari.
“Tapi mereka menggunakan mobil bukan? Mereka bisa menghindar atau menjauh dari Butcher” tanya Septian lagi.
“Ma’af menyela” ucap Blue “Jika itu Kapten Rin, dia mungkin akan memilih untuk langsung melawan Butcher daripada lari”
“Kau dengar itu Sep?” ucap Wahyu menyindir “Keberadaan seorang Kapten sangatlah penting bagi negara saat ini, jika ada yang terjadi padanya apalagi terburuknya sampai gugur dalam pertempuran, Negara ini akan berada dalam keadaan yang buruk” mendengar penjelasan Wahyu membuat Septian mengerti kenapa mereka harus terburu-buru.
“Aku melihat sesuatu!” ucap Dani keras.
Tim Elang beserta Red dan Blue mulai mendekat dengan lokasi Kapten Rin dan Mei, mereka mulai mendengar suara tembakan dan suara benda-benda yang berjatuhan. Setelah beberapamenit berlari, mereka akhirnya bertemu dengan Kapten Rin dan Mei yang sedang berhadapan dengan Butcher.
“Kapten Rin! Mei!” teriak Wahyu. Mendengarkan suara Wahyu membuat Kapten Rin dan Mei menoleh ke arahnya “Sebelah sini!”.
Kapten Rin dan Mei langsung berlari menuju Wahyu dan yang lainnya sambil menghindari serangan dari Butcher yang sudah pulih. Akhirnya mereka semua sudah bertemu dan berkumpul.
“Apakah itu zombie mutasi yang kau laporkan dengan Mei? Dia terlihat lebih besar dari yang ada di gambar” ucap Kapten Rin.
“Zombie itu mengalami mutasi lagi, kini tubuhnya lebih besar dan ada kemungkinan dia sedang mengembangkan akalnya” jawab Wahyu tergesa-gesa “Untuk saat ini, tolong ikuti kami untuk- “ sebelum Wahyu menyelesaikan kalimatnya, usus Butcher menabrak bangunan di sebelah mereka dan membuatnya hancur. Tim Elang dan yang lainnya langsung menghindar dan membuat mereka terpisah oleh reruntuhandari bangunan itu. Dani bersama dengan Kapten Rin dan Mei, Septian bersama dengan Wahidyn dan Red, dan yang terakhir Blue dan Wahyu. Hal yang terjadi itu membuat semua rencana yang sudah dipikirkan Wahyu menjadi lebih berantakandan membuatnya kesal.
“Yu! Jangan khawatir, lakukan saja yang biasanya kau lakukan!” teriak Dani dari kejauhan.
“Belakangan ini aku terlalu sering dinasehati oleh teman-temanku” gumam Wahyu “Baiklah, jika keadaan memojokkanku terus, maka aku hanya harus terus mencari jalan keluar”
__ADS_1
“Sep! Dan! Kalian masih ingat peran kalian kan?! Tetap pada rencana awal dan terus aktifkan communicator kalian!” teriak Wahyu yang kemudian berpencar dari teman-temannya dan mulai menjalankan rencananya.
Seperti sebelumnya, Kelompok Wahyu akan menjadi pengalih perhatian, Kelompok Septian akan menjadi penyerang menggunakan senjata berat, dan Kelompok Dani akan menjadi Kelompok yang mengincar otak Butcher.
Mendekati Butcher yang mengamuk dan menghancurkan bangunan di sekitarnya, Wahyu dan Blue bersiap di belakang salah satu bangunan yang Butcher hancurkan.
“Ma’af membebanimu lagi saat si kasar sudah mengambil gilirannya, tapi apa kau masih bisa melakukannya? Blue?” tanya Wahyu kepada Blue yang berdiri disampingnya.
“Saya masih bisa melakukannya tiga kali lagi dan jika keadaan terburuk terjadi saya bisa melepaskan yang terakhir” jawab Blue dengan tegas.
“Bagus, lepaskan si pendiam” ucap Wahyu. Setelah mendengar perintah dari Wahyu, Blue sekali lagi mengambil nafas besar dan berkonsentrasi, setelah beberapa detik, Blue membuka kedua matanya dan menatap Wahyu.
“Pengamatan dan sumber informasi?” ucap Blue dengan nada datar. Sekali lagi Blue bersikap sedikit aneh, tapi tidak menjadi kasar seperti sebelumnya, saat ini dia terlihat lebih pendiam dan misterius.
“Iya, jangan sampai terdeteksi” balas Wahyu dengan tegas.
“Bahkan setelah selama ini, kau masih menginginkan imbalan” ucap Wahyu mengeluh “Jika kita selamat dari semua kekacauan ini, tidak masalah untukku” jawab Wahyu menyetujui permintaan Blue.
Blue terlihat bersemangat dan membuka resleting seragamnya. Wahyu membalikkan badannya agar tidak mengganggu Blue. Setelah resleting seragam Blue terbuka, Blue membalik seragamnya itu yang berubah menjadi sebuah jaket Hoodie. Blue menutup kembali resleting seragamnya dan memakai Hoodie jaketnya.
