Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
Airport Cleaning 18-4


__ADS_3

Sambil menunggu kelompok Wahyu mengambil bahan bakar pesawat, Septian dan Wahidyn menghabiskan waktu dengan memeriksa dan memperbaiki pesawat yang akan mereka gunakan.


“Apa kau benar-benar bisa memperbaiki ini semua?” tanya Septian.


“Tentu” jawab Wahidyn singkat “Aku juga ingin mencoba alat baruku” Wahidyn menggunakan multitool yang dia dapatkan dari Blue untuk membuka mesin pesawat dan memperbaikinya.


“Kau memang sangat ahli dalam bidangmu ya” ucap Septian.


Wahidyn terus mendengarkan ucapan Septian sampai akhirnya tidak tahan.


“Bisakah kau langsung ke intinya?” tanya Wahidyn sedikit kesal.


“Apa maksudmu?” jawab Septian dengan sedikit gugup.


“Kau punya sesuatu yang mau kau bicarakan bukan?” balas Wahidyn “Kau selalu seperti ini saat kau mau membahas sesuatu tapi tidak ingin mengganggu, tapi percayalah, ini sangatlah menggangguku”


Mendengarkan ucapan Wahidyn, Septian langsung menghela nafas “Iya, ada sesuatu yang menggangguku”


“Baiklah ceritakan, aku akan mendengarkannya sambil memperbaiki ini” ucap Wahidyn yang kembali memperbaiki mesin pesawat.


“Ini tentang pembagian tim tadi” ucap Septian “Belakangan ini, kita selalu berada di kelompok yang berbeda dengan Wahyu kan”


“Iya, apa yang salah dengan itu?” balas Wahidyn.


“Apa menurutmu Wahyu sudah tidak mengandalkan kita lagi?” tanya Septian.


Wahidyn berhenti “Apa kau sudah mulai merasa kalau kau tidak terlalu berguna?” tanya Wahidyn.


“Tentu saja tidak! Kau pasti ingat kontribusi kita saat melawan Butcher kan, kita melakukan tugas kita dengan sempurna, tidak seperti Dani yang butuh waktu yang lama untuk akhirnya bisa mengalahkan Butcher” jawab Septian.


“Tapi pada akhirnya yang berhasil membunuh Butcher adalah Dani” balas Wahidyn.


Septian ingin membantah, tapi memang seperti itulah kenyataannya.


“Bkan itu saja, Dani juga menjalani pelatihan berat yang entah bagaimana hingga dia bisa mengalahkan seorang Kapten di pertarungan satu lawan satu” sambung Wahidyn memberikan fakta lagi.


Septian terdiam dan tidak bisa membantah lagi. Dikarenakan Septian yang tidak mencoba untuk membalas perkataannya, Wahidyn meneruskan perbaikannya lagi.


Setelah beberapa menit.


“Apa kau tidak merasa tertinggal oleh mereka?” tanya Septian.


“Tentu saja” jawab Wahidyn “Sebagai orang yang tidak bisa bertarung di garis depan, aku merasa sangat tertinggal dengan kemampuan Dani yang berkembang, apalagi dengan Rin yang aslinya seorang Kapten”


“Lalu kenapa kau bisa begitu tenang?” tanya Septian lagi.


“Karena aku memiliki peranku sendiri di Tim ini” jawab Wahidyn “Dan juga karena aku percaya Wahyu tidak akan meninggalkanku atau mengusirku dari Tim ini”


“Kenapa kau sepercaya itu padanya?” tanya Septian dengan nada rendah.


“Karena sampai saat ini, apapun yang dia lakukan itu demi keselamatan kita, terlebih lagi, dia adalah temanku dan aku yakin dia bukanlah orang yang akan mengkhianati temannya” jawab Wahidyn “Kenapa kau bertanya hal itu padaku, kau kan yang lebih lama mengenalnya”


“Kau benar, aku harusnya tidak memikirkan hal itu” Septian menepukkan kedua tangannya “Baiklah, aku akan memeriksa area sekitar hangar, jika kau butuh apa-apa panggil aku” ucap Septian bersemangat kemudian meninggalkan Wahidyn yang sedang memperbaiki mesin pesawat.


“Dasar, makanya jangan terlalu berpikiran terlalu jauh” gumam Wahidyn yang meneruskan perbaikan pesawat itu.


Di sisi lain, Wahyu, Dani, dan Rin sedang dalam perjalanan memasuki bandara untuk mencari tempat penyimpanan bahan bakar.

__ADS_1


“Hei bukankah sedikit aneh di hangar tadi tidak ada bahan bakar?” tanya Dani.


“Sebenarnya aku menemukan beberapa drum bahan bakar di hangar tadi” jawab Wahyu.


“Lalu kenapa kita kesini?” tanya Dani lagi.


