Zombie Resistance : The Eagle Team

Zombie Resistance : The Eagle Team
A Glimpse Of The Past 16-2


__ADS_3

Satu minggu setelah Wahyu bermain-main bersama Blue, Wahyu akhirnya diperbolehkan untuk melepaskan gips yang ada di kaki kirinya. Setelah bangun dari tidurnya dan bersiap, Tim Elang berangkat bersama ke ruang perawatan untuk mengantar Wahyu dan juga melihat proses pelepasan gipsnya. Petugas medis yang ada di sana mulai melepas gips Wahyu secara perlahan, setelah beberapa menit, akhirnya gips Wahyu terlepas tanpa ada gangguan. Wahyu diminta untuk mencoba berdiri dan berjalan.


“Bagaimana Yu?” tanya Dani.


Wahyu berjalan memutar sebentar lalu menjawab pertanyaan Dani “Baik, seperti sedia kala”


“Apakah ada rasa sakit atau nyeri di bagian kaki anda?” tanya petugas medis yang membereskan gips yang digunakan Wahyu sebelumnya.


“Tidak, aku tidak merasakan sakit ataupun keanehan apapun” jawab Wahyu yakin.


“Kalau begitu, saya permisi dulu” ucap petugas medis itu.


“Iya, terima kasih atas bantuannya” ucap Wahyu.


“Itu sudah tugas kami” jawab petugas medis itu yang kemudian pergi meninggalkan ruangan.


“Bukankah ini waktunya perayaan lagi?” ucap Septian.


“Kau ini, bukankah belakangan ini kita selalu mengadakan perayaan?” balas Wahidyn.


“Iya, dan juga kita bisa kehabisan credit kalau terus melakukan perayaan” sambung Wahyu.


“Iya juga sih, aku lupa kalau masih ada sistem konversi yang berbeda-beda di tiap negara” ucap Septian.


“Jadi apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Wahidyn “Bukannya aku tidak suka waktu liburan kita, tapi lama kelamaan rasanya menjadi membosankan”


Mendengar ucapan Wahidyn sebuah ingatan muncul di pikiran Wahyu. Sebuah ingatan dimana Wahyu, Red, Blue, serta empat orang lainnya yang sedang bersantai di sebuah ruangan di sofa.


“Leader, kapan misi selanjutnya?” tanya Red.


“Bosan sekali rasanya kalau tidak ada misi” sambung seseorang berambut hitam dengan gradiasi coklat di ujung rambutnya.


Setelah mengingat kejadian itu di pikirannya, Wahyu menjawab pertanyaan Wahidyn.


“Kau benar, selalu ada hal yang menegangkan dan menyenangkan terjadi saat kita melakukan misi” ucap Wahyu “Baiklah, kenapa kita tidak tanyakan saja kepada Kapten Rin, mungkin dia memiliki sesuatu yang bisa kita lakukan”


“Sebelum itu, aku ingin memberitahu kalian sesuatu” ucap Dani gugup.


Wahyu, Wahidyn, dan Septian langsung menoleh ke Dani karena penasaran.


“Aku memutuskan untuk menikahi Rin” ucap Dani sedikit malu. Setelah Dani mengucapkan itu, suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi hening.


“Kau berhutang 500 credit padaku Sep” ucap Wahyu tiba-tiba.


“Sial, padahal kukira hanya akan berlangsung seperti itu saja” ucap Septian kesal.


“Untung aku tidak ikutan” ucap Wahidyn lega.


Melihat reaksi teman-temannya yang terlihat bias aitu membuat Dani bingung.


“Tunggu, kenapa reaksi kalian seperti itu?” tanya Dani bingung.


Wahyu dan Septian melihat satu sama lain sebentar sebelum menjawab pertanyaan Dani.


“Yah, sebenarnya aku sudah menduganya, mengetahui kegiatan yang kalian lakukan setiap malam, lama kelamaan pasti kau menginginkan Kapten Rin untuk menjadi milikmu” jawab Wahyu.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan 500 credit itu?” tanya Dani lagi “Apa kau mengatakannya pada mereka Yu?”


