(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 28 : Bella dan antek-anteknya


__ADS_3

Happy reading


Bella menatap benci ke arah Sila, ia cemburu melihat kedekatan Sila dan Regan yang makan bersama, kadang Regan juga menyuapi Sila dan itu membuat Bella cemburu, Regan itu milik nya! dan tidak ada yang bisa merebutnya dari dirinya.


Dia akan melakukan segala hal untuk menyingkirkan perempuan yang berani mendekati miliknya, termasuk dengan Sila yang berani mendekati Regan nya.


"Gila sih, makin hari makin dekat aja si Sila sama Regan" ujar Siska yang juga mentap Regan dan Sila.


"Sepertinya teguran dulu enggak ada apa-apanya untuk nya ya, jadi kapan kita menjalankan rencana selanjutnya?" tanya Larah pada Bella, Bella tersenyum miring menatap Sila begitu dalam.


"Lihat dan perhatikan" Siska dan Laras menatap Bella dengan bingung.


Bella memanggil salah satu adiknya kelasnya, ternyata Bella menyuruhnya untuk menyiram Sila dengan kuah bakso nya "Lakukan dengan baik"


Perempuan itu menundukkan kepalanya takut, ia merasa bimbang, apakah ia akan melakukannya atau tidak.


Ia sungguh merasa bersalah setelah berbohong dan kebohongan nya itu berhasil membuat Sila di buli oleh Bella dan teman temannya dulu.


Tapi ia tidak berdaya, dia bukan anak orang kaya seperti para murid yang ada di sekolah ini, dia hanya anak beasiswa sehingga dapat bersekolah sini.


Bella mengancam nya jika ia tidak melakukan apa yang Bella minta, maka dia akan dikeluarkan dari sana, apalagi Bella adalah anak dari kepala sekolah disini.


"Ayo cepat" Bella mendorong perempuan itu untuk segera melakukan perintahnya.


Dengan pelan perempuan itu berjalan menuju meja Sila dan teman-temannya yang berada di pojok, tangan nya sedikit gemetar memegang nampan yang berisi bakso dengan kuah yang sedikit panas.


"Maafkan aku kak Sila" ia memejamkan matanya lalu berlaga tersandung hingga bakso itu itu terjatuh, ia terus menutup matanya tidak ingin melihat kondisi Sila.


Tapi kantin tiba-tiba menjadi hening sebelum suara jatuhan mangkuk dan nampan nya itu.


Dengan pelan dia membuka matanya, dia membulatkan matanya saat melihat bukan Sila yang terkena kuah bakso itu melainkan Regan yang terkena karena melindungi Sila.


Bella, Siska dan Laras jika membulatkan matanya terkejut akan hal itu, Regan yang mereka kenal adalah orang yang acuh dengan sekitar apalagi dengan perempuan.


Tapi sekarang mereka semua melihat Regan memeluk Sila dari belakang melindungi Sila agar tidak terkena kuah panas bakso itu.


Kantin menjadi hening dengan seluruh perhatian tertuju pada meja mereka, pada siswa dan siswi juga ikut terdiam karena terkejut dengan hal itu.


Brak


Juli menggebrak meja lalu berdiri dari duduknya, ia mentap adik kelasnya dengan tajam "Berani banget lo!"

__ADS_1


"Maaf kak, aku enggak sengaja" ucap nya dengan nada bergetar.


Sila membalikkan badannya melihat siapa yang ingin menyiram nya, ia melihat dan ternyata dia gadis yang sama memberitahukan nya untuk pergi ke gudang sekolah.


Sila kembali membalikkan badannya melihat Regan, ia khawatir jika kulit Regan melepuh karena kuah panas itu.


"Regan kita harus mengobati punggung kamu" kata Sila memegang tangan Regan yang mengepal kuat. Sila mengartikan hal itu jika Regan menahan rasa perih di punggung nya.


Padahal yang sebenarnya Regan geram dan marah sekarang ini "Kita ke uks ya, pasti sangat perih"


"Gue gak papa"


Bella menggetarkan gigi nya marah, ia mengepalkan tangannya kuat melihat itu semua.


"Nyatanya itu terlihat sangat disengaja, lo terlalu buruk untuk berbohong" ujar Raden berdiri dengan bersekedap dada.


Juli menarik tangan perempuan itu untuk berdiri lalu menatap papan nama perempuan "Nurul Susiana, gue tahu anak ini. Dia tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini jika tidak ada orang di belakangnya" batin Juli.


