(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 36 : Toilet


__ADS_3

Happy reading


.


Pagi pagi Bela sudah dibuat sangat kesal karena lagi-lagi ia melihat laki-laki pujaan nya yang selalu bersama perempuan lain.


“Wah makin lama Sila makin gak bisa di biarin nih bel.” ujar Siska turut melihat Regan dan Sila yang berangkat ke sekolah bersama-sama lagi.


“Ck.” Bella berdecak lalu pergi dari sana meninggalkan Siska dan Laras.


Didalam kelas nampak para murid sedang fokus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di atas sana. Sila tiba-tiba saja ingin buang air kecil, ia pun berdiri hendak minta izin.


“Aku mau ke toilet dulu ya.” kata Sila pada Juli.


“Ok.” Sila meninta izin pada gurunya, setelah mendapatkan izin Sila segera keluar dan berjalan terburu buru menuju toilet perempuan, untung saja toilet nya enggak terlalu jauh.


Setelah panggilan alam itu Sila sudah akan membuka pintu toilet nya, tapi tiba-tiba ada yang menyiram nya hingga Sila basah kuyub, siapa lagi pelakunya kalau bukan Bella.


“Nih rasain.” kata Sisika menuang kan tepung di atas kepala Sila.


“Satu lagi nih.”


“Akhh.” ringis Sila saat di lemparkan telur mentah oleh Laras. Ketiganya tertawa puas dan saling adu tos.


Sila segera keluar dari sana dan menatap tak percaya pada Bella dan antek anteknya “Ini hanya perigatan kecil buat lo Sila, gue udah peringatin sebelumnya tapi lo cuek aja. Sekali lagi lo masih deketin Regan gue gak akan segan segan nyakitin lo lagi Sila, camkan itu!” ujar Bella.


Ketiga nya langsung pergi meninggalkan Sila yang masih terdiam, saat mendengar sesuatu Sila segera berlari ke pintu.

__ADS_1


Dor..dorr..dorr!! Sila menggedor gedor pintu dari dalam.


“Apa yang kalian lakukan, buka pintu nya.” Bella dan kedua temannya itu menguncikan Sila dari luar, Sila terus memukul pintu itu meneriaki nama Bella, Laras dan Siska.


Di luar sana Laras mengambil tanda peringatan kalau toilet itu sedang rusak agar tidak ada yang datang dan mengeluarkan Sila dari dalam sana.


“Bella tolong buka pintu nya, Siska. Laras tolong buka pintu.” suara Sila yang memohon dari dalam sana membuat ketiga nya tertawa bahagia.


“Rasain tuh.” kata Sisika.


“Makanya, jangan macam-macam sama kami makan tuh tepung dan telur nya, sekalian buatin kue juga gak papa.” Ketiganya tertawa terbahak-bahak.


“Ayo cabut.” ajak Bella pergi dari sana, keduanya pun mengkuti Bella agar tidak ada yang curiga pada mereka.


Dor..dorr..dorr!!


Sila berhenti memukul pintu karena tangan nya sudah sangat sakit dan juga memerah “Kenapa mereka jahat sekali sih, Regan kan suami aku kenapa harus di jauhin coba.” ujar Sila polos, sepertinya Sila melupakan sesuatu.


“Ya Allah tolong kirim kan seseorang untuk menolong hamba.”


Raden berjalan di koridor dengan santai, ia baru saja dari ruang guru mengumpulkan buku teman kelasnya, saat hendak berbelok Raden mendengar suara meminta tolong walaupun itu terdengar samar samar saja.


Seketika jiwa kekepoan Raden berteriak ingin tau suara itu berasal dari mana. Raden berjalan dengan pelan untuk kembali mendengar suara itu, tapi karena tidak mendengar apa apa lagi Raden berjalan cepat hingga sudah di depan toilet perempuan.


“Loh kok gak ada lagi?” tanya Raden pada dirinya sendiri, Raden menatap tanda peringatan kalau toilet itu rusak.


Apa jangan jangan itu hantu lagi?

__ADS_1


Tapi masa ada hantu di siang bolong gini.


Raden menggelengkan kepala nya tak percaya lalu segera berbali hendak pergi dari sana.


Di sisi lain Juli yang menunggu Sila kembali, tapi Sila belum kembali juga setelah setengah jam, tidak mungkin Sila selama itu di toilet.


Tak tahan menunggu seperti itu Juli berdiri ingin meminta izinpada gurunya “Bu, izin mau keluar” ujar Juli.


Guru itu melihat ke arah bangku Sila lalu kembali menatap Juli “Tunggu Sila kembali baru kamu bisa keluar.” memang itu sudah menjadi peraturan sekolah, karena pernah dengan alasan yang sama murid malah pergi membolos bersama.


Tapi sekarang kan beda! Ia tahu kalau ada yang terjadi dengan sahabatnya itu sekarang, Juli benar benar frustasi sekarang.


“Bagaimana nih?” tanya Juli bingung.


Ia menggigit bibir nya resah karena khawatir akan keadaan Sila Saat ini, ia harus mencari alasana segera, tapi alasan apa agar ia bisa di loloskan untuk keluar.


Seketika bibir Juli membentuk sebuah senyum yang cerah, gue punya ide!


Ok Juli mari kita mulai.


“Aduh ibu... perut saya sakit banget nih bu, saya gak tahan lagi. Kalau ibu tetap menahan saya di sini saya benar-benar akan keluarin disini. Ibu mau saya keluarin disini aja?” tanya Juli akting kesakita perut yang sangat baik.


Guru itu pun terlihat panik “Yaudah sana cepat keluar, jangan sampai beneran keluar.” ucap guru itu seraya menjepit hidung nya.


“Makasih bu.” kata Juli lalu berlari keluar, ia sangat puas bisa menipu guru nya itu lalu mencari keberadaan Sila di toilet terdekat dulu, gak mungkin kan kalau Sila pergi ke toilet yang jauh.


Tbc.

__ADS_1


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan komen ya guys.


__ADS_2