“Tentu saja tidak, aku bukan orang yang akan membocorkan rahasia temanku, walaupun itu pada temanku sendiri” jawab Wahyu  “Untuk hutang Septian, dia tiba-tiba mengajakku taruhan antara hubunganmu akan mengalami perkembangan lagi atau tidak dan karena aku sudah melihat sendiri bagaimana sikap kalian kepada satu sama lain, ya aku bertaruh kalau kalian mungkin bisa sampai ke jenjang pernikahan sedangkan Septian bertaruh kalau hubungan kalian akan tetap seperti itu terus.


“Jadi kalian sudah menduga kalau ini akan terjadi?” untuk terakhir kalinya Dani bertanya lagi.


“Untuk aku, iya, tidak tahu dengan yang lainnya” jawab Wahyu.


“Aku merasa bodoh karena merasa gugup untuk memberitahu kalian” ucap Dani kecewa.


“Tapi bukankah itu bagus? Artinya setelah ini kalian berdua bisa bermesraan tanpa sembunyi-sembunyi” ucap Septian yang mengalungkan tangannya ke Pundak Dani.


“Jadi bagaimana kejadiannya saat kau melamarnya?” tanya Wahidyn penasaran.


“Yah, tidak terlalu istimewa sih” ucap Dani sambil mengingat kembali “Waktu itu setelah bangun tidur, Rin mengingatkanku lagi untuk jawaban dari pengakuannya waktu itu” Dani mulai bercerita “Awalnya aku masih ragu, namun setelah melihat wajahnya yang terlihat sangat cantik setiap kali aku bangun tidur itu membuatku berpikir kalau akan sangat membahagiakan kalau aku bisa melihat pemandangan itu setiap hari dan akhirnya aku menerimanya”


Wahidyn dan Septian terdiam.


“Selamat untukmu, sepertinya kau mengatasi keraguanmu dengan nafsumu” ucap Wahyu menyindir.


“Kau pasti tidak akan tahu ekspresi wajahnya setelah aku mengatakan itu” ucap Dani “Itu adalah pertama kalinya aku melihat Rin sesenang itu”


“Kenapa kau terlihat bangga seperti itu?!” tanya Septian kesal “Jadi bukan kau yang melamarnya duluan tapi Kapten Rin?”


“Tidak kusangka kau semenyedihkan ini Dan” ucap Wahidyn kecewa.


“Apa maksud kalian? Aku waktu itu juga tidak membayangkan hal ini akan terjadi tahu” jawab Dani.


“Ya setidaknya lamar dia lagi lah, kali ini kau yang memintanya untuk menjadi istrimu bukan sebaliknya” ucap Septian tidak terima. Dani, Septian, dan Wahidyn terus saling berdebat satu sama lain untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Wahyu hanya mengawasi teman-temannya itu.


Melihta teman-temannya itu yang pergi dengan penuh semangat mengingatkan Wahyu kepada masa lalunya.


“Flashback ini membuatku berpikir kalau kematian mulai mendekatiku” gumam Wahyu ”Tapi itu tidak boleh terjadi, aku tidak boleh mati sebelum aku bisa memperbaiki semuanya” ucap Wahyu yang kemudian berjalan menuju markas Zombie Resistance Cina untuk mencari Mei, Ryu, Red, dan Blue.


