
Happy reading
Pagi hari menyambut hari yang sangat cerah, Sila berjalan menuju sekolah nya dengan riang sekali-kali ia bersenang hingga sampai di depan sekolah.
Suasana masih sepi karena Sila cepat sekali datang dari biasanya, hanya ada anak osis yang memang di wajibkan untuk datang cepat dan juga anak-anak yang rajin lainnya.
Sila menyimpan tas di kelas terlebih dahulu, setelah itu ia pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku bacaan, dia memang sudah langganan disana dari awal kelas satu nya dulu.
Di sela-sela ia memilih buku, Sila dikagetkan dengan deheman dari pria yang ada di sampingnya, Sila mendongak melihat siapa laki-laki itu "Regan" ucap Sila melihat yang ternyata Regan lah laki-laki itu.
"Hm" jawab Regan.
"Kamu mau cari buku juga? mau cari buku yang mana? siapa tau aku bisa bantu" kata Sila mengulas senyum manis nya membuat Regan sedikit salah tingkah melihatnya, bahkan telinga nya sudah sedikit memerah.
"Gue kenapa sih" batin Regan menggerutuk.
"Regan" panggil Sila pada Regan yang hanya diam saja.
"Kamu cari buku apa?" tanya Sila lagi.
"Gak usah kepo jadi orang!" ujar Regan lalu pindah pada rak buku yang ada di sebelah, Sila mengangkat bahunya acuh lalu kembali mencari buku r akan di ambil nya.
Regan juga nampak mencari buku di rak sebelah, mata Regan tertuju pada buku berwarna biru ia mengambil buku itu. Regan terpaku melihat wajah cantik Sila di sela-sela susunan buku, Sila nampak begitu cantik dan elegan membuka lembaran buku itu satu persatu.
Sila tersenyum karena sudah menemukan buku yang ingin di ambil nya, saat mendongakkan kepalanya tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan Regan yang memang menatap nya.
Sila langsung memutuskan tatapan matanya menatap ke arah lain, Regan pun juga begitu ia langsung menatap ke arah lain.
"Gue duluan" ucap Regan langsung pergi keluar dari perpustakaan, Sila menatap heran kepergian Regan. Melihat buku yang di pegang nya Sila tersenyum dan pergi.
***
Pulang Sekolah Regan kembali kumpul di markas Red Moon, semua anak Red Moon yang sudah pulang sekolah singgah di sana.
Mereka berbincang-bincang hingga tertawa, bahkan Regan pun ikut tersenyum karena kelucuan teman-temannya.
Mereka berhenti bercanda saat mendengar suara bisingnya knalpot motor dari luar, salah satu dari mereka berdiri mengecek nya dari jendela.
"Anak Blacky datang membuat onar lagi" ucap nya.
"Berani datang doang, sekali di lawan langsung kabur" decak Rafi.
"Kalian urus mereka, gue enggak mood saat ini" ujar Regan, ia membaringkan badannya di sofa panjang lalu menutup matanya.
Anak-anak Red Moon menurut, mereka keluar menghadapi anak Blacky yang sering sekali mencari masalah dengan nya, meskipun ujung-ujungnya mereka semua kalah tapi mereka tidak ada kapok kapok nya untuk mencari masalah dengan Anak Red Moon.
"Ngapain sih kalian ke sini lagi, enggak ada kapok kapok nya deh" ujar Raden pada anak Blacky.
__ADS_1
"Heh, kita enggak bakalan berhenti gangguin kalian sebelum ketua kalian berlutut dihadapan gue. Gue mau Regan berlutut di hadapan Gue dan anak-anak Blacky yang lain lalu mengakui kekuasaan kami!" ucap nya.
"Udahlah Bastian nggak usah mimpi, ini masih sore kalau lo enggak tahu nanti malam aja kalau mau mimpi" cibir Raden membuat anak Blacky menggeram marah.
"Lo!"
"Apa lo" tantang Raden tidak takut sama sekali.
"Dimana ketua kalian? kenapa hanya kalian saja yang keluar" tanya nya Bastian selaku ketua dari Blacky.
"Kini sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kalian" jawab Rafi mendapatkan sahutan dari anak-anak Red Moon.
"Belagu banget lo" sinis anak Blacky.
"Bukannya sombong nih ya, tapi emang udah gitu fakta nya. Setelah lawan kalian langsung lari" ucap Rafi membuat anak-anak Blacky kembali menggeram marah.
"Berisik, Blacky serang!" titah Bastian pada anggota nya.
Para anggota Blacky menyerang anggota Red Moon, anak-anak Red Moon tidak mau kalah ia ikut menyerang anggota Blacky, kedua geng itu saling menyerang dan menghindar dari serangan satu sama lain.
