(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 13 : Kamar


__ADS_3

Happy reading


Siang hari nya Regan hanya tinggal di apartemen, tidak biasanya disaat weekend seperti itu Regan hanya berdiam di apartemen saja. Sila dan Regan berada di ruang tengah menonton bersama.


Cemilan yang mereka beli tadi pagi ia makan sambil menonton "Ambilin gue minum dong" pinta Regan pada Sila, Sila mengangguk mengerti lalu beranjak dari duduknya menuju dapur.


Menunggu Sila membawakan nya air, Regan yang sudah sangat haus pun meminum jus jeruk Sila yang tinggal setengah, Regan meneguk jus jeruk itu hingga tandas lalu meletakkan kembali gelas itu pada tempatnya semula.


Tiba-tiba bell apartemen nya berbunyi, Regan bangkit dari duduknya menuju kedepan. Sebelum Regan membuka pintu, Regan melihat siapa yang datang terlebih dahulu.


Mata Regan membulat sempurna melihat ketiga sahabat yang ternyata berkunjung, Regan lupa bahwa saat weekend bila ia yang tidak keluar maka sahabatnya lah yang berkunjung ke apartemennya.


Gawat! Benar-benar gawat! Bisa-bisa mereka melihat Sila, Regan berlari masuk mencari keberadaan Sila. Regan mengambil gelas yang ada di tangan Sila dan meletakkannya di meja makan, lalu Regan menarik tangan Sila menuju kamar.


"Kenapa Regan?" tanya Sila, Regan menoleh dan meletakkan telunjuk tangan nya di bibir "Ssttt, diam. Diluar teman gue datang, lo diam di disini jangan keluar sebelum gue datang!" ucap Regan.


"Gue yang pegang kunci nya. Ingat, jangan bersuara nanti tekan gue curiga, gue gak mau ya kalau mereka semua tahu tentang hubungan kita" Sila mengangguk paham membuat Regan tersenyum puas.


"Yaudah gue keluar bukain mereka pintu dulu" Regan keluar dari kamar, tak lupa ia mengunci pintunya lalu keluar membukakan pintu untuknya ketiga sahabat nya.


"Lama banget sih buka pintu doang, lagian kenapa ganti pin nya" omel Raden setelah Regan membukakan pintu untuk mereka.


"Gue tadi di kamar mandi, yaa terserah gue dong, apart apartemen gua" sewot Regan.


Ketiganya masuk dan duduk di ruang tengah "Banyak cemilan nih, tau banget kalau kita bakal kesini" ujar Rafi mengambil cemilan yang ada di meja.


"Tumbenan lo suka makan biskuit biskuit gini" kata Raden mengangkat bungkus biskuit Sila.


"Emang ada yang ngelarang gue makan itu?" tanya Regan.


"Enggak sih" Raden mengambil sisa biskuit itu yang tinggal dua lalu memakannya, enak gurih banget.


"Gak ada minum nih? Gue ambil aja deh" Raden berdiri dari duduk "Gue mau ambil minum ya" kata Raden pada Regan.


"Sekalian bro" teriak Rafi.

__ADS_1


Rifan makan dengan tenang, ia ikut menonton pertandingan tinju yang Regan tonton "Untung saja Regan sempat mengganti chanel televisi saat Sila mengambilkan nya minum.


"Regan, tadi gue liat ada segelas jus jeruk di meja makan" kata Raden datang membawa beberapa minuman kaleng.


"Oh tadi itu gue pesan jus jeruk, pas mau ambil gue kebelet jadi gue tinggalin di meja makan. Dan gue gak sempat ambil karena kalau juga datang" jelas Regan berbohong.


"Oh" Raden pun percaya dan membuka minuman kaleng nya.


"Gak seru nih, mendingan main game aja deh" usul Rafi.


"Setuju!" seru Raden.


Disisi lain, Sila yang hanya berdiam diri di kamar. Ia menunggu dengan sabar teman Regan pulang disana, Sila juga menyibukkan dirinya dengan membawa Alquran agar dirinya tidak kebosanan sebabnya hp nya ketinggalan di luar.


"Eh handphone siapa nih" ucap Raden yang tidak sengaja menduduki sebuah handphone.


Regan merebut handphone itu dengan cepat "Hp lama gue ini, udah katanya mau main game, ayo" ajak Regan mengalihkan topik.


Mereka pun mulai bermain hingga lupa waktu, tak terasa sudah sore saja, tapi keempat pria itu tidak berhenti sama sekali bermain. Mereka akan berhenti jika mereka makan, setelah itu di lanjutkan lagi.


