(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 6 : Kemarahan Regan


__ADS_3

Happy reading


Sila berjalan di koridor bersama Juli, mereka berdua dari perpustakaan karena jam kosong. Di perjalanan banyak yang menyapa keduanya, Sila dan Juli memang sedikit terkenal di angkatan maupun pada adik kelas mereka.


Sila dan Juli, dua sahabat itu selalu menyumbang piala untuk sekolah membuat keduanya menjadi murid kesayangan. Juli yang selalu menang dalam bidang keolahragaan dan Sila dalam bidang akademik memang perpaduan yang sangat baik. Tidak banyak yang iri pada mereka berdua dan tidak banyak pula yang ingin menyingkirkan mereka terutama pada Sila.


Tapi Juli menjadi orang yang pertama menjadi benteng untuk melindungi Sila, sekali kalian maju maka kau akan hancur di tangan Juli.


"Hai Jul, Sila" sapa mereka.


"Oh hai" balas Juli, Sila hanya tersenyum menanggapinya tapi hal kecil itu pun membuat pria itu salah tingkah.


"Assalamualaikum Sila" salam pria lainnya.


"Waalaikumussalam" jawab Sila dengan nada lembut membuat pria itu memegang dadanya karena degup jantungnya yang berdetak lebih cepat. Tapi Sila salah mengartikan hal itu "Kamu kenapa?" tanya Sila khawatir. Juli yang ada di samping Sila menepuk keningnya melihat kepolosan sahabat nya itu.


"Eh enggak papa kok sil" jawab pria itu, kini wajahnya sudah memerah "Kalau begitu gue ke kelas dulu" dia langsung berlari dari sana membuat Sila menatap dengan bingung.


"Yaallah tatapan nya"


"Polos sekali calon istri gue"


"Mimpi Lo"


"Lo yang mimpi"


"Hai cantik" goda pria yang terkenal playboy dan nakal di angkatan Sila. Sila hanya tersenyum simpul lalu Juli segera menarik tangan Sila pergi dari sana bisa-bisa pada kaum adam berkumpul di sana jika Sila tetap di sana.


"Jul mau di bawa kemana tuh calon istri gue"


"Juli mah gak asik"


"Gue belum di sana sama bidadari"


"Lain kali lo gak usah ladeni mereka semua" Sila mengangguk mengerti pada Juli yang masih menarik tangan nya.


Tanpa Sila sadari dari awal Regan melihat semua itu, tangan Regan terkepal kuat "Dasar perempuan genit, pakaiannya saja tertutup tapi kelakuan nya ck"


"Woy Regan napa lo berhenti di sana, ayo cepat sebelum guru nemuin kita" panggil Raden yang sedikit berteriak ajar Regan mendengar nya karena jarak mereka.


Regan kembali berdecak lalu menyusul pada sahabatnya. Mereka berempat berencana untuk membolos pada mata pelajaran selanjutnya, dan tempat terbaik mereka saat membolos ada di rooftop. Mereka mengunci pintu rooftop dan duduk di sofa yang ada di sana.

__ADS_1


"Seger banget ada disini" ujar Rafi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Duh lupa bawa makanan, gimana dong" ujar Raden bangun dari baringan nya.


Regan mengeluarkan rokok dan korek nya, ia menyalakan korek apinya dan membakar ujung rokok nya. Regan menghembuskan asap rokok nya seraya menatap langit yang sangat cerah hari ini.


Entah mengapa Regan tiba-tiba teringat pada Sila yang di goda oleh pria tadi di koridor "Ck dasar cewek gatel, gak malu apa sama pakaiannya yang tertutup" gumam Regan menghembuskan asap rokok nya kasar.


"Lo bilang apa gan? Gua gak denger" kata Raden yang kebetulan berada di sebelah Regan.


"Bukan urusan lo" ujar Regan membuat Raden mencibir.


"Eh lo pada liat Sila yang di kerumuni cowok-cowok tadi kagak?" tanya Rafi tiba-tiba.


"Liat, gue kesel banget tau mereka godain calon bini gue" Rafi menampol lengan Raden "Halu lagi lo gue gorok" sahut Rafi.


"Jahat banget sih lo sama sahabat sendiri, enggak ada syukur syukur nya sama sahabat seganteng dan sebaik hati gue" kata Raden  dengan pedenya.


"Pede banget lo jadi orang, gue malah menyesal malahan dapat sahabat prik kaya Lo"


"Lo-"


"Sini lo maju, kita gelud aja siapa yang paling kuat" tantang Raden.


"Siapa takut, ayo" kata Rafi menantang.


"Ayo" mereka berdua bergelud saling menarik satu sama lain hingga seragam mereka menjadi kusut. Regan Dan Rifan menonton mereka dengan santai, pemandangan itu bukan hanya sekali dua kali tapi berkali-kali terjadi jika mereka berkumpul seperti ini, pasti ada saja bahan untuk mereka berdebat dan berakhir seperti itu.


