(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 17 : Yang sebenarnya


__ADS_3

Happy reading


"Nih minum dulu" kata Regan menarik gelas jus yang Sila buat untuk nya di depan Raden.


"Jelasin!" ujar Raden tidak memperdulikan Regan yang menyuruh nya untuk minum.


"Minum dulu baru gue jelasin" Raden mengalah dan meminum jus itu "Jadi??" tanya nya lagi setelah meminum juta nya hingga tandas.


"Haus akan doyan" ujar Regan.


"Lo yang suruh minum goblok!"


"tapi kan gak sekaligus juga kali"


"Emang apa masalahnya sih Regan. udah deh Lo gak udah ganti topik, sekarang Lo jelasin semuanya tanpa ada rahasia-rahasia lagi?" tekan Raden pada Regan.


Akhirnya Regan menceritakan yang sebenarnya pada Raden tanpa menyembunyikan fakta sedikitpun. Raden menghela nafas mendengarkan cerita Regan.


"Ini alasan lo selalu pulang cepat? karena udah ada pawangnya?" tanya Raden yang lebih mengarah menggoda nya.


"Kenapa gak undang kita sih ke acara kalian" kata Raden.


" Lo gak penting" Raden berdecak menatap Regan sinis lalu tersenyum saat menatap Sila yang masih menunduk.


"Gau usah takut sama gue, gue mah anak nya baik" ujar Raden  pada Sila.


Regan menatap Raden dengan horor "Gue minta lo jangan memberitahu yang lain soal, biar gue sendiri yang jelasin semuanya pada mereka jika waktu nya sudah tepat" ujar Regan pada Raden.


"Sampai kapan?" tanya Raden.


"Nanti" Raden kembali berdecak kesal.


Regan menoleh melihat Sila yang masih menunduk "Udah nunduk nya, gak pegal apa" ucap nya memegang dagu Sila mengangkat wajahnya.


"Maaf" ucap Sila.

__ADS_1


"Bukan salah lo" kata Regan, Raden sendari tadi melihat interaksi mereka menggigit bibir nya kesal. Bagaimana tidak kesal kalau Regan bermesraan di depannya yang jomblo!.


"Ekhm ekhm..." deheman Raden membuat Sila dan Regan sama-sama menatap Raden.


"Gue kan tamu nih, masa gak di suguhkan apa-apa sih" kata nya, Sila sadar lantas pergi mengambil kan cemilan buat Raden.


"Ngelunjak lo kambing, udah di kasih minum juga" kata Regan menatap sinis Raden yang hanya menyengir kuda


Sila datang membawa cemilan untuk mereka lalu kembali duduk di samping Regan, mendengar sudah azan berkumandang Sila mengucapkan syukur dan mengajak ke dua lelaki itu untuk sholat.


"Kita sholat yuk" Raden berhenti mengunyah menatap Regan, Regan mengangguk bahunya membuat Raden berdecak kembali. Kenapa sahabat nya itu sering sekali membuat nya kesal sudah berapa kali ia berdecak kesal hari ini.


"Yok, Regan imamnya" seru Raden menyeringai pada Regan, Regan mengangguk. Tidak masalah, lagian dia sudah biasa jadi imam saat sholat bersama Sila.


Sila ke ke kamarnya untuk mengambil air wudhu, begitupun dengan Raden dan Regan yang juga mengambil air wudhu tapi di kamar Regan.


Mereka sholat di kamar Sila, karena memang di sanalah Regan dan Sila sholat bersama. Mereka pun mulai melaksanakan kewajiban nya sebagai umat islam.


Sila mencium punggung tangan Regan setelah sholat, lagi dan lagi Raden hanya bersabar. "Yaudah aku mau masak untuk makan malam dulu" pamit Sila setelah membereskan alat sholat nya.


"Kita tunggu ada diluar aja" lanjut Regan menarik tangan Sila untuk ikut dengan kembali ke ruang tengah. Lagi dan lagi Raden di lupakan, seperti nya memang sudah nasib nya yang selalu sendiri.