Regan melupakan Sila yang ia kunci di kamar, melupakan bahwa hari sudah mulai malam. Regan asik bermain dengan sahabatnya hingga malam harinya.


Sila memegang perutnya karena lapar, Sila mempunyai magh jadi dia tidak boleh telat makan, jika ia telat makan maka magh nya akan kambuh "Kumohon jangan sekarang" gumam Sila masih memegang perutnya.


Sila meminum air agar dapat mengurangi rasa laparnya, Sila membaringkan tubuhnya di kasur dan mencoba untuk tertidur. Perutnya terus keroncongan, tapi Sila masih dapat menahan nya.


Dia terus beristighfar seraya memejamkan matanya. Lama kelamaan perut Sila semakin sakit, kini magh nya benar-benar sudah kambuh. Sila lupa membeli obat magh waktu di minimarket tadi, obatnya hanya ada di rumah saja tapi bagaimana mungkin dia pergi mengambil nya.


"Regan tolong cepatlah kemari" gumam menahan sakit perutnya.


Disisi lain keempat pria itu tengah makan bersama, mereka memesan beberapa makanan siap saji "Nanti mau langsung pulang atau main lagi nih?" tanya Raden di sela-sela makannya.


"Lanjut satu ronde lagi deh, gak mau gue tadi di ronde terakhir kalah" sahut Rafi.


"Gue ikut aja" ujar Rifan.

__ADS_1


"Terserah kali" balas Regan, mereka kembali menyantap makanan hingga kenyang. Mereka berempat yang kenyang tapi Sila di dalam sana kesakitan karena kelaparan.


Setelah makan mereka kembali ke ruang tengah "Gan, gue mau isi daya hp nih"


"Ke kamar aja sana" Raden pun berdiri dan berjalan menuju kamar Regan, ia pun masuk begitu saja ke dalam kamar Regan dan melakukan tujuannya.


Reden keluar dari sana, tapi ia tiba-tiba berhenti di depan pintu kamar samping kamar Regan. Raden mengerutkan keningnya saat tidak dapat membuka pintu itu "Di kunci?" tanya nya heran, tidak biasa kamar ini terkunci.


Sila menutup mulutnya karena mendengar suara yang i kenali "Ternyata teman Regan belum pulang, untung saja Regan mengunci pintu ini jika tidak hubungan kami pasti akan terbongkar, dan Regan akan marah sama aku jika itu terjadi" batinnya.


Raden kembali ke ruang tengah "Regan tumben lo kunci pintu kamar yang ada di sebelah kamar lo" ujar Raden membuat Regan menoleh.


"Gue gak kunci kok" ucap nya lalu kembali fokus.


"Pintunya ke kunci Regan, gue tadi coba buka tapi gak bisa"


"Pintunya ke-" sebelum Regan meyelesaikan ucapan, matanya seketika membulat lebar. Ia berdiri dari duduknya dengan cepat dan menarik Rafi, Rifan dan Raden keluar dari apartemen nya.


"Apa-apaan sih lo!"


"Kalian pulang, atau pergi kemana deh terserah"


Blam


Regan menutup pintu apartemennya dengan kuat "Ngapain sih tuh bocah, yaampu" geram Rafi, ia belum belum menang di ronde tadi.


Rifan mengangkat bahunya acuh lalu pergi dari sana, Raden dan Rafi berdecak sebelum pergi mengikuti Rifan.


Didalam sana Regan dengan cepat berlari dan membuka pintu kamar Sila, Regan membuka pintu depan kasar lalu berlari ke kasur "Regan" kata Sila lemah.


"Lo kenapa?" tanya Regan, ia duduk di sisinya kasur lalu memegang tangan Sila yang bergetar karena kelaparan dan juga kesakitan secara bersamaan.


"Lo laper? Masih ada makanan di luar, tunggu gue ambil dulu" Sila menahan tangan Regan yang hendak pergi.


"Obat" kata Sila lirih, ia menelan ludah susah payah. Regan tidak mengerti, ia mengacak rambut kasar "Lo mau apa? Obat?" tanya Regan, Sila mengangguk.

__ADS_1


"Obat apa?" sebentar Sila berbicara kesadaran sudah hilang membuat Regan kalang kabut, ia mengguncang tubuh Sila dengan pelan "Sil, Sila jangan bercanda!" tidak mendapatkan respon. Regan langsung mengambil handphone nya dan menghubungi dokter keluarga nya.


Tbc.


__ADS_2