(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 37 : Amukan Regan


__ADS_3

Happy reading


.


Belum Raden berbelok di tempat nya tadi dia kembali mendengar suara seseorang yag meninta tolong.


Dor..dorr..dorr! Suara gedoran pintu dari dalam toilet.


Raden mendekat pada toilet itu “Siapa di dalam?” tanya Raden sedikit berteriak.


Sila mendengar itu kembali mengedor pintu “Iya! Aku di kunciin dari luar tolong buka pintunya.” pinta Sila.


“Kok gue kaya kenal nih suara ya.” Seketika Raden membulatkan mata nya saat menyadarinya. Sila, itu suara Sila!


“Sila itu elo? Ini gue Raden!” teriak Raden.


“Raden, Raden! Iya ini aku Sila. Raden tolong buka pintu nya.”


“Iya-iya, sekarang lo mundur gue bakal dobrak pintu ini.” titah Raden, dengan patuh Sila mundur menjauh dan berharap semoga Raden bisa membukanya.


Satu, dua kali dobrakan Raden belum bisa membuka nya. Hingga pada dombrakan ke lima pintu itu terbuka “Sila!” panggil Raden.


Raden ingin membantu Sila tapi takut menyentuh nya, meski ini dalam keadaan darurat tapi Raden tetap menghargai hal itu. Ia melepas almamater nya lalu di selipka pada pundak Sila.


“Ayo, kita ke uks aja.” ajak Raden, ia membawa Sila ke uks.


“Lo tunggu di sini, gue mau ambil seragam si koperasi” Sila mengangguk saja menanggapi nya.


Raden segera berlari keluar menuju ruang koperasi, ia mengambil kan seragam untuk Sila, untung saja di sana sudah tertulis ukuran lengkap Sila jadi ia tidak pusing-pusing lagi saat memilih.


Raden sedikit berlari untuk kembali di uks, di perjalanan ia melihat Regan yang berjalan sendirian di koridor “REGAN!” panggil Raden berteriak.


Regan menengok saat mendengar seseorang memanggil nya “Kenapa?” tanya nya saat Raden udah berada di hadapan nya.


Raden mengantur nafas nya terlebih dahulu lalu mendongakkan kepala nya menatap Regan “Sila. Sila sekarang ada di uks, tadi gue temuin Sila ke kekunci di toilet dengan keadaan yang kacau. Ini gue baru aja dari ambil seragam di koperasi.”


Tanpa banyak bicara Regan langsung berlari ke uks “Ck, malah di tinggalin.” Decak Raden kesal, ia serega berlari menyusul Regan dengan berlari kecil.


Sesampai nya di sana Regan langsung membuka pintu ruang uks dengan kasar, untung saja tidak ada pasien di dalam sana bisa bisa mereka tergangu karena perbuatan Regan.

__ADS_1


“SILA!” panggil Regan berteriak memanggil Sila.


“Regan?” Sila muncul di kamar pertama dengan penampilan yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Lo gak papa?" tanya Regan menghampiri Sila.


"Lo kok ninggalin gue sih gan." ucap Raden yang baru sampai.


Regan menatap pakaian Sila yang basah dari atas sampai bawah yang sedikit menerawang karena terlalu basah, Sila membersihkan nya dengan air sehingga sedikit menerawang.


Regan lantas menyembunyikan Sila di belakang punggung nya "Sini seragamnya." kata Regan mengambil seragam baru di tangan Raden.


"Ayo masuk" ajak Regan berbalik dan kembali menyembunyikan Sila, ia tidak membiarkan Raden melihat tubuh Sila sedikit pun, apalagi tubuh Sila yang sedikit mungil hingga ia benar-benar tidak terlihat di balik badan Regan.


Raden mengangkat bahunya acuh lalu duduk di kursi yang ada di sana seraya memainkan handphone nya.


Di dalam sana Regan langsung menyuruh Sila mengganti pakaian nya "Sekarang gak papa lo ganti seragam dulu, gue bakal hubungi sopir untuk mengantar lo pulang ke apart."


"Kenapa bukan kamu aja?"


