
Happy reading
Pagi hari nya Regan baru membukakan pintu kamar mandi yang didalamnya Sila ia kunci kan. Setelah membuat sarapan untuk Regan Sila langsung segera pergi ke sekolah.
Sila duduk di bangku kelas nya seraya membaca novel, beberapa saat kemudian para murid sudah banyak datang ke sekolah begitupun dengan Juli yang sudah datang.
"Tumben banget lo pakai make up" ujar Juli duduk di bangku samping Sila.
"Pengen aja, kenapa? aneh ya?" tanya Sila.
"Enggak ko, malahan cantik banget" ujar Juli memberikan jempol tangan nya membuat Sila tertawa.
"Enggak ada PR kan sil, gue tadi malam enggak cek"
"Enggak ada kok"
"Syukur deh"
Di jam istirahat pertama Sila tidak pergi ke kantin, ia menyuruh Juli saja yang pergi dia ingin ke perpustakaan.
Sebenarnya alasan pertama nya itu karena ia ingin menghindari dari Regan, ia pun sangat menjaga jarak dengan teman laki-laki nya jangan sampai hanya masalah yang sepele saja membuat Regan kembali marah lagi seperti kemarin.
Sila duduk di kursi yang ada disana menghadap pada jendela kaca, Sila tersenyum melihat pemandangan sekolah nya indah, banyak tumbuhan hijau sehingga kita mesara tenang saat memandang nya.
Di dalam kantin Regan dan kawan-kawan duduk dengan tenang seraya memakan makanan mereka masing-masing. Sendari tadi Regan terus melirik pintu kantin seakan-akan sedang menunggu seseorang.
"Lo kenapa sih Regan, dari tadi lirik-lirik di luar" tanya Rafi yang melihat Regan sendari tadi berkali-kali arah keluar kantin.
"Enggak" jawab Regan lalu kembali memakan makanannya, Rafi mengangkat bahunya acuh dan juga kembali memakan makanannya.
"Oh iya, bagaimana dengan markas sekarang?" tanya Regan di sela-sela makan mereka.
"Proses baru 40%" jawab Rifan, Regan mengangguk lalu kembali melirik kerah luar kantin.
"Kenapa dia tidak datang" batin Regan, ia melihat Juli yang makan sendirian lalu kembali menatap ke luar kantin.
Tiba-tiba Regan berdiri dari duduknya membuat ketiga sahabatnya menatapnya bingung "Gue dulu" ujar Regan lalu jalan pergi keluar dari kantin.
__ADS_1
"Dia kenapa sih" ucap Rafi menatap punggung Regan.
"Habiskan makanan kalian habis itu kita susul" ujar Rifan, keduanya patuh dan kembali makan.
Melihat jam tangannya yang beberapa menit lagi jam istirahat akan habis, Sila memutuskan untuk pergi ke kelasnya. Di perjalanan ia tidak sengaja bertemu dengan Regan, kedua berhenti berjalan dengan saling bertatapan.
Dengan cepat Sila memutuskan tatapan mereka, ia menundukkan kepalanya dan melewati Regan begitu saja. Regan berbalik menatap punggung Sila dengan pandangan rumit.
Lalu Regan membalikkan badannya berjalan kembali menuju kelasnya. Karena mereka satu angkatan jadi nya kelas mereka tidak terlalu jauh dan perpustakaan sebagai pertengahan antara jurusan.
Di jam istirahat Juli memaksa Sila ke kantin, Juli takut maag Sila kembali kambuh Sila pun pasrah dan ikut ke kantin. Kantin tidak begitu ramai seperti pada saat jam istirahat pertama sebab mungkin karena mereka masih pad kenyang.
Hanya ada beberapa murid yang nongkrong di sana. Juli datang membawa makanan untuk Sila, sedangkan untuk nya sendiri hanya minuman dingin karena masih kenyang.
"Nih makan"
"Makasih Juli" ucap Sila tersenyum manis pad Juli.
"Sama-sama" jawab Juli ikut tersenyum lalu meminum minuman nya.
Sila pun mulai menyantap makanan setelah berdoa, Juli memainkan handphone menunggu Sila selesai makan "Aku udah selesai, yuk ke kelas" ajak Sila membersihkan tangan menggunakan tissue.
Sila dan Juli berjalan tidak mengapa ataupun menatap mereka berdua "Assalamualaikum ya ukhti" salam Raden pada Sil dan Juli.