“Karena drum yang kutemukan itu dalam keadaan jatuh dan terbuka, jadi isinya sudah kosong” jawab Wahyu lagi.


“Lalu kenapa kita mencarinya di bandara? Bukannya lebih baik ke gudang?” Dani terus menerus memberikan pertanyaan kepada Wahyu.


“Biasanya bandara memiliki cadangan bahan bakar dan gudang jaraknya terlalu jauh dan tolong diam sedikit, apa kau tidak melihat betapa banyaknya zombie yang ada di sekitar kita” jawab Wahyu sambil mengingatkan situasi mereka.


Saat ini mereka bertiga berada di hall utama bandara yang cukup gelap karena tidak adanya pencahayaan yang terang, dimana itu menguntungkan dan merugikan mereka. Keuntungannya zombie di sekitar tidak dapat melihat mereka dengan mudah, tapi pada saat yang sama itu juga mengurangi jarak pandang Kelompok Wahyu, terlebih lagi bandara itu dipenuhi zombie yang berlalu Lalang.


“Ma’af, aku sedang tegang, jadi butuh pengalih perhatian” ucap Dani berbisik.


“Kau pikir aku juga tidak tertekan apa?!” balas Wahyu yang juga berbisik.


“Kalian berdua, fokus” ucap Rin menengahi Wahyu dan Dani.


Kelompok Wahyu terus berjalan secara pelan-pelan agar tidak menarik perhatian zombie di sekitar mereka.


Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya menemukan truk yang memuat tangki bensin yang terlihat masih utuh. Tanpa mengatakan apapun, Wahyu, Dani, dan Rin langsung berjalan ke truk itu. Setelah memastikan kalau tangka itu masih berisi bahan bakar, Wahyu dan Rin mulai mengurangi jumlah zombie yang ada di area itu agar mereka bisa mengambil bahan bakar dengan mudah. Wahyu memakai sarung tangan yang dia temukan di lantai lalu mengeluarkan pisaunya, sedangkan Rin langsung bersiap dengan gauntletnya.


“Dan kuberi ini” Wahyu mengeluarkan pistol yang sudah dipasangkan silencer “Gunakan ini untuk melindungi diri dan mulai isi drum yang ada dengan bahan bakar pesawat yang ada di tangki truk itu”


“Kau punya silencer berapa banyak?” tanya Dani kaget.


“Aku menduga ini akan terjadi, jadi aku masih punya dua buah lagi” jawab Wahyu.


“Kau memang gila” ucap Dani mengambil pistol yang diberikan Wahyu “Akan kuusahakan secepat yang aku bisa”


Dua puluh menit berlalu, sudah hampir tidak ada lagi zombie yang ada di area truk bahan bakar itu dan Dani juga sudah hampir memenuhi drum yang berukuran cukup besar yang dia temukan. Wahyu memberi sinyal tangan kepada Rin untuk berkumpul kembali.


“Bagaimana Dan?” tanya Wahyu yang melepaskan sarung tangannya dan memakainya untuk mengelap kotoran yang menempel di pisaunya.


“Sudah hampir penuh” jawab Dani “Rin kau yakin bisa mengangkat ini sendirian?” tanya Dani khawatir.


“Iya, aku bisa” jawab Rin percaya diri.


“Tidak dapat dipercaya, bahkan Septian saja kemungkinan tidak kuat mengangkat ini” ucap Dani.


“Itulah kenapa aku meninggalkannya dengan Wahidyn” ucap Wahyu yang membuang sarung tangannya setelah selesai membersihkan pisaunya.


“Maksudmu?” tanya Dani.


“Septian memiliki kebiasaan memaksakan dirinya sendiri, jika tadi aku memilihnya untuk mengangkat bahan bakar ini, bisa saja dia melukai dirinya sendiri” jawab Wahyu.


“Dan kau yakin Rin tidak akan mengalami hal itu?” ucap Dani sedikit kesal.


“Hei, jangan membuatku terlihat seperti memaksanya” balas Wahyu “Lagipula aku sudah bertanya kan tadi dan dia menjawabnya dengan yakin”


“Iya, aku sudah pernah mengangkat sebuah mobil sendirian, jadi kukira sebuah drum berisikanbahan bakar akan terasa lebih ringan” sambung Rin.


“Aku lupa kalau tradisi kalian itu yang kuatlah yang memimpin” ucap Dani mengeluh.


Setelah beberapa menit berlalu, drum yang Dani isi dengan bahan bakar pesawat sudah penuh. Dani menutup drum itu dengan rapat memastikan tidak ada kebocoran.

__ADS_1


Rin kemudian mendekati drum itu dan dengan mudahnya dia mengangkat drum itu dan membawanya di atas pundak kanannya.