Raden ikut menyusul kedepan lalu duduk di sofa singel, mereka menonton seraya menunggu pengantar makanan datang membawa pesanan nya.


Hingga beberapa menit kemudian bell berbunyi membuat Raden antusias mendengarkan nya "Yey makan!" seru nya bagaikan anak kecil yang senang mendapatkan mainan baru.


Mereka sama-sama ke meja makan, Sila menyajikan semua nya lalu mereka pun mulai makan dengan hikmat, Raden sangat rakus memakan makanan membuat Sila terkekeh melihat nya.


Regan menyadari itu, ia menginjak kaki Raden membuat Raden tersedak makanan yang ada di mulutnya, uhuuk uhukk. Sila memberikan minum pada Raden yang di terima sang empuh lalu meneguknya dengan cepat.


"Sialan lo Regan, mau buat gue mati lo!" imel Raden.


"Raden, gak boleh ngumpat di depan makanan, maafin Regan ya sekarang lanjut makan lagi gih" Raden menatap Regan dengan tajam, tapi gak ayal dia menuruti perkataan Sila dan kembali makan.


Setelah acara makan malam selesai mereka kembali berkumpul di ruang tengah "Mulai besok lo harus traktir gue pokok nya!" ucap Raden  membuat Regan menatap tidak terima.

__ADS_1


"Enak aja Lo!" bantah Regan.


"Gue ini bos lo kalau lo lupa" lanjut Regan, Raden malah terkekeh mendengar itu.


"Tapi kartu As lo ada di tangan gue bos, jadi mulai besok traktir gue atau gue bakalan bilang pada anak-anak" Regan membulatkan matanya lalu menatap Raden dengan tajam.


"Awas aja kalau lo bocorin semuanya" kata Regan.


"Yaudah pilihan lo berarti setuju mentraktir gue" seru Raden, Regan menghela nafas sebelum mengangguk setuju. Ia tidak ada pilihan lain selain menyetujui nya.


Lantas Raden bersorak senang. Sendari tadi Sila hanya diam melihat interaksi kedua ada sahabat itu, lalu terkekeh saat Raden kembali membuat Regan marah.


"Udah malam, sana lo pulang" kata Regan mengisir Raden yang masih asik mengemil.


"Bentaran deh Regan, enak ini cemilannya" Regan mendengus kesal mendengar itu, bisa-bisa stok cemilannya si habiskan oleh laki-laki itu.


"Ih Regan, gak baik usir tamu untuk pulang, apalagi kan Raden temen kamu" nasehat Sila pada Regan.


"Nak setuju gue sama Sila, istri lo itu memang yang paling ngertiin gue" Regan menginjak kaki Raden karena terbilang kesal.


"Owh santai brother" ucap Raden.z


"Yaudah deh, Sila gue pamit pulang ya makasih makanan sama minum nya tadi" pamit Raden pada Sila.


"Iya sama-sama" jawab Sila.


"Ayo sana keluar" Regan menyeret Raden untuk segera keluar "Sana pulang" ucap nya lalu menutup pintu.


Raden tersenyum setelah pintu tertutup "Lo udah mulai berubah Regan, Jika memang karena keberadaan Sila membuat lo berubah seperti itu maka gue yang akan menjadi garda terdepan yang akan melindungi nya dari laki-laki hidung belakang di luar sana. Semoga hubungan kalian tidak terputus hingga maut yang memisahkan" batin Raden.


"Ini adalah permulaan yang bagus" gumamnya sebelum pergi ke lift dan turun. Raden ingin kembali ke markas dengan perasaan lega, tenang dan bahagia sekaligus.


Karena suasana hati sedang baik, Raden berbaik hari singgah di sebuah cafe membeli minuman untuk anak-anak Red Moon yang ada di markas. Tapi sebelum itu si menghubungi yang lain bertanya berapa orang yang masih ada disana agar pesanan nya cukup, tidak lebih atau pun tidak kurang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2