
Happy reading
.
Di malam hari nya, setelah sholat isya Regan mengajak Sila untuk makan di luar malam ini. Setelah di ingat-ingat ini pertama kali nya mereka berdua keluar untuk makan seperti itu.
“Sudah siap?” tanya Regan pada Sila yang baru menyusul nya.
“Hm.” Jawab Sila seraya menganggukkan kepala nya.
“Ok, ayo berangkat.” ajak Regan, keduanya memasuki lift lalu turun ke lantai satu, setelah itu mereka pergi ke parkiran dan menaiki mobilnya. Regan melesatkan mobilnya keluar membelah jalan kota di malam hari.
“Kita mau makan di mana emang?” tanya Sila.
“Di cafe mau?” tanya Regan balik.
“Mau, aku terserah kamu aja sih.” Regan tersenyum tipis lalu kembali fokus menyetir.
Saat sudah sampai di sebuah cafe Regan Sila sama-sama turun dan masuk kedalam sana, di dalam sana ternyata lumayan ramai pengunjung nya, kebanyakan dari mereka anak-anak muda yang nongkrong.
Saat ingin mencari tempat duduk untuk mereka tatapn Regan bertemu dengan musuh bebuyutan geng nya, ia menarik tangan Sila mengajak nya pergi dari sana.
Tapi pria itu malah mendekati keduanya “Apa kabar bro, lama gak ketemu sekarang lo udah punya gandengan.” Ujar nya. Dia adalah Cakra Rowland, ketua geng Blacky.
Sila menatap keduanya bingung “Halo cantik.” sapa Cakra pada Sila, dengan segera Regan menyembunyikan Sila di balik punggung nya.
Cakra tersenyum manis melihat itu, ia sangat bahagia karena mendapatkan kelemahan Regan. Siapa lagi kalau bukan Sila, sepertinya kedepan nya aka lebih seru lagi.
“Kenapa di sembunyikan? Padahal tu cewek cantik banget loh, sayang kalau di anggurin.”
“Jangan melibatkan dia, dia tidak tau apa-apa.” Setelah mengatakan itu Regan menarik tangan Sila keluar dari cafe.
Cakra tersenyum miring melihat kepergian Regan dan Sila, ia berbalik lalu kembali di meja dimana temannya yang lain kumpul tadi.
__ADS_1
"Bukannya itu Regan ya, ketua geng Red Moon." ujar salah satu dari mereka.
"Ya." jawab Cakra singkat.
Disisi lain Regan dan Sila sudah berada di dalam mobil "Jadi sekarang kita mau kemana?" tanya Sila.
"Kita cari cafe atau restoran aja." jawab Regan, Sila mengangguk mengerti lalu diam menatap jalanan.
"Regan stop!"
Cit.
Dengan refleks Regan menginjak pedal rem nya "Kenapa?" tanya Regan sedikit panik.
"Ha? A-a itu. Kita makan di sana aja." Sila menunjuk pada sebuah gerobak penjualan sate.
Regan menghembuskan nafas nya untuk meredakan emosi, ia sudah belajar untuk mengontrol emosi belakang ini agar tidak berimbas pada Sila lagi.
"Bang pesan sate dua porsi, satu yang pedas dan satu lagi tidak pedas." pesan Regan.
"Baik, tunggu sebentar ya nak." balas bapak penjual sate itu.
Regan dan Sila duduk di tempat yang sudah di siapkan pemilik untuk pembeli nya. Sila tersenyum menikmati suasana malam yang sejuk, ia sangat menyukainya.
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun selesai "Ini sate nya, selamat menikmati."
"Makasih ya pak." ucap Sila senang.
Ia dan Regan sama-sama berdoa sebelum makan, keduanya makan tanpa berbicara hingga makanan mereka habis.
"Alhamdulillah" ucap Sila bersyukur sudah kenyang.
"Enak kan?" tanya nya pada Regan.
__ADS_1
"Ya, lumayan." Sila tersenyum lalu mengikuti Regan yang hendak membayar makanan mereka.
"Total makanan kami berapa bang?" tanya Regan pada Abang penjual sate.
"Semua nya 25 ribu nak." Regan memberikan uang biru pada sang penjual "Kembaliannya untuk bapak saja." lanjut nya.
"Aduh, makasih ya nak, semoga rezeki nya lancar ya nak."
"Aamiin pak, kalau begitu saya pamit ya pak." pamit Sila menanggapi, karena Regan hanya mengangguk saja.
"Iya, hati-hati."
Sila dan Regan menaiki mobil dan melaju menuju apartemen nya, keduanya sudah sama-sama kenyang dan Sila juga sudah tidak ingin singgah singgah lagi jadi mereka langsung pulang saja.
Sesampainya di apartemen, Sila dan Regan sama-sama memasuki kamar mereka. Sila mengganti pakaian nya dan mencuci muka nya sebelum tidur.
Disisi lain setelah mencuci wajah nya Regan langsung saja naik ke kasur nya berbaring. Pikiran nya kembali mengingat waktu ia memeluk Sila tadi siang.
Regan masih bisa merasakan betapa nyamannya saat berada di pelukan Sila. semakin lama semakin ia memikirkan nya, dan itu membuat Regan frustasi.
Tiba-tiba Regan bangun, ia berdiri dan berjalan tergesa-gesa keluar dari nya menuju kamar yang ada di sebelah kamar nya, siapa lagi kalau bukan kamar Sila.
Regan membuka pintu itu tanpa mengetuk nya, dan untung saja pintu nya tidak di kunci oleh Sila.
Dengan pelan ia berjalan menuju kasur, dapat Regan lihat Sila yang sudah tertidur pulas di atas sana. Ia mendekat lalu dengan pelan naik ke atas kasur itu takut membangunkan Sila.
Regan perlahan berbaring di sisi kasur yang kosong, ia menghembuskan nafasnya lega saat sudah berbaring tanpa membangunkan Sila.
Lama ia mentap wajah Sila yang menenangkan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Sila, di pelukannya Sila dan di sandaran pada d*da bidangnya.
Biarlah besok pagi Sila berteriak karena perilaku nya ini, itu hal itu besok saja sekarang ini ia hanya perlu menikmati nya dan tidur nyenyak.
Tbc.
__ADS_1