“Aku tahu dia bisa mengangkatnya, tapi aku masih terkejut melihatnya” ucap Wahyu “Kau memiliki istri yang kuat Dan”


“Dengan kekuatan seperti itu, aku masih tidak percaya dia bisa memelukku dengan lembut” ucap Dani.


“Dari semua respon kenapa kau merespon seperti itu” gumam Wahyu mengeluh dengan sikap Dani.


“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Dani.


“Tidak, itu tidak penting” jawab Wahyu “Sekarang ayo bergegas kembali ke pesawat dan segera mengisi bahan bakarnya”


Wahyu, Dani, dan Rin yang mengangkat drum besar sendirian itu mulai bergerak kembali ke hangar. Di perjalanan mereka, Wahyu, Dani, dan Rin sedikit mempercepat jalan kaki mereka agar tidak terllu lama membuat Rin mengangkat beban yang berat itu sendirian, namun sebuah raungan yang familiar terdengar oleh mereka.


“Scratcher” ucap Wahyu pelan.


“Bagaimana ini, Rin tidak bisa membantumu bertarung, dan aku tidak membawa sniperku” ucap Dani pelan.


“Aku bisa menaruh drum ini sebentar dan mengalahkannya” ucap Rin mengusulkan.


“Jangan, drum itu sangat berat, jika kau menaruhnya, akan menimbulkan suara keras, apalagi kita ada di dalam ruangan” ucap Wahyu yang menghentikan Rin sebelum mencoba untuk menurunkan drum di pundaknya.


“Lalu apa saranmu?” tanya Rin.


Wahyu terdiam dan berpikir untuk mencari jalan keluar.


“Baiklah, kita akan lari” ucap Wahyu.


“Hah? Kau gila ya? Kau ingin semua zombie di sini mengejar kita” balas Dani marah namun dengan nada pelan.


“Diam dulu dan dengarkan” jawab Wahyu “Rin, kau bisa berlari membawa drum itu kan?” tanya Wahyu memastikan.


“Iya” jawab Rin yakin.


“Bagus, setelah aba-abaku, langsung lari ke arah hangar, jangan pedulikan apapun dan jangan melihat kebelakang, fokus dengan apa yang ada di depanmu dan hindari semua zombie sebisamu” ucap Wahyu menjelaskan rencananya “Dani, aku akan mengambil kembali pistolku, tapi nanti akan kukembalikan padamu, pada saat itu tiba lindungi Rin sampai ke pesawat dan tutup pintu hangarnya”


“Bagaimana denganmu?” tanya Rin.


“Aku akan menyusul, aku akan memberikan kalian semua cukup waktu untuk menyalakan pesawatnya dan membersihkan jalur landasan” jawab Wahyu “Saat pesawat udah siap untuk terbang, kabari aku lewat communicatr, tunggu aku selama 5-10 menit, jika aku tidak datang gantikan aku sebagai co-pilot dan langsunglah lepas landas, aku akan mencari cara untuk menyusul kalian”


“Aku tidak mau, itu rencana gila” bantah Dani.


“Tidak ada waktu lagi” Wahyu mengambil kembali pistolnya dan menembak engsel lampu yang ada di atap bandara. Tembakan Wahyu membuat engsel lampu itu terlepas dan menjatuhkan semua lampu yang bergantung di atap satu persatu.


“Lari!” suruh Wahyu dengan berteriak.


Tidak ada kesempatan untuk berdiskusi lagi, Wahyu, Dani, dan Rin langsung berlari menuju hangar. Wahyu terus menembaki kaki zombie yang ada di depan mereka agar jatuh dan tidak menghalangi mereka berlari. Rin yang berlari membawa drum itu tidak bisa berlari dengan cepat, namun karena bantuan Wahyu, Rin tidak perlu menghindari zombie yang ada di depannya dan terus berlari secepatnya. Dani yang tidak membawa senjata apapun itu hanya bisa mengikuti Wahyu dan Rin dari belakang. Setelah keluar dari bandara, Wahyu mengisi ulang pistolnya dengan magazine baru.


“Dan! Lakukan tugasmu!” teriak Wahyu yang bersiap menyerahkan pistolnya kepada Dani.


“Aku masih tidak setuju dengan rencana ini!” balas Dani.


“Percayalah padaku, aku akan menyusul kalian!” teriak Wahyu meyakinkan Dani.


“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak menepati kata-katamu!” teriak Dani yang mengambil alih tugas Wahyu untuk memberikan jalan kepada Rin.


Setelah itu, Wahyu langsung berhenti dan berbalik menghadap kerumunan zombie yang mengejar mereka.

__ADS_1


“Belakangan ini aku tidak ada kesempatan untuk beraksi” ucap Wahyu sambil mengambil granat di tas kecilnya “Waktunya membersihkan zombie”


__ADS_2