Setelah itu, Wahyu mulai mencari keberadaan Mei, Ryu, Red, dan Blue. Beruntung untuk Wahyu, karena cukup mudah untuk menemukan mereka, Wahyu menemui Red dan Blue di kamar mereka lalu menceritakan rencana Septian dan Wahidyn, tentu saja dengan cepat mereka mau ikut dalam rencana itu. Setelah Red dan Blue, Wahyu kebetulan bertemu dengan Ryu dan menceritakan rencana Septian dan Wahidyn lagi, awalnya Ryu tidak ingin mengikuti rencana itu tanpa ijin dari Kapten Rin, tapi dengan keahlian membujuk Wahyu, akhirnya Ryu mau datang dan mengikuti rencananya. Terakhir adalah Mei, seperti yang Mei katakan sebelumnya, Wahyu meminta salah satu staff atau pegawai yang ada di markas dan meminta untuk memanggilkan Mei, setelah beberapa menit menunggu Mei datang menemui Wahyu, sekali lagi Wahyu menceritakan rencana Septian dan Wahidyn, Mei awalnya terkejut, bukan karena hubungan Dani dan Kapten Rin tapi karena dia tidak menyangka akan berjalan secepat ini. Setelah membicarakannya untuk beberapa menit, akhirnya Mei setuju.


Setelah semua sudah siap, tinggal menuggu waktu untuk Kapten Rin mendatangi ruangan Tim Elang untuk menjemput Dani.


Malam hari tiba, Kapten Rin sedang berjalan menuju ke ruangan Tim Elang, saat sudah sampai di depan pintu, Kapten Rin langsung membuka pintu karena sudah diperbolehkan oleh Tim Elang untuk masuk sesukanya, setelah Kapten Rin membuka pintu, entah kenapa ruangan Tim Elang sedikit gelap dan hanya ada Dani di dalamnya.


“Dani, kenapa ruanganmu sedikit gelap?” tanya Kapten Rin memasuki kamar Tim Elang.


“Ah iya, aku baru datang dan sepertinya Wahyu lupa menyalakan lampunya” jawab Dani sedikit gugup.


“Apa kau sendirian?” tanya Kapten Rin lagi.


“I-iya” jawab Dani masih merasa gugup.


“Ada apa denganmu, kau terlihat sangat gugup?” tanya Kapten Rin yang mendekat ke Dani.


Dani menoleh ke kana dan kiri sejenak lalu mengambil nafas besar.


“Rin, ada yang ingin kubicarakan” ucap Dani.


“Tentang apa?” tanya Kapten Rin.

__ADS_1


“Ini tentang tadi pagi” jawab Dani.


“Tunggu, apakah kau berniat untuk membatalkannya?” tanya Kapten Rin dengan nada sedikit sedih.


“Tidak!” jawab Dani dengan cepat. Melihat Dani yang menjawabnya tanpa ragu membuat Kapten Rin lega tapi bingung.


“Lalu apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kapten Rin.


Dani menarik nafasnya lagi dan langsung menatap mata Kapten Rin dengan tatapan penuh fokus miliknya “Rin” panggil Dani.


“Iya” Kapten Rin menjawab secara refleks karena melihat tatapan Dani yang membuatnya lulu pertama kalinya itu.


“Setelah menghabiskan waktu denganmu setiap malam” Dani mendekati Kapten Rin secara perlahan “Berbicara denganmu, melihat wajahmu, dan ekspresi yang hanya kau perlihatkan padaku, akhirnya membuatku menyadari perasaanku” Dani memegang tangan Kapten Rin yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi “Tapi tetap saja ada keraguan dalam diriku, jadi akan kutanyakan sekali lagi, apa kau yakin menginginkan diriku?”


Setelah mendengarkan pertanyaan Dani itu, akhirnya Kapten Rin berpikir kalau Dani ingin memastikan keseriusan Kapten Rin saat dia mengatakan kalau dia menginginkan Dani. Menyadari itu, Kapten Rin menjadi merasa tenang.


“Bukankah aku selalu mengatakannya setiap kita bangun di pagi hari, aku menginginkanmu Dani, sejak saat itu dan sampai saat ini, aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi” jawab Kapten Rin dengan serius.


Mendengar ucapan Kapten Rin yang sudah dia dengar tiap hari itu membuat Dani merasa lega dan lebih percaya diri.


“Kalau begitu kali ini biarkan aku yang mengatakannya” Dani kemudian bersujud sambil memegang tangan kanan Kapten Rin “Rin, maukah kau menikah denganku” ucap Dani sambil menunjukkan sebuah cincin. Melihat Dani melakukan itu membuat Kapten Rin terharu dan bahagia.