Bastian yang melihat anggota nya sudah banyak yang tumbang pun mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Ia tersenyum miring lalu membuang barang itu hingga masuk ke dalam markas lewat jendela.
Melihat ada celah ia pun menggores lengan Rafi menggunakan pisau lipat nya "Blacky?" teriak Bastian yang sudah naik di motor nya.
Para anggota Blacky pun juga ikut lagi ke motor nya dan melesat dengan cepat pergi dari sana "Ck kabur lagi kan, emang gitu mereka semua" ujar Raden.
"Gue gak papa, goresan kayak gini mah kecil" ucap Rafi.
"Tapi bang gau tadi liat Bastian ada melempar sesuatu dan masuk ke dalam markas" ujar Denis.
"Apaan?" tanya Raden
"Gue juga gak tau" ujar Denis.
Rifan meninggalkan mereka dan berlari masuk ke dalam markas "Bangun!" ucap Rifan membangunkan Regan.
"Apaan?" tanya Regan.
"Ada yang aneh, ayo cepat keluar" ujar Rifan, ia menarik tangan Regan segera pergi dari sana, entah mengapa firasat nya tidak jadi tidak enak.
"Keluar" titah Rifan pada anak Red Moon yang hendak masuk ke dalam markas.
Mereka semua di luar kebingungan, apa yang terjadi? mengapa mereka di larang masuk ke dalam markas.
Tiba-tiba Regan mendengar suara yang begitu familiar, matanya seketika membulat "Red Moon mundur! bawa motor kalian cepat!" teriak nya memerintahkan anggotanya mundur hingga mereka semua sudah berada di luar pagar markas nya.
"Kenapa bang-"
__ADS_1
Duarr...
Brak!
Prang!
Surat ledakan dan pecahan kaca terdengar di telinga mereka, para anggota Red Moon memandang ledakan tersebut mereka seakan tidak percaya "Gue gak nyangka kalau Bastian akan senekat ini" ucap Raden.
Anak-anak Red Moon bekerja keras malam itu, setelah api padam mereka membereskan kekacauan akibat bom yang Bastian lempar.
Regan pulang tengah malam karena kejadian itu saat Regan ini membuka sepatu nya handphone nya berbunyi ada pesan masuk. Regan berdecak membuka handphone melihat siapa yang mengirim nya pesan malam-malam seperti ini.
Regan mengepalkan tangannya melihat pesan yang mengirim nya sebuah foto di mana Sila dan seorang laki-laki nampak begitu sangat dekat.
Regan berdiri dan terdiam saat melihat Sila yang tertidur di sofa ruang tengah, sepertinya Sila menunggu Regan pulang tapi ia malah ketiduran.
Tiba-tiba Regan menjadi emosi mengingat foto Sila, Regan menyiram Sila yang tertidur menggunakan air yang ada di atas meja hal itu membuat Sila langsung terbangun dengan hijab nya yang sudah basah.
"Astaghfirullah, Regan kamu kenapa menyiram aku" kata Sila mengusap wajahnya.
"Lihat" Regan menyodorkan handphone memperlihatkan foto Sila bersama laki-laki, Sila menutup mulutnya terkejut melihat gambar itu.
Sila menatap Regan serta menggeleng "Enggak Regan, kamu jangan percaya aku tidak kenal sama sekali dengan laki-laki itu" ujar Sila.
"Berani lo keluar tanpa izin dan bertemu dengan laki-laki malam-malam begini Sila!" teriak Regan tetap di depan wajah Sila.
"Enggak Regan! mana mungkin aku pergi tanpa minta izin sama kamu, apalagi itu dengan laki-laki dan aku enggak kenal siapa laki-laki itu ketemu saja tidak pernah" ujar Sila.
"Enggak usah ngeles!"
"Sini Lo" Regan menarik tangan Sila membawa nya ke dalam kamar Sila sendiri lalu masuk ke kamar mandi.
"Lo benar-benar enggak bisa di percaya"
Plak
Regan menampar wajah Sila membuat Sila menoleh ke samping karena Regan menampar nya sedikit kuat. Regan mendorong Sila hingga terjatuh di bathtub, kepala Sila terbentur di bathtub membuatnya sedikit memar.
"Lo gue kunci di dalam kamar mandi ini sampai pagi sebelum hukum" ucap Regan, ia keluar dari sana tak lupa untuk menguncinya.
Sila hanya pasrah, ia memegang kening nya yang memar karena terbentur tadi.
Regan melempar seluruh barang-barangnya yang ada di kamar "Argh sial" ujar nya.
Moodnya sangat buruk karena masalah geng nya, dan orang iseng mengirimkan nya foto membuat nya kelepasan dan melampiaskan emosi pada Sila, ia kembali melukai Sila. Regan mengacak-acak rambut lalu masuk ke kamar mandi membersihkan badan nya.
Tbc.
__ADS_1