
Hari weekend pertama bagi Sila setelah menjadi seorang istri, pagi hari ia sudah sibuk membersihkan apartemen secara keseluruhan. Sedangkan Regan masih tidur di dalam kamarnya, padahal ini sudah jam 9 pagi, hampir siang tapi Regan belum bangun juga.
Sila tidak membuat sarapan, ia hanya memakan roti selai kacang kesukaannya. Setelah beberes Sila baru sarapan roti "Kalau aku bangunin Regan, dia marah gak ya?" tanya Sila pada dirinya sendiri.
Ting!
Sila membuka hp nya melihat siapa yang mengirim pesan.
...Mama Rara...
Assalamualaikum sayang.
Kamu sama Regan ke rumah ya nanti sore, kita masak dan makan malam bersama. Mama kangen sama menantu Mama ini.
^^^Waalaikumsalam.^^^
^^^Iya ma, nanti sore Sila sana Regan ke rumah.^^^
Bermalam ya sayang.
^^^Sila ikut Regan aja ma.^^^
Regan pasti mau kalau Mama yang suruh.
^^^Iya ma.^^^
Yaudah, mama tunggu kalian loh sayang.
^^^Iya ma, insyaallah.^^^
Baiklah makasih ya sayang, assalamualaikum.
^^^Iya ma, waalaikumsalam.^^^
Sila tersenyum setelah mematikan handphone nya "Nanti aku kasih tau Regan setelah bangun deh, sekarang aku mau mandi" gumam Sila, ia beranjak dari meja makan. Tapi sebelum pergi ia membereskan meja makan terlebih dahulu baru ia ke kamarnya.
Sore harinya, Regan dan Sila benar-benar pergi ke rumah Mama Rara. Regan sebenarnya tidak ingin bermalam, tapi Mama Rara terus memaksa dan merayu Regan agar ingin bermalam. Akhirnya Regan mengalah dan mereka pun bermalam disana.
Sila tak henti-hentinya tersenyum sepanjang jalan, ia benar-benar tidak sabar untuk cepat sampai disana. Mertua nya itu benar-benar baik, tidak seperti yang cerita cerita di novel, malahan ia sudah dianggap seperti putri oleh Mama Rara dan Papa Devan.
__ADS_1
Dan akhirnya setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai di kediaman Mama Rara, mobil Regan memasuki gerbang rumah atau bisa di sebut dengan mansion karena luas dan kemegahan bangunan tersebut.
Didepan sana Mama Rara berdiri menunggu kedatangan mereka, Regan dan Sila pun turun dari mobil menghampiri Mama Rara.
"Akhirnya kalian datang juga" ujar Mama Rara antusias memeluk Sila sebentar lalu mengajak mereka masuk "Yuk masuk yuk, barang-barang kali biar mang Ucup yang bawa ke dalam" ajak Mama Rara.
"Kamu mau istirahat dulu ada ya sama Regan di kamar, baru setelah itu kita masak untuk makan malam" Sial mengangguk dan tersenyum.
"Yaudah sana gih ke kamar nya, ayo Regan kamu ajak Sila istirahat dulu" titah Mama Rara pada Regan, Regan yang tidak ingin berdebat pun patuh dan menarik tangan Sila untuk ikut dengannya.
"Masuk" ucap Regan membukakan pintu kamarnya dulu.
"Kamu mau kemana?" tanya Sila karena Regan tidak ikut masuk. "Kepo lu" Sila bungkam, ia menundukkan kepalanya takut melihat Regan karena mengira Regan marah.
"Kita harus akting di depan Mama sama Papa. Gue gak mau di ceramahin sama Mama" tukas Regan, Sila mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan.
"Sana masuk" setelah mengatakan itu Regan keluar dan menutup pintu kamarnya.
***
Malam pun tiba, setelah sholat magrib tadi mereka pun melangsungkan makan malam. Meja makan sudah penuh dengan beraneka jenis makan "Wah sepertinya ini spesial sekali" ujar Papa Devan.
"Baiklah mari kita mulai makan nya, Papa yang pimpin doa nya" ujar Devan. Ia pun mulai membaca doa.
"Mau makan yang mana?" tanya Sila pada Regan. Seperti yang mereka katakan tadi, mereka benar-benar berakting di depan Mama Rara dan Papa Devan.
"Terserah kamu" jawab Regan, Sila mengangguk mengerti lalu ia pun mengambilkan nasi serta lauk untuk Regan. Mama Rara tersenyum melihat itu "Sepertinya keputusan untuk menjodohkan mereka memang benar" batinnya menatap binar Regan Dan Sila.