"Rokok?" Rifan menggeleng menolak.


***


"Lo beneran gak mau gue anterin pulang sil?" Tanya Juli pada Sila, mereka berbuat berjalan menuju gerbang. Hari ini Juli di antar jemput oleh supir keluarga nya.


"Enggak jul, aku bisa kok pulang sendiri" ucap Sila.


"Yaudah lo hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa lo langsung hubungin gue, ok." Sila mengangguk lalu tersenyum.


"Yaudah gue pulang, bye.. assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Sila ikut melambaikan tangannya hingga mobil Juli pergi. Sila memutuskan untuk berjalan kaki saja untuk pulang dan itu sangat menyenangkan menurutnya.

__ADS_1


"Oh iya, bahan makanan kan kurang di apartemen. apa aku singgah beli aja kali ya" batin Sila.


"Yaudah dah deh singgah aja" Sila memutuskan untuk membeli bahan makanan di minimarket terdekat.


"Makasih kak" kata Sila mengambil kantong belanjaan, ia berjalan keluar menuju apartemen.


"Assalamualaikum" salam Sila memasuki apartemen, Sila membuka sepatu sekolah nya lalu menyimpannya di rak sepatu dan mengganti nya dengan sendal rumah.


Sila menaruh belanjanya di dapur terlebih dahulu baru ia ke kamar mengganti pakaian. Sebelum tangan Sila menggapai kantong belanjaan nya tadi sebuah tangan sudah menahan tangan Sila. Sila mendongak dan ternyata orang tersebut adalah Regan sendiri.


"Regan, kamu sudah pulang pulang juga" kata Sila, Regan menatap Sila datar tanpa ekspresi "Ikut gue" ujar Regan menarik tangan Sila dengan kasar.


Regan membawa Sila ke kamar Sila sendiri. Dan dengan kasar Regan mendorong Sila ke sofa. "Lo jadi cewek bisa enggak genit gak? Gatel banget jadi cewek. Ingat sama status lo yang sudah jadi istri, gak malu apa sama pakaiannya lo yang tertutup itu" omel Regan dengan nada yang sedikit tinggi.


"Tunggu. Kamu kenapa pulang-pulang marah begini sama aku? Aku salah apa Regan?" tanya Sila, ia bingung sekaligus kaget.


"Lo nanya lo salah apa?" tanya Regan. Sila mengangguk ragu menatap Regan.


"Salah lo banyak!"


"Kenapa kamu marah-marah begini sih Regan" kata Sila menatap Regan seduh, Deg. Regan tertegun melihat tatapan itu lalu ia kembali sadar, Regan mendekat pada Sila lalu mencekik leher Sila.


"Gak udah tatap gue dengan tatapan menjijikan seperti itu" ujar Regan menekan setiap kata. Wajah cantik Sila memerah karena cekikan Regan, bahkan leher Sila pun ikut memerah tapi Regan tidak dapat melihatnya karena tertutupi oleh hijab Sila.


Sila memukul tangan Regan "Reg..an lepas" ucapan nya terbata-bata karena sudah kesulitan bernafas.


"Akh hu hu" Sila menghirup udara secara rakus saat Regan sudah melepas cekikan nya. Regan tersenyum remeh melihat itu, bukannya iba ataupun khawatir sedikit pun. Regan mencengkeram dagu Sila dengan kuat "Sekali lagi gue dapat lo kegatelan sama laki-laki gue gak akan segan-segan untuk menyakiti lo lagi, camkan itu" Regan melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan keluar dari sana meninggalkan Sila yang terdiam menatap lantai dengan kosong.


Air mata Sila berlomba-lomba berjatuhan di susul dengan isakan kecil cari bibir mungilnya "Kepada Regan- seperti itu" gumamnya.


"ENGGAK UDAH CENGENG, SEKARANG CEPAT MEMASAK GUE LAPER"  teriakan Regan membuat Sila lantas menghapus air matanya dengan kasar, Sila mengatur nafasnya lalu keluar dari kamarnya.


Sila memasak dengan cepat, tapi air matanya terus berjatuhan "Kenapa hiks air mata aku gak mau berhenti hiks keluar" kata Sila menghapus air matanya.


"MASAK YANG SIMPEL, GUE UDAH LAPER BANGS*T" Sila memejamkan matanya mendengar umpatan Regan, dengan buru-buru ia mengaduk nasi gorengnya setelah itu ia menyajikan nasi goreng tersebut di piring.


"Pergi lo dari sini, nanti gue gak napsu makan gara-gara lo ada disini" usir Regan yang datang tiba-tiba, Sila mengangguk "Lama" Regan dengan tega mendorong Sila yang lalu duduk di meja makan.


Regan meminum terlebih dahulu lalu mulai memakan nasi goreng nya "Enak juga" batinnya menikmati masakan Sila.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2