
Happy reading
.
Setelah lomba sampai sore hari nya, kini permainan yang anak-anak tunggu sudah di mulai.
Sebuah game penjelajah mencari sebuah harta karun pada malam harinya, dengan di modali senter kecil yang sudah pihak sekolah siapkan mereka akan mulai satu persatu.
Dalam satu kelompok terdapat empat orang, dan itu hanya teman tenda mereka masing-masing. Satu persatu, setiap kelompok akan maju sesuai dengan nomor mereka masing-masing.
"Jadi siapa yang mau pegang senter nya nih?" tanya Fina, kini giliran kelompok mereka yang akan maju.
"Sini gue aja" ucap Juli menyambar senter tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim, ayo jalan " ajak Sila dengan tangga yang menggenggam erat tangan Sila, begitu pun dengan Fina dan Astrid yang saling berpegangan tangan.
"Rasanya gue mau pulang aja kalau gini." cicit Astrid menatap ke sekeliling nya waspada.
"Padahal tadi sore gak se-seram ini deh." lanjutnya mengeluh.
"Pasti ada jebakan yang di buat sama sekolah nih." kata Julia menimpali, Astrid dan Fina mengangguk setuju, sedangkan Sila hanya diam menyimak ke-tiga nya yang menerka apa yang akan terjadi kedepannya.
Di sisi lain, kelompok Regan menyusul setelah beberapa menit kelompok Sila maju, dengan kekuasaan mereka bisa mendapatkan posisi setelah kelompok Sila.
"Ayo cepat jalan, sebelum mereka semakin menjauh." ujar Regan berjalan cepat terlebih dahulu bersama Rifan.
Rifan sedikit khawatir pada Julia setelah mengetahui kelemahan gadis tomboy itu yang takut akan hal mistis.
"Ck, cepat sih cepat tapi gak ninggalin kita juga dong lu kan yang bawa senter nya." decak Raden menyusul Regan dan Rifan bersama Rafi.
Apa yang akan mereka lihat kalau di tinggal, Regan yang bawa senter nya di depan "Makanya cepetan." ucap Rifan.
"Iya iya!"
"Tapi bagaimana jika kita meninggalkan petunjuk nya."
"Sudahlah, mereka lagi khawatir sama cewek mereka jadi diam lah semua singa nya marah.
"Emang Rifan dan Juli sudah jadian?" tanya Raden.
"Entah, tapi sepertinya Rifan tertarik sama tuh cewek tomboi"
Mereka berjalan cepat agar bisa menemukan Sila dan yang lainnya di depan sana "Tuh cewek cewek juga ya jalan nya." kata Rafi saat ini belum melihat Sila dan juga teman-teman nya.
"Aaaa!" teriakkan itu membuat keempat laki laki itu berlari ke asal suara.
"Di depan sana!" kata Rifan. Suara itu adalah suara Julia ia bisa mengenalinya dan itu membuat nya tambah khawatir pada gadis tersebut.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Raden setelah mereka berada di samping keempat gadis itu.
__ADS_1
Rifan langsung menenangkan Juli saat melihat Sila kesusahan menenangkan nya. Hanya Sila yang berani di situ jadi ia sedikit kualahan menenangkan ketiga temannya.
"Udah gak papa." ucap Rifan memeluk Juli seraya mengelus punggung gadis itu.
"Sekarang ada gue." ucap nya lagi, tapi kini ia hanya berbisik pada Juli.
"Lo sendiri gak papa?" tanya Regan memeriksa Sila dengan memutar badan Sila untuk mencari luka, meskipun ini hanya permainan tapi ini adalah hutan, bisa saja Sila terluka kan?
"Aku gak papa kok Regan, kalian kok bisa sampai di sini?" tanya Sila, ia saja dan teman-teman nya yang berjalan terus tidak bisa menyusul dan bertemu dengan kelompok yang ada di depan nya.
"Kalau itu lo gak perlu tau, ayo kita sama sama menyelesaikan permainan ini." mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan Raden lalu mulai berjalan.
Dengan pelan Regan meraih tangan Sila untuk di genggaman nya, lantas Sila menatap Regan yang ternyata juga mentap nya.
Tapi Regan malah mengalihkan pandangannya kedepan "Ih itu ada surat!" tunjuk Rafi pada kertas yang menempel di batang pohon yang lumayan tinggi.
