
Di sisi lain, Wahyu kembali ke markas buatan Brown setelah bertemu dengan Septian dan Nana. Menggunakan pintu rahasia, Wahyu memasuki markas rahasia itu, setelah melewati keamanan yang cukup berbahaya, Wahyu disambut oleh Gold yang sudah menunggu di balik pintu.
“Jadi bagaimana jalan-jalannya?” tanya Gold yang bersandar di sebelah pintu.
“Cukup menyenangkan, bertemu dengan teman satu timku, dan menemukan zombie mutasi baru” jawab Wahyu dengan santainya.
“Jadi bagaimana dengan jubahnya?” tanya Gold yang berjalan di samping Wahyu.
“Kualitasnya hampir menyamai punya kita dulu, namun jubah ini tidak memiliki fungsi untuk menyesuaikan ukuran, terlebih jubah ini terlalu ringan, hembusan angin yang sedikit kencang saja sudah membuat kainnya bergerak dan membuat tampilannya tidak stabil” jawab Wahyu yang menjelaskan pendapatnya mengenai jubah yang dia pakai sambil terus berjalan ke suatu tempat.
“Aku sudah bilang padanya untuk membuatnya dengan desain baju, tapi dia bilang kalau jubah itu lebih keren” ucap Gold yang mengeluh dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa, Brown memang orangnya seperti itu, biarkan saja” balas Wahyu.
“Jadi apa kau sudah punya rencana?” tanya Gold.
“Untuk saat ini, aku punya tugas untuk Brown” jawab Wahyu. Di saat Wahyu sedang mencari Brown, seorang gadis muda menghentikan langkah Wahyu dan Gold.
“Selamat datang kembali” ucap gadis itu menyambut Wahyu dengan membungkukkan badannya sejenak lalu menatap Wahyu dengan semangat. Gadis itu memiliki tubuh yang cukup kecil, rambutnya hitam pekat yang sedikit mengkilap karena cahaya yang menyinari rambutnya, matanya berwarna biru kristal seperti warna kristal es, sikapnya penuh semangat namun memberikan kesan elegan. Gadis itu mengenakan yukata yang dimodifikasi dengan rompi anti peluru yang cukup untuk melindungi bagian tubuhnya yang penting.
“Aku kembali, Hana” balas Wahyu yang memanggil gadis itu dengan nama Hana. Hana adalah pemimpin dari kelompok yang hidup di markas rahasia Brown, yang mana penduduknya adalah orang-orang yang diusir atau tidak boleh memasuki Shelter Negara Jepang entah karena alasan apapun itu.
“Aku sedang mencari Brown, apa kau tahu dimana dia?” tanya Wahyu.
“Iya, Aniki ada di tempat penelitian, aku bisa mengantar anda” jawab Hana dengan semangat. Hana biasanya akan bersikap tegas dihadapan penduduk lainnya, namun saat bersama Wahyu, Gold, dan Brown, dia bersikap seperti seorang adik perempuan mereka.
“Gold, aku ingin kau mengawasi zombie mutasi ini” suruh Wahyu yang menunjukkan sebuah foto dari Oni yang dia ambil setelah berpisah dengan Septian.
“Aku ingin kau mengamati aktivitasnya untuk satu hari ini” sambung Wahyu menjelaskan perintahnya.
“Hanya mengawasi saja? Ini pasti akan membosankan” balas Gold.
__ADS_1
“Kau boleh melakukan hal lainnya selama kau memenuhi tugasmu” ucap Wahyu menambahkan instruksinya.
“Iya aku tahu, seperti biasanya kan” balas Gold yang kemudian lngsung meninggalkan Wahyu dan Hana.
“Baiklah Hana, bisa antarkan aku ke Brown?” pinta Wahyu dengan ramah.
“Baik!” jawab Hana penuh semangat.
Hana kemudian memegang tangan Wahyu dan menariknya menuju tempat dimana Brown berada.
Setelah beberapa menit, akhirnya Wahyu dan Hana sampai ke sebuah bangunan kecil yang ada di ujung markas. Hana membukakan pintunya lalu menarik Whyu masuk ked lam bangunan itu. Di dalamnya, Wahyu sedikit terkejut dengan banyaknya alat yang bermacam-macam bergeletakan di lantai dan di meja dan di tengah-tengahnya ada Brown yang sedang memperbaiki sesuatu.
“Brown? Apa yang kau lakukan?” tanya Wahyu. Brown yang mendengar suara Wahyu langsung menoleh dan menghampirinya.
“Kau sudah kembali, jadi bagaimana jubahnya?” tanya Brown.