"Gue masih ada keperluan disini, setelah itu gue baru nyusul." ia tidak ingin menyuruh Raden yang mengantar Sila pulang, bukannya tidak percaya pada sahabatnya tapi Regan hanya tak suka saja.


"Udah sana cepat ganti, gak kedinginan apa." ucap Regan sedikit mendorong Sila.


"Kenapa gue harus keluar?" tanya Regan bingung.


"Ya kan aku mau ganti baju."


"Yaudah ganti aja, kita udah sah jadi gak masalah kalau gue lihat."


"T..tapi aku malu Regan" kata Sila pelan.


"Yaudah gue gak keluar, tapi gue cuma balik badan aja. Jadi gue gak bakal liat."


"Pokoknya kamu jangan balik sebelum aku suruh."


"Iya-iya, ayo cepat ganti." Regan sudah berbalik memunggungi Sila, ia mengeluarkan handphone nya lalu memainkan nya agar ada kerjaan.


Tak butuh waktu yang lama Sila sudah selesai mengganti seragam nya "Aku udah selesai." Regan berbalik menatap Sila, ia mengangguk lalu menarik tangan Sila untuk ikut dengan.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Raden yang sendari tadi menunggu mereka.


"Gue mau antar Sila ke depan." jawab Regan lalu kembali berjalan, Almamater nya sudah ia berikan pada Sila agar tubuhnya tetap hangat.


"Pak tolong antar istri saya sampai apartemen dengan selamat ya." pinta Regan, hal itu membuat pipi Sila menyemburkan rona merah.


"Baik den " Regan mundur beberapa langkah menatap mobil yang di tumpangi Sila menjauh keluar dari gerbang.


Setelah mematikan Sila pulang, Regan berjalan masuk ke sekolah nya. raut wajahnya seketika berubah 180 derajat .


Disisi lain Juli yang masih mencari keberadaan Sila, di saat berjalan di koridor ia tak sengaja melihat keberadaan Raden "Raden!" panggil nya berjalan cepat menghampiri Raden.


"Kenapa? kangen lo sama gue?" tanya Raden terlewat kepedean.


"Sekarang gue lagi gak mau debat Raden, gue cuma mau nanya sama lo liat Sila gak?" tanya nya.


"Sudah pulau, tadi di anterin keluar sama Regan." jawab Raden, Juli menghela nafas lega, setidaknya ia sudah tau kalau Sila baik-baik saja sekarang.


Tiba-tiba para siswa berlari ke arah satu kelas, dan itu membuat Raden dan Juli bingung mentap mereka "Mereka semua kenapa dah."


"Et tetet, itu kenapa lo pada lari ke sana?" tanya Raden menahan salah satu murid hendak pergi ke sana juga.


"Itu, Regan katanya mengamuk di dalam sana." jawabannya.


Raden membulatkan matanya, ini pasti karena apa yang menimpa Sila tadi, berani banget sih lo main sama Sila kan pawangnya sangar.


Jiwa ke kepoan Raden kembali meronta-ronta, ia juga ikut pergi ke sana untuk menonton pertunjukkan yang akan sangat seru menurutnya.


Juli yang masih belum ngerti pun hanya mengikuti Raden, dan seketika ia menutup mulutnya terkejut melihat ke dalam kelas itu.


Di dalam sana Regan mengamuk pada Bela dan kedua antek-anteknya. tadi Regan menyuruh Rifan untuk melihat cctv yang ada di depan toilet sehingga ia dapat mengetahui siapa pelaku yang telah membuat hal seperti itu pada Sila.


"Lo emang gak takut cari masalah sama gue." kata Regan mencekik leher Bella.


"Regan lepasin tangan lo." meskipun mereka juga takut, tapi Siska dan Laras tetap membantu Bella.


"Diam lo berdua!" bentak Regan, menunjuk Siska dan Laras. Seketika kedua nya terdiam ketakutan.


"Kalian bertiga sama aja anj**g!"

__ADS_1


"Gue gak bakal maafin lo pada!"


Tbc.


__ADS_2