"Tinggi amat." celetuk Astrid.
"Gimana ya sama cewek cewek yang lain ngambil nya." ujar Fina seraya terkekeh.
Hap.
Regan mengambil nya dengan mudah lalu membuka nya "Apa isi nya?" tanya yang lain.
"Cari kunci di pohon persahabatan?"
"Pohon persahabatan? emang ada?"
"Emang iya? Kok gue gak perhatiin?" tanya Rafi.
"Ada kok." kata Sila lagi.
"Ayo ke sana." ajak Regan, sebelum melangkah ia menggenggam tangan Sila terlebih dahulu "Ayo." ucap nya.
Mereka kembali berjalan hingga Rafi menemukan pohon tersebut "Wah, lihat beneran ada dong itu empat pohon!" seru nya seraya menyenter pohon itu.
Rifan ingin maju mencari kuncinya tapi di tahan oleh Juli, Juli menggelengkan kepalanya melarang Rifan meninggalkan nya.
"Jangan tinggalin." ucap nya sedikit merengek.
"Sana lo berdua yang ambil." titah Rifan pada Rafi dan Raden.
"Iya iya!"
Kedua nya berjalan maju dan mencari kunci di sana "Gak ada kunci." ujar Raden, ia yang mencari dan Rafi yang memegang senter nya.
"Cari lagi, kan petunjuk nya bilang cari di pohon persahabatan." kata Rafi.
Raden berdecak lalu kembali mencari kunci itu, hingga ia memegang sebuah kotak, tak banyak bicara ia langsung membuka kotak tersebut.
__ADS_1
"Dapat!" seru nya, ternyata kunci itu berada didalam kotak tersebut.
"Ayo lanjut jalan." ajak nya senang dan berjalan terlebih dahulu.
"Itu ada petunjuk lagi kayaknya." kata Fina melihat seorang gulungan kertas di bawah pohon.
Rafi berlari membuka nya dan membaca isinya "Dapat kan harta karun nya dan bersenang senang lah." ucap nya membaca isinya.
"Ini mungkin yang terakhir." ujar Juli.
"Ayo."
Mereka berjalan hingga ada meja dan juga sebuah peti harta karun di atas meja tersebut yang berwarna emas ke coklat.
"Seperti yang itu." ucap Sila.
Mereka segera mendekat, tapi sebelum sampai ada yang menginjak sesuatu hingga dua hantu hantu bohong muncul membuat mereka terpekik kaget.
"Anjir apaan tuh."
"Itu cuma mainan, sini kuncinya." kata Sila meminta kunci tersebut pada Raden.
"Hati hati sil nanti ada jebakan lagi." kata Raden.
Sila maju dan membuka peti tersebut, ia mengambil isi yang ada di dalam "Ambil satu untuk satu kelompok." ujar Sila membaca sebuah pesan.
"Dua, kan kita dua kelompok." ucap Rafi, Sila mengangguk dan mengambil dua gulungan kertas.
"Udah, ayo jalan lagi." ajak Sila.
Mereka berjalan sedikit lama hingga menemukan sebuah cahaya yang ternyata itu dari perkemahan nya.
"Ternyata udah selesai, ayo kita lihat apa yang kita dapatkan."
Mereka pergi ke depan tenda nya lalu membuka gulungan kertas tadi "Kita dapat game?" tanya Astrid saat membaca isinya.
"Game apa?" tanah Raden penasaran.
"Kita dapat makan." lanjut nya memperlihatkan tulisan yang ada di gulungan punya nya.
"Ini ada ps terbaru, keren juga ya" pancing Juli, ia sengaja membesarkan suara nya agar keempat laki laki itu mendengar nya dengan jelas.
"Wih, beneran? Kita tukaran aja kali ya." seru Rafi, mereka mah lebih pilih game nya aja apalagi itu Yeng pengeluaran baru.
"Iya beneran, nih lihat." tunjuk Astrid.
"Yaudah kita tukaran aja, kan lumayan itu makanan." ucap Raden mengambil kertas yang berada di tangan Astrid.
Regan dan Rifan menggelengkan kepalanya melihat itu, tapi mereka juga senang kalau dapat game nya, mereka bisa menyimpan nya di markas Red Moon dan bermain bersama di sana.
__ADS_1
Tbc.