"Waalaikumussalam" jawab keduanya, dengan segera Sila menarik tangan Juli untuk segera pergi dari sana.
"Yah, padahal mau ngajak ngobrol" kata Raden lesuh melihat kepergian Sil dan Juli.
"Ayo" ajak Regan berjalan lebih dulu meninggalkan Raden, Raden mendengus dan menyusul Regan.
Pulang sekolah Regan dan sahabatnya langsung ke markas, banyak yang akan mereka kerjakan di sana membantu anggota Red Moon yang sudah datang lebih dulu di sana.
Keempat nya mengendarai motor nya hingga sampai pada markas nya "Bagaimana?" tanya Regan turun dari motor mendekati anak-anak Red Moon.
"Sudah 50% bang, gak lama lagi ini" jawab Jali.
Regan membuka seragam nya dan memberikan nya pada Rafi, sekarang ia hanya memakai celana seragam nya dengan baju kaos putih polos.
__ADS_1
Regan membantu para anggota Red Moon memperbaiki markas mereka. Rifan pun sama ia membuka baju seragam nya dan bergabung dengan yang lain.
Setelah selesai satu bagian mereka beristirahat duduk di rumput begitu saja. Regan meminum minuman kaleng nya, ia terlihat begitu sangat tampan apalagi sekarang ia berkeringat begitu bukannya jelek ia malah tambah begitu tampan.
Regan membuang kaleng minuman nya saat teringat dengan Sila, seharian ini Sila terus menghindari nya membuat dia uring uringan sendiri.
Raden menghampiri Regan lalu menepuk pundaknya sahabatnya "Lo itu sebenarnya kepada sih gan, dari tadi pagi muka nya enggak enak banget" ucap Raden duduk di samping Regan.
"Lo dan Sila lagi ada masalah? Kalian bertengkar?" tebak Raden, Regan menoleh melihat Raden.
"Gue sih udah tebak, karena setelah lo bersama Sila lo udah berubah dan gue suka itu. Lo ada masalah apa emang? Siapa tau gue bisa bantu cari jalan keluar nya" kata Raden.
"Sila menghindari gue" kata Regan menatap kedepan.
"Iya tau gue, tapi masalahnya karena apa?" tanya Raden lagi.
"Gue udah menampar nya dan menguncinya di dalam kamar mandi semalaman" jawab Regan jujur.
"Gila! Lo gila Regan, lo nampak Sila dan mengurung nya di dalam kamar semalaman?" Regan mengangguk menanggapi nya, Raden mengusap rambut nya kebelakang, ia tidak percaya bila sahabat nya bisa melakukan hal itu pad istri nya sendiri.
"Jangan-jangan selama ini lo suka main tangan dengan Sila" tebak Raden seraya menunjuk Regan, ia menatap Regan dengan tajam.
"Enggak juga" jawab Regan.
"Gini deh gue hanya bisa bilang sama lo. Coba deh lo itu turunin dikit aja gengsi lo itu, gue tau banget kalau lo udah mulai membuka hati lo untuk Sila. Gue yakin jika lo turunin gengsi lo sedikit saja hubungan lo dan Sil pasti akan baik, lo sih gengsian banget jadi orang terus melampiaskan nya dengan emosi pada Sila"
"Lo juga harus bisa mengontrol emosi lo Regan, jangan bermain tangan Sila gue tau kalau keluarga Sila itu paling tidak suka jika laki-laki kasar dengan perempuan, jangan sampai lo nyakitin Sila lagi dan orang tua Sila tahu hal itu mereka pasti akan membawa Sila pergi jauh dari lo dan enggak akan membiarkan lo bertemu lagi dengannya"
Regan tampak memikirkan perkataan Raden yang ada benarnya juga, ia terlalu gengsian hingga ia malah emosi dan melampiaskan nya pada Sila yang tidak salah sama sekali.
"Gue tau lo berdua udah sama-sama dewasa sekarang, apalagi kalian udah menikah. Tapi jika lo salah jalan gue sebagai sahabat lo akan membawa lo kembali" kara Raden bijak. Regan menoleh dan tersenyum pad Raden.
"Thanks, karena lo gue udah mulai sadar" ucap Regan.
"Yoi, yaudah yuk kita lanjutin pekerjaan nya dan lo bisa pulang dan meluruskan masalah kalian" Regan mengangguk setuju, dengan penuh semangat ia mengajak anggota Red Moon kembali bekerja.
Raden tersenyum melihat itu, ia pun bergabung dan membuat yang lain.
__ADS_1
Tbc.