“Tentu saja, itu adalah keinginanku” jawab Kapten Rin. Setelah mendengarkan jawaban Kapten Rin, Dani memasangkan cincin yang dia tunjukkan ke jari manis di tangan kanan Kapten Rin. Setelah melakukan itu, Dani berdiri dan tersenyum kepada Kapten Rin. Tidak bisa menahan betapa senangnya dirinya, Kapten Rin langsung memeluk Dani. Setelah itu, tiba-tiba lampu menyala terang dan memperlihatkan sisa Tim Elang, beserta Mei, Ryu, Red, dan Blue.


“Selamat untuk kalian berdua!” ucap semuanya bersamaan kepada Dani dan Kapten Rin.


“Ada apa ini?” tanya Kapten Rin bingung.


“Ini sebuah kejutan” jawab Mei.


“Ma’af atas teman kami yang tidak jantan ini” ucap Septian “Aku tidak akan membiarkannya lolos kalau dia tidak melakukan ini”


“Kami merasa kalau tidak adil jika hanya Kapten Rin saja yang terus melakukan serangan, jadi Septian merencanakan semua ini” sambung Wahidyn.


“Karena kesan yang paling besar adalah saat Dani menggunakan seluruh konsentrasinya pada tatapannya, jadi aku melatihnya untuk menggunakannya sebentar tanpa ada efek samping” sambung Wahyu menjelaskan.


“Selamat Kapten, sepertinya keinginan anda terwujud” ucap Mei yang memberikan ikatan bunga.


“Terima kasih, tidak kusangka aku akan mengalami sesuatu yang seperti ini” jawab Kapten Rin yang menerima ikatan bunga dari Mei.


“Baiklah, karena ucapan selamat dan penjelasannya selesai” ucap Ryu yang menarik perhatian semuanya “Mari kita berpesta” Ryu kemudian membuka tirai yang ada di belakangnya dan menunjukkan sebuah meja penuh dengan makanan dan minuman yang terlihat enak. Setelah itu semuanya langsung menyerbu makanan dan minuman itu.


“Ma’af kalau ini mengejutkanmu” ucap Dani kepada Kapten Rin sambil saling berpegangan tangan.


“Tidak, ini adalah pengalaman yang menarik untukku” jawab Kapten Rin “Dan juga semua ini membuatku dapat melihatmu mengungkapkan keinginanmu untuk memilikiku, itu saja sudah membuatku sangat senang”


Dani dan Kapten Rin melihat satu sama lain dan setelah itu berciuman sebentar tanpa disadari oleh yang lainnya. Setelah itu Kapten Rin dan Dani mengikuti yang lainnya untuk berpesta sampai lelah. Di saat semua orang sedang berpesta ria, Wahyu mengambil sebuah minuman dan duduk di kasurnya yang sudah dipindah ke pojok ruangan.


“Pemandangan ini membuatku bernostalgia” gumam Wahyu sambil mengangkat gelasnya. Pemandangan di depannya itu tiba-tiba berbuah menjadi pemandangan yang hampir sama namun dengan orang yang berbeda, pemadangan itu hanya berlangsung untuk beberapa detik saja di mata Wahyu.


“Kali ini, tidak boleh ada kesalahan” ucap Wahyu yang kemudian meneguk minumannya dan ikut berpesta dengan teman-temannya itu.


Di sisi lain di atas sebuah gedung, seorang pria dewasa sedang mengamati Tim Elang dan lainnya sedang berpesta di kamar Tim Elang menggunakan scope dari Sniper Rifle yang dia gunakan.


“Aku bahkan hampir lupa kapan terakhir kali kau tersenyum seperti itu” ucap pria itu yang kemudian mengalungkan Sniper Riflenya dan pergi menuruni gedung yang baru saja dia tempati.

__ADS_1


__ADS_2