“Saya, berangkat” ucap Blue dengan nada datar. Jaket Blue kemudian mengeluarkan beberapa warna berbeda untuk beberapa saat sampai akhirnya sedikit demi sedikit membuat tubuh Blue berbaur dengan lingkungannya sampai tidak terlihat oleh mata.
“Aku sudah mengirimkan mataku, aku tidak boleh gagal” gumam Wahyu yang kemudian sekali lagi berlari menuju ke arah Butcher yang sedang mengamuk.
“Woy! sebelah sini!” teriak Wahyu yang sedang berlari lalu menembakkan dua peluru ke arah Butcher menggunakan pistol miliknya. Teriakan dan tembakan Wahyu membuat Butcher langsung menoleh ke arah Wahyu. Tanpa menunggu lama, Butcher langsung meluncurkan ususnya ke arah Wahyu dan tepat saat Butcher melakukan itu, sebuah suara terdengar dari telinga kiri Wahyu.
“Lompat ke kiri”
__ADS_1
Mendengar itu Wahyu langsung melompat ke kiri dan menghindari tabrakan usus Butcher yang melaju lebih cepat dari sebelumnya.
“Terima kasih Blue, terus pandu aku sampai bisa mendekatinya” ucap Wahyu. Suara yang didengar Wahyu adalah suara Blue yang memberikan arahan dari suatu tempat.
“Berguling ke depan, lari ke arah kiri, berlindung” ucap Blue melalui communicator.
Mengikuti arahan Blue, Wahyu langsung berguling ke depan dan tanpa dia sadari gerakannya itu menyelamatkan Wahyu dari serangan usus Butcher yang ditarik setelah gagal mengenai Wahyu. Wahyu kemudian berlari ke arah kiri dan melihat bangunan yang hancur, dia kemudian langsung berlindung didalamnya, yang ternyata bangunanitu ebrada di dalam titik buta pandangan Butcher.
“Apa ada tanda-tanda dari Kelompok Septian?” tanya Wahyu.
“Nihil” jawab Blue singkat.
“Kalau begitu, waktunya melihat apakah kau benar-benar pulih seperti yang terlihat” ucap Wahyu yang menyiapkan dua granat di setiap tangannya “Blue aku akan meledakkan perutnya sekali lagi, perhatikan baik-baik bagian tulang rusuk bagian atas yang melindungi tengkoraknya” setelah mengucapkan itu, Wahyu berlari keluar dari bangunan itu dan melemparkan granat pertamanya yang mana itu adalah Flash Grenade. Ledakan Flash Grenade itu membuat Wahyu dan Butcher sama-samatidakbisa melihat, namun Wahyu memiliki orang yang bisa memandu gerakannya selanjutnya.
“50% kekuatan, 45 derajat ke atas, lempar ke arah depan” ucap Blue. Mengikuti arahan dari Blue, Wahyu langsung melakukan tepat yang diarahkan, tanpa menunggu penglihatannya menjadinormal, Wahyu melemparkan granat satunya yang mana adalah granat ledak. Wahyu tidak dapat melihat apakah lemparannya tepat sasaran atau tidak, tapi dia bisa mendengarkan sebuah ledakan.
“Hit” ucap Blue “Memulai Analisa, berlindung 5 meter ke arah kiri” sambung Blue.
Wahyu langsung berlari ke arah kiri sambil menggosok matanya untuk memaksa matanya agar dapat melihat, setelah merasa sudah berlari 5 meter, Wahyu langsung duduk. Setelah beberapa detik, penglihatan Wahyu sudah normal.
“Laporkan” pinta Wahyu.
“Tulang rusuk masih retak, daging dan otot pulih, tengkorak masih utuh tanpa goresan” jawab Blue. Mendengar ucapan Blue, Wahyu langsung mencoba mengintip ke arah Butcher. Perut Butcher meledak dan dia mengeluarkan rintihan seperti sedang kesakitan, tapi hanya dalam beberapa detik saja, perut Butcher kembali pulih.
“Jadi regenerasi cepatnya itu hanya berlaku pada bagian tubuh lunaknya saja, sedangkan bagian tubuh kerasnya” gumam Wahyu “Serangan beruntun adalah pilihan terbaik, tapi yang bisa menembus pertahanan Butcher hanyalah Dani dengan peluru khusus itu, aku harus mengulur waktu sampai dia sudah siap” Wahyu tenggelam dalam pemikirannya hingga dia tidak sadar kalau Butcher sudah menemukannya dan akan memukul Wahyu dengan tangan besarnya itu.
“Leader!” teriak Blue yang akhirnya menyadarkan Wahyu dari lamunannya dan melihat tangan Butcher sudah ada di atasnya. Wahyu tidak punya waktu untuk menghindar jadi dia memilih untuk menembaki tangan Butcher itu berharap agar arah jatuhnya tergeser sedikit, namun tembakan Wahyu tidak berpengaruh sama sekali sampai ada sebuah ledakan terjadi di lengan Butcher dan membelokkan arah jatuh tangannya dan menyelamatkan Wahyu dari nasibnya yang hampir diratakan oleh Butcher.
__ADS_1
“Sudah kubilang kan, jangan terlalu fokus pada satu hal saja” sebuah suara terdengar dari telinga kanan Wahyu.