"Papa mau semuanya ma, mau cobain semuanya. Sepertinya enak semua nih" ujar Papa Devan.
"Iya pa" Mama Rara pun mengambil apa yang yang Papa Devan inginkan ke piring nya.
Mereka pun makan dengan hikmat hingga mereka sama sama kenyang. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah, itu sudah menjadi kebiasaannya Mama Rara dan Papa Devan, apalagi kini anggota keluarga mereka bertambah dan mereka pun bertambah ramai. Tidak seperti dulu, ya meskipun bukan setiap hari mereka berempat berkumpul seperti itu.
Sila duduk dengan canggung di samping Regan. Di sebrang mereka sudah ada Mama Rara dan Papa Devan yang duduk, suami istri itu berpelukan dengan mesranya seraya menonton televisi.
Apakah ia dan Sila seperti itu juga?. Regan pun menarik pinggang Sila agar lebih dekat dengannya, Sila terkejut karena tindakan Regan yang selalu tiba-tiba menurutnya, meskipun ia sudah tahu kalau mereka akan bersandiwara.
"Ayo cepat rangkul gue, biar kita romantis juga. Masa kalah sama Mama dan Papa sih" bisik Regan tepat di telinga Sila.
__ADS_1
"Emang harus ya?" Bisik Sila juga.
"Iya harus!" ujar Regan spontan, ia tidak berbisik lagi melainkan mengeraskan suara nya.
"Kamu kenapa Regan?" tanya Mama Rara menatap Herera Regan, Papa Devan pun itu menatap nya.
"E.. enggak kok ma" Mama Rara mengangguk lalu kembali melihat pada tv.
"Nah kan, ayo cepetan makannya" bisik Regan kesal. Sila pun dengan kaku memeluk Regan. Kini tidak ada jarak diantara mereka keduanya sangat berdempetan, Regan menarik Sila untuk bersandar di dada bidangnya.
Mereka berdua berusaha untuk tidak kaku lagi selama posisi mereka yang seperti itu. Mama Rara ingin meminum tehnya dan tidak sengaja melihat keduanya.
Mama Rara tersenyum melihat posisi mereka "Pa liat mereka berdua deh" ucap Mama Rara pelan, Papa Devan menoleh dan ikut tersenyum melihatnya.
"Kita jangan sampai kalah sama mereka berdua ma" ujar Papa Devan, Papa Devan memang seperti itu selalu mencari kesempatan bermesraan dengan sang istri tercinta.
"Is si Papa kita udah tua pa" ujar Mama Rara.
"Belum tua tua amat kali ma" kata Papa merangkul pundak sang istri dan mengecup mesra keningnya.
Beralih pada Sila dan Regan. Regan sudah nampak rileks dan lebih terlihat sangat menikmati pelukan mereka. Sila sekali-kali mendongak melihat wajah Regan, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya dan menonton televisi.
Sila dengan mudah dapat mendengar detak jantung Regan yang berdetak dengan cepat "Kenapa jantung Regan berdetak dengan cepat ya" tanya Sila dalam hati.
"Sialan kenapa harus saat seperti ini sih, pasti Sila mendengar nya sudah mendengar nya dengan jelas" batin Regan. Ia berdehem untuk menormalkan dirinya dan juga detak jantungnya.
Sila mendongak melihat wajah Regan, sejenak tatapan keduanya terpaku. Entah angin dari mana tapi yang pasti Regan menundukkan kepalanya, wajah mereka semakin lama semakin dekat.
Regan menatap bola mata Sila yang menenangkan menurut nya ketika ia menatap nya. Sila memejamkan matanya dan dapat ia rasakan benda kenyal mendarat di kening nya.
"Ekhm" keduanya terkejut mendengar deheman Papa Devan, mereka berdua gelagapan dan melepaskan pelukannya karena refleks, padahal mereka ingin bersandiwara bermesraan di depan Mama Rara dan Papa Devan.
"Papa apa-apaan sih, ganggu aja tau gak" ucap Mama Rara memukul lengan Papa Devan, bukannya merasa bersalah Papa Devan malah melayangkan tatapan menggoda pada putranya.
Regan menatap kesal sang Papa entah karena apa, apa karena ia di ganggu saat mencium kening Sila tadi? Tidak tidak.. sepertinya diri nya sudah tidak waras.
Sila menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus "Aku kenapa? Regan kenapa mencium kening aku juga? Apa karena hanya akting saja?" batin Sila bertanya tanya.
Tbc.
__ADS_1