
Happy reading.
Pada malam harinya Raden dan Rafi sudah tertidur di sofa. Sedangkan Rifan, ia masih terjaga sama sekali nggak ngantuk dan berniat tidur. Sama halnya dengan Sila yang di dalam kamarnya terus membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Disisi lain Regan yang tertidur dikamar tiba-tiba gelisah, kepalanya bergerak gelisah, ia sudah keringat namun tak kunjung terbangun.
Nafasnya sudah mulai tak beraturan. "Arghhhh..." Tiba-tiba saja dia berteriak keras membuat Sila dan Rifan langsung menghampiri nya.
"Arghhh.." Teriaknya lagi.
"Astaghfirullah Regan." Sila menutup mulut melihat kondisi Regan yang bisa dikatakan sangat kacau.
"Sudah gue duga." Gumam Rifan menatap datar Regan yang nampak kesakitan.
Sila sudah menagis tak tega melihat Regan yang nampak kesakitan. "Jangan menagis sekarang kita bacakan ayat kursi agar Regan tidak kesakitan terlalu lama." Sila mengangguk lalu lalu mulai membacakan ayat kursi bersamaan dengan Rifan.
Bismillahirrahmanirrahim..
Regan terus berteriak kesakitan mendengar lantunan ayat kursi tersebut hingga ia pingsan tak sadarkan diri.
"Besok dia pasti sudah sadar." Kata Rifan.
"Ayo pergi, sebaiknya lo juga tidur." Sila hanya mengangguk tanpa menatap Rifan, ia hanya terus menatap Regan yang sudah kembali terlelap.
"Pasti sangat sakit, semoga itu tidak kembali lagi." Sila mengelus kening Regan sejenak, sebelum ia keluar dari sana.
Di esokan harinya, Regan banget dengan badan yang sedikit pegal di tambah tenggorokan yang serak.
"Ayo minum dulu." Kata Sila memberikan air hangat pada Regan.
"Aku kenapa?" Tanya nya yang bingung pada dirinya sendiri.
"Gak papa kok, ayo minum dulu." Regan pun meminum air tersebut hingga habis.
"Gimana kabarnya bro?" Tanya Raden yang masuk ke kamar di susul olah Rifan dan Rafi.
"Kalian bertiga ada apa pagi-pagi sudah di sini." Kata Regan menatap ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Kita dari kemarin kalian di sini." Jawab Rafi membuat Regan mengerutkan keningnya bingung, ia tidak ingat apa-apa.
"Yuk makan, makanan nya sudah siap." Kata Juli datang memanggil mereka.
"Sini kita bantu." Kata Rifan membantu Regan untuk pergi ke keluar menuju meja makan.
Di siang harinya saat mereka tengah berkumpul di ruang tengah, kedatangan orang tua Regan dan Sila mengejutkan mereka. Pasalnya mereka tidak di kabari sedikit pun.
"Mama? Umi?"
"Assalamualaikum nak." Salam mereka.
"Waalaikumsalam." Sila mencium punggung tangan kedua wanita itu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Loh ternyata, kalian ada di sini ya." Kata Mama Rara melihat Julia, Raden, Rafi dan Rifan.
"Iya Tante." Mereka semua berdiri dari duduknya pergi menyalimi Mama Rara dan Umi Annisa.
"Ini kami bawa kue kering, ayo di makan." Ucap Umi Annisa mengeluarkan kotak kue kering di atas meja, dengan cepat Raden dan Rafi mencomot nya.
"Kalau begitu ayo makan lagi."
"Gimana kabar kamu sayang?" Tanya Umi Annisa kini beralih pada putrinya.
"Alhamdulillah, Sila baik Umi. Ohiya, Abi sama Papa kok gan ikut?" Tanya nya yang tidak melihat Abi Adam dan Papa Devan.
"Abi sama Papa ada pekerjaan jadi gak bisa mampir, padahal tadi kami di antar oleh mereka." Mama Rara mengangguk menyetujui ucapan Umi Annisa.
Mereka pun saling mengobrol satu sama lain, tanpa melihat Regan yang tengah menahan sakit. Regan terlihat mencengkeram ujung sofa menahan rasa sakit hingga ia tidak bisa menahannya lagi.
"Arghhhh....." Teriaknya membuat mereka semua terkejut, lebih terkejut lagi melihat keadaan Regan yang menghawatirkan.
"Yaallah nak."
"Sayang!"
"Regan!"
__ADS_1
"Arghh." Regan kembali menggeram kesakitan membuat yang lain tambah panik.
"I-ini kenapa, kenapa Regan bisa seperti ini." Kata Mama Rara, matanya sudah berkaca-kaca melihat keadaan sang putra.
"Tidak mungkin." Gumam Umi Annisa melihat kondisi Regan.
"Iya Umi, apa yang Umi pikirkan memang benar." Kata Sila seakan tau isi kepala sang ibunda.
"Astaghfirullah, yaallah."
"Umi." Panggil Sila menggenggam tangan sang ibunda.
Umi Annisa tersenyum memenangkan putrinya lalu duduk di sisi Regan yang terus menggeram kesakitan. "Bismillahirrahmanirrahim...." Umi Annisa membacakan ayat-ayat suci hingga Regan tenang dan berakhir pingsan.
"Yaallah nak." Mama Rara menatap sendu sang putra yang sudah tidak sadarkan diri, ia mengusap kepala putranya dengan sayang.
"Tolong pindahan Regan dikamar." Pinta Sila pada para lelaki, mereka mengangguk patuh dan mengangkat Regan, membawanya ke kamar.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mama Rara meminta penjelasan pada mereka. Lalu mengalirkan cerita tersebut tanpa ada yang di tutupi, selain pada kejadian yang ada di taman.
"Astaghfirullah yaallah.Tapi kamu gak papa kan sayang?" Tanya Mama Rara pada menantu nya.
"Sila gak papa kok ma." Jawab Sila mengelus punggung sang ibu mertua.
"Setelah mendengar semuanya, Mama membuat keputusan untuk membawa Regan pergi untuk sementara." Jelas Mama Rara membuat yang lain terkejut.
"Gak usah khawatir, ini semua untuk kebaikan kalian. Mama gak mau Regan menyakiti kamu walaupun dalam keadaan tidak sadar." Lanjut nya.
Umi Annisa mengelus punggung sang anak dan melempar senyum padanya, "Umi setuju, lagian kenapa kalian tidak berbicara di awal."
"Awalnya kami hanya menebak-nebak saja hingga kemarin kami membuktikan nya." Jelas Raden.
Mereka semua terdiam dalam keheningan menatap kearah Regan yang terbaring di kasur.
Tbc.
Gaje banget gak sih😠mohon maaf ya, apalagi baru update setelah sekian lama. Kemarin tuh aku ujian semester guys jadi aku fokus dulu, dan belakangan ini aku juga pengkaderan jadi benar-benar full time aku tuh.... jadi mohon pengertiannya ya teman-teman....
__ADS_1