"Pokoknya kita ke UKS" Sila langsung menarik tangan Regan pergi dari sana berjalan menuju UKS untuk mengobati punggung Regan.


Raden dan Rafi mengikuti Sila dan Regan menuju ruang UKS, sedangkan Juli dan Rifan masih di sana.


Dapat dilihat Bella mengepalkan tangannya dan hal itu semakin menguatkan tebakan Juli "Si*lan, berani bermain seperti hem" Juli tersenyum miring mentap ketiganya.


"Sudah?" tanya Rifan pada Juli, Juli bingung dengan perkataan Rifan.


"Apa?" tanya Juli balik.


"Ayo" tanpa menjawab pertanyaan Juli, Rifan langsung menarik tangan Juli pergi dari kantin meninggalkan Nurul.


Ia mer*mas ujung bajunya, air matanya sudah berjatuhan lalu perlahan-lahan terdengar suara isakan.


"Hiks hiks maaf kak"


"Berani banget anak beasiswa buat masalah sama Regan"


"Iya, gue yakin pasti beasiswanya akan di cabut tuh sama Regan"


"Bener banget"


"Rasain tuh"

__ADS_1


Nurul di serang oleh ucapan pedas dari para menghuni kantin itu, ia menangis sendirian di pojok sana tanpa di temani satu orang pun, ia sama sekali tidak mempunyai teman di sana hanya karena kastanya.


Disisi lain Sila yang sedang mengoleskan jel pada punggung Regan, obat itu bermanfaat untuk mengurangi rasa perih pada punggung Regan.


Tapi sebenarnya Regan tidak membutuhkan nya, ini tidak ada rasa sama sekali lagian kuahnya tidak terlalu panas jadi punggungnya hanya memerah saja, tapi Sila tetap kekeuh dan Regan pasrah dan membiarkan nya.


"Alhamdulillah, nah sekarang selesai" Raden dan Rafi terkekeh melihat keterpaksaan Regan di obati oleh Sila, jarang jarang mereka bisa melihat ekspresi Regan seperti itu.


"Nanti kalau udah kering kamu baru bisa pakai kaos kamu" jelas Sila, ia berdiri dan membereskan kota obat itu lalu menyimpannya di dalam lemari yang ada di samping nya.


Regan tadi menyuruh semua para petugas keluar dari sana hingga hanya mereka saja sekarang ini berada di dalam sana.


"Sekarang sudah kan? jam istirahat hampir habis kami ke kelas duluan" pamit Juli, ia menarik tangan Sila keluar dari sana.


Hingga mereka sampai di dalam kelas Juli bersekedap dada mentap Sila, suasana kelas masih sepi karena jam istirahat belum habis, tapi Sila dan Juli sudah biasa pergi ke kelas sebelum bel berbunyi.


"Sekarang jawab, apa benar Nurul yang orang yang sama menyuruh lo pergi ke gudang sekolah dulu?" tanya Juli, Sila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ternyata benar, jadi selama ini Bella dan antek-anteknya lah yang memonopoli Nurul, ia mungkin mengancam Nurul"


"Kita gak boleh menuduh tanpa bukti Juli"


"Benar, tapi gue sangat yakin. Apalagi di lihat dari perilaku Bella selama ini, lo enggak tau aja sil kalau Bella itu sebenarnya suka sama Regan"


Sila menutup mulutnya terkejut, ia baru tau akan hal itu "Padahal lo udah dua tahun sekolah disini loh, masih ketinggalan berita aja" ejek Juli melihat keterkejutan Sila.


"Lo harus hati-hati sama Bella, ia akan melakukan segala cara apapun untuk mendapatkan Regan, tapi lo tenang saja gue akan lindungi lo"


Juli merangkul pundak Sila, ia mengulas senyum nya membuat Sila juga ikut tersenyum.


"Makasih Juli, udah jadi sahabat Sila" kata Sila memeluk Juli.


"Iya sama-sama, besok nyokap dan bokap gue ada perjalanan bisnis, lo udah janji sama gue bakal bermalam"


"Iya, nanti aku izin sama Regan"


"Lo harus bermalam pokoknya, Lo sudah janji dan janji enggak boleh di ingkari" Sila terkekeh lalu menganggukkan kepalanya.


Keduanya sama-sama tertawa lalu terdengar suara bel berbunyi menandakan jam istirahat sudah habis, satu persatu teman kelasnya sudah ada di kelas hingga guru juga masuk dan memulai pembelajaran nya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2