“Untuk saat ini, jubah ini sudah cukup membantu” jawab Wahyu.
“Jubah ini memiliki beberapa kekurangan, untuk perbandingannya, aku akan mengtakan tiga dari sepuluh” jawab Wahyu.
“Sudah kuduga, pasti karena bentuknya sebagai jubah, serta bahannya” ucap Brown yang sudah menduga jawaban Wahyu.
“Jika kau bisa membuatnya sebagai jaket, aku kira itu akan menjdi peningkatan yang cukup baik” ucap Wahyu menyarankan.
“Iya, aku tahu, aku hanya ingin kau mencobanya karena itu prototipenya saja” blas Brown.
Wahyu sedikit terkejut, tapi setelah mengingat Brown itu orangnya seperti apa, Wahyu tidak mempermasalahkannya.
“Kau ini memang suka menjadikanku sebagai kelinci percobaan” ucap Wahyu.
“Tidak, tidak, tidak” bantah Brown “Aku membiarkanmu mencobanya karena aku yakin kau bisa memberikan kesan balik yang kubutuhkan”
__ADS_1
“Iya, aku tahu” balas Wahyu.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Hana yang ingin masuk ke dalam pembicaraan.
“Oh! Hana juga di sini, bagaimana dengan yang lainnya? Apa kamu sudah memberitahu mereka kalau Grey akan mengambil alih komand mulai sekarang?” tanya Brown kepada Hana.
“Iya, aku sudah mengatakan kalau Danna akan menjadi pimpinan bersamaku” jawab Hana dengan senang.
“Danna?” tanya Wahyu bingung.
“Jangan khawatir, itu sebuah panggilan seperti dia memanggilku dengan panggilan Aniki” jawab Brown.
“Aku mengerti arti dari aniki, tapi Danna? Apa itu artinya?” balas Wahyu dengan pertanyaan.
“Aku juga tidak tahu” jawab Brown dengan santainya. Wahyu yang mendengar jawaban Brown hanya bisa menyerah dan menghiraukannya.
“Kalau begitu aku ingin kau meneliti ini” Wahyu menunjukkan sebuah potongan kulit hitam yang berhasil dia dapatkan dari Oni “Ini adalah kulit dari zombie mutasi yang kutemui hari ini, kalau bisa carilah kelemahan dari kulit ini”
“Oh apakah ini salah satu sampel dari zmbie mutasi yang pernah kau bunuh? Biarkan aku melihatnya dari dekat” Brown langsung mengenakan sarung tangan karet dan mengambil kulit Oni yang ada di plastic sampel yang dibawa Wahyu.
“Kulit itu dapat mementalkan peluru dan katanya hanya bisa menggoresnya, apa kau bisa membuat senjata yang bisa menembus kulit itu?” tanya Wahyu.
“Serahkan saja padaku, berikan aku waktu beberapa hari, akan kuselesaikan secepatnya” jawab Brown “Selagi menunggu, kenapa tidak membiarkan Hana menunjukkanmu apa saja yang ada di sini?” ucap Brown memberikan usulan.
“Iya, Danna baru saja datang ke sini kemarin kan, biar aku tunjukkan fasilitas apa saja yang ada di sini” Hana dengan semangatnya menarik-narik tangan Wahyu. Melihat Hana yang bersemangat itu, Wahyu akhirnya menuruti maunya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan bergantung padamu” ucap Wahyu.
“Serahkan padaku” balas Hana dengan bangga “Aniki, aku pergi duluan!” ucap Hana sambil melambaikan tangannya pada Brown, Brown membalasnya dengan lambaian tangannya juga.
Wahyu dan Hana kemudian mulai berjalan menjelajahi seluruh penjuru markas buatan Brown, mulai dari tempat latihan, gudang senjata, tempat istirahat, tempat makan, dan tempat rapat. Wahyu sedikit terkejut, dia tidak menyangka tempat sekecil itu ternyata muat untuk tempat-tempat penting yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah markas, namun yang membuat Wahyu terkejut lagi adalah sikap Hana yang menjadi terlihat elegan dan berwibawa, berbeda dengan sikapnya saat bersama Wahyu, Gold, dan Brown. Hana berjalan dengan pelan namun tegap, tatapannya fokus ke depan dan memberikan senyuman manis saat ada yang menyapanya, sikapnya itu membuat orang-orang dapat mempercayainya dan mau mengikutinya. Setelah mengunjungi fasilitas yang ada, Wahyu dan Hana akhirnya pergi ke bangunan utama dimana semuanya bersiap sebelum keluar dari markas untuk mencari informasi atau memungut barang-barang yang masih berguna di atas permukaan.
__ADS_1