
Beberapa minggu berlalu, Tim Elang, Zombie Resistance Indoenesia, dan Survivor dari Indonesia sudah diterima dengan baik di Negara Cina, bukan itu saja, pernikahan Dani dengan Kapten Rin juga diadakan dengan meriah, pernikahan mereka diterima dengan baik oleh pihak dari Cina dan Indonesia. Masa-masa kelam telah berakhir dan masa-masa bahagia juga mendekati akhir. Suatu hari di gang yang sepi, Wahyu sedang berdiri sendirian menunggu seseorang sambil memegang sebuah radio transmisi.
Wahyu mendengarkan radio itu menggunakan headset, setelah beberapa menit berlalu, Wahyu melepaskan headsetnya dan hendak kembali ke kamarnya.
“Waktunya sudah tiba” ucap Wahyu meninggalkan gang itu menuju ke kamar Tim Elang.
Setelah situasi mulai tenang, Tim Elang mulai memenuhi tugas mereka sebagai Zombie Resistance, berpatroli, mengamankan area, dan juga mengolah informasi, semua itu dilakukan secara individu sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Wahyu berjalan dengan santai menuju kamar timnya, di perjalanan Wahyu sering di sapa oleh orang-orang yang menjumpainya, Wahyu menyapa balik dengan tersenyum dan terus berjalan menuju kamar timnya. Setelah beberapa menit perjalanan, Wahyu sudah ada di depan gedung kamar timnya dan langsung masuk ke dalam. Wahyu sudah berada di depan pintu kamar timnya dan langsung membuka pintunya, di dalam kamarnya terlihat Septian dan Wahidyn sedang beristirahat.
“Septian, Wahidyn, berkumpul sebentar” ucap Wahyu memanggil Septian dan Wahidyn untuk mendekat “Ada yang ingin kukatakan”
Septian dan Wahidyn memandang satu sama lain sebelum akhirnya mendekat ke Wahyu.
“Ada apa? Kau kelihatan serius?” tanya Septian.
“Ini tentang tujuan kita berikutnya” jawab Wahyu.
“Berikutnya? Bukankah kita sudah aman di sini?” tanya Wahidyn.
“Itulah yang ingin kubicarakan” jawab Wahyu “Ma’af aku baru memberitahu kalian sekarang, tapi sebenarnya aku memiliki tujuan untuk menjadi seorang Zombie Resistance”
“Tunggu, kau tidak mau memanggil Dani juga?” tanya Septian.
“Yah, sebenarnya ini juga berhubungan dengan itu juga” jawab Wahyu “Intinya setelah ini aku akan berangkat ke Jepang”
“Jepang?” ucap Wahidyn dan Septian bersamaan.
“Kenapa kau ingin ke jepang?” tanya Wahidyn.
“Aku menerima informasi kalau apa yang sedang kucari saat ini ada di Jepang dan aku memutuskan untuk pergi kesana” jawab Wahyu “Sekarang pertanyaanku pada kalian adalah, apakah kalian mau ikut bersamaku?”
“Bukankah itu sudah pasti kami akan ikut!” jawab Septian tanpa ragu “Lalu kenapa kenapa kau tidak memanggil Dani juga? Bukankah lebih mudah jika kita berempat pergi bersama?”
“Yah, aku tidak ingin mengambil kebahagiannya kau tahu” jawab Wahyu sedikit ambigu.
“Maksud Wahyu dia tidak ingin memisahkan Dani dengan Kapten Rin” sambung Wahidyn menjelaskan.
“Oh iya, dia baru saja menikah, lalu kenapa tidak menunggu beberapa minggu lagi, mungkin Dani dan Kapten Rin mau memahaminya” ucap Septian.
“Tidak bisa, karena panggilan yang akan meminta kedatangan Tim Elang ke Jepang akan terjadi dua hari lagi” jawab Wahyu.
“Tunggu apakah kau sudah melakukan sesuatu?” tanya Septian.
__ADS_1
“Aku menghubungi kenalanku dulu dan memintanya untuk mengatur misi khusus untuk Tim Elang agar bisa diijinkan untuk berangkat ke Jepang” jawab Wahyu.
“Kenapa harus begitu? Bukankah kita hanya perlu minta izin dari Kapten Rin?” tanya Septian lagi.
“Jika kita melakukan itu, kemungkinan Kapten Rin mengijinkan kita pasti kurang dari 20%, karena Kapten Rin tahu kalau Dani pasti akan ikut” jawab Wahidyn menjelaskan.
“Jadi kau melakukan itu untuk-“ Septian tidak menyelesaikan kaliamatnya menunggu Wahyu untuk memastikan dugaannya.
“Iya, agar Kapten Rin tidak bisa menghentikan kita untuk berangkat ke Jepang” ucap Wahyu meneruskan kalimat Septian.
“Padahal kita sudah semakin kompak” ucap Septian kecewa.
