(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 58 : Tawuran


__ADS_3

Happy reading.


Pada jam istirahaat kedua Sila dan Juli pergi ke belakang taman sekolah, mencari udara segara dan menenangkan diri adalah pilihan yang tepat di sana.


“Lo percaya kalau Bella benar-benar berubah?” tanya Juli pada Sila, sekarang mereka sudah duduk salah satu kursi besi di bawa pohon.


“Gue bukan nya suudzon sil, tapi lo tau sendiri kan bagaimana perilaku Bella sama lo selama ini. Masuk akal gak sih hanya dengan satu hari aja dia udah berubah kayak gitu.”


“Yaa gue sih seneng kalau dia berubah, tapi kita harus tetap waspada sama mereka.” Sila mengangguk menanggapi lalu menyandarkan kepala nya pada bahu Juli.


Tak sadar jika ada yang mendengarkan percakapan mereka berdua. “Juli tidak percaya dengan perubahan lo bell, secepatnya kita harus selesai in semuanya sebelu Sila juga ikut kemakan dengan omanagn Juli.”


“Lo benar, kita harus harus cepat. Tapi lo berdua tau Regan itu sangat suasah di dekati meskipun gue udah berubah kalem kayak Sila, tetap aja Regan gak tertarik sama sekali sama gue.” sebal Bella.


“Kita gini aja dulu, setelah ada kesempatan baru kita mulai, kita jga gak boleh gegabah kan.” Lanjut Bella tersenyum miring. Laras dan Siska mengangguk dan ikut tersenyum miring mentap punggung Sila dan Juli.


Di sisi lain, Regan dan ketiga sahabat nya berada di rooftof kebiasaan mereka jika jam istirahat kedua akan berada di sana.


Di temani dengan cemilan dan minuman mereka semua duduk santai seraya bermain game di handphone masing-masing.


"Regan, nanti malam ada balapan, hadiahnya lumayan lah, mau ikut gak?" tanya Raden pada Regan, ia berhenti main game sejenak untuk memakan cemilan nya.


"Boleh deh, udah lama juga gue gak balapan." jawab Regan setuju.


"Semenjak lo nikah, lo berubah. Tapi gue suka perubahan lo." ucap Rafi menepuk pundak Regan yang kebetulan duduk di samping nya.


"Oh iya fan, gimana hubungan lo sama Juli?" tanya Rafi, Rifan hanya mengangkat bahunya.


"Cepetan resmikan hubungan kalian lah fan, kasian anak orang di baperin mulu tapi gak ada kejelasan." lanjut nya.

__ADS_1


"Iya sebelum gue tikung." sambung Raden, dan yang benar saja Rifan langsung menatap Raden dengan tajam.


"Berani lo!"


"Ya berani lah, lo ada yang lambat! Siapa cepat dia dapat."


"Yoi, gue sih tebak kalau Juli pasti terima Raden, dari pada nunggu seseorang yang belum pasti, mending yang pasti pasti aja." timpal Rafi memanas-manasi Rifan dan tertawa puas saat melihat wajah merah Rifan.


Pulang sekolah sekolah, para siswa dan siswi pulang kerumahnya masing-masing, ada juga beberapa yang kumpul di kafe bersama temannya yang lain.


Dan saat ini Sila tengah menunggu Regan di samping mobil pria itu, kelas Regan sedikit terlambat pulang karena ada pelajaran tambahan tadi.


Dengan sabar Sila menunggu di parkiran, Juli sudah pulang terlebih dahulu karena di jemput oleh Ayahnya.


Sila lantas tersenyum melihat Regan dan juga ketiga sahabatnya berjalan menghampiri nya. "Maaf lama." Sila menganggukkan kepalanya mengerti lalu mengikuti Regan masuk ke mobilnya.


"Ok." jawab Rafi dan Raden, sedangkan Rifan hanya menganggukkan kepalanya.


Regan membunyikan klakson mobil nya sebelum benar-benar pergi dari sana, tidak memakan banyak waktu mereka sudah sampai di Apartemen nya.


"Setelah ini gue langsung kumpul." kata Regan memasuki kamarnya, ia mengganti seragam nya terlebih dahulu sebelum pergi lagi.


"Gak mau makan dulu?" tanya Sila.


"Nanti gue makan sama yang lain, lo makan ada duluan."


"Gue pamit, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, hati-hati." seru Sila mengingatkan.

__ADS_1


Regan turun ke parkiran dan naik ke motor besar nya, menyalakan mesin motor nya dan melajukan nya menuju markas Red Moon.


Di sana tampak anggota Red Moon sudah datang, ia memarkirkan motornya nya dan menghampiri anggota nya.


"Masuk." ucapnya nya pada anggota yang berada di luar.


Duduk di kursi dengan wajah datar dan aura yang menakutkan Regan langsung meminta penjelasannya.


"Begini bos...." mengalirlah cerita nya membuat Regan mengepalkan tangannya menahan emosi nya.


"Si*lan!"


"Dia mengajak kita tawuran di jalan xx." lanjut nya.


"Kita ada ladeni, kita akan balas sakitnya Andra." ucap Regan dengan nada dingin nya.


Para anggota Red Moon sedikit merinding saat merasakan aura tak enak dari sang ketua nya.


"Kirain mereka udah tobat, eh malah makin menjadi-jadi." ujar Rafi.


"Kalau mereka mah gak ada tobat-tobat nya." timpal Raden.


"Kalian sudah pada makan?" lanjutnya bertanya, mereka semua lantas menggelengkan kepalanya, pulang sekolah mereka langsung kesana.


"Pesan makanan semau kalian." ujar Regan, ia sebagai ketua bertanggung jawab atas anggota nya.


"Wets, makasih bos." seru Raden, ia dan anak-anak yang lain langsung memesan makanan sebanyak-banyaknya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2