“Tapi apa kau tega memisahkan mereka berdua?” tanya Wahidyn pada Septian.
“Iya juga ya” jawab Septian.
Keheningan muncul diantara mereka bertiga.
“Tapi bukankah lebih baik jika kita mengatakan sesuatu pada mereka?” tanya Septian “Maksudku, apa kalian tidak berpikir kalau sangatlah kejam membiarkan mereka di kegelapan?”
“Tapi jika kita memberitahu mereka, Dani mungkin akan memaksa untuk ikut” jawab Wahidyn.
“Dani? Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Wahyu kepada suara itu yang ternyata adalah Dani.
“Makanya, lain kali kalau mau membahas sesuatu yang bersifat rahasia atau pribadi, pastikan communicatormu mati Yu” jawab Dani. Setelah mendengar itu, Wahyu memeriksa communicatornya dan ternyata masih menyala dan dalam mode transmisi.
“Ah, aku lupa” ucap Wahyu.
“Bagaimana bisa kau lupa?!” teriak Wahidyn dan Septian bersamaan.
Wahyu hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalanya.
“Jadi ada apa dengan pergi ke Jepang?” tanya Dani.
Karena sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi, Wahyu menjelaskan rencananya.
“Begitu ya” ucap Dani “Kalau begitu aku ikut”
“Tunggu sebentar, apa kau tidak mau mendiskusikannya dengan Kapten Rin?” tanya Wahyu.
“Tidak perlu, karena dia ada di sebelahku ikut mendengarkan” jawab Dani.
__ADS_1
Septidan dan Wahidyn hanya bisa menempatkan tangan mereka di dahi mereka karena kesalahan Wahyu.
“Ja-jadi bagaimana responnya?” tanya Wahyu gugup.
“Dengarkan saja langsung darinya” ucap Dani sebelum sebuah suara gemerisik muncul untuk sesaat setelah itu hening kembali.
“Kalian boleh pergi” suara lain keluar dari communicator Tim Elang, kali ini suara seorang perepmpuan.
“Kapten Rin?” ucap Wahyu memastikan.
“Iya ini aku” jawab Kapten Rin.
“Apakah aku membuatmu marah?” tanya Wahyu gugup.
“Kenapa?” tanya Kapten Rin bingung.
“Tidak, itu, mungkin karena aku membuat Dani mengikutiku ke Jepang?” ucap Wahyu tidak yakin.
“Apa yang ingin Dani lakukan adalah keputusannya, sebagai istrinya aku akan menghormati keputusannya” jawab Kapten Rin.
“Jadi kau tidak marah kan?” tanya Wahyu memastikan.
“Tidak, hanya saja bisakah kalian memberikan waktu satu hari untukku?” pinta Kapten Rin.
“Iya, tidak masalah, silahkan kalian habiskan waktu kalian sepuasnya” ucap Wahyu yang terburu-buru mematikan communicatornya. Wahyu melihat ke arah Septian dan Wahidyn.
“Itu kesalahanmu sendiri oke, aku tidak mau ikut-ikutan” ucap Septian yang kembali tiduran di kasurnya.
“Terkadang aku bingung, kau bisa adaptasi dengan situasi yang berbahaya, tapi kenapa kau bisa melakukan kesalah seperti ini” ucap Wahidyn yang kemudian kembali duduk di kasurnya dan mulai mengotak-atik jam miliknya. Setelah melihat kesalahan Wahyu yang sangat sepele namun merusak rencananya sendiri itu membuat Septian dan Wahidyn lemas dan meninggalkan Wahyu terdiam sendirian.
Waktu yang ditentukan tiba dan sesuai ucapan Wahyu, sebuah transmisi dari Jepang diterima oleh Kapten Rin yang mengatakan bahwa Jepang sedang dalam keadaan krisis dimana ada sebuah zombie mutasi baru yang belum pernah mereka lihat dan meminta bantuan Tim Elang yang sudah berhasil membasmi dua zombie mutasi. Setelah pembicaraan Kapten Rin dengan Kapten Zombie Resistance Jepang selesai dengan keputusan untuk menerima permintaan dari Jepang dan mengirimkan Tim Elang kesana, Kapten Rin menoleh kebelakang dimana Tim Elang sudah berkumpul juga dengan Mei dan Ryu yang ada di sana.
“Seperti yang kau katakan, mereka benar-benar menghubungi negara ini” ucap Kapten Rin kepada Wahyu.
“Jadi, apa kami diizinkan untuk pergi?” tanya Wahyu.
“Tentu saja, namun dengan sebuah tambahan” ucap Kapten Rin.
“Apa itu?” tanya Wahyu penasaran.
“Aku juga ikut” ucap Kapten Rin tanpa ragu. Ucapan Kapten Rin itu membuat semua yang ada di ruangan langsung terkejut dan terdiam”
__ADS_1